
"Sayang, jangan diam saja ayo beri wanita itu pelajaran." rengek Tasya saat kekasihnya itu belum juga bertindak.
"Sya, apa kamu yakin Anne tega melakukan itu semua? kok aku kurang percaya ya. Hampir 4 tahun aku mengenalnya dan dia tipe wanita yang tidak tegaan." timpal Arya kemudian, sepertinya pria itu mulai sanksi dengan perkataan kekasihnya tersebut mengingat selama ini Anne wanita yang tak pernah bermasalah di kampus bahkan jiwa sosialnya sangat tinggi.
"Jadi kamu lebih memilih membelanya ?" Tasya langsung bersungut-sungut menatap tunangannya itu.
"Bu-bukan begitu." Arya nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bagaimana jika kita pergi shopping saja ?" imbuhnya mengalihkan pembicaraan yang tentu saja membuat Tasya maupun nyonya Kartika langsung berbinar-binar.
"Tentu saja tapi kamu ikut ya ?" Tasya langsung mengangguk setuju, kapan lagi ia akan shopping gratis.
"Aku harus kerja Sya, kamu sama mamamu saja ya." timpal Arya seraya mengeluarkan sebuah credit card dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada tunangannya tersebut.
"Tapi..." Tasya nampak enggan menerima, saat kekasihnya itu tak ingin menemaninya.
"Udah tidak apa-apa Mama akan temani kamu." Nyonya Kartika langsung mengambil credit card dari tangan sang calon menantunya itu.
"Baiklah, kalau begitu aku balik kantor ya." Arya menatap Tasya sejenak lalu beralih menatap ke arah Anne, menatap wanita itu sedikit lama kemudian baru membuka suaranya.
"An, aku pergi dulu ya." ucapnya berpamitan yang hanya di tanggapi oleh Anne dengan anggukan kepalanya saja, setelah itu Arya segera berlalu dari sana.
"Baiklah kamu menang saat ini tapi lihat saja setelah Arya menjadi suamiku akan ku buat kau menderita, dasar wanita pembawa sial. Pantas Tuan James membuangmu ke jalanan karena dia juga tidak mau ke ikut sial juga." cibir Tasya, kemudian segera mengajak sang ibu pergi.
"Ku kira akan menarik, ternyata biasa saja." gumam Anne seraya beranjak dari duduknya, lebih baik ia menyiram taman yang baru ia buat kemarin.
Ehmm
Tiba-tiba seseorang berdehem hingga membuat Anne yang sedang menyirami bunga-bunganya langsung menoleh ke sumber suara dan matanya nampak melebar saat melihat Arya tiba-tiba berdiri di balik pagar rumahnya, bukankah pria itu tadi sudah pergi pikir Anne.
"An, bisa kita bicara sebentar ?" ucap Arya kemudian, pintu gerbang yang tak di kunci membuat pria itu melangkah masuk.
"Jika menyangkut Tasya aku tak peduli." timpal Anne sembari melanjutkan menyirami bunga-bunganya.
"Tidak, tapi tentang kamu." sahut Arya yang langsung membuat Anne menghentikan kegiatannya lalu kembali menatap pria itu.
"Ku dengar dari Tasya kamu baru saja di cerai oleh suamimu, meski terdengar buruk tapi jujur aku senang dengan statusmu saat ini." imbuh Arya yang langsung membuat Anne tersenyum sinis.
"Hanya itu ?" timpalnya kemudian.
"Sebenarnya perasaanku belum pernah berubah Ann, tak peduli bagaimana statusmu saat ini." sahut Arya.
Anne nampak terdiam. "Apa aku manfaatkan saja dia untuk membalas perbuatan mereka ?"
...----------------...
__ADS_1
Pagi itu William yang baru datang nampak mengernyit saat mencium aroma jeruk di seluruh penjuru kantornya, padahal biasanya berbagai aroma parfum dari karyawannya singgah di indra penciumannya.
"Apa selera parfum kalian berubah ?" tanyanya pada beberapa karyawan yang kebetulan sedang menyambut kedatangannya.
"Tidak tuan." sahut mereka serentak.
"Lalu kenapa saya hanya mencium satu aroma parfum saja ?" William kembali mengernyit.
"Itu tuan, sebenarnya tuan James yang meminta untuk mengganti parfum kami." sahut salah satu karyawan di sana.
"Benar tuan, bahkan merk parfumnya pun beliau yang menentukan." imbuh yang lainnya lagi.
"Benarkah ?" William nampak tak mengerti dengan perubahan sikap asistennya tersebut.
"Sepertinya ada yang tak beres."
William segera melangkahkan kakinya menuju ruangan sang asisten, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu pria itu segera membuka pintunya.
"Tuan !!"
