Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~315


__ADS_3

"Apa semuanya baik-baik saja, Nak ?" Martin langsung mendekati Alex saat pria itu baru datang.


"Jack sedang memburu pelakunya, Dad." terang Alex kemudian.


"Ada apa ?" Elsa yang mendengar pembicaraan Alex dan sang ayah langsung mendekati mereka dengan wajah khawatir.


"Jadi kamu belum tahu ?" kali ini Merry yang menimpali.


Elsa menggeleng kecil. "Dari kemarin kami lost contact." sahutnya dengan raut wajah kecewa.


"Apa ?" Sera langsung menatap tak percaya.


"Bagaimana mungkin kalian yang sebentar lagi akan menikah tak saling memberikan kabar, hubungan macam apa ini Nak? dia calon istrimu sudah sewajarnya kamu memberitahukan apapun keadaanmu padanya." tegur Sera pada sang putra.


"Aku hanya tidak ingin membuatnya kepikiran." terang Alex memberikan alasan.


"Tapi tetap saja kamu harus memberitahunya, jangan samakan dia dengan mantan istrimu dulu yang tak ingin tahu tentang masalahmu." tegur Sera kemudian.


"Maafkan aku." Alex nampak menatap lekat calon istrinya tersebut.


"Semalam terjadi kebakaran di kantorku." imbuhnya.


"Benarkah? apa ada korban jiwa? apa kamu baik-baik saja ?" Elsa terlihat sangat khawatir dengan keadaan pria itu.


"Semua baik-baik saja, tenanglah dan aku berdiri di sini sekarang sesuai janjiku." sahut Alex yang langsung membuat Elsa memeluknya.


"Dari semalam aku terus kepikiran, tolong jangan seperti ini lagi. Menghilang tanpa kabar." mohon wanita itu.


"Lihatlah kamu memiliki calon istri yang begitu peduli, Nak." timpal Sera dengan gemas menghadapi putranya tersebut.


Sementara di ujung ruangan nampak seorang anak yang terlihat mulai bosan dengan keadaan.


"Dunia orang tua selalu penuh dengan drama." gerutunya dengan jengah lantas pandangannya beralih ke sebuah troli bayi tak jauh darinya.


"Hai baby Jeslin, kenapa kamu suka sekali tersenyum ?" ucapnya seraya berjalan mendekat dan seorang bayi yang berada di dalam kereta tersebut semakin tersenyum lebar saat di dekati oleh Ariel.


"Sepertinya kamu sangat menikmati menjadi seorang bayi ya, aku malah ingin cepat besar agar mereka semua tidak menganggapku seperti anak kecil." gerutunya kemudian dan langsung di tanggapi kekehan oleh Jeslin.

__ADS_1


"Astaga, kenapa kamu sangat menggemaskan? kamu tahu senyummu bikin candu siapa pun yang melihat. Ingat jika besar nanti kamu jangan seperti ini, semua pria pasti akan menggodamu." tegas Ariel saat baby Jeslin tak berhenti tersenyum padanya, nampak kedua lesung pipinya hingga membuat siapa saja yang melihatnya menjadi gemas.


"Hai sayang, terima kasih ya sudah bantu jagain Jeslin." Anne yang baru dari toilet nampak mendekati Ariel yang sedang bersama putri kecilnya, lalu wanita itu segera mengangkat tubuh mungil bayinya dari dalam keretanya.


"Itu apa aunty ?" Ariel nampak menatap punggung bagian bawah Jeslin yang kebetulan pakaiannya tersingkap ke atas.


"Itu tanda lahir sayang." sahut Anne seraya mengikuti arah pandang bocah lelaki itu.


"Apa itu berbahaya ?" tanya Ariel lagi.


"Tidak, itu cuma tanda lahir biasa." terang Anne seraya merapikan pakaian putrinya tersebut.


"Oh." Ariel nampak manggut-manggut.


Acara prosesi pernikahan pun telah usai kini Alex dan Elsa nampak berdansa di temani oleh beberapa tamu undangan lainnya.


"Sepertinya Lisa benar-benar tak mengindahkan perintahku." ucap Alex di tengah mereka berdansa.


"Perihal gaun ini ?" timpal Elsa seraya melirik gaun yang ia kenakan.


