
"Ba-bagaimana bisa? coba ulang lagi !!" perintah nyonya Barbara saat kartu black gold milik sang menantu tidak dapat di proses, padahal sebelumnya masih bisa mereka menggunakan.
"Ini memang di blokir nyonya, lebih baik anda segera menghubungi kantor perbankan pusat." tegas sang petugas setelah mencoba memproses kartu tersebut.
"Astaga, bagaimana ini ?" Grace langsung panik, ia sudah menunggu tas branded pesanannya hampir tiga bulan lamanya dan ia tidak mau jika tas tersebut akan jatuh ke tangan orang lain.
"Tunggu sebentar aku mau hubungi suamiku dulu, ini pasti ada kesalahpahaman." imbuhnya seraya merogoh ponselnya di dalam tasnya, lalu ia segera menghubungi suaminya. Namun hingga deringan ke sekian kali pria itu tak kunjung menjawabnya.
"Bagaimana Grace ?" Nyonya Barbara terlihat tak rela jika harus batal membeli perhiasan itu, perhiasan mahal yang bisa ia pamerkan saat arisan bersama teman-teman sosialitanya nanti.
"Tidak di angkat mom malah sekarang di matikan." Grace nampak kecewa saat panggilan teleponnya di abaikan oleh suaminya, semoga ini hanya kesalahan sistem dan pria itu tak benar-benar memblokir kartunya tersebut.
"Baiklah sepertinya kami harus mengeceknya terlebih dahulu, tolong simpankan barang itu untuk kami." mohon nyonya Barbara pada akhirnya.
"Baik nyonya, tapi kami hanya memberikan batas hingga dua hari dan jika dalam dua hari barangnya belum di ambil kami terpaksa menawarkannya pada pelanggan lain." terang petugas tersebut.
"Kami pasti akan datang kembali secepatnya tenang saja, kamu bersikap begitu seperti kami orang miskin saja." sungut nyonya Barbara yang langsung membuat petugas tersebut nampak sedikit membungkuk memberikan hormat.
"Ayo sayang kita cek dulu." nyonya Barbara langsung mengajak putrinya tersebut keluar dari sana.
"Mom, bagaimana jika James benar-benar memblokir kartu itu. Kita akan benar-benar jatuh miskin." keluh Grace sepanjang jalan.
"Kamu masih punya bayi dalam perutmu itu yang bisa kamu manfaatkan keberadaannya Grace, berpikirlah sedikit pintar dan licik tentunya." tegas nyonya Barbara, berkali-kali merusak rumah tangga pria lain tentu saja membuat mental wanita itu sekuat baja dan tanpa perasaan malu sedikit pun.
"Semoga saja." Grace menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobilnya, lalu tangannya nampak mengelus perutnya yang sedikit kram karena pergerakan sang bayi. Saat dirinya merasa sangat kacau bayinya tersebut seakan tahu dan langsung merespon dengan menggerakkan tubuhnya.
Sepertinya perkataan ibunya sangat benar, ia harus memanfaatkan keberadaan anaknya tersebut.
"Lagipula seandainya James benar-benar memblokir kartu itu kita tidak akan jatuh miskin, simpanan perhiasan mommy masih sangat banyak." ucap nyonya Barbara mengingat ia mempunyai simpanan sekotak penuh perhiasan mahal.
"Dan mommy juga masih mempunyai beberapa tas bermerk dengan harga fantastis." imbuhnya lagi dan itu semua adalah aset-aset berharganya.
"Mommy benar." Grace langsung mengangguk setuju, ia juga mempunyai simpanan perhiasan dan juga beberapa tas branded seperti ibunya namun miliknya tentu saja jauh lebih mahal.
__ADS_1
Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, lagipula Grace juga merasa sangat lelah. Sejak kandungannya mulai membesar tenaganya tak seperti dulu lagi, bergerak sedikit saja ia merasa sudah sangat lelah. Apalagi kakinya pun mulai membengkak akibat gejala preeklamsia yang ia alamai.
"Ini semua gara-gara wanita si4l4n itu, sepertinya aku harus menyuruh Nick untuk segera menghabisinya." gumam Grace seraya menatap kakinya yang membengkak, benar-benar tak sedap di pandang mata.
Lalu ia mengambil sebuah cermin dari dalam tasnya, wajahnya pun kini mulai membengkak. Berat tubuhnya yang naik membuatnya terlihat bergemuk.
"Sepertinya aku harus menemui dokter ahli nutrisi." ucapnya yang langsung membuat sang ibu yang sedang mengemudi menoleh ke arahnya.
"Untuk ?" timpal wanita paruh baya dengan dandanan menor itu.
"Apa mommy tidak melihat perubahan tubuhku? benar-benar sangat jelek. Ini semua pasti gara-gara aku hamil dan James tak mencintaiku lagi, dia lebih memilih wanita Asia itu yang tubuhnya lebih langsing." gerutu Grace dengan kesal.
"Tapi gara-gara bayi yang kamu kandung itu kamu di nikahi oleh James dan kita bisa hidup mewah seperti ini." Nyonya Barbara mengingatkan, karena sejak putrinya menikah pria itu langsung memberikan black gold card tanpa limit yang membuatnya bisa shopping barang-barang branded sesuka hatinya.