James yang sedang memijit pelipisnya nampak terkejut dengan kedatangan bossnya itu yang tiba-tiba, kemudian pria itu segera beranjak dari duduknya.
"Kau baik-baik saja James? wajahmu sangat pucat. Apa lenganmu mengalami infeksi lagi ?" tanya William seraya berjalan mendekat.
"Tidak tuan." James langsung menggeleng.
Namun kali ini asistennya itu benar-benar terlihat lemah bahkan wajahnya sangat pucat seperti tak teraliri darah.
"Entah kenapa beberapa hari ini saya tiba-tiba merasa pusing tuan dan saat mencium sesuatu yang sedikit menyengat saya langsung mual." terang James kemudian.
"Itu sebabnya kamu mengganti semua parfum karyawan di sini ?" timpal William seraya menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa
"Benar tuan." James mengangguk kecil.
"Benar-benar aneh, apa kamu sudah periksa ke dokter ?"
"Sudah tuan dan dokter mengatakan saya baik-baik saja." sahut James.
"Tidak bisa mencium bau menyengat, kamu benar-benar seperti istriku saat awal kehamilannya." terang William, lalu saat menyadari ucapannya pria itu langsung menatap lekat asistennya tersebut.
"Jangan-jangan istrimu sedang hamil, James ?" tebaknya kemudian.
"Ha-hamil ?" James nampak tak percaya namun sudut bibirnya langsung terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Tentu saja, kata dokter kandungan istriku mual muntah itu tidak hanya di rasakan oleh ibu hamil tapi bisa juga suaminya yang mengalaminya." terang William yang sepertinya mulai banyak tahu sejak istrinya mengandung buah hatinya.
__ADS_1
"Jadi Anne sedang hamil saat ini ?" James mulai kalut, jika benar wanita itu sedang hamil, lalu bagaimana keadaannya sekarang? apa wanita itu baik-baik saja? apa juga mengalami mual dan muntah seperti dirinya? lalu bagaimana jika istrinya itu tiba-tiba menginginkan sesuatu seperti orang hamil pada umumnya, sedangkan tak ada dirinya di sisinya saat ini?
James mulai frustasi, berbagai macam pertanyaan mulai memenuhi kepalanya.
"Lebih baik kamu pulang dan bawa segera istrimu periksa ke dokter, James !!" perintah William kemudian yang langsung membuat James nampak menelan salivanya, karena tuannya itu belum mengetahui jika istrinya sudah pulang ke Indonesia.
"Maaf tuan, tapi Anne sedang tidak ada di rumah." ucapnya kemudian.
"Maksud kamu ?"
"Setelah mengetahui hubungan saya dan Grace, Anne memutuskan untuk pulang ke Indonesia." sahut James dengan wajah bersalahnya.
"Apa ?"
"Maafkan saya tuan, seandainya dari awal saya mendengarkan anda mungkin masalah ini takkan menjadi serumit ini." ucap James lagi.
William nampak menghela napas panjangnya, kemudian pria itu segera beranjak dari duduknya. "Ku harap setelah ini kau tak mengulangi kebodohanmu lagi James dan segera jemput istrimu sebelum kamu menyesal." ucapnya kemudian seraya menepuk lengan pria itu, setelah itu William segera melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Terima kasih, tuan."
James nampak bersyukur mempunyai seorang William dalam hidupnya, meski kadang pria itu sangat keras padanya tapi ia tahu itu semua demi kebaikannya.
"Mark, apa kamu sudah mendapatkan informasi mengenai istriku? apa dia baik-baik saja? apa orang-orang yang kamu kirim menjaganya dengan baik ?" ucap James dengan tak sabar saat menghubungi asistennya tersebut.
"Nyonya baik-baik saja tuan bahkan beliau sepertinya sangat menikmati mainan barunya."
"Maksud kamu ?" James langsung memicing saat mendengar ucapan Mark dari ujung telepon.
"Sepertinya nyonya sedang merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan ibu dan adik tirinya selama ini, tuan." sahut Mark.
"Astaga apa yang sedang dia lakukan? tidak bisakah dia tidur saja di ranjangnya." gerutu James sedikit kesal.
"Awasi dia terus Mark dan pastikan keadaannya baik-baik saja, besok saya akan segera kesana." perintah James kemudian.
"Baik tuan, anak buah saya selalu memantaunya."
"Kerja bagus, Mark."
"Tapi saya juga mempunyai sedikit informasi yang sedikit kurang mengenakan tuan."
"Katakan !!"
"Sepertinya seorang pria yang dahulu pernah menaruh hati pada nyonya, kini mulai mendekati beliau lagi tuan."
"Apa ???"
__ADS_1
.
Maaf baru sempat up, dua hari ini saya rada KO.