
James yang khawatir rumahnya di satroni oleh orang asing langsung mengambil senjata api di saku celananya, kemudian pria itu masuk ke dalam rumahnya dengan waspada lalu pandangannya tak sengaja ke arah sofa depan tv.
Istrinya itu nampak tergeletak di sana dan James segera berlari mendekat. "Kau baik-baik saja ?" ucapnya seraya menepuk-nepuk pipinya dengan pelan hingga membuat wanita itu langsung membuka matanya.
"Rupanya kau sudah pulang." Anne mengusap kedua matanya yang masih mengantuk.
"Kau tidur ?" James langsung memicing menatap istrinya itu.
"Hm, tentu saja. Siapa bilang aku sedang makan." sahut Anne seraya bangun dari posisi tidurnya.
James yang kesal langsung menjauhkan dirinya, sepertinya percuma ia tadi mengkhawatirkannya.
"Kenapa kau membiarkan pintu rumah terbuka ?" tanyanya kemudian.
"Saat kamu datang biar langsung masuk saja dan tak perlu menungguku membuka pintu." sahut Anne dengan entengnya dan tanpa wanita itu sadari suaminya terlihat sangat geram.
"Apa kamu tahu, itu sangat berbahaya. Bagaimana jika ada orang jahat masuk ke dalam rumah ini ?" ucapnya dengan kesal.
"Jadi kau mengkhawatirkanku ?" Anne nampak mengedip-ngedipkan matanya menggoda suaminya itu.
"Jangan kegeeran kamu, aku hanya tidak mau jika rumahku ini kerampokan." ucap James seraya mendorong wajah istrinya itu menjauh, lalu pria itu terlihat salah tingkah.
"Kalau khawatir ya bilang saja tidak usah malu-malu begitu." Anne semakin menggoda suaminya itu.
"Omong kosong, aku hanya tidak ingin membuat tuan William dan nyonya Merry khawatir dengan keadaanmu." tegas James kemudian yang langsung membuat Anne mengerucutkan bibirnya.
Memang apa yang bisa ia harapkan dari pernikahan ini, pikirnya. Kemudian matanya tak sengaja melihat lengan pria itu yang sepertinya terluka karena lengan kemejanya terdapat noda darah yang hampir mengering.
"Lenganmu kenapa ?" tanyanya kemudian.
"Bukan apa-apa." James segera beranjak dari duduknya namun Anne langsung menahannya dan menyuruhnya untuk kembali duduk.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kotak obat." tegasnya kemudian dan bergegas pergi.
Tak berapa lama wanita itu datang dengan menenteng sebuah kotak p3k lalu duduk di samping pria itu. "Kenapa bisa terluka seperti ini ?" tanyanya kemudian.
"Bukan urusanmu." ucapnya seraya menyingkirkan tangan Anne yang hendak menyentuh lengannya.
"Baiklah aku tidak akan bertanya apapun tapi luka ini harus di obati." Anne langsung mengulurkan tangannya ke arah kancing kemeja pria itu.
"Apa yang ingin kamu lakukan ?" James langsung memicing.
"Memperkosamu." sahut Anne dengan wajah serius namun detik selanjutnya wanita itu langsung tertawa.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa mengobatimu jika lukanya tertutup oleh kemejamu." ucapnya kemudian.
"Tidak usah aku bisa mengobatinya sendiri." timpal James, mendapatkan luka seperti ini sudah biasa baginya.
"Apa kau meragukan ku? gini-gini aku adalah sarjana keperawatan." tegas Anne yang langsung membuat James nampak terkejut, bagaimana bisa sarjana keperawatan namun justru memilih bekerja di kantoran.
Sepertinya banyak hal yang tidak James ketahui dari wanita itu, namun ia memutuskan untuk tak peduli.
Dan kini ia membiarkan wanita itu membuka kancingnya satu persatu. "Lakukan tugasmu saja tanpa harus mengagumi tubuhku." cibir James saat melihat istrinya itu nampak meneguk ludahnya.
"Kau pikir yang mempunyai tubuh sepertimu hanya kamu saja? di luaran sana juga banyak." Anne tak kalah mencibir dan tentu saja membuat James langsung menatap curiga.
Seketika pria itu mengingat perkataan Mark jika wanita itu tadi siang meninggalkan rumahnya, apa istrinya itu sedang menemui seorang pria di luar sana?
James langsung membuang jauh-jauh rasa penasarannya itu, lagipula ia sudah memutuskan untuk tidak ikut campur urusan pribadi wanita itu.
"Ssshhh, apa kau ingin membunuhku ?" hardik James saat merasakan nyeri di lengannya ketika istrinya itu melepaskan lengan kemejanya.
"Aku hanya ingin memeriksanya tuan James yang terhormat." sahut Anne lalu pandangannya tak sengaja ke arah senjata milik pria itu yang nampak mengintip dari dalam saku celananya.
Kemudian dengan cepat Anne langsung menarik senjata tersebut lalu mengarahkannya ke depan wajah suaminya itu. "Ini baru akan membunuhmu." ucapnya dengan tersenyum miring.
