
Malam mulai beranjak dan hujan pun belum berhenti hingga membuat udara malam itu lebih dingin.
Dan Natalie pun berinisiatif membuat bubur untuk William agar kesehatan pria itu kembali membaik.
Setelah matang dengan sempurna Natalie segera menaruhnya di sebuah mangkuk.
Tak lupa ia membubuhkan sesuatu yang sebelumnya sudah ia siapkan ke dalam bubur tersebut lalu mengaduknya dengan pelan.
"Tuan sedang tidur, nona." James melarang Natalie saat wanita itu akan membangunkan William agar segera menyantap bubur buatannya.
"Dia harus makan, lagi pula kamu kenapa masih ada di sini? Pulanglah !! karena William malam ini akan tidur di sini dan aku akan merawatnya dengan baik." Natalie menatap tak suka pada James.
"Saya tidak akan meninggalkan tuan kecuali beliau yang memerintahkan saya, nona." ucap pria berwajah datar tersebut.
"Kau..." Natalie terlihat kesal karena James selalu mendebat perkataannya.
Beberapa saat kemudian William nampak mengerjapkan matanya. "Jam berapa sekarang, James ?" tanyanya kemudian.
Rupanya pria itu belum sepenuhnya tidur karena saat mendengar Natalie berdebat dengan asistennya, ia langsung bangun.
"Pukul 7 malam, tuan." sahut James.
"Will makanlah, aku membuatkan bubur untummu." Natalie menyerahkan semangkuk bubur yang nampak masih mengepul asapnya.
"Terima kasih Nat, tapi aku belum lapar." tolak William seraya bangkit dari tidurnya lalu bersandar di bantalan sofa.
"Sepertinya kamu tak pernah menghargai usahaku." Natalie nampak kesal, karena ia sudah memasak dengan sepenuh hati tapi William sama sekali tak tertarik.
"Baiklah, bawa kemari !!" perintah William yang langsung membuat Natalie mengulas senyumnya lalu memberikan bubur tersebut.
"Bagaimana rasanya, enak tidak ?" Natalie mengawasi pria itu yang mulai makan sesendok demi sesendok bubur buatannya.
"Seperti biasanya, selalu enak." puji William.
"Terima kasih." Natalie tersenyum senang.
Beberapa saat kemudian terdengar notifikasi di ponsel James, rupanya pria itu lupa memberi nada silent di ponselnya hingga membuat William maupun Natalie menoleh padanya.
"Nona Merry, apa yang sedang anda lakukan ?" gumam James saat melihat beberapa foto yang Merry kirim ke ponselnya.
Raut wajah pria itu berubah pias dan itu tak luput dari pengawasan William.
"Terjadi sesuatu, James ?" tanya William di suapan terakhirnya.
"Iya tuan, tapi saya bisa mengatasinya." James meyakinkan, lebih baik ia sendiri yang menjemput nyonya mudanya itu mengingat tuannya sedang terluka.
"Lebih baik anda segera beristirahat tuan, saya janji akan segera kembali." imbuh James yang langsung di setujui oleh Natalie.
"Benar Will, paling juga urusan kurang penting jadi lebih baik dia sendiri yang menyelesaikannya dan kamu istirahat saja di sini." bujuk Natalie, rencananya akan gagal jika William pergi dari Apartemennya.
__ADS_1
"Katakan apa yang terjadi, James !!" perintah William saat mencium gelagat aneh asistennya itu.
James menghela napasnya sejenak, rupanya tuannya itu mencurigai gerak-geriknya lantas ia segera menyerahkan ponselnya.
William nampak memicing seketika melihat beberapa foto yang di kirim oleh istrinya itu di ponsel James.
"Damn !!" umpatnya, kemudian beranjak dari duduknya.
"Will, kamu mau kemana ?" Natalie ikut beranjak.
"Ada hal penting Nat, segera minum obatmu dan beristirahatlah." perintahnya pada wanita itu lalu segera pergi meninggalkan Apartemen tersebut.
"Tapi Will..." ucapan Natalie menggantung begitu saja karena William telah menghilang dari Apartemennya.
"Aarghhh, pasti ulah gadis sial itu." Natalie mengacak rambutnya dengan kesal.
Mobil James melaju kencang menuju bar di mana nyonya mudanya itu berada.
Sesampainya di sana, mereka bergegas masuk. Nampak pengunjung sangat penuh dan itu membuat William maupun James kesulitan mencari keberadaan Merry.
"James, cari di setiap meja saya akan cari di lantai dansa !!" perintah William kemudian.
Sementara itu Arthur yang sedari tadi menemani Merry di lantai dansa langsung mengumpat saat melihat keberadaan William tak jauh darinya.
Tidak ingin menimbulkan masalah dan penyamarannya di ketahui, pria itu langsung menjauh dan membiarkan Merry sendirian.
