
"Kau gila !!" umpat Merry saat mantan suaminya itu menciumnya dengan paksa.
"Ck, bukankah itu yang kau mau? Berpakaian seperti j4l4ng agar banyak yang menggodamu." ejek William, pria itu masih memepet mantan istrinya itu di wastafel belakangnya hingga mau tak mau wanita itu berpegangan padanya.
"Jadi berapa yang harus ku bayar untuk bisa menikmatimu dalam semalam ?" imbuh William yang langsung membuat wanita itu melebarkan matanya.
"Dasar brengsek, aku menyesal pernah menikah denganmu." umpat Merry, ingin rasanya ia menghajar pria itu namun kedua tangannya sudah terkunci.
"Jadi kamu lebih suka menikah dengan bajingan itu hm ?" William mulai terpancing emosi.
"Ya tentu saja, Alan jauh lebih menghargai wanita dari pada kamu." sahut Merry.
"Menghargai wanita dengan menjualnya ?" cibir William.
"Tutup mulutmu !!" hardik Merry tak menerima.
"Rupanya tumbuh dewasa tak membuatmu berubah menjadi lebih peka, baiklah berbuatlah sesukamu tapi jika sampai terjadi apa-apa dengan putraku akibat ulahmu itu maka aku pastikan akan membawanya pergi jauh." tegas William.
"Ariel akan tetap bersamaku." teriak Merry.
"Kita lihat saja nanti dan sekali lagi ku peringatkan, bajingan itu bukanlah pria baik. Dia sanggup menjualmu hanya untuk kepentingan pribadinya." tegas William dengan menatap tajam wanita itu dan setelah itu pria itu segera pergi dari sana.
Setelah kepergian mantan suaminya itu Merry nampak luruh ke lantai, pria itu takkan pernah tahu perjalanan hidupnya seperti apa dan perkataannya itu sangat menyakitinya.
Nyatanya di saat ia dalam kesulitan, Alanlah yang selalu ada untuknya. Pria itu datang seperti seorang malaikat untuk membantunya.
Beberapa saat kemudian setelah lebih tenang, wanita itu segera meninggalkan toilet tersebut.
"Kenapa lama ?" tanya Alan setelah kekasihnya itu kembali.
"Antri." sahut Merry.
"Mau berdansa lagi ?" tawar Alan, pria itu ingin menghabiskan waktu yang tersisa sebelum menyerahkan wanita itu ke dalam pelukan Weslyn.
"Hm." Merry mengangguk setuju.
Kemudian Alan membawa wanita itu ke lantai dansa dan William yang sedang duduk di ujung ruangan tak jauh dari sana nampak beberapa kali meneguk wine seraya menatap keintiman mereka.
Merry yang melihat mantan suaminya itu sengaja bersikap mesra pada Alan, biarlah pria itu semakin membencinya karena hubungan mereka memang tak bisa di perbaiki lagi.
Sedangkan Alan nampak beberapa kali menelan ludahnya, belahan dada kekasihnya yang sedari tadi menggodanya membuatnya semakin merapatkan tubuhnya.
__ADS_1
Pria itu sudah membayangkan betapa nikmatnya jika ia m3lum4t dan m3r3m4s gundukan kenyal yang terlihat menggoda itu.
Lalu mencicipi setiap jengkal kulitnya hingga berakhir pada percintaan yang panas dan hebat.
"Kau mau kemana ?" tanya Vivian saat kekasihnya itu beranjak dari duduknya.
"Pulang." sahut William.
"Tapi acaranya belum selesai ?" cegah Vivian yang sepertinya enggan meninggalkan acara tersebut.
"Kamu mau pulang bersamaku atau tidak itu terserah kamu." sahut William seraya melangkahkan kakinya pergi.
"Tentu saja bersama kamu." Vivian segera beranjak lalu mengikuti pria itu.
Tiba-tiba William tak sengaja menabrak lengan seseorang hingga membuat pria tersebut langsung berbalik badan menatapnya.
"Tuan William, anda di sini juga ?" Tuan Weslyn langsung terkejut saat melihat atasannya juga berada di sana padahal sebelumnya pria itu memerintahkan dirinya untuk mewakilinya.
"Hm, ada beberapa investor ingin bekerja sama kamu urus semuanya dan besok pagi laporkan padaku di kantor." perintah William kemudian.
"Baik, tuan." sahut tuan Weslyn dengan patuh.
