
"Selamat sore tuan William." ucap tuan Weslyn saat baru menjawab panggilan di ponselnya.
"Di sini masih dini hari, tuan Weslyn." sahut seorang pria dari ujung telepon.
Tuan Weslyn langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore.
"Maaf tuan, saya lupa perbedaan waktu kita 12 jam." ralat tuan Weslyn kemudian.
"Oh ya tuan apa ada yang penting ?" imbuhnya lagi karena harusnya boss besarnya itu masih menikmati tidur malamnya.
"Tidak, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak padamu. Tak sia-sia saya menunjukmu sebagai orang kepercayaan saya di sana karena dalam tiga bulan ini kau mampu menggaet banyak sekali investor." puji pria bernama William itu dari ujung telepon.
"Sama-sama tuan William, kapan anda menyempatkan waktu datang kesini ?" tanya Weslyn kemudian.
"Saya belum tahu, mungkin saat peresmiannya asisten saya yang akan mewakili saya datang kesana." sahut pria itu lagi.
"Baiklah tuan William, kami semua sangat menunggu kedatangan anda." Tuan Weslyn berbasa-basi, setelah sedikit berbincang mereka segera mengakhiri panggilannya.
"Aku harus segera membuat perhitungan pada wanita sial tadi." gumam tuan Weslyn kemudian seraya mengepalkan tangannya saat kembali mengingat ejekan Merry padanya.
"Benarkah milikku ini kecil ?" gumamnya seraya menatap ke arah celananya sendiri, di mana pusaka kebanggaannya sedang tertidur lelap dan melupakan hasratnya yang entah tiba-tiba menguap begitu saja.
"Sial, Samantha saja mengakui keperkasaanku bagaimana bisa wanita itu berucap seperti itu. Benar-benar tak bisa di ampuni, jangan panggil aku Weslyn kalau tidak bisa membuat perusahaanmu bangkrut." sumpahnya kemudian.
Sedangkan Merry yang baru keluar dari gedung perkantoran tersebut nampak menghempaskan bobot tubuhnya dengan kesal di atas kursi mobilnya.
Rupanya sia-sia saja ia datang ke kantor tersebut, benar-benar hari sial pikirnya.
"Anda berani sekali, bu." ucap Anne saat mengingat bossnya itu memaksa masuk ke dalam ruangan tuan Weslyn, apalagi pria tersebut sedang bermesraan dengan seorang wanita.
"Di dunia ini yang kita takutkan hanya Tuhan, An. Kecuali mereka sudah makan pecahan kaca baru kita pertimbangkan." sahut Merry yang langsung membuat Anne terkikik.
"Anda bisa saja, bu." ucapnya masih dengan menahan tawanya.
"Lalu bagaimana jika tuan Weslyn tidak terima dengan perlakuan anda tadi bu, saya khawatir beliau akan semakin mempersulit perusahaan kita." imbuh Anne lagi, kini wanita berkacamata itu terlihat kembali serius seperti biasanya.
"Entahlah An, kita lihat saja beberapa hari ke depan dan fokuskan saja ke proyek di dalam negeri dulu." sahut Merry seraya menatap lurus ke jalanan depannya itu.
"Saya juga mengkhawatirkan keadaan anda, bu. Karena tuan Weslyn pasti tidak akan tinggal diam begitu saja setelah kejadian tadi." timpal Anne kemudian.
"Saya pasti baik-baik saja, percayalah." sahut Merry menatap asistennya itu.
Malam harinya Merry dan Ariel nampak bersiap pergi memenuhi undangan makan malam seorang pria bernama Alan.
Meski Merry sebelumnya pernah bertemu beberapa kali, namun itu hanya berhubungan dengan pekerjaan atau undangan gala dinner bersama beberapa relasi kerjanya.
"Mommy, kita mau temana ?" tanya Ariel saat mobil mereka mulai melaju meninggalkan hotelnya.
__ADS_1
"Makan malam sayang, kamu suka ?" sahut Merry menatap putranya itu dengan gemas.
Ariel yang mengenakan kemeja putih dan dasi kupu-kupu terlihat sangat tampan, darah bangsawan dari kakeknya William begitu kental di diri bocah kecil itu.
Segala tingkah lakunya pun tak ubah seperti sang ayah, sangat angkuh dan juga posesif.
"Hm, tentu taja." angguk Ariel.
Beberapa saat kemudian mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah hotel bintang lima dan Merry maupun Ariel segera turun dari mobilnya.
Merry yang mengenakan gaun sepanjang mata kaki dengan belahan roknya hingga setengah pahanya terlihat begitu anggun, atasannya yang sedikit terbuka membuat wanita itu nampak seksi malam itu.
Rambutnya yang sengaja ia sanggul dan menyisakan beberapa anak rambut yang tergerai di sekitar telinganya membuatnya terlihat lebih cantik namun juga tak menghilangkan ketegasannya.
"Silakan nona, tuan Alan sudah menunggu anda." seorang pelayan langsung mengantar Merry dan sang putra menuju sebuah restoran di mana Alan sedang menunggu mereka di sana.
"Terima kasih banyak." ucap Merry pada pelayan tersebut setelah menemukan keberadaan Alan yang terlihat duduk di ujung ruangan paling belakang.