Tak berapa lama Merry merasa tangannya di pegang oleh seseorang lalu di tariknya menjauh dari kerumunan.
"Artha tolong aku." teriak Merry namun suara musik yang memekikkan telinga serta banyaknya pengunjung membuat dosennya itu tak mendengarnya.
"Tolong, lepaskan aku." mohonnya saat posisinya semakin menjauh dari Arthur dan pria asing berpakaian hoodie yang sedang memunggunginya itu terus saja menarik tangannya menjauh dari sana dan membawanya keluar dari bar tersebut.
Merry yang mengira dirinya akan di culik nampak merogoh tasnya dengan satu tangannya lalu mengambil senjata api yang sebelumnya ia curi dari ruang kerja William.
"Lepaskan aku atau aku akan menembak kepalamu !!" teriak Merry, gadis itu nampak mengarahkan senjatanya tepat di belakang kepala pria tersebut.
Sekejap pria itu langsung menghentikan langkahnya dan bersamaan itu Merry nampak menarik pelatuk pistolnya dan siap melepaskan tembakannya.
"Kau mau menembakku honey ?" lirih William seraya berbalik badan menatap istrinya itu.
"Wil-William." Merry terperanjat namun detik selanjutnya gadis itu langsung berhambur ke pelukan suaminya itu.
"Aku pikir kamu seorang penculik." Merry mengadu, sejenak ia melupakan kekesalannya pada pria itu.
William yang masih geram langsung menjauhkan tubuh istrinya hingga nampak jarak beberapa senti di antara mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini? bukankah aku sudah melarangmu untuk menjauhi tempat laknat ini ?"cecar William dengan menatap geram istrinya itu.
Merry yang tadinya bersyukur suaminya datang kini rasa kesalnya pun kembali muncul.
__ADS_1
"Itu semua gara-gara kamu, lagipula memang kamu saja yang bisa bersenang-senang dengan wanita itu. Aku juga bisa bersenang-senang dengan pria lain." sungut Merry yang makin membuat William geram, namun pria itu berusaha menahan emosinya agar tidak sampai melukai istri kecilnya itu.
"Aku sedang tidak bersenang-senang, honey." sahut William.
"Ck, lalu ini apa ?" Merry menunjukkan foto yang di kirim oleh Natalie melalui ponsel pria itu.
"Natalie." William menggeram saat melihat foto dirinya yang sedang tertidur di Apartemen Natalie.
"Aku hanya menjenguknya karena dia sedang sakit." William memberikan alasan.
"Dan berlanjut tidur dengannya ?" cibir Merry namun itu membuat William terkekeh.
"Rupanya kau sedang cemburu, honey ?" goda William.
"Tidak, siapa yang cemburu ?" Merry memalingkan wajahnya, pipinya nampak bersemu merah saat suaminya itu menggodanya.
"Aku senang jika kau cemburu seperti ini." ucap William yang sontak membuat Merry melebarkan matanya, rupanya suaminya itu terlalu percaya diri.
"Tapi kau juga harus mendapatkan hukuman karena ulahmu hari ini." imbuh William lagi.
"Hu-hukuman apa? aku melakukan itu juga karena kamu." protes Merry, harusnya tak ada hukuman karena mereka sama-sama bersalah.
"Kau mencuri senjataku, honey. Jadi menurutmu itu bukan kesalahan hm ?" William menatap senjata api yang masih di pegang oleh istrinya itu.
"I-ini hanya untuk melindungi diriku." Merry berdalih lalu mengulurkan senjata api tersebut pada pria itu.
"Berikan pada James dan terima hukumanmu nanti di rumah !!" perintah William kemudian berjalan menuju mobilnya.
Merry nampak bersungut-sungut lalu memberikan senjata itu kepada James.
Beberapa saat kemudian William nampak merasakan suhu tubuhnya mulai naik padahal udara di dalam mobilnya lumayan dingin.
"Lebih cepat sedikit, James !!" perintahnya kemudian.
"Baik, tuan." James nampak menatap William dari kaca spion depannya, tuannya itu terlihat gelisah dalam duduknya.
"Anda baik-baik saja, tuan ?" James tiba-tiba khawatir.
"Sial, sepertinya Natalie mencampur sesuatu dalam makananku tadi." umpat William dengan keringat mulai membasahi keningnya.
"Apa kamu baik-baik saja ?" karena penasaran Merry mecondongkan tubuhnya mendekati suaminya itu.
"Menjauhlah !!" perintah William kemudian.
"Tunggu, bagaimana kau bisa sangat berkeringat seperti ini ?" Merry langsung menghapus keringat di kening suaminya itu dan tentu saja membuat tubuh William semakin bereaksi.
"Aku bilang menjauhlah !!" William menaikkan oktaf suaranya hingga membuat Merry tersentak lalu gadis itu kembali ke kursinya.
"Kenapa dia semarah itu ?" dada Merry tiba-tiba sesak saat William membentaknya.
__ADS_1