Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~156


__ADS_3

"Tuan stop di sini saja." ucap Anne saat melihat gerbang kompleks perumahannya berada tak jauh di depan.


"Kamu tinggal di sini ?" tanya Nicolas dengan menautkan kedua alisnya.


"I-iya tuan." sahut Anne yang langsung membuat Nicolas menatap deretan rumah mewah bagian depan kompleks tersebut.


"Ya sudah, ayo ku antar sampai depan rumahmu." ajaknya kemudian, sepertinya pria itu penasaran bagaimana bisa wanita yang tinggal di rumah seelit ini mau bekerja sebagai kasir di restorannya.


Rumah yang banyak di tinggali oleh para konglomerat yang dirinya pun takkan mampu membeli rumah di area sini.


Melihat raut terkejut Nicolas membuat Anne menyesal tidak menolak tawaran pria itu tadi. "Saya numpang di keluarga saya, tuan. Maka dari itu saya tidak enak jika mereka melihat saya di antar oleh seorang pria " terangnya kemudian.


"Ya kau benar, baiklah kamu bisa turun sekarang." sahut Nicolas kemudian.


"Terima kasih banyak tuan sudah mengantar saya." ucap Anne lalu bergegas turun.


Setelah kepergian bosnya itu, Anne segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kompleks tersebut. Semoga saja suaminya itu belum pulang gumamnya di sela langkahnya.


"Nona, apa kau pelayan di salah satu rumah di kompleks ini ?" sapa security saat Anne menunjukkan akses masuknya.


"Memang penampilanku seperti pelayan ?" Anne langsung memindai penampilannya sendiri.


"Bukan tuan, saya istri tuan James Collins." sahut Anne kemudian yang langsung membuat beberapa security yang sedang berjaga di pos tersebut tertawa mengejek.


"Nona becandamu sangat tidak lucu, bagaimana bisa tuan Collins membiarkan istrinya berkeliaran tanpa kendaraan pribadi. Jika kau memang pelayannya beliau mengaku saja karena itu lebih baik dari pada menjadi seorang pembohong." timpal salah satu dari mereka.


"Saya tidak menuntut kalian untuk percaya." ucap Anne seraya menatap beberapa security itu bergantian lalu bergegas pergi dari sana, tawa mereka masih terdengar namun ia tak peduli.


Ini semua bukan salah mereka, tapi nasibnya saja yang sial. Di peristri oleh seorang pria kaya namun dirinya hidup seperti seorang pelayan.


Sesampainya di rumahnya Anne segera membersihkan dirinya, hari ini rasanya sangat lelah sekali. Semoga suaminya tidak pulang karena ia sudah tak sanggup jika harus mendengarkan perkataan pedas pria itu lagi.


Beberapa harinya kemudian....


Hueek


Hueek


"Sayang kau baik-baik saja ?" William yang mendengar istrinya itu muntah-muntah di dalam kamar mandinya langsung beranjak dari tidurnya.

__ADS_1


Hari masih sangat pagi namun entah kenapa wanita itu sudah terbangun padahal semalem mereka bercinta semalaman.


"Kau baik-baik saja ?" William langsung mengusap lembut punggung istrinya itu.


"Entahlah aku tiba-tiba saja mual." timpal Merry setelah mencuci wajahnya.


"Apa perlu ku panggilkan dokter ?" tawar William yang tak tega melihat istrinya itu.


"Tidak, tidak perlu." tolak Merry.


"Ayo ku bantu." William langsung membantu istrinya itu melangkah keluar dari kamar mandi.


"Bisa jalan? atau mau ku gendong." ucap William yang nampak sudah siap mengangkat istrinya itu.


Merry langsung menggeleng pelan. "Aku mau muntah lagi." Merry kembali ke wastafel kamar mandinya lalu mulai mengeluarkan isi perutnya yang ternyata hanya angin.


"Apa sudah lebih baik? aku akan panggil dokter." ucap William seraya mendekati istrinya itu, namun wanita itu langsung menyuruhnya menjauh.


"Kamu sangat bau, menjauhlah." usirnya kemudian.


"Bau ?" William nampak mengendus dirinya sendiri, hanya aroma parfum favoritnya yang menguar dari tubuhnya.


