
Siang itu Celine yang sedang berada di balkon kamarnya di lantai atas nampak melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang mansionnya, saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut Celine terlihat memicing.
Bagaimana bisa adik iparnya itu yang baru beberapa bulan tinggal di New York sudah mampu menggaet pria kaya di negaranya. "Ini tak bisa di biarkan jangan sampai dia membuat malu keluarga karena menggoda suami orang." gerutunya seraya meninggalkan balkon kamarnya tersebut.
Nama baik keluarga sepertinya hanya alasan wanita itu saja karena jika ia mementingkan nama baik keluarga ia tidak mungkin bermain api di belakang sang suami, sepertinya Celine hanya iri melihat adik iparnya tersebut.
Semua berawal dari Alex yang setiap saat selalu memuji sang adik hingga membuat Celine bukannya ikut bangga namun menjadi enek dan rasa tidak suka itu akhirnya mengakar hingga sekarang.
"Hei, kalian dari mana saja ?" Celine yang baru keluar dari dalam rumahnya langsung berapi-api saat melihat adik iparnya itu datang.
"Bagus ya meninggalkan orang tuamu padaku dan kamu seenaknya pergi tanpa kabar, dasar j4l4ng tak tahu diri suami wanita mana lagi yang sudah kau goda hah ?" teriak Celine dengan nada hinaan dan itu membuat Merry nampak geram karena wanita itu sudah berbicara kasar di depan putranya.
"Kak tolong jaga bicaramu !!" tegurnya seraya melirik ke arah sang putra yang sepertinya ketakutan karena langsung bersembunyi di belakang badannya.
"Kenapa aku harus menjaga sikap jika kamu sebagai wanita saja tidak bisa menjaga sikapmu, pergi berhari-hari tanpa kabar apa kamu baru selesai menjual dirimu hah? pria kaya mana yang menjadi korbanmu kali ini? Ck, pantas punya anak tak tahu siapa ayahnya karena kelakuanmu itu memang sangat menjijikkan." cibir Celine dengan tersenyum sinis, namun saat mendengar seseorang berteriak padanya wanita itu langsung menoleh ke sumber suara.
"Jaga bicaramu Celine !!" suara William begitu menggelegar di telinga hingga membuat Merry pun langsung berbalik badan menatapnya.
"Tuan William anda datang kemari...." Celine langsung tersenyum senang saat menatap kedatangan William, namun ketika pria itu melingkarkan lengan kekarnya di pinggang adik iparnya tersebut wanita itu langsung memucat.
"Ka-kalian ada hubungan apa ?" tanyanya dengan merendahkan suaranya serendah-rendahnya, nyalinya untuk memaki sang adik seketika ciut saat mendapatkan tatapan kebencian dari seorang William.
"Kamu ingin tahu hubungan kami? baiklah pasang telingamu baik-baik. Wanita yang kau hina ini adalah istriku dan anak kecil yang kau bilang tidak jelas siapa ayahnya itu adalah anak kandungku." tegas William dengan nada kemarahan dan sontak membuat Celine lemas tak berdaya, wanita itu langsung bersimpuh di hadapan William.
"Tuan William tolong maafkan semua kesalahanku, a-aku hanya berusaha membela nama baik keluarga mertuaku." ucapnya memohon ampun, ia tak ingin karirnya yang ia bangun bertahun-tahun akan hancur.
William nampak mengepalkan tangannya, tak peduli sosok di depannya itu adalah seorang wanita karena jiwa iblis yang ada pada dirinya seketika muncul dan haus akan darah.
Ia tak bisa menerima istri dan anaknya begitu di rendahkan oleh seorang wanita yang lebih pantas ia sebut j4l4ng itu, namun sentuhan dan perkataan lembut sang istri membuatnya kembali waras dan darahnya yang sudah mendidih perlahan normal.
"Will please, kita semua adalah keluarga dan alangkah baiknya jika kita saling memaafkan." ucap Merry tangannya nampak terulur mengusap dada bidang pria itu seakan ingin menyentuh hatinya yang sudah di kuasai oleh amarah.
__ADS_1
"Dengarkan aku, aku dan Ariel baik-baik saja percayalah." sambungnya seraya menatap lembut suaminya itu.
"Ayo kita temui mommy dan Daddy." ajak Merry kemudian seraya menggenggam tangan suaminya itu dengan erat, namun sebelum mereka melangkah tiba-tiba seseorang datang.
"Ada apa ini ?" tiba-tiba Alex yang baru datang nampak terkejut saat melihat istrinya bersimpuh di lantai.
"William ?" Alex langsung melebarkan matanya saat melihat sosok William berdiri tak jauh darinya itu.
"Hm, kau terkejut melihatku? cibir William saat melihat kakak iparnya itu.
