
James yang sudah memasuki kabin pesawat dan berlalu menuju private room miliknya nampak mencari istrinya saat tak melihat wanita itu mengikutinya.
"Kemana perginya ?" gumamnya lalu kembali keluar dari ruangannya tersebut dan di lihatnya istrinya itu sedang duduk membaur dengan para anak buahnya.
"Astaga, apa yang dia lakukan di sana? apa dia ingin menggoda para anak buahku ?" geram James, rasa trauma atas perbuatan Grace membuat pria itu tak percaya lagi pada siapa pun baik itu anak buahnya sendiri.
Kecuali Mark, karena pria itu usianya jauh lebih tua darinya bahkan hampir memasuki paruh baya jadi tidak mungkin akan menggoda sang istri dan istrinya pun tak mungkin tertarik dengan pria yang lebih pantas sebagai ayahnya tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di sana ?" James berucap dengan nada tinggi saat melihat istrinya itu dengan asal menghempaskan tubuhnya di salah satu seat bersama dengan para anak buahnya.
"Aku sendiri, kamu mau duduk juga? ayo kemarilah masih ada satu seat di sebelahku." sahut Anne dengan santainya seraya menepuk seat di sebelahnya dan tanpa ia tahu jika suaminya kini sedang siap menerkamnya.
Sementara Mark dan beberapa anak buahnya nampak menahan senyumnya saat melihat nyonya mudanya yang terlalu lugu itu.
"Menjauhlah dari kursi itu !!" perintah James kemudian dengan wajah murka.
"Memang ada yang salah dengan kursinya? di sini juga sangat empuk." Anne belum juga beranjak justru menepuk-nepuk kursi sebelahnya seakan menjelaskan jika kursi tersebut sangat nyaman untuk di duduki bahkan di tiduri sekali pun.
"Mau menjauh sendiri atau aku yang membantumu ?" ancam James yang tentu saja membuat Anne langsung menelan salivanya.
Kemudian tersenyum nyengir menatap pria itu. "A-aku bisa sendiri." ucapnya seraya beranjak dari sana, sangat tidak lucukan jika adegan pria itu membantunya pindah dari sana menjadi tontonan para anak buahnya.
Karena pria itu pasti tidak akan memakai cara biasa seperti menarik tangannya untuk segera beranjak, mengingat wajah geram suaminya yang nampak tak sabar pasti akan segera menggendongnya bak karung beras.
Anne langsung menggelengkan kepalanya saat memikirkan hal itu, lalu ia segera mengikuti suaminya yang entah mau membawanya kemana. Ke ujung dunia juga pasrah memang dia bisa apa jika pria itu sudah berkehendak.
Setelah memasuki sebuah ruangan yang pintunya di sekat menggunakan horden sebagai pemisah dengan ruangan para bodyguardnya, Anne nampak melotot saat mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut.
Di sana nampak sebuah ranjang besar, sofa dan juga meja. Layaknya sebuah kamar hotel namun dengan ukuran lebih kecil.
"Beristirahatlah di ranjang jika lelah !!" perintah James kemudian yang langsung membuat Anne menggelengkan kepalanya, apalagi saat melihat suaminya itu melepaskan jasnya dan menyisakan kemejanya dengan dua kancing atasnya yang sengaja di buka hingga menampakkan sedikit bulu-bulu dadanya.
Melihat itu Anne langsung bergidik ngeri, rasanya ia belum siap jika harus melakukan itu mengingat setelah beberapa waktu tak bertemu ia merasa gugup dan canggung.
Apalagi saat mengingat perbuatan mesum pria itu di rumahnya tadi pagi, membuat bulu romanya seketika berdiri.
__ADS_1
"Aku tidak lelah, jadi aku duduk di sini saja." Anne langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada tak jauh darinya itu, kemudian memasang wajah nyengir menatap suaminya itu.
James nampak menggelengkan kepalanya, kemudian ia menghempaskan bobot tubuhnya di samping wanita itu.
Menggulung lengan kemejanya hingga siku lalu kembali mengeluarkan macbook dari dalam tas kerjanya.
"Selamat siang tuan dan nyonya, saya membawakan menu makan siang untuk anda." ucap seorang pramugari saat baru masuk.
