
Hampir satu minggu Elsa belum mendapatkan kabar dari Alex, pria itu tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar dan itu membuatnya semakin bimbang dengan perasaannya.
Bagaimana ia bisa mempercayakan hatinya jika komunikasi di antara mereka pun jarang terjadi, ingin sekali ia menghubungi pria itu terlebih dahulu namun ia takut akan mengganggunya.
"Bagaimana kabarmu ?"
"Apa kamu baik-baik saja ?"
"Aku merindukanmu."
Elsa nampak menghapus kembali beberapa pesan yang belum sempat ia kirim itu, sungguh hatinya benar-benar bimbang saat ini.
Apa kebersamaan mereka akhir-akhir ini dengan menghabiskan waktu bersama dan bercinta di mana pun itu tak berarti di mata pria itu?
Apa mungkin pria itu telah bertemu dengan mantan istrinya dan mereka kembali dekat? semuanya bisa saja terjadi karena di luaran sana banyak sekali pasangan yang telah bercerai lantas kembali menjalin hubungan.
Kesal dengan spekulasinya sendiri, Elsa nampak menghela napasnya kemudian mematikan ponselnya lalu segera menyambungkan ke alat pengisi baterai.
Sementara Alex yang masih berada di Amerika nampak sedang menatap layar ponselnya di tengah meetingnya bersama para karyawannya.
Beberapa hari ini keadaannya kurang membaik, ia harus mengurus beberapa bisnisnya yang kacau selama ia tinggal ke Jerman.
Hingga membuatnya membatasi dirinya untuk menghubungi Elsa maupun sang putra, ia tak ingin kedua belahan jiwanya itu mendapatkan imbas dari rasa stres yang melandanya akhir-akhir ini.
Namun ia juga merasa kecewa karena wanita itu juga tak menghubunginya sama sekali, seakan ia bukan seseorang yang spesial baginya.
Seketika perkataan Marco kembali terngiang-ngiang di kepalanya, benarkah pria itu juga pernah tidur dengan wanita itu sebelumnya?
Kemudian Alex mencoba menghubunginya, namun ponsel wanita itu sedang tidak aktif. "Sial." umpatnya kemudian.
"Tuan." ucap salah satu karyawannya saat tuannya itu tak menanggapi hasil meeting mereka sore itu.
"Aku sedang kurang baik hari ini, jadi kalian lanjutkan saja tanpa aku." ucapnya seraya beranjak dari duduknya lalu segera meninggalkan tempat meeting tersebut.
"Tuan, anda baik-baik saja ?" ucap Jack setelah mereka berada di dalam mobilnya.
"Pesankan penerbangan ke Jerman hari ini, Jack !!" perintahnya kemudian.
__ADS_1
Jack nampak menatap tuannya dari spion depannya, kemudian pria itu mengangguk kecil. "Baik, tuan." ucapnya, lantas segera mengemudikan mobilnya membelah jalanan siang itu.
Saat melewati sebuah Mall, Alex memerintahkan asistennya itu untuk menghentikan mobilnya.
Brukk
Tiba-tiba ia tak sengaja menabrak seorang wanita saat sedang melangkah masuk ke dalam mall tersebut hingga membuat barang-barang milik wanita itu terhambur di lantai.
"Maaf aku tidak sengaja." ucap Alex seraya membantu memunguti barang-barang wanita itu, lantas segera memberikannya.
"Kau !!" ucapnya bersamaan dengan wanita itu.
Rupanya wanita itu adalah Celine mantan istri Alex yang nampak sama terkejutnya seperti pria itu.
"Terima kasih." Celine langsung mengambil barang-barangnya yang berada di tangan Alex.
"Hm." Alex hanya mengangguk kecil.
"Bagaimana kabarmu ?" tanya Celine kemudian.
"Seperti yang kamu lihat." sahut Alex singkat, lalu pandangannya beralih ke arah perut wanita itu yang seharusnya sudah membesar karena bayi yang di kandungnya.
Menyadari tatapan Alex, Celine langsung membuka suaranya. "Aku keguguran tak lama setelah kita berpisah." ucapnya seakan mengerti apa yang sedang pria itu pikirkan.
"Oh, aku turut berduka cita." timpal Alex berbasa-basi.
"Lama tak mendengar kabarmu, ku pikir kamu sudah menikah tapi sepertinya belum." ucap Celine lagi seraya menatap jari pria itu yang nampak kosong tanpa satupun cincin pengikat yang menandakan jika mantan suaminya itu telah bertunangan atau menikah.
