
"Itu tidak mungkin, aku yakin si brengsek itu hanya ingin membuatku marah." gumam Marco seraya menatap James yang membawa Anne masuk ke dalam rumah sakit, ia tak percaya jika mereka telah menikah.
Sementara itu Anne yang belum juga sadarkan diri langsung di periksa oleh dokter.
"Bagaimana keadaan istriku dok ?" tanya James dengan wajah khawatir.
"Sepertinya istri anda kurang beristirahat tuan, asam lambungnya naik hingga membuatnya jatuh pingsan. Tolong lain kali tingkat emosinya serta makannya lebih di jaga lagi karena jika tidak itu akan sangat berpengaruh pada perkembangan janin dalam rahimnya." ucap sang dokter setelah memeriksa Anne.
James nampak menggenggam tangan istrinya itu dengan erat, terbesit perasaan bersalah karena telah membuat wanita itu jadi seperti ini.
"Lalu kapan istri saya akan sadar kembali, dok ?" imbuhnya lagi, karena hingga kini Anne tak kunjung bangun juga.
"Tubuh istri anda lumayan lemah tuan, biarkan beliau beristirahat dahulu. Setelah merasa lebih baik beliau pasti akan segera sadar kembali." terang dokter tersebut seraya memperbaiki slang infusnya.
Beberapa saat kemudian setelah sang dokter berlalu pergi, James nampak naik ke atas ranjang sang istri lalu merebahkan tubuhnya di sampingnya.
"Tidurlah, maafkan aku kamu pasti semalam menungguku pulang." gumamnya seraya memeluknya dengan erat.
Dan tanpa ia sadari jika Marco sedari tadi menatap kebersamaannya dengan Anne dari celah pintu sembari mengepalkan tangannya, kemudian pria itu segera pergi dari sana.
Anne sudah merasuk terlalu jauh dalam relung hatinya hingga membuatnya seketika patah hati saat mengetahui jika wanita itu telah menjadi milik orang lain.
Wanita itu telah membuat banyak perubahan pada dirinya, membangunkan sisi kemanusiaannya yang telah lama mati.
Di saat ia mulai memutuskan untuk mengubur sisi gelapnya namun kini ia seperti di jatuhkan ke dasar jurang.
"Menjadi baik atau buruk itu adalah pilihan, meski selama ini aku merasakan ketidakadilan tapi aku tetap memilih menjadi baik dan aku merasakan ketenangan dengan itu."
Lagi-lagi perkataan wanita itu selalu ampuh membuatnya berpikir ulang saat ingin kembali ke jalan yang salah.
"Sial, kenapa kau seperti seorang malaikat yang terus-menerus menggangguku ?" Marco nampak mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Sementara itu Anne yang baru mengerjapkan matanya nampak menatap dada bidang seseorang yang membuatnya langsung mendongak ke atas.
"Tuan James ?" gumamnya setengah sadar lalu ia mengangkat tangannya untuk menyentuh rahang pria itu tapi itu justru membuat suaminya langsung terbangun.
"Kamu sudah bangun, apa ada yang sakit ?" James langsung memeriksa keadaan istrinya itu.
"Aku tidak pernah menyukai tuan Marco, tolong percaya padaku." mohon Anne kemudian.
"Sstt, lupakan semuanya. Jangan pernah membicarakan pria lain lagi." timpal James kemudian.
"Apa kamu masih marah? aku sangat mengkhawatirkan mu jadi semalaman aku menunggumu. Apa kamu baik-baik saja ?" ucap Anne dengan mata berkaca-kaca dan itu membuat James semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku." ucapnya kemudian seraya membawa istrinya itu kembali ke dalam pelukannya.
"Jangan seperti ini lagi, kamu tahukan aku tidak mungkin menghianatimu. Aku lakukan semua ini karena aku ingin permusuhan di antara kalian berakhir, aku tidak ingin hidup selalu di bayangi ketakutan. Aku ingin hidup normal seperti orang lain, aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu sebelumnya tapi ku mohon sudahi ini semua. Demi aku demi anak kita, ku mohon." ucap Anne di tengah isak tangisnya yang membuat James nampak menghela napas panjangnya.
