
Hampir satu minggu Alex kehilangan jejak Elsa, wanita itu pergi seperti di telan bumi dan ia pun tak berniat untuk mencarinya. Karena Alex yakin wanita itu pasti akan kembali mengingat tujuan awalnya adalah untuk menghancurkan sang istri.
Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya antara sang istri dengan wanita itu padahal ia rasa istrinya sama sekali tak mengenalnya, mengingat saat mereka bertemu beberapa waktu lalu tak ada raut terkejut di wajah istrinya.
"Kenapa melamun, hm ?" tiba-tiba Celine datang mengejutkannya, wanita itu terlihat seksi dengan gaun tidur yang kekurangan bahan.
"Kenapa kamu berkeliaran di sini dengan pakaian seperti itu ?" tegur Alex mengingat saat ini ia berada di ruang kerjanya di lantai bawah dan pasti akan ada banyak pelayan yang berlalu lalang.
"Ini sudah malam sayang, para pelayan kita bahkan sudah tidur. Aku hanya merindukanmu, akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk bekerja." timpal Celine seraya berjalan mendekati suaminya itu.
"Lihatlah di saat orang lain sudah beristirahat kamu masih sibuk dengan berkas-berkas itu." imbuhnya menatap jengah tumpukan map di atas meja kerja pria itu.
Kemudian Celine meminggirkannya hingga mendapat tempat kosong lalu ia duduk di sana.
"Astaga, apa yang kau lakukan ?" protes Alex saat wanita itu mengacak-acak pekerjaannya.
"Sudah ku bilang aku sangat merindukanmu." sahut Celine kemudian.
Lalu wanita itu sedikit menunduk untuk m3lum4t bibir suaminya itu, mendapatkan serangan tiba-tiba tentu saja Alex tidak menolak.
Ia lelaki normal dan wanita di hadapannya ini adalah istri sahnya, apalagi mengingat akhir-akhir ini mereka jarang sekali bermesraan.
Saat bibir keduanya saling memanggut, Alex langsung menarik tubuh istrinya hingga kini terjatuh ke atas pangkuannya.
Kemudian sebelah tangannya nampak m3r3m4s gundukan indah milik wanita itu bergantian hingga membuat Celine nampak mendesah tertahan.
Wanita itu sangat menyukai setiap sentuhan yang di berikan oleh sang suami hingga membuatnya merasa sangat bergairah malam itu.
Namun tidak dengan Alex, pria itu tak merasa sedikit pun bergairah bersama wanita itu. Ia sudah mencobanya namun kejantanannya tak kunjung bereaksi.
Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Alex mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai istrinya dan wanita itu adalah satu-satunya yang dapat memuaskannya.
"Kenapa ?" Celine nampak tak mengerti saat suaminya tiba-tiba menghentikan sentuhannya.
"Sepertinya aku sangat lelah, akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan di kantor." sahut Alex yang membuat Celine nampak kecewa lalu beranjak dari pangkuan pria itu.
Matanya langsung tertuju pada milik pria itu dari balik celananya yang sama sekali tak bereaksi padahal malam ini ia ingin sekali melakukannya.
__ADS_1
"Kau sih terlalu banyak mengambil proyek, sekarang kamu sendiri yang susah." sindir Celine dengan nada protes.
"Ini semua juga demi kamu sayang, bukankah aku harus bekerja keras untuk memenuhi semua keinginanmu itu ?" timpal Alex mengingat selama ini istrinya itu memiliki gaya hidup yang sangat tinggi.
Mungkin sudah resiko baginya karena menikahi seorang model yang gaya hidupnya pasti glamor.
"Baiklah, aku mengerti. Kamu memang suami idaman." Celine langsung mengecup pipi suaminya itu.
"Oh ya, butik langganan ku sedang mengeluarkan produk terbarunya dan aku mendapatkan undangan. Apa aku boleh datang kesana besok ?" imbuhnya kemudian dan sudah Alex duga wanita itu mendatanginya lalu bersikap mesra pasti ada yang di inginkannya.
Begitulah Celine, hingga membuat Alex yang sudah 7 tahun menjadi suaminya tentu saja sangat hafal dengan perangai wanita itu. Hanya saja ia sangat mencintainya, apapun pasti akan ia lakukan untuk membahagiakannya.
Mungkin terlihat bodoh di mata sebagian orang, namun kadang cinta mengalahkan logika. Lagipula untuk apa ia bekerja keras jika bukan untuk membahagiakan istrinya itu, toh wanita itu juga tak pernah melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri terhadapnya.
"Hm, tentu saja. Gunakan saja kartu kredit milikku." Alex mengambil dompetnya lalu menyerahkan sebuah Credit card tanpa limit miliknya pada wanita itu.
