Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~213


__ADS_3

"Ku peringatkan kakak jangan macam-macam di gala dinner nanti." ulang Jennifer lalu segera mengakhiri panggilannya secara sepihak, kemudian wanita itu segera berlalu keluar dari toilet.


"A-apa yang kau lakukan di sini ?" Jennifer langsung terkejut saat tiba-tiba melihat Anne yang hendak masuk ke dalam toilet tersebut.


"Tentu saja ke toilet memang mau ngapain ?" sahut Anne seraya memindai wanita cantik di hadapannya itu.


"A-apa kau dari tadi ?" selidik Jennifer yang khawatir wanita itu telah mendengar percakapannya dengan sang kakak.


"Tidak, aku baru saja datang. Kenapa? ada yang membuatmu khawatir ?" timpal Anne seraya menatap curiga pada wanita itu.


"Tentu saja tidak, jangan sok tahu kamu." Jennifer langsung menghentakkan kakinya pergi.


Sementara Anne nampak mengangkat sudut bibirnya menatap kepergian wanita itu. "Siapa kau sebenarnya, Jennifer ?" gumamnya kemudian.


Sementara itu James yang menunggu sang istri tak kunjung datang nampak kesal, kemudian pria itu segera keluar dari ruangannya.


"Di mana istriku ?" tanyanya pada sang sekretaris yang sedang sibuk di depan layar komputernya.


"Tadi katanya mau ke toilet, tuan." sahut Rose.


"Toilet? di mana? bukankah di ruanganku juga ada toilet ?" James menautkan alisnya menatap sekretarisnya itu.


"Nyonya Anne pergi ke toilet umum." terang Rose lagi.


James menghela napasnya karena tak habis pikir dengan istrinya itu dan tak berapa lama wanita itu datang.


"Darimana saja? apa kamu sengaja berkeliaran di kantor ini saat jam kerja untuk menggoda para lelaki ?" tegur James kemudian.


"Kau pikir aku wanita apaan? memang kamu sengaja makan sepiring berdua di depanku dengan ondel-ondel monas itu ?" sungut Anne tak mau kalah.


"Kau !!" James nampak geram sekaligus gemas dengan istrinya itu, lalu langsung mencekal tangannya dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.


"Astaga, mereka benar-benar seperti Tom dan Jerry." gumam Rose seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, nyonya Anne tadi bilang apa? ondel-ondel monas ?"


Rose yang penasaran langsung mengambil ponselnya lalu segera berselancar di internet.


"Astaga."


Rose nampak melotot saat melihat beberapa potret di layar ponselnya itu lalu detik selanjutnya wanita itu tak bisa menahan lagi tawanya.


"Anda benar-benar lucu, nyonya."


Ehm


"Apa yang sedang kamu tertawakan ?" tiba-tiba Jennifer muncul begitu saja di hadapan Rose hingga membuat wanita itu berjingkat kaget.


"Astaga, ondel-ondel." ucapnya kelepasan.

__ADS_1


"Apa kamu bilang ?" ucap Jennifer tak mengerti.


"Tidak nona, ngomong-ngomong ada apa nona Jennifer kemari? apa ada yang bisa aku bantu ?" ucapnya kemudian pada wanita cantik yang selalu berdandan menor itu.


"Apa James sibuk ?" tanya Jennifer kemudian.


"Beliau sedang sibuk nona dan tak bisa di ganggu." terang Rose seraya menunjuk sebuah tulisan peringatan di depan pintu tuannya tersebut.


Jennifer berdecak kesal. "Lalu di mana asistenmu itu ?" tanyanya kemudian saat tak melihat Anne di meja kerjanya.


"Nona Anne sedang ada pekerjaan di lantai bawah, apa perlu ku panggilkan ?" dusta Rose.


"Tidak perlu, memang aku ada urusan apa sama seorang asisten." sahut Jennifer lalu segera pergi begitu saja, namun baru beberapa langkah wanita itu berhenti lalu berbalik badan.


"Lain kali panggil saja namanya, tidak usah pakai Nona kamu pikir asisten itu Nona besar yang harus kamu hormati? meski dia bawaan tuan William tapi posisinya tetap di bawah kita." ucapnya kemudian, lalu kembali melangkahkan kakinya pergi.


"Syukurlah tuan James mempunyai istri seperti nyonya Anne, jika saja wanita sombong itu yang di nikahinya aku tak bisa membayangkannya." gumam Rose.


Sementara itu Anne yang berada di ruangan James nampak masih saja berdebat dengan suaminya itu.


"Kau memang suami yang tak berperasaan, bisa-bisanya makan satu piring dengan ondel-ondel monas itu." ucapnya berapi-api.


"Lalu aku harus makan satu piring denganmu, hm? baiklah ayo dengan senang hati pasti akan ku lakukan." timpal James kemudian.


"Ya tidak begitu juga, nanti rahasia kita akan ketahuan." protes Anne.


"Jadi tadi kamu sengaja melakukan itu karena ingin membantuku? kalau begitu terima kasih." Anne mulai merendahkan suaranya lalu ikut duduk di samping suaminya itu.