Sebenarnya ia juga tidak ingin hidup seperti ini, namun inilah jalan hidup yang sudah di takdirkan untuknya. Mau tidak mau istrinya itu juga harus ikut terlibat.
"Maafkan aku, tapi aku janji akan selalu melindungimu dan anak kita." ujar James kemudian.
Beberapa hari kemudian Anne yang sudah keluar dari rumah sakit kini kembali lagi ke kantornya, bukan sebagai seorang karyawan melainkan istri dari wakil direktur di sana.
Sejak mengetahui istrinya di perlakukan kurang baik oleh beberapa karyawannya, James melarang wanita itu untuk kembali bekerja di kantornya.
Dan siang itu Anne yang sebelumnya di perintahkan oleh suaminya datang ke kantornya, nampak membawa bekal makan siang untuk pria itu.
Wanita itu terlihat senang karena beberapa hari ini hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah saja dan itu sangat membosankan.
Saat baru menginjakkan kakinya di lobby kantor, ia mendapati beberapa karyawan nampak menatapnya tak suka seperti biasanya.
Anne tidak mengerti kenapa mereka tak pernah menyukainya, namun ia tak pernah ambil pusing.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah di pecat? untuk apa datang kesini lagi? Ck, apa kau berniat ingin menggoda James lagi ?" cibir Jennifer yang baru saja datang.
"Iya nih benar-benar tidak tahu malu." timpal yang lainnya lagi.
"Anne, kenapa kamu datang? apa kamu masih ada urusan di sini ?" tiba-tiba nyonya Darrien yang baru datang juga langsung ikut menimpali.
"Tuan James menyuruhku datang." sahut Anne dengan mengulas senyum tipisnya.
"Ck, apa kau sedang mengarang cerita? untuk apa James menyuruhmu datang ke sini ?" cibir Jennifer tak terima.
"Aku yang memang menyuruhnya datang ke sini, apa kamu dari tadi sayang ?" ucap James tiba-tiba yang membuat semua orang yang ada di sana langsung menoleh dan terkejut.
"Tidak, aku baru saja kok. Semua karyawanmu ini sangat ramah hingga rela menyempatkan waktunya untuk menyapaku." sahut Anne dengan tersenyum lebar seakan tak terprovokasi oleh berbagai cibiran yang mereka arahkan padanya.
"Oh ya mumpung kalian semua sedang berkumpul di sini, aku ingin memberitahukan sesuatu yang penting." ucap James kemudian seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu yang tentu saja membuat semua orang di sana langsung melebarkan matanya.
"Wanita ini adalah istriku." tegas James dan sontak membuat mereka semua nampak terkejut.
"Dan saat ini dia sedang mengandung anakku." imbuh James lagi seraya mengusap perut sang istri yang mulai membesar dan itu tak luput dari pengawasan mereka semua.
"Kamu sedang becandakan, James ?" Jennifer langsung protes.
"Apa aku pernah becanda ?" Timpal James kemudian yang semakin membuat mereka semua ketakutan dan merasa bersalah karena wanita yang ia buly selama ini ternyata istri wakil direkturnya tersebut.
"Ma-maafkan kami nyonya, kami tidak tahu jika anda adalah istri tuan James." ucap salah satu dari mereka dengan wajah menyesal.
"Benar nyonya, nona Jennifer yang selalu memengaruhi kami untuk menyudutkan anda." ucap yang lainnya lagi.
"Ke-kenapa kalian jadi menyalahkan aku ?" Jennifer langsung bersungut-sungut saat semua orang berbalik menyudutkannya.
"Memang kamu yang selalu mempengaruhi kami untuk membenci nyonya Anne." ucap salah satu dari mereka lagi.
__ADS_1
"Cukup !!" tegas James saat semua karyawannya saling menyalahkan.
"Keputusan ada di tangan istriku, bagiku tak masalah kehilangan beberapa karyawan yang sama sekali tak berkompeten." imbuh James lagi dengan tak berperasaan dan itu membuat mereka semua langsung memucat lalu menatap Anne dengan wajah memelas.