
Plakk
Sebuah tamparan berhasil Merry daratkan di pipi mantan suaminya itu lagi, kemudian ia segera beranjak saat pelukan pria itu mulai mengendur.
"Jangan berani-berani menyentuhku, tuan William." Tegas Merry, ia bukan wanita murahan yang bebas pria itu lecehkan begitu saja.
Lagi-lagi William kembali merasakan panas di pipinya setelah mendapatkan tamparan kedua dari wanita itu.
"Katakan apa dia putraku ?" ulang William seraya menunjukkan kembali beberapa foto Ariel di ponselnya.
"Bukan, dia bukan putramu." dusta Merry, lebih baik William tak mengetahui yang sebenarnya.
Ia tak ingin pria itu merebut putranya darinya, toh keadaan mereka sudah berubah dengan memiliki pasangan masing-masing.
"Baiklah jika kamu tak mau mengaku, itu tak masalah. Masih ada banyak cara untuk mengetahuinya." ucap William seraya menatap wanita yang kini melangkah menjauhinya.
Merry yang sedang merapikan pakaiannya langsung menggeleng cepat. "Aku sudah bilang dia bukan putramu." tegasnya kemudian.
"Jika bukan, apa itu berarti dulu kau berselingkuh dariku ?" cibir William yang tentu saja membuat Merry tak terima.
"Aku tidak pernah berselingkuh dengan pria mana pun, justru kau yang selalu berhubungan dengan banyak perempuan." tuding balik Merry.
Dirinya adalah seorang istri yang paling setia bahkan saat pria itu menyiksanya sekalipun ia dengan tulus memaafkannya.
William nampak tergelak, dengan kata lain wanita itu telah mengakui jika bocah tengil yang pernah ia temui di salah satu Mall beberapa hari lalu adalah putranya.
Pantas ia merasa seakan sedang bercermin pada dirinya sendiri saat melihat bocah itu.
"Baiklah aku semakin yakin jika anak itu adalah darah dagingku." tegas William kemudian.
"Aku bilang bukan ya bukan, dia anak kak Alex. Bukankah aku sudah mengirimimu foto pernikahanku waktu itu." terang Merry.
Ia mengingat dua tahun lalu telah mengirim beberapa fotonya bersama dengan Alex yang ia akui jika mereka telah menikah padahal sebenarnya itu adalah pernikahan sang kakak dengan istrinya.
Merry sengaja melakukan pembohongan tersebut untuk melihat bagaimana reaksi suaminya itu, namun setelah sekian lama pria itu baru muncul sekarang.
Mendengar ucapan istrinya itu William nampak terkejut, tapi ia paham karena semuanya memang salahnya.
__ADS_1
Namun pria itu mempunyai banyak cara agar wanita itu mau mengaku jika Ariel adalah darah dagingnya.
"Benarkah? baiklah sepertinya aku harus menghubungi Celine kakak iparmu itu untuk mencari kebenarannya." William nampak mengambil ponselnya.
"Kak Celine? kau mengenalnya ?" Merry langsung melotot.
"Tentu saja, dia menjadi brand ambasador di perusahaanku saat ini." sahut William seraya berpura-pura mencari kontak Celine, meskipun ia tak menyimpannya karena semua relasi bisnisnya selalu berhubungan dengan James.
"Bodoh, kenapa kak Celine mau bekerja dengan pria ini sih." gumam Merry, lalu ia segera merebut ponsel William.
"Percuma kau menghubungi kak Celine karena dia tidak pernah tahu aku dan kak Alex pernah menikah." ucap Merry beralasan.
"Benarkah? jadi jika dia tahu tentang pernikahan kalian apa dia akan baik-baik saja nantinya ?" timpal William seraya menaikkan sebelah alisnya dan tentu saja itu membuat Merry langsung menelan ludahnya, kenapa tiba-tiba otaknya menjadi tumpul begini sih.
"Bu-bukan begitu." Merry mulai bersungut-sungut.
"Hubungan kita sudah selesai sejak kau mencampakkan ku tuan William, jadi tolong lepaskan aku sekarang juga." imbuhnya mengalihkan pembicaraan,
"Aku tidak pernah mencampakkanmu." ucap William tak kalah tegas.
"Tapi nyatanya kau meninggalkan ku waktu itu, kamu seperti laki-laki pengecut yang tak sanggup menghadapi ayahku." Akhirnya Merry mengungkapkan isi hatinya.
