
"Kau menguping pembicaraan kami, nona ?" tegur salah satu pria bertato yang duduk di sebelah Anne, wajahnya tak ramah saat melihat wanita itu.
"Anda bilang apa tuan? saya tidak mendengarnya." Anne yang sedari tadi memakai headset langsung melepaskan benda kecil itu dari telinganya, ia yang tadinya ingin mendengarkan musik di ponselnya urung ia lakukan saat mendengar percakapan kedua pria tersebut mengenai sang suami.
"Tidak, lupakan." sahut pria itu saat melihat dirinya yang sedang memakai headset.
Anne mengangguk kecil, lalu ia kembali menggunakan headsetnya lagi sampai pada akhirnya kedua pria itu turun dari kereta yang ia tumpangi.
"Pria datar itu harus tahu nyawanya sedang terancam." gumam Anne saat tak sengaja melihat senjata api di saku belakang kedua pria itu.
Beberapa saat kemudian Anne telah sampai di rumahnya, lalu wanita itu segera membersihkan dirinya. Setelah itu ia mengenakan pakaian santai celana pendek dan atasan tshirt, serta rambutnya yang basah ia bungkus dengan handuk hingga memperlihatkan leher putihnya.
Perutnya yang tiba-tiba keroncongan membuat wanita itu segera berlalu ke dapurnya untuk membuat mie instan kesukaannya yang diam-diam ia beli di supermarket dekat tempatnya bekerja.
Lagipula suaminya itu takkan melihatnya makan itu, karena sudah hampir satu minggu ini pria itu tak pulang ke rumahnya hingga membuatnya bebas melakukan apapun.
Meski sebelumnya pria itu sudah mengingatkan dirinya untuk tidak berbelanja makanan cepat saji, namun bukan Anne jika tak melanggarnya.
"Hm, enak sekali aromanya. Ini benar-benar sangat enak, hanya orang bodoh saja yang tak menyukainya. Seperti pria itu, hidupnya benar-benar datar seperti wajahnya." Anne nampak terkikik saat membicarakan suaminya itu, lalu wanita itu segera membawa sepiring mie instan yang uapnya masih mengepul ke meja makan.
Namun saat baru berbalik badan tiba-tiba ia melihat suaminya sudah berdiri tak jauh darinya. "Ka-kau, sejak kapan di situ ?" ucapnya dengan wajah terkejut. Sudah hampir satu minggu pria itu tak pulang dan kini tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Sejak kau bicara sendiri." sahut James, matanya nampak melirik ke arah piring yang istrinya itu bawa.
Anne terlihat gugup, semoga pria itu tak mendengar ucapannya barusan jika tidak bisa-bisa dia mendapatkan masalah.
"Sejak kapan di rumah ini ada makanan sampah seperti itu ?" ucap James yang langsung membuat Anne menelan ludahnya.
"A-aku kepingin dan aku membelinya cuma satu. Apa kamu mau, ini enak sekali." Anne langsung berjalan mendekat lalu menarik kursi dan di duduk di sana.
__ADS_1
"Jauhkan makanan itu." perintah James saat Anne menawarinya.
"Nggak mau ya sudah." Anne menarik piringnya kembali lalu mulai memakannya.
"Benar-benar nikmat." cecapan Anne terlihat begitu menggoda hingga membuat James tak sadar telah meneguk ludahnya.
"Kamu yakin tidak mau ?" tawar Anne lagi seraya menggulung mienya dengan garpu, ia ingin melihat pertahanan pria itu yang selalu mengutamakan hidup sehat.
"Tidak, ku harap ini terakhir kalinya kau makan itu." tegur James kemudian menarik kursi lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
"Sumpah ini enak banget." Anne sengaja menggoda suaminya itu.
"Cepatlah makan dan setelah itu buatkan saya kopi." ucap James lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tuan James." panggil Anne yang langsung membuat pria itu menoleh padanya dan satu sendok penuh mie langsung ia masukkan paksa ke dalam mulut pria itu yang kebetulan sedang terbuka sedikit.
"Kau ?" James langsung melotot namun mulutnya segera di bungkam oleh wanita itu dengan telapak tangannya.
