
Setelah mendapatkan ponselnya James segera membuka layar cctv rumahnya, di setiap sudut ruangannya nampak sepi bahkan di kamarnya pun juga sepi.
"Kemana perginya ?" gumamnya saat tak melihat ada istrinya di sana.
"Mark, kamu yakin istriku tidak pergi ke kantor ?" tanyanya kemudian pada Mark.
"Tidak tuan, saya sudah mengeceknya." sahut pria itu.
Mendengar itu James langsung memutar rekaman cctv kemarin, mungkin akan ada petunjuk di sana.
"Apa yang sedang dia tulis ?" James nampak mengernyit saat melihat istrinya itu nampak menulis di secarik kertas dengan serius.
"Jangan bilang itu surat perpisahan." imbuhnya mulai tak sabar yang langsung membuat Mark ikut mengernyit.
Setelah selesai dengan tulisannya Anne nampak meletakkan secarik kertas itu di atas nakas, lalu wanita itu berpindah menuju walk in closet dan mengeluarkan kopernya dari sana.
"Tidak, apa dia mau kabur Mark ?" teriak James hingga membuat Mark langsung mendekat dan ikut melihat rekaman cctv tersebut.
James nampak mempercepat waktu rekaman dan benar saja istrinya itu pergi meninggalkan rumahnya dengan sebuah travel bag miliknya.
"Istriku benar-benar pergi, segera selidiki kemana dia pergi Mark !!" perintah James dengan tak sabar.
"Tuan, anda mau kemana? luka anda belum kering." James langsung mencegah tuannya saat pria itu hendak mencabut jarum infus di tangannya.
"Kamu pikir saya bisa tenang berdiam diri di sini sedangkan istriku tidak tahu bagaimana kabarnya di luar sana? bagaimana jika anak buah Marco menangkapnya ?" hardik James seraya mencabut paksa jarum infus di punggung tangannya.
"Saya kira tuan Marco belum tahu perihal nyonya Anne tuan, karena selama ini nyonya tidak masuk dalam pantauan mereka." timpal Mark, lalu ia segera menghubungi seseorang.
"Dasar keras kepala, kenapa tidak sabaran sekali ?" gerutu James mengingat istrinya itu selalu bersikap keras kepala dan tak pernah menurut padanya.
Sementara itu Anne yang kini sudah berada di Indonesia setelah melakukan perjalanan panjang dari Amerika nampak mengulas senyumnya.
Akhirnya ia bisa menginjakkan kakinya lagi di tanah kelahirannya, namun perlahan senyumnya mulai memudar saat mengingat ia sedang mengandung buah hatinya bersama James saat ini.
"Kamu kuat ya sayang, masih ada ibu di sini." gumamnya, lalu ia segera menyetop taksi untuk kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Anne telah sampai di sana dan matanya langsung memicing saat melihat rumahnya yang nampak ramai dengan beberapa mobil yang terparkir di depannya.
"Ada acara apa ?" gumamnya saat melihat kediamannya sangat ramai, kemudian ia melangkah masuk dengan menarik koper di tangannya.
Kedatangannya yang tiba-tiba langsung menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana.
Sang ibu tiri yang sedang berbincang dengan tamunya langsung beranjak saat melihat kehadiran Anne.
"Kau? apa yang kau lakukan di sini ?" ucapnya seraya membawa Anne menjauh dari sana.
"Ma, kenapa rumah sangat ramai ?" tanya Anne kemudian.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, katakan kenapa kamu bisa ada di sini? bukankah seharusnya kamu ada di Amerika ?" cecar sang ibu tiri seraya mengedarkan pandangannya mencari seseorang, lalu matanya langsung tertuju pada koper anak tirinya tersebut.
"Apa kamu di usir sama suamimu yang kaya itu ?" imbuhnya dengan pandangan menghina.
"A-aku..." Anne nampak menjeda ucapannya, ia bukan di usir tapi dia yang pergi namun itu juga sama tak bagusnya di mata ibu tirinya tersebut.
"Baiklah, tidak usah di jelaskan. Sedari kecil kamu memang pembawa sial, untung adikmu mendapatkan calon suami kaya raya hingga bisa melunasi rumah ini jika tidak suamimu yang kurang ajar itu akan melempar kami ke jalanan." sinis sang ibu tiri.