"Maafkan aku, aku bisa menjelaskan semuanya." ucap William seraya bangkit dari duduknya, pria itu mengaku salah karena telah mempercayai foto yang belum tentu kebenarannya.
"Aku sudah memaafkan mu tapi hubungan kita sudah berakhir sejak lama, jadi tak ada lagi yang harus kamu jelaskan." sahut Merry, mungkin keputusannya sudah benar karena ia tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya.
"Kenapa? apa karena kamu mencintai pria itu ?" William menatap datar mantan istrinya itu.
"Jika tak mencintainya untuk apa aku bertunangan dengannya." sahut Merry yang langsung membuat William nampak geram.
"Baiklah, sekarang buka pintunya karena aku harus kembali." perintah Merry kemudian, hampir dua jam ia meninggalkan pesta tersebut dan semua orang pasti sudah mencarinya.
"Saya bilang kamu tidak akan kemana-mana." tegas William, dahulu ia mempunyai alasan untuk melepaskan wanita itu namun sekarang ia telah sembuh jadi jangan harap bisa pergi darinya lagi.
"Kau? apa satu wanita saja tidak cukup bagimu ?" Merry kembali bersungut-sungut, seandainya pria itu masih sendiri mungkin ia akan mempertimbangkannya namun keadaan mereka telah berubah begitu juga dengan dirinya.
"Aku tidak peduli." tegas William, pria itu kembali ke tempat duduknya semula lalu memainkan ponselnya.
__ADS_1
Merry nampak menghela napasnya dengan kasar, ia sedang mengkhawatirkan keluarganya terutama sang ayah yang akhir-akhir ini kurang sehat.
"Kalau begitu tolong pinjamkan ponselmu, aku ingin menghubungi keluargaku." mohonnya kemudian.
"Ambillah dan katakan pada mereka jika kau sedang menghabiskan malam bersamaku." William mengulurkan ponselnya yang langsung di ambil dengan kasar oleh wanita itu.
Merry mendial nomor yang ia hafal dan tak menunggu lama panggilannya tersambung.
"Hallo Mom ini aku, maaf aku baru menghubungi." ucapnya setelah panggilannya terhubung ke ponsel ibunya, karena hanya nomor ponsel wanita itu yang ia hafal.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja? kami di sini sangat mengkhawatirkan mu nak karena kamu tiba-tiba menghilang." tanya Sera dengan khawatir.
"Sayang, ini aku apa kau baik-baik saja ?" kali ini Alan ikut berbicara.
"Aku baik-baik saja, kalian tenanglah." Merry mencoba meyakinkan.
William yang ikut mendengarkan nampak tersenyum sinis, kemudian pria langsung menarik wanita itu hingga kembali terduduk di pangkuannya.
Dan tentu saja itu membuat Merry sontak berteriak karena terkejut dan segera menjauhkan ponselnya.
"Sayang, kau baik-baik saja ?" Alan terdengar khawatir.
"Diamlah, jangan macam-macam." ancam Merry dengan menunjuk tepat di wajah William dan pria itu hanya menanggapinya dengan tersenyum sinis.
Kemudian Merry kembali mendekatkan ponsel di telinganya. "Aku baik-baik saja, maaf tadi tiba-tiba ada pekerjaan mendadak jadi aku harus segera mengurusnya." ucapnya kemudian.
"Syukurlah, jika kamu baik-baik saja. Kamu sedang bersama Anne jugakan karena dia juga tiba-tiba menghilang dan ponsel kalian benar-benar tak bisa di hubungi." Alan ingin memastikan.
"Aku baik-baik saja Al, tolong sampaikan maafku pada para undangan. Setelah selesai aku pasti akan segera kembali." mohon Merry kemudian.
"Baiklah, berhati-hatilah dan langsung hubungi kami jika ada apa-apa." pesan Alan, namun Merry belum membalasnya William sudah merebut ponselnya lalu mengakhiri panggilannya tersebut.
"Kau..." Merry nampak bersungut-sungut, ia belum sempat menanyakan keadaan putranya tapi pria itu langsung mengakhirinya begitu saja.
"Aku sangat membencimu Will, aku sangat membencimu." teriak Merry seraya memukuli dada pria itu secara membabi buta.
Air matanya yang sedari tadi ia tahan kini tak terbendung lagi dan William langsung membawanya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Merry nampak terisak, menumpahkan segala kecewanya pada pria itu selama ini.
"Ayo kita mulai dari awal lagi? aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." lirih William kemudian.