Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~61


__ADS_3

"Pak Artha." Merry nampak mengulas senyumnya saat Artha mengiringi langkahnya ketika mereka baru keluar dari kelasnya siang itu.


"Boleh bicara sebentar ?" ucap Artha yang langsung di angguki oleh Merry.


"Silakan pak." sahut Merry.


"Bagaimana kalau saya traktir makan siang di restoran depan ?" ajak Artha.


"Maaf pak saya tidak bisa." tolak Merry seraya menatap kedua bodyguardnya yang sedang menunggunya di gerbang kampus.


"Apa karena mereka ?" Artha menunjuk ke arah Dalle dan Dallas.


"Iya." Merry mengangguk pelan.


"Baiklah bagaimana kalau kira ngobrol di sana aja." Artha menunjuk ke arah taman yang nampak sepi.


"Boleh, pak." sahut Merry lalu melangkahkan kakinya beriringan dengan pria itu menuju taman yang berada di area kampusnya.


"Bapak mau bicara apa ?" tanya Merry setelah menghempaskan bobot tubuhnya di kursi panjang.


"Panggil saja Artha jika sedang berdua." pinta Artha yang langsung di angguki oleh Merry.


"Sebelumnya aku mau minta maaf karena tadi tidak sengaja melihat data pribadimu di database kampus, di sana statusmu di cantumkan sebagai keluarga tuan William Smith, apa kamu keponakan beliau ?" tanya Artha menyelidik.


"Keponakan ?" gumam Merry ternyata William belum mendaftarkan pernikahannya hingga statusnya sebagai istri pria itu tak di cantumkan.


Seketika terbesit rasa kecewa di hati gadis itu, karena William tak benar-benar serius menikahinya.


"Merr, kok diam ?" tanya Artha hingga membuyarkan lamunan gadis itu.


"Tidak, tidak apa-apa." Merry nampak memaksakan senyumnya.


"Kamu marah ya aku mengecek data pribadimu ?" tanya Artha lagi.


"Tidak kok, itu kan memang hak kamu sebagai pengajar." sahut Merry lalu wanita itu nampak menunduk.


"Mer....?" panggil Artha lagi.


"Iya ?" Merry mengangkat wajahnya lalu menatap pria itu, pria tampan dengan pandangan teduh itu juga sedang menatapnya.


"Jika ada masalah yang kiranya sulit kamu selesaikan, kamu bisa mencariku. Aku pasti akan menjadi pendengar yang baik bagimu bahkan mungkin aku dengan senang hati membantumu." ucap Artha yang langsung membuat Merry terharu.


Selain tampan Artha adalah sosok pria dewasa yang penyabar dan itu adalah tipe pria idaman banyak wanita.


Begitu juga dengan Merry jika tak ada William di kehidupannya mungkin saja wanita itu akan jatuh cinta pada pria tersebut.


"Terima kasih, pak." Merry merasa bersyukur mempunyai pengajar yang sangat perhatian padanya.


Sementara itu di tempat lain William nampak menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu pandangannya ke arah langit yang mulai gelap karena mendung yang pekat.

__ADS_1


Nampak kegelisahan di wajah pria itu karena sebelumnya Natalie menghubunginya jika sedang demam tinggi.


"Tuan, sepertinya sebentar lagi hujan akan turun bagaimana kalau kita tunda saja." saran James kemudian.


"Aku harus memastikan keadaan Natalie, James." sahut William lalu melangkahkan kakinya menuju mobilnya.


Saat mobil melaju hujan mulai turun dengan deras dan James terus saja mengemudikan kendaraannya itu sesuai perintah sang tuan.


Di tengah perjalanan James nampak menatap sebuah mobil yang sedari tadi mengikutinya dari kaca spion depannya.


"Tuan, apa anda mengenali mobil di belakang itu ?" tanya James saat mobil tersebut mulai memepet mobilnya.


"Minggir James." perintah William setelah memperhatikan mobil belakangnya.


"Sangat berbahaya tuan, kita tidak tahu berapa banyak orang di dalam mobil tersebut." James terus saja mengemudikan mobilnya dengan laju di tengah guyuran hujan yang teramat deras.


Dorr


Dorr


Mobil di belakang tersebut nampak menembak body mobil William secara beruntun.


"Sial, apa mereka mau cari mati." geram William kemudian mengambil senjatanya.


"Tuan, sebaiknya anda berlindung." mohon James saat tuannya itu membuka kaca mobilnya.


