Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~80


__ADS_3

"Dad, anak buahku sudah menemukan keberadaan Arthur dan aku akan segera kesana sekarang." ucap Alex pagi itu saat mengabarkan keadaan sang adik pada ayahnya.


"Daddy akan ikut." Martin yang sedang berada di kamarnya langsung beranjak dari duduknya.


"Tidak Dad, lebih baik Daddy istirahat di rumah saja." tolak Alex mengingat kesehatan sang ayah yang belum sepenuhnya pulih.


"Kau tidak bisa melarangku Lex, aku ingin menghabisi bajingan itu dengan tanganku sendiri." tegas Martin.


Alex hanya bisa menghela napasnya, kemudian ia mengangguk pasrah.


Martin nampak mengambil senjatanya di atas nakas lalu pria itu segera menyimpannya di saku celananya.


Setelah itu mereka segera meninggalkan mansionnya dengan beberapa bodyguardnya.


Sementara itu di tempat lain Merry nampak memicing saat Arthur berjalan mendekatinya. "Kau mau apa ?" teriaknya kemudian.


"Tanda tangan atau peluru ini akan menembus kepalamu !!" perintah Arthur seraya mengarahkan senjatanya ke arah kepala Merry.


"Sudah ku bilang jika aku mati kau tidak akan pernah mendapatkan apa-apa." cibir Merry menatap Arthur tanpa perasaan takut.


"Itu sangat mudah bagiku, karena setelah kamu mati mungkin aku akan memalsukan tanda tangan dan cap jarimu." sahut Arthur dengan entengnya.


"Kau...!!" Merry tak habis pikir betapa liciknya pria di hadapannya itu.


"Dalam hitungan tiga jika kau tidak menanda tangani maka peluru ini benar-benar akan menembus kepalamu." ancam Arthur yang langsung membuat Merry berpikir keras.


"Satu."


"Dua."


"Ti..." ucapan Arthur tertahan saat Merry memotongnya.


"Baiklah aku akan tanda tangan." sahut Merry kemudian.


"Bagus." Arthur langsung tersenyum menyeringai saat melihat Merry mengambil polpoin lalu mulai menandatangani berkas pengalihan perusahaan tersebut.


Kemudian pria itu meletakkan senjatanya di atas meja tak jauh dari hadapan gadis itu.


Sedangkan Merry nampak tersenyum miring saat membubuhkan tanda tangan palsunya, ayahnya sudah bekerja keras membesarkan perusahaannya enak saja pria itu mau merampasnya.


"Bukankah kau sudah mendapatkan keinginanmu, jadi sekarang lepaskan aku." mohon Merry setelah meletakkan bolpoin di tangannya ke atas meja.


"Melepaskanmu ?" Arthur langsung tertawa nyaring seraya menyimpan berkas tersebut ke dalam tasnya.


"Iya lepaskan aku." ulang Merry.


"Jangan terburu-buru sayang, kita akan sedikit bermain-main dulu." Arthur mengangkat tangannya untuk menyentuh Merry, namun gadis itu langsung menepisnya.


"Jangan macam-macam." teriak Merry seraya berjalan menjauh.


"Hanya satu macam, percayalah. Setelah kau bisa memuaskan ku, maka aku akan melepaskanmu." ucap Arthur yang langsung membuat Merry melotot.

__ADS_1


"Jika William tahu ku pastikan dia akan menghabisimu." Merry memberikan ancaman namun bukannya takut Arthur justru tertawa mengejek.


"William tidak akan mencarimu, ayo kemarilah !!" Arthur berjalan mendekati Merry.


"Dia pasti akan mencariku." keukeh Merry, sudut matanya nampak melirik ke arah senjata di atas meja.


"William di kelilingi oleh banyak wanita, kehilanganmu takkan membuat dia kecewa." bujuk Arthur.


"Aku yakin William akan mencariku." ucap Merry lalu berlari ke arah meja dan mengambil senjata tersebut.


"Damn, jangan main-main dengan senjata itu." Arthur langsung terkejut saat Merry mengambil senjatanya yang tak sengaja ia letakkan di atas meja.


"Kau bisa membahayakan dirimu sendiri." bujuk Arthur kemudian.


"Membahayakan nyawamu atau nyawaku ?" cibir Merry, rupanya pria itu hanya menganggap dirinya gadis manja dan tak mengerti menggunakan senjata.


"Jika mendekat maka aku akan menembakmu." imbuh Merry seraya menarik pelatuk senjatanya dan itu membuat Arthur menelan ludahnya, pria itu langsung mengangkat kedua tangannya.