Anne yang sangat lelah malas sekali meladeni ucapan ibunya yang selalu menyudutkannya, jadi lebih baik ia segera masuk dan merebahkan tubuhnya di kamarnya.
"Non Anne ?" tiba-tiba seseorang memanggilnya yang langsung membuat Anne menoleh, tadinya ia sedang mengecek kamarnya ternyata telah menjadi gudang.
"Bibi? bibi di sini? aku sangat merindukan bibi." Anne langsung memeluk mantan ART kesayangan mendiang ibunya itu.
Semenjak ayahnya jatuh bangkrut ARTnya itu di pulangkan ke kampung sama ibu tirinya.
"Non tidur sama bibi saja ya, bilangnya nyonya Non tinggal di Amerika dan tidak akan pulang jadi kamar Non di jadikan gudang." terang bibi seraya mengajak Anne ke kamarnya yang berada paling belakang rumah tersebut.
"Maaf Non, kamarnya sempit." imbuhnya kemudian.
"Nggak apa-apa bi ini juga sudah lumayan, toh dulu aku juga sering di sini bersama bibi." tukas Anne sama sekali tak keberatan, baginya di perlakukan tak adil di rumahnya sendiri itu sudah biasa.
Ia pasti akan mencari pekerjaan nanti, karena ada kehidupan baru yang ada dalam kandungannya saat ini. Ia tak terlalu berharap James akan datang, karena persyaratan yang ia ajukan mungkin sedikit berat mengingat pria itu juga mempunyai darah dagingnya sendiri di sana.
__ADS_1
"Istirahatlah, Non pasti sangat lelah." ucap sang bibi seraya menyalakan kipas angin di kamarnya.
"Terima kasih, Bi." Anne segera merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat usang yang tak terasa empuk lagi.
Beberapa saat kemudian Anne kembali mengerjapkan matanya saat mendengar suara keributan.
"Enak ya datang-datang langsung tidur sudah seperti bos besar saja, ayo cepat bangun dan bantu bibi di dapur." teriak nyonya Kartika saat baru masuk ke dalam kamar pembantunya.
"Aku sangat lelah ma." gerutu Anne seraya duduk di tepi kasur dengan wajah mengantuk.
"Halah alasan saja, kamu bebas tidur di sini tapi kalau mau makan kerja dulu enak saja aku kasih makan kamu gratis." cibir Nyonya Kartika dengan menatap malas Anne, kemudian berlalu dari sana.
Anne nampak menghela napasnya sejenak, lalu segera mengikat rambutnya dan bergegas keluar kamarnya.
"Tamunya sudah pulang, Bi ?" tanyanya pada sang bibi saat baru masuk ke dapur.
"Non, istirahat saja di kamar. Biar bibi saja yang melakukannya." cegah bibi saat Anne hendak membantunya mencuci piring.
"Nggak apa-apa bi, aku sudah sempat tidur sebentar tadi." Anne mengulas senyumnya lalu mulai mencuci tumpukan piring di wastafel.
Keesokan harinya....
"Tuan, ternyata nyonya kembali ke rumahnya di Indonesia. Saya rasa tempat itu sementara aman untuk nyonya tinggali." lapor Mark pagi itu.
James yang masih berada di rumah sakit nampak kesal saat William memaksanya untuk di rawat sampai ia sembuh total.
"Ini surat yang di tinggalkan oleh nyonya untuk anda." Mark menyerahkan secarik kertas yang langsung di ambil oleh James.
"Saya juga mendapatkan rekaman cctv jika sebelumnya nyonya Grace telah menemui nyonya Anne di kantor, sepertinya mereka berbicara banyak hal di taman dan saya rasa itu yang membuat nyonya Anne memilih pergi Tuan." terang Mark.
"Benarkah ?" Mark nampak terkejut.
"Benar tuan, sepertinya nyonya Grace sengaja memprovokasi nona Anne agar meninggalkan anda." sahut Mark.
"Setelah keluar dari sini aku pasti akan segera menjemputnya." timpal James setelah membaca tulisan tangan istrinya itu, tak ada alasan lagi untuk tak menjemput wanita itu.
__ADS_1
"Tentu saja tuan dan anda harus banyak beristirahat jika ingin cepat sembuh." ucap Mark seraya menatap perban di lengan tuannya yang nampak bercak darah karena pria itu tak bisa diam.