"Terima kasih, sayang." Celine segera mengambilnya lalu menghadiahkannya kembali sebuah kecupan.
"Baiklah, aku istirahat dahulu. Kamu jangan terlalu malam tidurnya ya." imbuhnya kemudian.
"Tentu saja, lagipula aku bisa berangkat ke kantor agak siangan besok." sahut Alex meyakinkan.
Setelah istrinya itu pergi, Alex nampak menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menatap ponselnya di atas meja lalu segera mengambilnya.
Sudah satu minggu ini Elsa benar-benar tak menghubunginya, padahal sebelumnya tiada hari wanita itu selalu mengganggunya dengan mengirimi beberapa video panas miliknya.
Namun kini ponselnya nampak sepi dan ia tiba-tiba mulai merindukannya. "Tidak, ini salah."
Alex berusaha mengingkari perasaannya, kemudian menghela napasnya sejenak lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Keesokan harinya....
Pagi itu Celine nampak mengendarai kendaraan roda empatnya seorang diri menuju sebuah butik langganannya, setelah memarkirkan mobilnya wanita itu segera masuk ke dalam butik tersebut.
Saat sedang melihat-lihat beberapa pakaian dan sepatu yang baru saja di launching, Celine nampak terkejut saat tiba-tiba bertemu dengan Marco.
Entah kebetulan atau tidak namun pria itu nampak tersenyum menyeringai menatapnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini? apa kau datang dengan seseorang ?" tanya Celine seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok yang datang bersama pria tersebut, mengingat butik yang ia kunjungan khusus menyediakan barang-barang milik perempuan.
"Tidak usah mencari yang tidak ada, aku sedang mencarimu." timpal Marco yang sepertinya sangat mengerti isi pikiran wanita itu.
"Mencariku? sepagi ini? jangan bilang kau sedang merindukanku." cibir Celine dengan tersenyum sinis.
"Jika iya memang kenapa ?" sahut Marco seraya menarik pinggang wanita itu hingga kini tubuh mereka saling merapat.
"Kau tetap saja agresif seperti dahulu." gerutu Celine sedikit kesal karena di buat terkejut.
"Dan kau selalu menyukainya, bukan ?" Marco nampak menyeringai, kemudian mendekatkan wajahnya lalu m3lum4t bibir wanita itu dengan rakus dan tentu saja langsung di balas oleh Celine.
Butik yang masih sepi membuat mereka bebas bermesraan tanpa ada yang mengganggu, bahkan kini Marco nampak mendorong wanita itu ke dinding lalu semakin memperdalam ciumannya.
Sementara itu Alex yang masih tidur di ranjang kamarnya, nampak mengerjapkan matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya melalui celah horden yang terbuka.
Kemudian pria itu menatap jam di atas nakas yang telah menunjukkan pukul 9 pagi, rupanya ia bangun kesiangan akibat semalam harus menyelesaikan pekerjaannya hingga dini hari.
Kemudian ia menoleh ke sisih ranjangnya dan sudah tak ada sang istri di sana, mungkin wanita itu sudah pergi ke butik sesuai ucapannya semalam.
Lalu Alex mengambil ponselnya dan menghubungi wanita itu namun tak kunjung di jawab, mungkin saja istrinya itu sedang sibuk berbelanja dan Alex tak lagi menghubunginya.
Ia tak ingin mengganggu kesenangan istrinya itu, ia yakin wanita itu takkan berbuat macam-macam di belakangnya.
Sebelumnya ia memang pernah mendengar beberapa rumor tak sedap tentang wanita itu, namun setelah istrinya itu membuktikan jika rumor itu tak benar dengan lebih memilihnya dan meninggalkan karirnya saat berada di puncak itu sudah cukup baginya.
Karena sesungguhnya sebuah hubungan itu akan langgeng jika saling mempercayai bukan saling mencurigai satu sama lainnya.
Beberapa saat kemudian Alex segera beranjak dari tidurnya lalu bergegas membersihkan dirinya, siang ini ia ada meeting penting dan tak ingin terlambat hanya karena ia bermalas-malasan di tempat tidur.
Menggunakan kemeja berwarna navy membuat pria itu terlihat sangat tampan, bulu-bulu halus yang belum sempat ia cukur pun menambah pesonanya.
Kemudian pria itu keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga sembari menghubungi sang asisten agar segera menyiapkan mobil untuknya.
Namun tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat seseorang sudah duduk di ruang keluarganya dengan menikmati beberapa kudapan.
"Kau !!"
__ADS_1
Alex langsung menatap nyalang saat melihat Elsa sudah duduk dengan anggun di tempat ia biasa menghabiskan waktu santainya bersama sang istri.