
"Aku tidak mungkin hamil percayalah." ucap Elsa meyakinkan.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? maksudku bisa sajakan kamu tiba-tiba hamil." timpal Alex kemudian.
"Tidak, aku yakin tidak mungkin hamil." tegas Elsa, obat yang ia minum adalah obat yang sama yang dulu pernah ia minum saat menjalankan misinya dan itu berhasil.
"Apa karena ini ?" Alex langsung menunjukkan sebuah botol obat miliknya yang entah sejak kapan pria itu mengambilnya.
"Itu hanya vitamin, tak berarti apa-apa." Elsa hendak merebut namun Alex langsung menjauhkannya.
"Kau yakin hanya vitamin ?" ucapnya kemudian.
"Ten-tentu saja, memang apalagi ?" Elsa semakin salah tingkah, namun saat menatap wajah intimidasi pria itu mau tak mau ia mengaku.
"Maafkan aku." ucapnya dengan memasang wajah bersalah.
"Kenapa kamu melakukan itu? apa kamu memang tak menginginkan anak dariku ?" Alex menatap datar wanita itu dan membuat Elsa semakin merasa bersalah.
Harusnya rencananya akan aman sampai mereka menikah, namun pria itu terlalu lihai untuk di bohongi.
"Aku hanya takut hamil sebelum menikah, itu rasanya sangat sulit sekali." terang Elsa dengan wajah berkaca-kaca.
"Jadi sampai saat ini kamu masih meragukan ku ?" Alex nampak tak percaya dengan perbuatan wanita itu bahkan ia telah menunjukkan keseriusannya dengan menikahinya namun tetap saja tak ada artinya.
"Tolong maafkan aku." mohon Elsa yang entah kenapa hingga saat ini ia belum sepenuhnya percaya pada pria itu.
"Bukankah kamu bilang semua bisa di bicarakan, hm? tapi nyatanya kamu sendiri yang mengingkari." ucap Alex dengan raut kecewa saat kembali mengingat perkataan wanita itu beberapa waktu lalu.
"Ya aku tahu, tolong maafkan aku." mohon Elsa, harusnya ia tak berbohong dan lebih memilih berbicara pada pria itu perihal kekhawatirannya.
Alex nampak menghela napas panjangnya, kemudian pria itu mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas. "Bersiaplah, kita ke dokter sekarang !!" ucapnya lantas segera meninggalkan kamar tersebut sebelum wanita itu sempat protes.
Beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai oleh Jack nampak melaju kencang menuju rumah sakit, baik Alex maupun Elsa terlihat saling mendiamkan dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Sudah sampai, tuan." ucap Jack yang sudah berhenti di depan sebuah rumah sakit.
"Keluarlah !!" perintah Alex dengan menatap Elsa sejenak, lantas pria itu segera keluar dari mobilnya.
"Kamu masih marah ?" tanya Elsa di tengah mereka melangkah.
"Tidak, hanya kecewa." sahut Alex tanpa menatap wanita itu.
"Tolong maafkan aku." mohon Elsa lagi namun pria itu tak lagi menanggapinya dan itu membuat wanita itu merasa kecewa.
Harusnya pria itu mengerti akan kekhawatirannya bukan justru mementingkan perasaannya sendiri, meski dari awal ia yang salah karena tidak berkata jujur.
"Kenapa kita ke dokter kandungan? aku sedang tidak hamil." Elsa langsung protes saat pria itu hendak mengajaknya ke ruang dokter kandungan.
"Aku hanya ingin memastikan." timpal Alex lantas menggenggam tangan wanita itu lalu segera membawanya masuk.
__ADS_1
Setelah konsultasi sejenak Elsa segera menjalani beberapa pemeriksaan. "Bagaimana keadaan istri saya dok ?" tanya Alex ketika dokter baru selesai memeriksanya dan itu membuat hati Elsa seketika menghangat.
"Istri ?" batinnya.
Dokter tersebut langsung mengulas senyumnya. "Istri anda hanya mengalami gangguan pencernaan tuan dan lain kali tolong di jaga makanannya jangan sampai telat." ucapnya kemudian dan itu membuat Elsa langsung tersenyum senang, akhirnya ia tidak hamil namun saat melihat wajah datar pria di sebelahnya itu ia segera menyurutkan senyumnya.
"Apa obat kontrasepsi yang dia konsumsi selama ini bisa mempengaruhi kesuburannya, dok ?" tanya Alex to the point dan itu membuat Elsa langsung menelan ludahnya, jadi ini tujuan pria itu membawanya ke dokter kandungan.
"Tentu saja tuan, istri anda harus mengkonsumsi obat penyubur untuk menstabilkan hormonnya dan makan makanan yang sehat jika ingin segera hamil kembali." terang sang dokter.
"Baiklah, terima kasih dok." Alex nampak lega.