"Bukan salah dia tapi aku yang mau, anggap saja ini salah satu bentuk perlawananku atas ketidakjujuranmu perihal keadaanmu di Amerika." ucapnya menimpali.


"Jadi apa ini sebuah upaya untuk membalas dendam, nyonya Martin ?" Alex nampak mengencangkan pelukan di pinggang wanita itu.


"Anggap saja seperti itu dan aku akan melakukannya jika kamu mengulanginya lagi." sahut Elsa dengan nada ancaman.


"Baiklah maafkan aku, itu takkan terjadi lagi. Tapi, aku benar-benar ingin mencolok semua mata yang memandangimu tadi." timpal Alex dengan sedikit kesal.


Namun Elsa langsung mengulurkan tangannya untuk membelai pipi suaminya itu.


"Tolong perlakuan aku seperti Elsa Muller bukan seperti mantan istrimu dahulu, aku ingin kita menjalani rumah tangga dalam susah maupun duka sesuai janji pernikahan kita. Berjanjilah jika ada masalah kita duduk berbicara lalu mencari solusi bersama dan bukan menghilang begitu saja." mohonnya kemudian.


"Hm, maafkan aku." Alex langsung memegang tangan wanita itu yang berada di pipinya lantas mengecup punggung tangannya.


"Bisakah kita langsung ke kamar saja? aku benar-benar tak ingin membagimu dengan yang lain." ucapnya kemudian.


"Tidak bisa, masih banyak tamu yang harus kita temui." tolak Elsa, namun sepertinya perkataannya tak di indahkan oleh suaminya itu.

__ADS_1


Karena Alex langsung menggandeng tangan istrinya itu meninggalkan tempat acara tersebut.


"Bagaimana jika mereka mencari kita ?" Elsa langsung menghentikan langkah sang suami.


"Lihatlah, ada William dan James di sana. Sepertinya para tamu lebih membutuhkan mereka berdua dari pada aku." Alex nampak menatap ke arah William dan James yang terlihat sibuk berbincang dengan para relasi kerjanya, kemudian pria itu segera mengajak istrinya pergi.


"Hei, kamarku ada di lantai 10." potres Elsa saat suaminya itu menekan tombol lift ke lantai teratas hotel tersebut.


"Tapi kamar pengantin ada di lantai atas." timpal Alex dan itu membuat Elsa nampak salah tingkah, apa mereka akan melakukan malam pertama?


Malam pertama setelah menjadi pasangan yang sah tentu saja, apalagi hubungan mereka akhir-akhir ini sedikit renggang dan itu membuat keduanya yang sedang berada di dalam lift terlihat canggung satu sama lainnya.


Sampai pada akhirnya Alex mendorong pelan istrinya itu ke dinding belakangnya, lantas m3lum4t bibirnya yang akhir-akhir ini selalu ia rindukan.


Ting


Pintu lift tiba-tiba terbuka dan itu membuat Elsa maupun Alex langsung bersikap seperti biasa seolah sebelumnya tak terjadi sesuatu.


Setelah beberapa orang masuk, lift kembali tertutup lantas mulai berjalan lagi.


Beberapa saat kemudian Elsa merasakan sebuah sentuhan dan r3masan di pinggulnya hingga membuatnya langsung melebarkan matanya.


Di deretannya berdiri hanya dia beserta sang suami dan ia bisa menebak siapa pelakunya, kemudian Elsa menatap ke arah pria itu yang kebetulan sedang menatapnya.


"A-apa yang kamu lakukan ?" ucapnya setengah berbisik.


"Sedikit pemanasan." sahut Alex dengan tersenyum menggoda dan itu membuat Elsa langsung menelan ludahnya karena r3m4san pria itu semakin intens hingga membuat tubuhnya langsung meremang.


Ting


Lift kembali terbuka dan ketika pria yang tadi masuk segera berlalu keluar dan kini kembali menyisakan mereka berdua.


"Kau benar-benar membuatku gila, sayang." Alex langsung menggendong tubuh Elsa hingga membuat wanita itu berteriak karena terkejut.


"A-apa yang kamu lakukan ?" Elsa segera melingkarkan tangannya di leher pria itu agar tidak terjatuh.


"Menghukummu hingga berteriak sampai pagi, mungkin." sahut Alex dan bersamaan itu pintu lift terbuka lalu pria itu segera membawa istrinya melangkah keluar menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2