Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~197


__ADS_3

"Lihatlah Pa, anakmu itu bikin kita malu saja. Baru juga menikah sudah di usir sama suaminya." ucap nyonya Kartika pagi itu saat mereka sedang sarapan bersama.


"Aku tidak di usir Ma, aku pulang karena ingin melihat keadaan Papa saja." timpal Anne di tengah kunyahannya, lalu menatap sang ayah yang semakin kurus.


"Halah alasan, mana ada seorang suami membiarkan istrinya pulang sendirian dari Amerika. Katanya orang kaya tapi memberimu pesawat kelas ekonomi." cibir Nyonya Kartika.


"Suaminya kak Anne memang sangat pelit dan perhitungan Ma, untung calon suamiku tidak." timpal Tasya sang adik tiri.


"Tentu saja calon suamimu kan pejabat dan terkenal sangat royal." Nyonya Kartika menambahi dengan memuji calon menantunya itu.


"Semoga saja uangnya halal." timpal Anne seraya beranjak dari duduknya.


"Apa maksudmu ?" Nyonya Kartika langsung menatap tajam anak tirinya itu.


"Ku yakin mama belum tuli." sahut Anne, lalu membawa piring bekas makan miliknya pergi dari sana.


"Dasar anak kurang ajar, hei tunggu kenapa piringmu dan ayahmu saja yang kamu bawa? ini semua kamu bawa juga !!" teriak nyonya Kartika ketika anak tirinya itu pergi begitu saja tanpa membantu membereskan bekas sarapan mereka.


"Aku bukan pembantu Mama, lagipula tangan dan kaki Mama masih berfungsi dengan baikkan ?" sahut Anne, kemudian segera berlalu ke dapur.


Mungkin semalam wanita itu bisa menindasnya karena ia merasa sangat lelah dan malas bertengkar, namun pagi ini ia merasa sangat bertenaga dan akan melawan apapun yang di perintahkan oleh ibu tirinya itu.


Bahkan ia berencana akan mengusir wanita itu dan adik tirinya yang tidak tahu diri itu dari rumahnya, namun ia harus menyusun rencana yang matang tanpa menyakiti hati sang ayah.


"Bagus Non lawan saja Nyonya Kartika biar tidak semakin semena-mena sama Non, Bibi sebenarnya juga sudah tidak betah di sini tapi mau bagaimana lagi sudah dua bulan gaji Bibi belum di bayar." ucap bibi yang langsung membuat Anne yang sedang mencici piringnya menatapnya tak percaya.


"Bibi serius ?" tanyanya kemudian.


"Kata tetangga pembantu sebelum Bibi juga tidak di bayar Non tapi dia kabur dengan membawa kalung Nyonya, saya kalau tidak mikir kesehatan Tuan pasti juga sudah pergi dari sini." sahut sang Bibi dengan mata berkaca-kaca.


"Mama benar-benar keterlaluan, sebenarnya aku punya rencana apa Bibi mau membantuku ?" ucap Anne kemudian.


"Tentu saja Non." bibi langsung mengangguk setuju.

__ADS_1


"Baiklah, ayo ikut aku." Anne segera mengajak ARTnya itu masuk ke dalam kamarnya.


"Tunggu Non, Bibi membereskan meja makan dulu nanti Nyonya dan Non Tasya marah." cegah Bibi saat Anne menarik tangannya.


"Sudah biarkan saja, mulai sekarang itu tugas mereka." Anne langsung menarik tangan ARTnya itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar mereka.


Beberapa saat kemudian Bibi nampak terperanga saat melihat tumpukan uang di hadapannya. "Itu gaji bibi selama satu tahun dan aku membayarnya dua kali lipat dari gaji yang di berikan oleh mama, tapi mulai hari ini bibi hanya boleh patuh pada ucapanku." ucap Anne menjelaskan.


"Tapi ini terlalu banyak Non." bibi nampak enggan menerimanya.


"Anggap saja ini rezekinya Bibi." sahut Anne.


"Terima kasih ya Non, nanti akan Bibi gunakan untuk memperbaiki rumah di kampung yang sudah pada bocor semua." tangan bibi terlihat gemetar saat memegang tumpukan uang sebesar 50 juta itu.


Anne nampak terharu melihat wanita yang puluhan tahun telah mengabdi pada keluarganya itu terutama dengan mendiang sang ibu.


Baginya wanita paruh baya itu memang pantas menerimanya, karena ia sudah menganggapnya seperti ibu keduanya setelah sang ibu kandung meninggal.