Setelah berkonsultasi beberapa saat mereka segera meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Tolong maafkan aku, menginaplah jika kamu ingin." ucap Elsa setelah mereka baru sampai di Apartemennya.
"Istirahatlah, ada beberapa pekerjaan yang harus segera ku selesaikan." sahut Alex masih dengan wajah dinginnya dan itu membuat Elsa merasa kecewa, kemudian wanita mengangguk kecil lantas segera masuk ke dalam Apartemennya.
"Kamu baik-baik saja ?" tanya Sam saat melihat Elsa baru datang, Sam yang sedang duduk di depan televisi itu segera beranjak dari duduknya.
"Hm, terima kasih sudah menjaga putraku. Apa dia sudah tidur ?" sahut Elsa kemudian.
"Baru saja." Sam langsung mengangguk.
Elsa yang sedang melangkah menuju kamarnya tiba-tiba berhenti saat mengingat sesuatu.
"Sam, apa kamu yang mengganti obat kontrasepsi itu dengan vitamin ?" tanyanya kemudian dan itu membuat Sam nampak salah tingkah.
"Sudah ku duga." timpal Elsa.
"Baiklah, tidak apa-apa." imbuhnya lantas segera masuk ke dalam kamarnya.
"Apa tuan Alex marah padamu ?" Sam langsung mengikuti wanita itu hingga ke kamarnya.
"Tentu saja bahkan dia bersikap dingin padaku." sahut Elsa seraya meletakkan tasnya di atas ranjangnya.
"Benarkah? tapi ku rasa itu takkan lama jika kamu bisa merayunya." timpal Sam memberikan saran.
"Merayunya ?" Elsa langsung membola.
"Tentu saja, jangan bilang kamu lupa caranya merayu." sahut Sam kemudian.
"Tentu saja tidak, memang harus ya ?" ucap Elsa seraya menghempaskan bobot tubuhnya di tepi ranjang.
"Astaga, apa kamu tidak menyadari jika tuan Alex itu menjadi incaran seluruh wanita cantik? jangankan para wanita aku saja....." Sam langsung menjeda ucapannya saat wanita itu tiba-tiba menyelanya.
"Stop, Sam. Jangan bilang kamu juga menyukainya ?" Elsa langsung memicing menatap pria itu.
"Aku mana berani, tapi kalau mengaguminya tidak apa-apakan ?" sahut Sam yang langsung mendapatkan pukulan dari wanita itu secara bertubi-tubi.
__ADS_1
"Pergilah, aku sedang kesal sama kamu !!" ucap Elsa dengan berapi-api.
"Kamu membuatku babak belur." gerutu Sam seraya melangkah meninggalkan kamar wanita itu.
Sementara Elsa nampak melangkah menuju jendela kamarnya, menatap pemandangan malam yang terlihat indah itu.
"Apa aku harus merayunya ?" gumamnya kemudian.
Keesokan harinya....
"Langsung pulang nyonya ?" ucap Jack setelah mengantar Axel ke sekolah.
"Apa tuan ada di kantor ?" tanya Elsa kemudian.
"Sepertinya begitu nyonya, saya belum mengeceknya." sahut Jack.
"Jadi semalam dia tidak tidur di kantornya ?" Elsa langsung mengernyit.
"Semalam beliau tidur di hotel, nyonya." sahut Jack.
"Hotel ?" entah kenapa tiba-tiba pikiran Elsa tidak enak.
"Kenapa tidur di hotel, bukankah dia mempunyai ruangan di kantornya ?" imbuhnya dengan penasaran.
"Mungkin tuan sedang bosan, nyonya." sahut Jack lagi.
"Bosan ?" Elsa langsung memicing, tentu saja pria itu pasti bosan dengan keadaan kantor yang sepi lantas memilih tidur di hotel yang botabennya banyak sekali tempat hiburan di sana.
"Dia menginap sendirian ?" selidik Elsa kemudian.
"Saya kurang tahu nyonya, semalam setelah mengantar beliau ke hotel saya langsung pulang ke Apartemen." sahut Jack.
"Pasti dia bersenang-senang semalam."
"Clubbing ?"
"Minum-minum bersama wanita ?"
"Dan berakhir di ranjang ?"
"Tidak, tidak."
Elsa nampak mengacak rambutnya dengan kesal saat memikirkan isi otaknya yang tak mau bekerja sama.
"Anda baik-baik saja, nyonya ?" Jack yang memperhatikan dari kaca spionnya nampak heran.
"Hm, antarkan aku ke kantor tuanmu itu sekarang juga !!" perintahnya kemudian.
"Tentu saja, nyonya." sahut Jack lantas mulai mencari jalan alternatif menuju kantor tuan besarnya itu.
__ADS_1
"Awas saja jika itu sampai terjadi."