"Tapi kamu bau." keukeh Merry, wanita itu langsung menjauh dengan menutupi hidungnya.


"Kamu istirahat saja, aku sudah menghubungi James untuk memanggil dokter. Sekarang aku akan mandi dulu biar tidak bau seperti yang kau katakan itu." ucap William yang berdiri di ambang pintu kamar mandi, setelah itu pria itu segera masuk ke dalam.


Beberapa saat kemudian....


"Bagaimana keadaan istriku dok ?" tanya William setelah dokter memeriksa Merry, wanita paruh baya itu juga menyuruh istrinya untuk melakukan tes lewat urinnya.


"Selamat ya tuan William, istri anda sedang hamil." ucap dokter tersebut yang langsung membuat William nampak ternganga tak percaya.


Sudah berbulan-bulan ia dan sang istri menantikan kehadiran anak kedua mereka namun tak kunjung hadir.


"Kau serius dok ?" rasanya William masih belum percaya dengan kejutan yang tiba-tiba itu.


"Ini hasil test pemeriksaan urin istri anda tuan, bergaris dua itu tandanya istri anda sedang hamil." terang dokter tersebut seraya menunjukkan sebuah alat tes kehamilan pada pria itu.


William terlihat sangat senang sekali namun saat hendak memeluk istrinya, wanita itu langsung menggeser tubuhnya menjauh.

__ADS_1


"Kamu sangat bau." ucapnya sembari menutup hidungnya yang tentu saja membuat seorang William mendadak galau padahal dirinya baru saja mandi.


"Saat sedang hamil indera penciuman wanita memang lebih tajam tuan, jadi usahakan jangan terlalu menggunakan aroma parfum yang menyengat." terang sang dokter.


"Saya mengerti dok." William akhirnya paham dan sepertinya istrinya itu kurang menyukai aroma parfumnya, semoga hanya itu jika tidak ia bisa gila jika selama 9 bulan tak dapat menyentuh wanita itu.


Keesokan harinya....


"Selamat pagi tuan." sapa James saat William baru datang.


"Pagi James, sepertinya kau sangat bersemangat apa malammu sangat menyenangkan ?" ucap William dengan wajah tak bersemangatnya.


"Tidak juga tuan, bagaimana kabar anda saya dengar dari dokter nyonya Merry sedang mengandung. Saya ucapkan selamat ya Tuan." tukas James seraya meletakkan beberapa berkas di hadapan pria itu.


"Hm, terima kasih." sahut William seraya mengambil berkas tersebut lalu mengeceknya.


"Apa anda kurang sehat tuan ?" James menatap sang tuan yang sepertinya kurang tidur.


William kembali meletakkan berkas di tangannya ke atas mejanya lalu pria itu menyandarkan punggungnya di kursinya.


"Sejak hamil istriku seperti alergi padaku, James." William mulai bercerita dan James yang duduk di hadapannya nampak mendengarkan dengan seksama.


"Apa aku terlihat menjijikkan? karena setiap aku dekati istriku selalu mual." sambung William lagi.


James yang sedang mendengarkan cerita tuannya itu nampak sambil berselancar di sebuah situs yang memberikan informasi seputar kehamilan.


Karena kondisi Merry berbeda dengan Grace, istrinya itu hanya mual saat pagi hari saja sedangkan istri tuannya itu mual jika di dekati oleh pria itu.


"Benar-benar aneh." James nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Coba anda jangan menggunakan parfum apapun tuan saat sedang berada di sekitar nyonya Merry." saran James kemudian berdasarkan dari artikel yang sedang ia baca.


"Aku tidak memakai parfum James, hanya sabun mandi dan shampo saja." timpal William.


"Sepertinya itu yang bikin nyonya Merry mual tuan, kenapa anda tidak mencoba menggunakan peralatan mandi atau parfum sesuai yang beliau pakai." saran James lagi.


"Ya, kau benar James kenapa aku tidak berpikir sejauh itu." William terlihat kembali bersemangat.


"Ngomong-ngomong, kapan istrimu itu hamil? ini sudah beberapa bulan kalian menikah. Jangan katakan kau lemah di ranjang, James." ucap William yang langsung membuat James menelan ludahnya.

__ADS_1


__ADS_2