"Tapi tetap saja gara-gara dia badanku jadi jelek." gerutu Grace yang masih belum menerima perubahan tubuhnya dan lebih memilih menyalahkan bayi dalam kandungannya.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kediamannya, di sana nampak dua buah mobil terparkir. Satunya milik suaminya dan satunya entah milik siapa.
"Mom, itu sepertinya James." Grace langsung antusias saat melihat suaminya sedang berbicara dengan beberapa orang di halaman rumahnya.
"Siapa mereka, sayang ?" tanyanya setelah mengedarkan pandangannya, ia hanya mengenal Mark dan ketiga pria lainnya yang mempunyai tubuh kekar itu ia tak mengetahuinya.
"Selamat siang, nyonya." sapa Mark dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Selamat siang juga tuan Mark." Grace langsung membalas sapaan asisten suaminya itu dengan ramah.
Begitulah Grace ia akan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang terdekat suaminya, ia ingin mereka mengenalnya sebagai nyonya yang yang rendah hati.
"James, siapa mereka? kenapa mereka mengeluarkan semua tas mama ?" teriak nyonya Barbara seraya mengikuti seorang pria yang nampak membawa tas-tas branded miliknya.
"Astaga, itu kotak perhiasanku ?" ucapnya lagi seraya merebut kotak perhiasannya namun pria tersebut langsung menjauhkannya lalu memasukkan ke dalam mobilnya.
"Sayang, ini apa yang terjadinya kenapa mereka membawa barang-barang milik mommy ?" Grace langsung meminta penjelasan pada sang suami.
__ADS_1
"Astaga Grace, perhiasan dan tas-tasmu juga di bawa oleh mereka." teriak nyonya Barbara saat melihat dua orang pria bertubuh kekar lainnya membawa kotak perhiasan milik putrinya dan juga beberapa tas brandednya yang harganya mahal-mahal semua.
"Tas dan perhiasanku mau kalian bawa kemana ?" Grace langsung beringsut mengejar pria-pria tersebut, namun tenaganya yang tak seberapa membuatnya tak mampu melawan.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi ?" teriaknya pada sang suami yang sedari tadi nampak santai melihat kelakuan beberapa pria tersebut.
"Kalian belum membawa semuanya !!" perintah James seraya melirik ke arah istri serta ibu mertuanya tersebut yang langsung membuat Grace dan nyonya Barbara nampak melebarkan matanya tak mengerti.
"Maaf nyonya, saya juga harus membawa tas dan perhiasan yang anda kenakan itu." ucap seorang pria seraya merebut tas milik Grace maupun ibunya, lalu pria satunya mengambil perhiasan yang mereka kenakan.
Mereka mengeluarkan semua isi tas-tas tersebut lalu membawanya pergi dari sana.
"Tunggu, apa kalian lupa membawa mobil itu ?" ujar James yang membuat salah satu dari mereka langsung berbalik badan lalu mendekati mobil yang tadi di kendarai oleh kedua wanita itu.
Setelah itu mereka segera pergi dari sana dan kini hanya menyisakan James serta Mark.
"Sayang, kenapa kamu lakukan ini padaku ?" protes Grace, kini ia sudah tak punya apa-apa lagi, bahkan cincin pernikahan mereka pun telah mereka bawa juga.
Tunggu, Grace baru menyadari jika cincin yang di pakai suaminya itu berbeda dengan cincin pernikahannya dulu. Apa pria itu telah menikah lagi? tentu saja ia akan mencari tahu nanti, jika sampai pria itu telah menikah lagi ia jadi semakin berhasrat untuk melenyapkan nyawa wanita itu.
"Aku akan mengembalikan barang-barang itu jika kamu mampu menjaga anak itu dengan baik, selama ini kalian terlalu terlena dengan kemewahan yang ku berikan hingga lupa caranya berterima kasih." tegas James seraya menatap istri serta ibu mertuanya bergantian.
"Maafkan kami James, mommy janji akan menjaga cucu mommy dengan baik tapi tolong nanti kembalikan barang-barang mommy lagi ya." mohon nyonya Barbara dengan wajah memelas.
"Kamu benar-benar keterlaluan sayang dan sekarang kamu juga akan membuat bayimu ini kelaparan karena kartu yang kamu berikan itu telah kamu blokir ?" geram Grace, ia tidak bisa di giniin.
"Setiap hari Mark akan datang dengan seorang pelayan yang akan memenuhi semua kebutuhanmu jadi ku pastikan kalian bertiga tidak akan kelaparan." tegas James.
"Sekali lagi ku tegaskan, jaga kandunganmu baik-baik jika ingin hidupmu tenang dan bukankah sebelumnya aku pernah memperingatkan pada kalian jangan sekali-kali menghianati kepercayaanku ?" imbuh James seraya menatap lekat istri serta ibu mertuanya itu.
Setelah itu James segera meninggalkan tempat tersebut bersama dengan Mark.
Grace yang di tinggal begitu saja nampak mengepalkan tangannya, dalam sekejap hidupnya telah berubah seratus delapan puluh derajat dan ia tak bisa menerima itu.
__ADS_1
"Wanita si4l4n, kau harus mati."