Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~59


__ADS_3

"Bagaimana kamu tidak ingin ku sentuh honey, sedangkan tubuhmu sangat menginginkan ku." William nampak terkekeh gemas dengan penolakan sang istri.


Pria itu sengaja memperlambat gerakannya agas istrinya semakin frustasi bahkan tangannya sengaja meraih bukit kembar wanita itu dan memainkan puncaknya yang telah mengeras.


"Will." Merry terlihat frustasi.


"Katakan kau ingin apa honey ?" William nampak menggoda dengan memperlambat gerakannya bahkan sesekali berhenti dan membiarkan miliknya terbenam sepenuhnya di dalam milik wanita itu.


"Will, please." Merry nampak memohon agar William segera menyudahi permainannya yang teramat menyiksanya dengan sebuah kenikmatan.


"Katakan honey, apa kau menginginkan ini hm ?" William menghentakkan tubuhnya dengan kuat hingga miliknya mengenai inti terdalam wanita itu yang membuatnya langsung mendesah tak karuan.


"Ya Will, seperti itu." racau Merry, ingin sekali ia menampar mulutnya sendiri yang tak tahu malu namun kenikmatan yang di berikan oleh pria itu membuatnya seakan lupa diri.


"Sesuai keinginanmu honey." William mulai mempercepat hujamannya hingga membuat Merry merasa akan segera meledak.


Sementara itu di lantai bawah, James nampak baru masuk ke dalam mansion tuannya tersebut.


"Hanna, apa tuan William sudah bangun ?" tanya James saat Hanna berjalan melewatinya.


"Sudah tuan, beliau sedang membangunkan nyonya muda." sahut Hanna.


"Baiklah." angguk James lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sebentar lagi tuannya ada meeting penting dan sepertinya ia harus segera mengingatkannya.


James bergegas menaiki anak tangga, sampai di atas pria itu lantas melangkahkan kakinya menuju kamar sang tuan yang berada paling ujung.


Saat baru mendekati kamar tersebut James mendengar sayup-sayup suara d3s4h4n dari kamar itu.


Tahu apa yang sedang di lakukan oleh tuannya di dalam sana, James nampak menjauh lalu menghubungi seseorang.


"Tuan, meeting siang ini kami tunda sampai waktu yang tak di tentukan. Baiklah, terima kasih atas pengertiannya." ucap James, kemudian segera menutup panggilannya lalu bergegas pergi dari sana.


"Aku ingin mandi." ucap Merry saat suaminya baru beranjak dari tubuhnya.


"Istirahatlah, sebentar." ucap William, pria itu nampak mengambil tisu lalu membersihkan sisa percintaan mereka kemudian mengenakan celana boxernya kembali.


"Kenapa masih di sini, kamu tidak ke kantor ?" Merry melihat suaminya kembali naik ke ranjangnya lalu bersandar di headboard ranjang di sebelahnya.


"Tidak, aku libur hari ini." sahut William, meski sebenarnya ia ada meeting penting sebentar lagi namun ia takkan pergi sebelum hubungan dengan istrinya itu membaik.

__ADS_1


Sejak peristiwa di kantornya waktu itu, Merry semakin dingin padanya dan itu membuatnya tak tenang.


"Tapi ini bukan hari minggu ?" Merry mengingatkan.


"Aku belum pikun honey bahkan aku masih mengingat bagaimana membuatmu mendesah untuk pertama kalinya." sarkas William yang langsung membuat pipi Merry terasa panas lalu wanita itu memalingkan wajahnya.


Sungguh suaminya itu terlalu frontal saat membahas masalah ranjang.


"Lagipula aku pemilik perusahaan apa kamu lupa? dan libur sehari takkan membuatku bangkrut." imbuh William lagi dengan nada sombong.


Merry nampak mencebik, apalagi saat mengingat peristiwa semalam bagaimana pria itu dan Natalie begitu di puja oleh semua orang yang hadir di sana sebagai pasangan yang serasi.


"Katakan siapa pria semalam? apa kau mengenal sebelumnya ?" cecar William kemudian, pria itu nampak geram saat mengingat bagaimana istrinya itu semalam berpelukan dengan pria lain.


"Aku tidak tahu, mungkin pria yang di kirim oleh Tuhan untuk menemaniku karena suamiku sedang sibuk dengan wanita lain" sindir Merry.


"Aku tidak sibuk dengan wanita lain honey, aku menyapa semua relasi bisnisku." William nampak gemas menatap istrinya yang sedang cemburu itu.