"Saya yang tumbang atau mereka yang tumbang James." ucap William lalu membalas tembakan mereka tanpa rasa takut.


Meski saat ini Willam terkenal sebagai seorang pengusaha sukses namun tanpa mereka tahu pria itu adalah seorang mafia kelas kakap.


Mobil William terus saja di berondong tembakan oleh beberapa orang di dalam mobil belakangnya itu.


"Tuan, tolong jangan lakukan itu mereka bisa saja mencelakai tuan." James memperingatkan saat tuannya itu membuka jendela mobilnya dengan lebar dan bersiap menembak musuh-musuhnya tersebut.


"Diamlah James atau roda-roda mobilmu akan menjadi sasaran mereka selanjutnya." ujar William lalu mulai melepaskan tembakannya ke arah roda mobil di belakangnya itu beberapa kali hingga membuat mobil mereka langsung berhenti.


Namun tanpa William sadari seseorang di mobil tersebut nampak melesatkan tembakannya.


Dorr


Dorr


"Tuan, awas !!" teriak James saat sebuah tembakan mengarah ke lengan William.


"Sial." William nampak meringis saat darah segar mengalir dari lengannya.


Mobil yang di kendarai oleh James berhasil lolos meninggalkan mobil musuhnya yang nampak berhenti karena roda-rodanya hancur oleh peluru William.


Namun William harus menanggung kesialannya dengan lengannya yang tergores oleh sebuah peluru.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit tuan." James nampak merasa bersalah karena tak bisa melindungi tuannya tersebut.


"Saya baik-baik saja James, ini hanya luka kecil." William nampak mengikat lukanya dengan sebuah kain agar darahnya berhenti.


"Tapi tuan..."


"Segera ke Apartemen Natalie dan panggilkan dokter saya." perintah William kemudian.


"Baik, tuan."


30 menit kemudian mobil James berhenti di sebuah tower Apartemen di mana Natalie tinggal.


Sejak wanita itu menyelamatkan nyawa William beberapa tahun yang lalu, pria itu merasa mempunyai hutang budi pada wanita itu.


Apalagi Natalie hidupnya sebatang kara seperti dirinya yang membuatnya selalu ingin melindunginya.


"Will, lenganmu terluka." Natalie nampak terkejut saat melihat lengan William yang di ikat kain penuh dengan darah.


"Aku baik-baik saja, bagaimana keadaan mu ?" tanya William kemudian.


"Aku dari semalam demam." hidung Natalie nampak memerah sepertinya wanita itu sedang flu.


"Sebentar lagi dokter akan datang." William menghempaskan bobot tubuhnya di sofa dengan wajah meringis menahan sakit.


"Kenapa bisa seperti ini, siapa yang melakukannya ?" Natalie nampak sangat khawatir.


"Aku baik-baik saja, Nat." tegas William.


"Aku akan mengambilkan mu minum." Natalie segera beranjak kemudian berlalu ke dapur kecilnya.


Beberapa saat kemudian dokter pribadi William datang dengan terburu-buru.


"Tuan, anda kenapa lagi ?" tanyanya seraya memulai memeriksa luka William.


"Jangan banyak tanya dok, tugasmu hanya memeriksaku." sinis William.


"Sepertinya anda tak ada jeranya." tegur dokter tersebut.


"Beruntung anda hanya tergores peluru, bagaimana kalau sampai terkena organ penting pasti kekasih anda akan sangat sedih." imbuh dokter tersebut yang langsung membuat William mengingat Merry.


Seharian ini pria itu belum menghubungi gadis itu karena kesibukannya.


"Tentu saja aku sangat mengkhawatirkannya dok." timpal Natalie yang kini sedang duduk di samping William.


Beberapa saat kemudian setelah dokter pergi William nampak merebahkan tubuhnya di sofa.


"Tidurlah di kamarku Will." Natalie nampak kasihan melihat William.


"Setelah hujan reda aku akan segera pulang Nat, jangan lupa habiskan obatmu." sahut William.

__ADS_1


"Baiklah aku akan membuatkan mu bubur kesukaanmu dan jangan menolak." ucap Natalie dengan nada memaksa, setelah itu Natalie segera berlalu ke dapur.


"Ku pastikan malam ini kamu akan menginap di sini Will." gumam Natalie seraya memasukkan sesuatu di dalam bubur kesukaan William itu.


__ADS_2