Tak ingin kesal sendiri tiba-tiba ia mempunyai ide untuk mengerjai pria itu. "Bagaimana rasanya, enak bukan ?" ucapnya kemudian saat pria itu mau tak mau menelan mienya tersebut.
"Aaarrgghhh, sakit." teriak Anne tiba-tiba saat salah satu jarinya di gigit oleh suaminya itu.
"Kau benar-benar kanibal." Anne langsung bersungut-sungut saat melihat jarinya tercetak jelas oleh gigi pria itu.
Sementara James nampak tersenyum sinis. "Kau yang mengumpannya jadi jangan salahkan aku." ucapnya tanpa perasaan bersalah sama sekali.
"Lebih baik kau tidak usah pulang dari pada menyakitiku." gerutu Anne seraya beranjak dari duduknya lalu mengibaskan-ngibaskan tangannya yang terasa nyut-nyutan akibat gigitan pria itu.
"Jadi kau mengusirku dari rumahku sendiri ?" James ikut beranjak dari duduknya hingga kini posisi mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Iya, lebih baik kau temani kekasihmu yang sedang hamil itu." sahut Anne dan sontak membuat James memicing, apa wanita itu sudah tahu perihal kehamilan Grace? bahkan ia tak pernah bercerita tentang hubungannya pada wanita itu, tidak akan sebelum William memberikannya restu meski itu mustahil.
"Siapa wanita hamil yang kau maksud ?" tanyanya dengan menajamkan pandangannya.
"Tentu saja kekasihmu, siapa lagi. Sepertinya sup ikan sangat menggugah selera ibu hamil ya." sindir Anne kemudian.
James yang tadinya nampak tegang kini terlihat kelegaan di wajahnya, rupanya wanita itu sedang membahas sup ikan yang tadi siang ia beli di restoran milik Nicolas.
"Bagaimana kau bisa tahu aku membeli sup ikan ?" ucapnya dengan pandangan curiga.
"Mati aku."
Anne langsung menggigit bibirnya, sungguh ia sangat ceroboh. Kini ia harus memutar otaknya agar pria itu tak mengetahui jika ia masih bekerja di restoran itu.
"Nicolas, ya Nicolas yang mengatakannya padaku." ucapnya kemudian, semoga suaminya itu percaya.
"Benarkah, sepertinya kalian semakin dekat ya hingga bisa saling bertukar informasi ?" cibir James, entah kenapa ia tiba-tiba tak rela wanita itu dekat dengan pria yang bernama Nicolas itu. Tentu saja ia masih menjadi suami sahnya dan harga dirinya akan tercoreng jika istrinya itu menjalin hubungan dengan pria lain.
"Ti-tidak juga, kami hanya berteman." sahut Anne kemudian.
"Ck, kau pikir aku percaya." James langsung tersenyum mengejek.
"Terserah kamu percaya atau tidak, lagipula kamu juga sudah punya kekasih. Apa aku pernah protes? bukankah sejak awal kau yang membuat peraturan agar kita tak saling ikut campur urusan pribadi masing-masing ?" tukas Anne dengan kesal.
"Mulai hari ini tak ada peraturan seperti itu." tegas James dengan menatap lekat istrinya itu, pandangannya nampak ke arah bibir wanita itu yang terlihat sangat menggoda. Tiba-tiba ia ingin merasakannya lagi, bahkan karena keinginannya itu miliknya di bawah sana sudah terasa sesak.
"Tidak, aku tidak setuju. Memang lebih baik di antara kita ada peraturan seperti itu, lagipula kita menikah tanpa ada rasa cinta di dalamnya jadi biarkan kita seperti orang asing saja." tegas Anne, enak saja pria itu bisa menjalin hubungan dengan wanita lain sedangkan ia tidak. Sangat tidak adil menurutnya.
"Kau sangat cerewet." gumam James, kemudian menarik pinggang wanita itu lalu segera m3lum4t bibirnya dengan rakus.
__ADS_1
"Sial, wanita ini benar-benar membuatku tak bisa mengendalikan diri."