Lagipula tadi pagi ia mendapatkan notifikasi transferan yang sangat banyak dari sang suami di emailnya, jadi uang segitu hanya nol persennya saja dari seluruh tabungannya.


Anne ingin memberikan pria itu kesempatan untuk berpikir jernih dan menyelesaikan segala masalahnya, karena sampai kapan pun ia tak ingin di duakan.


"Bi, Bibi. Cepat bersihkan bekas sarapan di meja !!" teriak Nyonya Kartika beberapa saat kemudian ketika melihat meja makan masih kotor padahal mereka sudah satu jam yang lalu pergi dari sana.


"Biii !!" ulangnya lagi dengan menaikkan oktaf suaranya saat ARTnya itu tak kunjung datang.


"Ma, ini rumah bukan hutan." tegur Anne saat baru keluar dari kamarnya, sedangkan Bibi ia suruh pergi ke bank membuat tabungan.


"Di mana Bibi ?" sungut nyonya Kartika dengan wajah siap menerkam.


"Bibi ku suruh membelikan ku buah." sahut Anne seraya menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa.


"Berani sekali kau menyuruh pelayanku, memang kamu mampu membayar gajinya ?" Nyonya Kartika langsung murka saat anak tirinya itu dengan seenaknya bersikap layaknya nyonya besar.

__ADS_1


"Sudah miskin belagu pula." imbuhnya lagi dan bersamaan itu bibi nampak datang dengan membawa beberapa kantung belanjaan.


"Dari mana Bi? apa Bibi sudah lupa siapa majikan di sini ?" sinis nyonya Kartika seraya menatap ARTnya tersebut.


"Tentu saja tidak, Nyonya." sahut sang Bibi.


"Lalu kenapa Bibi lebih patuh pada anak pembawa sial itu, pergi begitu saja dan membiarkan meja makan masih berantakan." tegur nyonya Kartika berapi-api.


"Maaf nyonya, mulai hari ini Non Anne adalah majikan saya." sela Bibi yang langsung membuat nyonya Kartika tersenyum mengejek.


"Apa Bibi sedang becanda? dari mana dia akan mendapatkan uang untuk membayar gaji Bibi, bahkan untuk makan saja dia minta sama aku." ucapnya merendahkan.


"Tapi itu benar Nyonya, Non Anne sudah membayar gaji saya dua kali lipat selama setahun penuh." terang Bibi lagi.


"Apa ?" Nyonya Kartika langsung melotot tak percaya, dari mana anak tirinya mendapatkan uang sebanyak itu ia bahkan sudah menunggak gaji ARTnya itu selama dua bulan karena terpakai untuk acara lamaran Tasya.


"Mama sudah dengar sendirikan? mulai hari ini Bibi hanya akan mengurus keperluanku. Jika Mama ingin makan atau memakai baju bersih silakan kerjakan sendiri." tegas Anne.


"Tidak, mama tidak mau. Tangan Mama akan kasar jika memasak dan mencuci." tolak nyonya Kartika kemudian.


"Itu sih urusan Mama." timpal Anne lalu segera mengajak ARTnya itu untuk pergi dari sana.


"Tunggu, itu apa ?" sang ibu tiri langsung menghentikan langkah Anne yang membawa dua kantung mangga.


"Mangga, Mama mau? beli dong sendiri bukankah calon menantu Mama kaya raya." sindir Anne.


"Calon menantuku memang kaya raya." Nyonya Kartika langsung menyombongkan diri.


"Bi, tolong bawa mangganya ke belakang lalu kupas beberapa buah untuk papa dan sisanya taruh di kamar saja aku takut ada tikus yang akan mencurinya." perintah Anne kemudian.


"Kau menuduh mama tikus ?" Nyonya Kartika langsung bersungut-sungut.


"Jika Mama tidak merasa kenapa marah, bukankah di rumah ini memang banyak tikusnya ?" Anne nampak tersenyum mengejek lalu segera berlalu dari sana.

__ADS_1


"Dasar anak kurang ajar, awas saja kamu. Aku jadi ingin benar-benar menjual rumah ini dan menendangmu ke jalanan." umpat nyonya Kartika seraya menghentakkan kakinya pergi.


Sementara Anne yang masih berdiri di balik pilar rumahnya nampak tersenyum miring. "Mau menjual rumah ini ya? langkahi dulu mayatku ?" gumamnya, mengingat rumahnya tersebut banyak sekali menyimpan kenangan bersama sang ibu.


__ADS_2