Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~161


__ADS_3

Anne yang melihat kedatangan James langsung membuang mukanya, rasanya ia semakin membenci pria itu mengingat bagaimana semalam kesuciannya di renggut paksa.


Meskipun pria itu melakukannya dengan sangat lembut namun tetap saja itu sangat menyakitkan baginya.


"Aku tak perlu meminta maaf dengan kejadian semalam, bukankah itu sudah menjadi kewajibanmu sebagai istri." ucap James lagi saat wanita itu mengacuhkannya.


Anne nampak tersenyum sinis, sudah ia duga jika pria itu akan bersikap seperti itu. Mengatasnamakan kewajiban seorang istri namun dirinya yang sebagai seorang suami sama sekali tak mencerminkan hal itu.


Dan lihatlah wajah menyebalkan pria itu, bukannya ada perasaan bersalah di sana namun justru terlihat sangat cerah. Seakan baru saja mendapatkan proyek triliunan rupiah.


Enggan menghadapi pria itu terlalu lama, akhirnya Anne memutuskan untuk turun dari ranjangnya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


Daerah sensitifnya rasanya sangat perih sekali, karena semalam pria itu tak hanya melakukannya sekali namun berkali-kali hingga ia memohon untuk di lepaskan karena hampir pingsan dan baru pria itu mau melepaskannya.


"Dasar maniak."


Anne langsung mendesis saat baru melangkahkan kakinya, sakit sekali rasanya namun ia harus tetap melangkah untuk membersihkan tubuhnya agar bekas pria itu menghilang.


Bahkan aroma parfum pria itu yang melebur di tubuhnya semalam masih terasa menyengat hingga membuatnya sangat muak, jika seluruh tubuhnya tidak terasa remuk Anne rasanya ingin sekali menghajar pria itu hingga babak belur.


Saat ia melangkah dengan perlahan tiba-tiba Anne merasakan tubuhnya melayang dan rupanya pria itu telah mengangkat dirinya menuju kamar mandi.


"Kamu mau ngapain ?" Anne langsung menjauh saat pria itu hendak menarik selimutnya sesampainya menurunkannya di sana.


"Apa kamu ingin mandi menggunakan selimut itu ?" ucap James dingin.


Anne menggelengkan kepalanya. "Keluarlah aku bisa mandi sendiri." ucapnya kemudian.


"Tentu saja kau bukan bayi lagi." sahut James lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Anne rasanya ingin menendang pria itu sejauh mungkin saat melihat punggung lebarnya mulai menjauh, rasanya masih tidak rela kesuciannya telah di renggutnya.

__ADS_1


Kemudian Anne segera melepaskan selimut yang menutupi tubuh polosnya hingga kini setiap jengkal kulit tubuhnya terekspos di pantulan cermin depannya.


"Benar-benar maniak."


Anne langsung mengumpat saat melihat banyak sekali tanda merah di kulitnya, leher putihnya pun kini sudah seperti macan tutul dan ketika pandangannya semakin ke bawah membuatnya ingin semakin menendang pria itu ke planet pluto.


Kedua gundukan kenyalnya yang selama ini tak pernah tersentuh oleh pria manapun kini rasanya sangat perih sekali mengingat bagaimana pria itu semalam menyusu dengan rakus seperti bayi.


Meski jujur ia juga merasakan kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya namun tetap saja itu sudah menyakiti harga dirinya.


Tak ingin terlalu lama berkutat dengan penyesalannya yang mungkin akan membuatnya gila, Anne segera masuk ke dalam bathub yang entah sejak kapan sudah terisi penuh dengan air hangat.


Akhirnya tulang-tulangnya yang tadinya terasa remuk kini perlahan mulai meregang setelah ia berendam di dalam sana.


Kemudian wanita itu menyandarkan kepalanya lalu memejamkan matanya, nampak butiran kristal tiba-tiba mengalir dari sudut matanya namun wanita itu segera menghapusnya.


Ia tak biasa menangis, semenjak ibunya tiada karena gantung diri ia adalah seorang wanita pejuang dan wanita pejuang takkan mengeluarkan air matanya meski sesakit apapun itu.