"Hanya terima kasih ?" James menatap istri cantiknya itu.


"Tidak, aku akan memberikanmu satu pelukan mungkin." Anne langsung merapatkan tubuhnya lalu memeluk suaminya itu dan itu membuat James mengulas senyumnya.


"Aku tidak tahu apa tujuanmu merahasiakan pernikahan kita, tapi ku harap segera sudahi ini semua. Apapun yang terjadi aku akan melindungimu dan anak kita, mengerti !!" tegas James seraya mengusap punggung istrinya itu.


"Boleh aku bertanya sesuatu ?" tanya Anne yang masih berada dalam pelukan pria itu.


"Hm, katakan !!"


"Sejauh mana kamu mengenal nyonya Darrien dan Jennifer ?" ucap Anne kemudian.


"Aku mengenal nyonya Darrien sejak tuan William memasukkan ku ke dalam universitas, kebetulan aku dan Jennifer satu kelas dan nyonya Darrien sebagai wali penggantinya Jennifer karena ibunya telah tiada." terang James.


"Jennifer punya saudara ?" tanya Anne lagi seraya mendongakkan kepalanya menatap suaminya itu.


"Aku tidak tahu sayang, tapi setahuku sejak aku mengenalnya mereka hanya tinggal berdua. Lagipula untuk apa aku mencari tahu? itu bukan urusanku." sahut James.


"Siapa tahu dia mempunyai seorang kakak." timpal Anne yang langsung membuat James mengernyit.


"Hei sayang, sejak kapan kamu peduli dengan kehidupan seseorang hm? aku dan Jennifer tak ada hubungan apapun. Kami dulu memang sangat dekat tapi itu hanya sebatas sahabat, karena waktu itu kami merasa memiliki nasib yang sama-sama tak mempunyai orang tua. Tapi percayalah Jennifer itu wanita yang baik jika kamu sudah mengenalnya." terang James seraya mengurai pelukannya agar bisa menatap wajah cantik istrinya itu.

__ADS_1


"Hm, baiklah." Anne mengangguk kecil, lebih baik ia tutup mulut dahulu karena jika tanpa bukti suaminya itu pasti takkan percaya padanya kalau Jennifer mengenal seseorang yang mungkin akan membahayakan hidup pria itu.


"Sepertinya aku harus kembali ke mejaku." Anne segera beranjak dari duduknya namun James langsung menahannya.


"Tidak, hari ini kamu takkan ku biarkan kemana-mana." tegas James seraya melepaskan kancing pakaian istrinya itu satu persatu.


"Astaga tuan James, ini di kantor." protes Anne.


"Memang kenapa? ini ruanganku dan aku bebas melakukan apapun di sini." sahut James dengan suara yang mulai berat seiring dengan pakaian istrinya yang tanggal satu persatu.


Dan selanjutnya hanya suara erangan percintaan keduanya yang terdengar di ruangan yang di desain kedap suara tersebut.


James memang sudah tergila-gila dengan istrinya itu tapi ia adalah sosok pria yang sulit untuk di kendalikan oleh seseorang baik wanita itu sekali pun.


Bagaimana pun sayangnya James pada seorang wanita, ia akan tetap menjadi pribadinya yang selalu dominan.


Keesokan harinya....


"Selamat pagi nona Anne, sepertinya tidurmu sangat nyenyak semalam." sapa Rose pagi itu saat Anne baru datang.


"Tentu saja." sahut Anne, setelah percintaannya dengan suaminya kemarin ia merasa bisa tidur dengan sangat nyenyak.


"Oh ya, nanti malam ada acara gala dinner apa tuan James mengajakmu ?" tanya Rose kemudian.


"Tidak, gala dinner apa ?" Anne menggelengkan kepalanya tak mengerti, atau acara ini yang di maksud oleh Jennifer saat menghubungi seseorang di toilet kemarin.


"Gala dinner para pengusaha dan perusahaan kita mendapatkan 6 undangan, karena tuan William sedang cuti mungkin hanya 5 orang yang akan datang." terang Rose.


"Memang siapa saja yang datang ?" Anne tiba-tiba jadi penasaran.


"Tuan James dan aku selaku sekretarisnya, nona Jennifer selaku manager marketing dan dua lainnya manager keuangan dan personalia." terang Rose yang langsung membuat Anne melotot.


"Jadi ondel-ondel itu ikut juga ?" ucapnya memastikan.


"Benar bu."


"Memang sepenting apa acara itu ?"


"Tentu saja sangat penting, karena di sana akan banyak investor yang mungkin akan tertarik bekerja sama dengan perusahaan kita atau sebaliknya." terang Rose yang sontak membuat Anne mempunyai ide licik.


"Jadi undangan untuk tuan William tidak di pakaikan ?" tanyanya kemudian.


"Tidak, kan beliau sedang cuti."


"Baiklah, aku yang akan pakai undangan itu." timpal Anne yang tentu saja membuat Rose langsung melotot.


"Tapi nona...."


"Aku yang akan bertanggung jawab." tegas Anne meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2