"Dan di temani oleh wanita cantik hingga membuatmu lupa diri, lalu kenapa tidak tidur dengannya saja jadi semakin lengkap kebahagiaanmu." sarkas Merry yang langsung membuat seorang William tertawa nyaring.


"Apa istriku sedang cemburu, hm ?" ucapnya menggoda.


"Tidak." tegas Merry meski ia memang sedang cemburu berat, hanya pria bodoh yang tak bisa memahami perasaannya saat ini.


Namun sepertinya Merry tak percaya sebelum suaminya itu benar-benar meninggalkan Natalie.


Dan sepertinya itu tidak mungkin karena pria itu sebelumnya telah menegaskan jika takkan pernah memilih dan itu berarti William tidak akan meninggalkan Natalie sampai kapanpun.


"Biarkan aku pergi dari sini." mohon Merry menatap suaminya itu.


"Itu tidak akan pernah terjadi, honey." sahut William dengan tegas.


"Kenapa? bukankah kau sudah mempunyai Natalie? kamu akan bahagia hidup bersama wanita itu, kalian pasangan yang serasi." terang Merry meski sudut hatinya terasa tercubit saat mengatakan hal itu.


Namun ini saatnya ia harus bicara dari hati ke hati dengan suaminya itu dan apapun keputusan pria itu akan ia terima.


"Hubungan kami tidak seperti yang kamu kira, aku berhutang nyawa padanya maka dari itu sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkannya." ucap William menatap wanita di sampingnya itu.


Merry nampak terdiam mencerna perkataan suaminya itu. "Berhutang nyawa ?" ulang Merry.


"Hm, itu menjadi awal pertemuan ku dengan Natalie. Dia menemukan ku yang sedang sekarat di pinggir jalan." sahut William, pikirannya melayang ke beberapa tahun silam.

__ADS_1


Bagaimana waktu itu dirinya nyaris di habisi oleh musuh-musuhnya dan Natalie lah yang menemukannya dan membawanya ke rumah sakit.


Sedangkan Merry nampak memijat pelipisnya yang sakit saat kepingan masa lalunya sekelebat menghampiri otaknya.


"Jangan berpikir macam-macam." William menyentil pelan dahi Merry saat wanita itu sedang melamun.


Merry langsung mendesis sakit saat merasakan panas di dahinya.


"Ayo segera bersihkan dirimu atau satu ronde lagi itu lebih baik mungkin ?" goda William yang langsung membuat Merry merangsek menjauh.


"Aku ingin mandi dan makan." ucapnya seraya beranjak dari ranjangnya dan itu membuat William terkekeh di buatnya.


Saat merasakan area intimnya terasa perih Merry langsung mendesis.


"Aku akan membantumu mandi." dengan sigap William langsung membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku bisa sendiri Will, tolong lepaskan aku." Merry nampak meronta.


Mandi bersama pria itu pasti akan memakan waktu lama dan dirinya yang sudah lelah pasti takkan mampu lagi.


"Hanya mandi, honey. Memang apa yang kamu pikirkan ?" ledek William yang langsung membuat pipi Merry memerah, sepertinya otaknya kini sudah ketularan mesum oleh pria itu.


Beberapa saat kemudian mereka nampak keluar dari kamar mandi dengan kimono mandi melekat di tubuh polosnya masing-masing dan Merry bersyukur karena William tak melakukan hal lebih selain membantunya menggosok punggungnya.


"Habiskan makananmu, aku akan mengecek pekerjaan di ruang kerja." ucap William yang kini sudah rapi dengan kaos rumahan serta celana trainning panjang.


Merry mengangguk kecil kemudian wanita itu tersenyum saat melihat kepergian suaminya.


Meski tak ada kata cinta yang keluar dari bibir pria itu tapi kejujuran serta perhatiannya membuat Merry mulai luluh.


Sementara itu William yang sedang berada di ruang kerja nampak memanggil James.


"Selamat siang tuan." sapa James setelah baru masuk.


"Apa kau sudah menunda meetingnya James ?" tanya William kemudian.


"Sudah tuan." sahut James seraya berjalan mendekat.


"Apa ada informasi hari ini ?" tanya William lagi, pandangannya nampak fokus pada layar komputer di depannya.


"Orang suruhan saya tadi pagi melihat tuan Alex mendarat di bandara California, tuan." terang James yang langsung membuat William mengangkat wajahnya menatap asistennya tersebut.

__ADS_1


Nampak raut ketidaksukaan di wajah pria itu saat mendengar nama pria yang paling ia benci itu telah sampai di negaranya.


Alex Martin adalah anak angkat tertua Martin dan pria itu adalah calon suami pilihan Martin untuk putri satu-satunya.


__ADS_2