Dorr


Merry menembak pintu Apartemen pria itu hingga hancur lalu gadis itu segera membukanya dan berlari keluar.


Tak ingin kehilangan mangsanya, Arthur segera mengejar Merry. Sangat berbahaya jika membiarkan gadis itu tetap hidup.


Pria itu nampak melalui jalan pintas yang mungkin akan sampai di lantai bawah lebih cepat dari pada gadis itu.


Beberapa saat kemudian, Merry yang tiba di pintu belakang Apartemen tersebut segera keluar dari sana.


"Kau..."


"Jangan mendekat, jika tidak aku akan menembakmu !!" Merry mengangkat senjatanya ke arah Arthur, namun pria itu justru tersenyum lebar.


"Tembak saja aku tidak takut." ucapnya menantang.


"Sesuai inginmu." Merry langsung melepaskan pelatuk senjatanya tapi sepertinya tak ada peluru yang berhasil ia lepaskan.


"Sial." umpat Merry, rupanya peluru di senjata tersebut sudah kosong.


"Dan sekarang giliranmu menyusul kedua orang tuamu di neraka." Arthur mengangkat senjatanya dengan tersenyum menyeringai dan....


Dorr


Dorr


"Apa aku sudah mati ?" gumam Merry, namun ia tak merasakan kesakitan.


Kemudian Merry langsung membuka matanya dan di lihatnya Arthur sudah terkapar tak berdaya di hadapannya.


"Ba-bagaimana bisa ?" Merry segera mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang menembak Arthur.


"William ?" Merry nampak terkejut saat melihat William berada tak jauh darinya dengan senjata api masih berada di tangannya, rupanya pria itu yang telah menyelamatkannya.

__ADS_1


"Sayang."


Tiba-tiba seseorang memanggil hingga membuat Merry menoleh ke arah lain.


"Daddy !!" teriak Merry, gadis itu langsung berlari ke arah ayahnya.


"Daddy baik-baik saja ?" Merry yang sangat merindukan ayahnya nampak membingkai wajah pria paruh baya itu.


"Daddy baik-baik saja, nak." sahut Martin.


"Aku sangat merindukan Daddy." Merry langsung memeluk ayahnya itu.


Sedangkan William yang menatap kebersamaan istri dan ayahnya tersebut nampak menghela napas beratnya, kemudian pria itu berlalu pergi dari sana.


"Tuan, anda baik-baik saja ?" James terlihat khawatir saat sang tuan masuk ke dalam mobilnya.


"Perintahkan anak buahmu untuk membereskan bajingan itu James dan segera pergi dari sini !!" perintahnya kemudian.


James nampak menatap sejenak Merry dan Martin yang masih berpelukan melepas rindu, lantas pria itu menghubungi seseorang di telepon.


Setelah itu James segera mengemudikan mobilnya meninggalkan Apartemen tersebut.


"Syukurlah Daddy baik-baik saja lalu bagaimana keadaan mommy, Dad ?" ucap Merry setelah melepaskan pelukannya.


"Mommy masih koma, dia membutuhkanmu Nak." sahut Martin mengingat sang istri masih berjuang di rumah sakit.


"Mommy." Merry kembali terisak.


"Mommy pasti akan baik-baik saja kan, Dad ?" tanyanya kemudian.


"Jika kamu datang, Mommy pasti akan bangun nak." sahut Martin.


"Tentu saja aku akan datang Dad, aku akan memberitahu Mommy jika aku sudah menikah dan aku sangat mencintai suamiku seperti Mommy mencintai Daddy." terang Merry yang langsung membuat Martin tersentak.


Deg!!


"Tidak, itu tidak mungkin." gumam Martin, putrinya itu tidak mungkin mencintai William dan itu salah besar.


"Kita bicara di rumah saja, ayo pulang." Martin langsung mengajak putrinya itu untuk pulang.


"Kita pulang bersama William ya Dad, Daddy pasti sudah mengenal suamiku kan." Merry nampak mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya.


"William..." teriaknya saat tak menemukan William di sana.


"Dad, kak Alex suamiku kemana ?" Merry terlihat panik saat tak menemukan sang suami.


"Sepertinya William ada urusan lain, lebih baik kita pulang dulu nanti William pasti akan datang mencarimu." bujuk Alex kemudian.


"Apa benar William akan mencariku, Dad ?" tanya Merry pada sang ayah.


"Hm, tentu saja nak." Martin mengangguk kecil, sudut hatinya masih belum terima jika putri kecilnya telah mencintai seorang pria selain dirinya sebagai sang ayah.

__ADS_1


"Ayo pergi." Martin segera menggandeng putrinya menuju mobilnya.


__ADS_2