"Selamat malam nona Merry, malam ini anda terlihat sangat mempesona sekali." puji Alan saat Merry baru sampai di mejanya.
"Selamat malam juga tuan Alan, sepertinya anda terlalu berlebihan." Merry mengulurkan tangannya dengan ramah, kemudian Alan langsung membalas jabat tangan wanita itu lalu tiba-tiba mengecup punggung tangannya dan tentu saja membuat Merry nampak tercengang.
Rupanya pria itu sangat pandai memperlakukan seorang wanita dengan lembut dan itu membuat hatinya sedikit menghangat.
"Janan tium-tium tanan Mommy, kan tidak mau belangkat tekolah." Ariel langsung menarik tangan ibunya yang masih berada dalam genggaman tangan Alan.
"Tidak apa-apa nona Merry, biasa anak-anak." sahut Alan.
"Hai boy, boleh kenalan ?" ucap Alan seraya membungkukkan tubuhnya agar menyamakan tingginya dengan Ariel.
Ariel yang masih kesal karena tangan ibunya di cium tiba-tiba oleh pria asing itu nampak menatap tak ramah pada Alan.
Bahkan bocah kecil itu terlihat tak menyukai pria dewasa di depannya itu.
"Nak, ayo salim dulu sama Om Alan. Ariel anak baikkan ?" bujuk Merry saat putranya enggan membalas jabat tangan Alan.
"Hm." Ariel langsung mengangguk kemudian mengulurkan tangannya menjabat tangan besar di depannya itu.
"Aliel." ucapnya menyebutkan namanya dengan sedikit ketus.
"Nama yang bagus," puji Alan seraya mengacak lembut puncak kepala Ariel, namun Ariel segera merapikan rambutnya saat Alan kembali menegakkan tubuhnya.
"Baiklah ayo duduk, kalian pasti sudah laparkan ?" ajak Alan kemudian.
Pria itu langsung menarik kursi untuk Merry juga untuk Ariel dan itu membuat Merry mulai sedikit kagum dengan sosok pria itu.
"Terima kasih." balas Merry dengan mengulas senyumnya tipis.
__ADS_1
Selanjutnya beberapa pelayan menghidangkan menu makan malam yang sebelumnya sudah Alan pesan.
Rupanya pria itu sangat mengetahui selera Merry maupun Ariel dan itu lagi-lagi membuat Merry sedikit tercengang, namun saat mengingat Alan adalah sahabat baik sang kakak membuat wanita itu langsung menarik kekagumannya terhadap pria itu.
Karena bisa jadi pria itu sudah mencari tahu tentangnya dari Alex.
"Kalian suka? aku khusus memesan makanan ini buat kalian." ucap Alan saat mereka sedang menyantap makan malamnya.
"Terima kasih tuan, ini semua sangat enak." balas Merry.
Alan yang sedang menatap Merry makan dengan lahap nampak menyunggingkan senyumnya.
Namun saat melihat sudut bibir wanita cantik di depannya itu terkena noda saus, Alan segera mengambil tisu lalu mengulurkan tangannya untuk membersihkannya namun sebuah tangan kecil rupanya telah mendahuluinya.
"Bibil mommy ada tausna." kata Ariel seraya membersihkan sudut bibir ibunya dengan jari telunjuknya yang mungil lalu pandangan bocah kecil itu ke arah Alan dengan pandangan penuh kemenangan.
"Terima kasih, sayang." ucap Merry menatap sejenak putranya tersebut.
Sementara Alan terlihat mendengus pelan saat melihat bocah kecil itu nampak tak menyukainya.
"Putra saya selalu peduli meski hal sekecil apapun." ucap Merry saat Alan menatapnya.
"Itu sangat bagus nona Merry, bukankah kau sangat beruntung karena mempunyai jagoan kecil yang akan selalu melindungimu ?" timpal Alan.
"Tuan Alan benar sekali." Merry nampak terkekeh kecil.
"Bisakah sebut namaku saja, sepertinya itu lebih baik." pinta Alan kemudian.
"Tentu saja kau juga panggil namaku saja, rasanya aku terlalu muda jika di panggil nona. Lihatlah putraku sudah sebesar ini." balas Merry.
"Baiklah, kau juga." sahut Alan.
"Alan, Merry." Alan dan Merry nampak saling memanggil bersamaan dan mendengar itu mereka terlihat salah tingkah sendiri dan detik selanjutnya langsung terkekeh bersama.
Sedangkan Ariel yang sedang menikmati makan malamnya nampak menatap tak suka pada pria yang duduk di hadapan ibunya itu.
...----------------...
Sementara itu di belahan bumi lain, nampak seorang pria tampan dengan wajah dinginnya berjalan dengan tegas masuk ke dalam ruangannya pagi itu.
"Selamat pagi, tuan." sapa sang asisten.
"Sepertinya anda kurang tidur semalam." imbuh sang asisten saat melihat wajah lelah sang tuan.
Pria itu adalah William Smith, setelah 4 tahun berlalu bagaimana kabar pria itu ?
.
__ADS_1
Lanjut Next part ya yang kangen Om Will😁 karena part ini sudah 1.272 kata, kalau lanjut di sini nanti kepanjangan seperti kesabaran kalian wkwkwkwk