Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~157


__ADS_3

"Tentu saja tidak, tuan." James langsung membela diri, pantang bagi seorang pria di katakan lemah di ranjang karena itu adalah sebuah aib.


"Lalu kenapa Anne belum juga hamil ?" cecar William dengan pandangan menyelidik.


"Bagaimana bisa hamil, aku menyentuhnya saja belum pernah." gumam James, meski sebelumnya ia pernah berciuman dengan wanita itu dan juga pernah melihat tubuh polosnya saat mereka tak sengaja tidur bersama.


Namun ia sedikit pun tak berniat untuk menyentuh wanita itu lebih jauh meski itu adalah haknya, karena di hatinya saat ini masih ada Grace.


"Mungkin Tuhan belum memberikan kepercayaan pada kami, tuan." sahut James pada akhirnya.


"Semoga saja seperti itu dan bukan karena kamu yang belum bisa move on dari Grace, James. Ingat sampai aku mati pun jangan harap akan memberikan restuku padanya, camkan itu." tegas William menatap dalam pria yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.


"Baik, tuan." James langsung mengangguk patuh.


"Apa orang-orangnya Marco masih menyerangmu ?" tanya William kemudian mengingat beberapa kali anak buah rival bisnisnya itu menyerang asistennya itu.


"Anda jangan khawatir tuan, saya bisa melindungi diri saya." James meyakinkan karena sejauh ini serangan musuh-musuhnya selalu gagal.


"Ku harap kau bisa menjaga Anne, James. Saya tidak ingin istrimu itu menjadi sasaran mereka." William mengingatkan, meski hanya beberapa rekan kerjanya saja yang mengetahui pernikahan mereka namun harus tetap waspada.


"Baik, tuan." James mengangguk kecil, entah bagaimana keadaan istrinya itu sekarang. Sudah beberapa hari ini ia tak pulang ke rumahnya dan lebih memilih tinggal di Apartemen dekat kantornya.


Tak berapa lama pintu ruangannya tersebut tiba-tiba di buka dari luar dan nampak Merry datang dengan wajah mengerucut.


"Sayang, kau datang ?" William segera beranjak dari kursinya saat melihat istrinya itu datang.


"Entah kenapa aku tiba-tiba ingin kesini, sepertinya aku sangat merindukanmu." ucap Merry sambil melangkahkan kakinya masuk.


Mendengar ucapan istrinya itu William langsung tersenyum lebar, karena sejak hamil wanita itu selalu menolak saat ia dekati bahkan ia harus menunggu wanita itu tidur dahulu baru bisa mendekat.


"Ayo, masuklah !!" William berjalan mendekat, namun istrinya itu langsung menjauh.


"Aku merindukanmu tapi aku juga tidak mau dekat-dekat denganmu dulu, aku cuma ingin melihatmu bekerja saja." Merry langsung mengusir sang suami saat pria itu tak sabar untuk memeluknya.


William terlihat kecewa namun demi sang buah hati dengan berat hati pria itu menjauh lalu kembali duduk di kursi kerjanya.


Kemudian Merry menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa tak jauh dari meja kerja suaminya itu.


"James bagaimana kabarmu ?" tanyanya saat menatap James.


"Saya baik nyonya, semoga nyonya juga baik." sahut James dengan mengulas senyumnya.


William yang melihat istrinya sangat ramah pada asistennya itu nampak iri, karena beberapa hari ini wanita itu kurang ramah padanya.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Anne ?" tanya Merry kemudian.


"Dia baik, nyonya." sahut James.


"Syukurlah, aku sangat merindukannya." timpal Merry.


"Will, aku tiba-tiba ingin makan sesuatu." ucapnya lagi sembari menatap ke arah William.


"Katakan sayang, aku pasti akan membelikannya." William langsung beranjak dari duduknya, akhirnya untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini ia ada gunanya menjadi suami.


"Aku ingin makan sup ikan tapi James yang harus membelikannya." sahut Merry dengan nada memohon menatap suaminya itu.


"Apa? tidak-tidak, aku yang akan membelikannya untukmu sayang, aku sedang tidak sibuk percayalah." William tak terima saat istrinya itu lebih memilih asistennya itu untuk menuruti keinginannya.


"Tapi dedek bayi maunya James yang belikan." rengek Merry seraya mengusap perutnya.


"Astaga, sebenarnya aku atau dia sih yang menjadi ayahnya." William terlihat kesal bercampur frustasi.


"Aku sudah tak sabar ingin makan itu." Merry terlihat menelan ludahnya berkali-kali, membayangkan sup ikan oriental kesukaannya.