"Masih ada beberapa waktu lagi." gumamnya dengan tak sabar, lalu ia mendatangi beberapa rekan bisnis yang di maksud sang tuan.
Beberapa saat kemudian malam makin larut dan beberapa pengunjung pun sudah meninggalkan tempat tersebut.
"Aku sangat lelah, bisakah kamu mengantarku pulang." mohon Merry pada kekasihnya tersebut.
"Aku berhasil mendapatkan beberapa investor untukmu, bisakah malam ini kamu menginap di hotel saja karena mereka ingin melakukan pertemuan besok pagi sebelum kembali ke negaranya." tukas Alan.
"Benarkah ?" Merry nampak tak percaya namun sekaligus senang.
"Hm." Alan mengangguk yakin.
"Tapi aku tak membawa pakaian ganti." tukas Merry mengingat ia datang kesini hanya untuk menghadiri pesta.
"Itu jangan kamu pikirkan, asistenku akan membawakannya untukmu." sahut Alan.
"Baiklah, terima kasih." sahut Merry.
Lalu Mereka segera berlalu ke resepsionis di mana Alan akan memesan kamar untuk wanita itu.
__ADS_1
"Beristirahatlah, kamarku ada di sebelah jika ada apa-apa langsung hubungi aku." ucap Alan saat mengantar kekasihnya itu ke kamarnya.
"Hm, tentu saja." sahut Merry.
"Kalau begitu selamat malam dan selamat beristirahat." imbuh Merry.
"Pasti, aku juga sangat lelah." sahut Alan.
Kemudian Merry segera menutup pintunya dari dalam dan setelah itu Alan segera pergi dari sana, bukannya masuk ke dalam kamarnya sendiri pria itu nampak melangkah menuju lift.
Dan tempat hiburan malam yang ada di hotel tersebut adalah tujuannya, sedari tadi pria itu sudah menahan hasratnya dan malam ini harus segera melampiaskannya.
"Tuan, kami mempunyai beberapa wanita terbaik di tempat ini." tawar seorang pria pada Alan.
"Berikan yang terbaik dan termahal." perintah Alan kemudian.
"Baik tuan." pria tersebut segera memanggil seorang wanita.
"Ini akan menjadi malam panjang untuk anda, tuan." ucap wanita itu dengan nada menggoda.
"Tentu saja aku ingin melihat kemampuan mu untuk memuaskan ku di sini sebelum kita melakukannya di kamarku." sahut Alan, pria itu nampak menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa lalu mengambil segelas Wine.
Sedangkan wanita tersebut, nampak duduk berjongkok di lantai kemudian mulai membuka celana pria itu. Wanita itu nampak tersenyum miring saat Junior Alan sudah mengeras seakan tak sabar ingin ia puaskan.
"Yeah, bibirmu sangat nikmat j4l4ng." racau Alan saat miliknya keluar masuk dari mulut wanita nakal tersebut.
Pria itu menyandarkan kepalanya di sofa dan matanya nampak merem melek merasakan service wanita itu.
"Terus lakukan aku sudah membayarmu dengan mahal." perintahnya lagi dengan suara serak akibat gairahnya yang sudah memuncak.
"Sial, ini sangat nikmat. Kau juga pasti tak sabar ingin merasakan keperkasaanku juga kan ?" Alan langsung menjambak rambut wanita itu agar menyudahi servicenya karena ia tak ingin melakukannya lebih jauh di tempat tersebut.
Kemudian Alan segera membawa wanita itu ke kamarnya, saat melewati kamar Merry pria itu nampak menatap sejenak.
Weslyn di dalam sana pasti sudah menikmati tubuh kekasihnya tersebut dan ia juga tak mau kalah, pria itu akan menjadikan j4l4ng tersebut sebagai pelampiasannya.
Begitulah Alan, sejak menjalankan bisnis kotornya kehidupan pria itu mulai sangat liar. Setiap malam selalu berganti-ganti wanita untuk memuaskan hasratnya.
Padahal sebelumnya pria itu sangat baik, namun sejak Alex menikah dan memilih tinggal di Amerika. Pria itu seakan hilang arah dan juga salah dalam memilih pergaulan.
Sementara itu di tempat lain, Merry yang sudah tertidur pulas di kamar hotelnya nampak tak sadar dengan kedatangan tuan Weslyn yang terlihat sudah sangat menginginkannya.
__ADS_1