"Tapi sepertinya kau lebih terkejut lagi jika mengetahui siapa istrimu itu sebenarnya." sambungnya yang langsung membuat Celine semakin memucat, wanita itu khawatir jika William mengetahui perbuatannya di belakang sang suami selama ini.
"Apa maksudmu, Will ?" Alex langsung memicing.
"Jika kau merasa pintar harusnya sudah paham dan sekali lagi ku peringatkan didik istrimu itu dengan benar sebelum aku yang mendidiknya dengan caraku." ujar William menatap tajam Alex, kemudian pria itu segera berlalu pergi dari sana namun William nampak melirik ke arah Celine sejenak urusannya dengan wanita itu belum selesai dan ia bersumpah akan menghancurkannya.
Alex yang tak mengerti dengan ucapan William langsung beralih menatap istrinya yang mulai bangkit dari lantai.
Celine yang ketakutan langsung berurai air matanya. "Maafkan aku sayang, maafkan aku. Aku tadi menegur Merry karena beberapa hari ini dia tidak pulang, aku hanya kasihan pada mommy dan Daddy yang selalu memikirkannya." sahutnya beralasan.
Padahal ia tak tahu mertuanya itu kepikiran dengan keadaan Merry atau tidak saat wanita itu pergi, karena dirinya sama sekali tak peduli bahkan untuk bertemu dengan mereka pun bisa di hitung dengan jari itu pun atas paksaan sang suami.
"Sudah nggak apa-apa ada aku di sini, apa William menyakitimu ?" Alex terlihat khawatir mengingat bagaimana perangai seorang William.
Celine langsung menggeleng. "Dia hanya menegurku tapi aku sangat takut." ucapnya dengan manja pada suaminya itu.
"Sudah tidak apa-apa, William juga keluarga kita. Dia ayah kandung Ariel dan juga suami Merry." Alex menjelaskan seraya mengajak istrinya itu kembali ke kamarnya.
"Ba-bagaimana bisa, memang sejak kapan mereka menikah? bukankah kekasih William hanya Natalie dan Vivian saja." Rasanya Celine banyak sekali ketinggalan berita, selama ini kehidupan adik iparnya itu benar-benar di tutup rapat oleh keluarganya bahkan suaminya itu sendiri.
"Ceritanya panjang, intinya mereka saling mencintai namun karena suatu hal akhirnya mereka berpisah dan ya kamu lihat sendiri kekuatan cinta sejati itu sangat dahsyat hingga membuat mereka bisa kembali bersama." terang Alex menatap istrinya itu.
__ADS_1
Mendengar penjelasan sang suami Celine merasa sangat iri, kenapa harus adik iparnya itu dan bukan dia yang menjadi cinta sejati seorang William.
Kemudian wajahnya langsung memucat saat mengingat tatapan membunuh William tadi, lalu bagaimana nasibnya nanti? seketika Celine kembali terisak.
"Sayang aku takut, bagaimana kalau William tak mau memaafkanku ?" ucapnya seakan hanya suaminya itu yang bisa menolongnya.
"Tenanglah nanti aku bicarakan hal ini dengannya." Alex langsung membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
Sementara itu William dan Merry yang berjalan menuju paviliun belakang nampak saling bergandengan tangan.
"Kamu baik-baik saja? apa dia tadi melukaimu? kenapa tidak pernah mengatakan perlakuan buruk Celine padaku ?" William langsung mencercah beberapa pertanyaan hingga membuat istrinya itu nampak tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih sudah melindungiku tapi ngomong-ngomong sepertinya kamu kenal dia sebelumnya ?" balas Merry menatap curiga suaminya itu, mengingat bagaimana Celine bersikap seolah mengenal baik pria itu.
"Dia menjadi brand ambassador di perusahaanku." sahut William yang langsung membuat Merry mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh pantas." ucapnya menanggapi, namun itu justru membuat William menahan langkahnya.
"Hubunganku dengannya hanya sebatas atasan dan bawahan kamu tidak perlu berpikir macam-macam." terang William yang tentu saja membuat istrinya itu sedikit terkekeh.
"Memang aku berpikir macam-macam apa ?" ucapnya setengah meledek dan itu membuat seorang William nampak menatap gemas.
"Sepertinya setelah ini aku akan membuatmu tidak bisa berjalan, nyonya Smith." William langsung tersenyum menyeringai.
"Ya Mommy dan Daddy pasti akan mengomelimu." balas Merry.
"Tentu saja tidak bahkan mereka pasti akan dengan senang hati mendukung karena cucu kesayangannya akan bertambah lagi." sahut William sembari terkekeh.
"Dasar mesum." Merry langsung melotot menatap suaminya itu, namun saat mendengar dehemen seseorang wanita itu segera menoleh ke sumber suara.
"Daddy...." lirihnya saat melihat ayahnya yang sedang berdiri tak jauh di depan mereka dengan tatapan datarnya.
__ADS_1