"Ku rasa itu bukan urusanmu." tegas Alex dengan menatap tajam wanita itu.
Namun Celine bukannya takut tapi wanita itu justru tertawa. "Wanita baru yang terlihat baik pun belum tentu benar-benar baik bukan ?" ucapnya kemudian.
"Apa maksudmu ?" Alex langsung memicing menatap wanita itu.
"Aku harus segera pergi." Celine langsung mengalihkan pembicaraan, namun Alex yang belum puas dengan perkataan wanita itu langsung mencekal pergelangan tangannya hingga membuat Celine menghentikan langkahnya.
"Katakan apa maksudmu berkata seperti itu ?" ulang Alex lagi dan membuat Celine nampak tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Dahulu Marco menggodaku hingga membuatku terlena dan ku pikir tak ada satu pun wanita yang tak terlena oleh pesonanya baik wanita itu sekali pun." sahutnya kemudian seraya menatap pria itu, lantas melepaskan cekalan di tangannya dan bergegas pergi dari sana.
Saat melangkah pergi, Celine nampak tersenyum licik. Sakit hatinya terhadap pria itu belumlah terobati dan jika ia hancur maka pria itu juga harus hancur.
Sementara itu tak jauh dari sana, nampak seorang pria sedang tersenyum puas menatap layar ponselnya. "Wow, sepertinya semesta sedang memihakku. Benar-benar sangat kebetulan sekali." gumamnya seraya menatap beberapa potret antara Alex dan mantan istrinya tersebut.
"Kau telah menghancurkan bisnisku dan kau juga harus hancur, Alex Martin." Marco nampak tersenyum menyeringai setelah mengirim beberapa potret hasil jepretannya ke email milik Elsa.
Lalu senyumnya langsung menyurut saat tak sengaja melihat seorang wanita dengan perut membesar sedang mendorong kereta bayinya.
"Anne !!" ucapnya saat menatap wanita pujaan hatinya tersebut.
Lama tak berjumpa dengan wanita itu dan rupanya kini wanita itu telah mengandung anak keduanya. "Benar-benar tak tahu diri sekali kau James." umpatnya saat melihat bagaimana wanita yang masih bertahta sepenuhnya di hatinya itu nampak kelelahan karena kehamilannya yang mulai membesar, belum lagi harus menjaga putrinya yang masih sangat kecil itu.
Saat Marco ingin mendekati, tiba-tiba James datang lalu menggandeng wanita itu hingga membuat pria itu langsung menghentikan langkahnya.
Lalu pandangannya mengikuti kemana pun mereka pergi, lantas bocah perempuan yang sedang duduk di keretanya itu tiba-tiba menoleh ke belakang lalu menatapnya.
Pandangan mereka nampak bertemu sesaat dan baby Jeslin langsung tersenyum menatapnya.
"Sofia, matamu benar-benar cantik seperti milik ibumu." gumam Marco kemudian.
Malam harinya di tempat dan negara yang berbeda, Elsa yang sedang sibuk dengan macbooknya nampak mengernyit saat mengecek emailnya.
"Tuan Marco ?" gumamnya, lantas ia segera membuka isi pesan yang di kirim oleh pria itu.
"Astaga." ucapnya saat melihat beberapa potret kebersamaan Alex bersama mantan istrinya.
Mereka terlihat berbincang dengan akrab bahkan nampak juga beberapa potret di mana pria itu sedang memegang pergelangan tangan wanita itu dan itu membuat Elsa tercengang di buatnya.
"Apa karena ini kamu sampai lupa memberikan ku kabar ?" gumamnya, lantas wanita itu segera menutup macbooknya.
Matanya langsung berkaca-kaca dan dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak. "Aku membencimu, sangat membencimu." ucapnya seraya menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan.
Kemudian tak berapa lama terdengar bunyi bel hingga membuatnya langsung mengusap butiran kristal yang telah membasahi pipinya.
Lantas ia segera keluar kamarnya, itu pasti Sam karena mantan asistennya itu sebelumnya telah mengirim pesan jika akan datang.
__ADS_1
Tanpa mengecek layar cctv terlebih dahulu, Elsa langsung saja membuka pintu apartemennya tersebut dan.....
"Ka-kau ?" ucapnya tak percaya saat melihat Alex sudah berdiri di hadapannya.