"Apa yang kau lakukan? jangan main-main dengan senjata itu." hardik James dengan melebarkan matanya.
"Diamlah aku harus menjahit lukamu, ini lumayan dalam." perintah Anne kemudian.
"Tidak perlu." James langsung menjauhkan tangan istrinya itu.
"Apa kau lupa jika aku lulusan perawat? bahkan aku mendapatkan nilai terbaik waktu itu." terang Anne, entah kenapa tiba-tiba terlihat gurat kesedihan di mata wanita itu dan itu tak luput dari perhatian James.
Akhirnya James menurut dan membiarkan istrinya itu merawat lukanya, entah sejak kapan wanita itu mempunyai peralatan medis namun ia akui ada gunanya juga.
Setelah memakai sarung tangannya, istrinya itu mulai membersihkan lukanya dengan telaten.
"Tahanlah hanya sakit sedikit." ucap Anne saat melihat suaminya itu nampak meringis.
"Kau pikir aku secengeng itu." James langsung berdecak kesal namun wajahnya yang sedang menahan sakit tak bisa di sembunyikannya dan itu membuat Anne nampak tersenyum kecil, rupanya suaminya itu masih saja gengsi untuk mengakuinya.
"Sudah selesai, sepertinya kau banyak sekali kehilangan darah kenapa tidak ke rumah sakit saja kau akan mendapatkan perawatan yang lebih baik di sana ?" Anne bertanya sembari merapikan kembali peralatan medisnya.
"Hanya luka kecil tak perlu di perbesar." James segera beranjak dari duduknya, tanpa mengucapkan terima kasih pria itu langsung berlalu menaiki anak tangga.
"Apa kau sudah makan malam? makan dan perbanyak minum untuk mengembalikan kondisi tubuhmu." teriak Anne saat ia di tinggal begitu saja oleh pria itu.
__ADS_1
"Aku belum lapar." sahut James tanpa menatap istrinya itu lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Baiklah ku harap esok hari kau tidak demam." timpal Anne tak peduli perkataannya di dengarkan atau tidak.
Kemudian wanita itu kembali masuk ke dalam kamarnya, saat hendak menyimpan peralatan medisnya itu Anne nampak menghela napasnya sejenak.
Seandainya sang ayah mendukungnya untuk menjadi perawat mungkin saat ini ia sudah bekerja di rumah sakit atau bahkan melanjutkan pendidikan kedokteran bukan justru tinggal bersama pria datar itu.
"Ini semua gara-gara wanita itu."
Anne nampak mencengkeram pinggiran meja saat mengingat bagaimana ibu tirinya itu menentang habis-habisan saat dirinya katahuan mengambil jurusan perawat kala itu.
Hanya karena wanita itu yang tak menyukai ibunya yang seorang perawat hingga dirinya pun di larang menjadi perawat.
Keesokan harinya.....
Anne nampak menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi, namun suaminya itu belum juga turun dari kamarnya.
"Apa dia baik-baik saja ?" gumamnya seraya menatap ke atas di mana kamar suaminya berada.
"Jangan-jangan dia demam lagi karena semalam terlalu banyak kehilangan darah." tanpa berpikir panjang Anne segera menaiki anak tangga menuju kamar suaminya itu tak peduli ia melanggar larangan.
Sesampainya di lantai atas Anne nampak terkejut karena di sana hanya ada satu pintu, sepertinya pria itu menggunakan seluruh lantai sebagai kamarnya.
"Apa dia membuat lapangan bola di dalam kamarnya." gumamnya, lalu mulai mengetuk kamar suaminya itu dengan pelan.
Namun hingga beberapa kali ketukan, pria itu tak kunjung membuka pintunya. "Apa dia pingsan? atau mati? ah tidak aku belum siap menjadi janda." gumamnya, karena status janda selalu di pandang miring oleh sebagian orang paling tidak sebelum ia menjadi kaya raya ia tak ingin hidup menjanda.
Akhirnya Anne memutuskan untuk memutar kenop pintu tersebut dan....
Klik
Pintu berhasil Anne buka namun wanita itu langsung terkejut saat melihat suaminya itu sudah berdiri di balik pintu dengan tatapan tajam ke arahnya.
"A-aku....."
"Siapa yang menyuruhmu ke sini ?" geram James dengan tatapan membunuh.
"A-aku tadi sudah memanggilmu tapi kamu tak kunjung keluar." Anne nampak m3r3m4s pakaiannya sendiri, baru kali ini ia melihat suaminya itu nampak sangat marah
Sebenarnya apa yang pria itu sembunyikan dalam kamarnya hingga melarangnya untuk masuk, Anne yang penasaran nampak melirik ke dalam kamar pria itu.
Meskipun terlihat temaram tetapi ia bisa melihat sebuah bingkai foto seorang wanita cantik terpatri di dinding kamar tersebut.
__ADS_1
"Cepat pergi dari sini !!" James langsung menarik pergelangan tangan wanita itu lalu membawanya menuruni anak tangga.