"Sayang, kapan kamu datang aku sangat merindukanmu." ujar Grace setelah panggilannya di jawab oleh James, kini pria itu telah berada di dalam kamarnya sendiri di lantai atas.


"Aku masih banyak kerjaan." sahut James seraya mengecek beberapa berkas di meja kerjanya, kamarnya yang biasanya ia biarkan temaran kini terlihat terang karena horden yang ia buka semuanya.


"Kapan aku boleh tinggal di sana? apa fotoku masih ada ?" tanya Grace sembari melihat latar belakang suaminya itu, meski ia belum pernah datang ke rumah tersebut namun ia tahu suaminya itu memasang bingkai fotonya yang sangat besar di kamar tidur pria itu.


"Jika tuan William tahu kita akan mendapatkan masalah." timpal James dengan nada dingin, pandangannya nampak ke arah laptop depannya itu dan sesekali menatap wajah sang istri di layar ponselnya.


"William lagi, William lagi. Aku sangat benci padanya, sampai kapan kau akan mengabdi padanya. Sayang, kau sudah kaya raya tanpa pria itu jadi tolong tinggalkan dia." rutuk Grace dengan kesal, bibirnya nampak mengerucut saat mengungkapkan isi hatinya tersebut.


Biasanya James akan merasa gemas saat melihatnya namun, kali ini entahlah. Wajah pria itu terlihat datar tanpa ekspresi.


"Bagaimana keadaan dia, apa baik-baik saja ?" James langsung mengalihkan pembicaraan, meskipun ia tak yakin jika dalam kandungan wanita itu adalah darah dagingnya namun kemungkinan apapun bisa terjadi sebelum ia melakukan tes DNA.

__ADS_1


"Dia sangat merindukanmu, dia ingin kamu mengelusnya." sahut Grace sembari mengelus perutnya yang mulai membuncit.


"Jika pekerjaanku sudah selesai aku akan kesana." tukas James sembari berkutat kembali dengan pekerjaannya.


"Aku menunggumu sayang, ku harap kamu bisa menemaniku berkunjung ke dokter dan sepertinya kita juga harus mencari beberapa pakaian untuknya."


"Hm, aku usahakan." sahut James, setelah berbincang sebentar ia segera mengakhiri sambungannya.


Kemudian pria itu nampak menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, menghela napasnya sejenak seiring memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan.


Sedari kecil ia sudah di terlantarkan oleh kedua orang tuanya di jalanan dan ia tak ingin anaknya juga mengalami hal yang sama dengannya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, James menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir dua jam ia berada di dalam kamarnya dan kini pria itu mulai mematikan laptopnya lalu beranjak dari duduknya.


Sesampainya di lantai bawah pria itu mengedarkan pandangannya dan terlihat sepi, lantas ia menatap kamar istrinya yang masih tertutup rapat. Kemudian pria itu segera melangkah mendekat, lalu mengetuknya dengan sedikit keras.


Namun hingga beberapa kali ketukan wanita itu tak kunjung membuka pintunya hingga membuatnya sedikit panik, lalu ia segera membuka pintu tersebut dengan kasar yang ternyata tak di kunci.


Kamar tersebut terlihat kosong sama seperti sebelum ia meninggalkannya tadi, kemudian James segera menuju kamar mandi lalu mengetuknya.


"An, apa kamu belum selesai ?" teriaknya di tengah ketukannya.


"An."


"Anne, jawab saya !!"


Tak ada jawaban dan itu membuatnya semakin panik, firasat buruk pun mulai memenuhi kepalanya. Bagaimana jika wanita itu mengakhiri hidupnya dan tanpa berpikir panjang pria itu langsung mendobrak pintu yang ternyata sudah di kunci dari dalam.


Brakk


Suara pintu di buka dengan keras dan betapa terkejutnya James saat melihat istrinya itu justru dengan santainya sedang mengusap tubuhnya dengan lotion.

__ADS_1


"Apa pendengaranmu sedang terganggu ?" ucap James dengan sinis, rahangnya mulai mengeras seiring dengan kemarahannya karena di abaikan oleh wanita itu.


__ADS_2