Wanita berwajah bule itu terlihat seksi dengan pakaian yang ketat hingga dua buah asetnya yang besar itu sedikit menyembul seakan ingin menggoda siapa saja yang melihatnya.
"Apa dia sengaja berpakaian seperti itu ?" gerutu Anne dengan pelan seraya melirik ke arah suaminya yang sedang fokus melihat menu makanan.
"Anda mengatakan sesuatu, nyonya ?" tanya pramugari tersebut saat mendengar gerutuan Anne.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun." sahut Anne meyakinkan.
"Baiklah, jadi anda mau memesan apa ?" ucap pramugari itu lagi.
Anne kembali fokus melihat buku menunya dan semua menu yang ada di sana adalah western food yang sebenarnya kurang cocok dengan lidahnya, apalagi saat ia hamil seperti saat ini maunya hanya makan makanan Indonesia.
"Tapi kamu harus tetap makan." timpal James kemudian.
"Jadi anda memesan apa, tuan ?" Pramugari itu langsung bertanya pada James dengan suara sedikit manja dan menggoda di telinga Anne.
"Tidak bisakah dia berbicara seperti berbicara padaku ?" gerutu Anne yang terlihat kesal dan itu tak luput dari pengawasan James melalui ekor matanya.
"Anda mengatakan sesuatu nyonya ?" timpal sang pramugari saat melihat Anne mengatakan sesuatu.
"Tidak." sahut Anne kali ini dengan jutek.
"Baiklah, tuan James mau pesan apa? jika bingung saya bisa memilihkan untuk anda." Pramugari itu nampak sedikit membungkuk untuk melihat buku menu yang James pegang.
Dadanya yang besar kini terlihat semakin jelas menyembul tepat di hadapan pria itu.
"Aku tiba-tiba merasa mual." ucap Anne seraya beranjak dari duduknya, namun James langsung menarik tangannya dan memaksa istrinya itu kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
"Bubur ayam saja satu porsi." ucapnya kemudian.
"Minumnya tuan ?" ucap pramugari itu seraya menegakkan tubuhnya dengan wajah sedikit masam, karena James sedikit pun tak meliriknya.
"Air mineral." sahut James.
"Baik tuan dan nyonya, apa ada yang lain ?" ucap wanita itu setelah mencatat pesanannya.
"Cukup." sahut James tanpa menatap wanita itu lagi.
Setelah pramugari tersebut pergi Anne nampak lega, sebagai sesama wanita ia merasa malu saat melihat bagaimana wanita itu menonjolkan asetnya untuk menggoda suaminya.
Anne jadi berpikir apa pramugari itu juga menggoda pria itu saat datang menjemputnya beberapa hari yang lalu, mengingat suaminya pasti juga memakai private jet ini dan dengan pegawai yang sama.
Membayangkan itu Anne menjadi kesal sendiri, lalu pandangannya ke arah ranjang di hadapannya itu. Apa mereka juga melakukan sesuatu di sana.
"Ah sial."
Anne langsung mengumpati pikirannya sendiri yang terlalu negatif thinking terhadap suaminya itu.
"Tidak usah berpikiran macam-macam." ucap James yang nampak masih fokus dengan macbook di hadapannya.
Anne yang mendengar itu langsung menatap pria itu heran, apa suaminya itu bisa membaca pikirannya.
"Memang menurutmu aku berpikiran apa ?" pancingnya kemudian, tidak mungkin suaminya itu bisa membaca pikirannya dukun saja belum tentu bisa.
"Tergantung padamu." sahut James tanpa menoleh pada istrinya tersebut, jarinya nampak lincah mengetik sesuatu di atas keyboard.
"Aku bertanya padamu tuan James, bukan malah tergantung padaku." sungut Anne, moodnya yang kurang baik kini semakin memburuk saja gara-gara ucapan pria itu.
"Mau penjelasan atau langsung praktek ?" ucap James, kali ini ia menatap istrinya itu dengan lekat yang tentu saja membuat Anne langsung melotot.
"Prak-praktek bagaimana ?"
.
__ADS_1
Yo mboh mana ku tahu🚶🚶🚶