"Baiklah-baiklah, James segera belikan apa yang di mau oleh istriku. Aku tidak mau anakku ileran gara-gara kamu." perintah William kemudian.


James yang sedang menahan gelak tawanya langsung mengangguk. "Baik tuan, apa hanya itu nyonya ?" ucapnya lalu menatap ke arah Merry.


"Hm, hanya itu dua porsi ya." sahut Merry.


"Jangan macam-macam kau James." ancam William dengan kesal.


"Sifat pemberaninya tuan." timpal James sebelum pria itu menutup pintunya, setelah pintu tertutup dengan sempurna James langsung tergelak.


Rasanya senang sekali bisa menggoda tuannya itu, namun jika di pikir-pikir ngidamnya nyonya mudanya itu sangat aneh berbeda sekali dengan Grace yang menurutnya tak ada perubahan dalam sikapnya.


Padahal jika seorang wanita sedang hamil maka sikapnya pada suaminya akan berubah entah itu lebih sayang atau justru tak ingin di dekati seperti nyonya mudanya itu.


Semoga apa yang ia pikirkan tidak terjadi, lalu James nampak menghela napasnya dengan kasar dan bergegas pergi meninggalkan kantornya tersebut.


tokk


tokk


"Maaf tuan, saya mengantarkan berkas yang anda minta." ucap sekretaris William setelah membuka pintu ruangannya.


"Bawa sini !!" perintah William kemudian.

__ADS_1


Wanita cantik dengan rok di bawah lutut serta pakaian tertutup itu langsung berjalan mendekati tuannya tersebut, saat melihat ke arah Merry wanita itu langsung mengangguk sopan.


"Kamu karyawan baru ?" tanya Merry to the point seraya menatap wanita itu.


"Siapa sayang? Kate? sudah lama sayang masa kamu lupa." kali ini William yang menjawab.


"Aku tidak tahu." sahut Merry seraya menatap wanita yang bernama Kate itu dari ujung kaki hingga rambut, wanita bertubuh proposional khas bule itu terlihat sangat anggun. Berbeda sekali dengannya yang bertubuh mungil dan wajahnya pun mulai kusam sejak ia hamil.


Seketika rasa minder menyelimuti dirinya dan itu tak luput dari perhatian sang suami.


"Sudah saya cek dan segera print dan bagikan pada setiap departemen." perintah William seraya menyerahkan berkas di tangannya pada sekretarisnya itu.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Kate segera undur diri lalu sedikit membungkuk saat melihat sang nyonya mudanya itu.


"Oh ya Kate, mulai besok ganti rokmu dengan celana panjang dan itu peraturan berlaku untuk semua karyawan wanita di sini." ucap William seraya beranjak dari duduknya yang langsung membuat sekretarisnya itu menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap tuannya itu.


"Baik, tuan." sahut wanita itu dengan patuh.


"Satu lagi, perintahkan pada seluruh karyawan wanita di sini untuk tidak merias tebal wajahnya dan gunakan parfum sewajarnya." perintah William lagi.


"Baik, tuan. Apa ada lagi tuan ?" ucap Kate.


"Tidak, kamu bisa pergi sekarang." sahut William yang langsung di angguki oleh wanita itu.


Sementara itu Merry nampak menahan senyumnya, rupanya suaminya itu sangat tahu apa yang dia mau.


"Terima kasih, kau seperti paranormal yang bisa membaca pikiranku." ucapnya sambil beranjak dari duduknya lalu memeluk suaminya itu.


William yang di peluk tiba-tiba nampak terkejut, lalu pria itu balas memeluknya dengan erat. Rasanya ia sangat merindukan tubuh istrinya itu yang selama beberapa hari ini selalu menolaknya.


Huekk


Tiba-tiba wanita itu mual dan sedikit muntah hingga mengotori kemejanya.


"Maaf." Merry nampak sangat bersalah saat melihat pakaian suaminya itu sedikit kotor.


"Tidak apa-apa sayang, aku bisa menggantinya." Bukannya marah William justru tersenyum senang, rupanya ia harus membayarnya demi bisa merasakan hangat pelukan wanita itu.


Sementara itu James yang sedang mencari pesanan sang nyonya mudanya nampak mengedarkan pandangannya mencari restoran oriental yang menjual menu sup ikan.


Namun sudah beberapa menit ia berlalu tak kunjung menemukan restoran yang cocok.


"Nicolas."

__ADS_1


Pria itu mengingat salah satu restoran langganannya yang menjual berbagai menu asia. "Semoga nyonya Merry cocok dengan masakan di sana." gumamnya.


Kemudian James segera memutar balik mobilnya menuju restoran tersebut, di mana sebelumnya ia ingin meratakannya dengan tanah karena pemiliknya dengan berani mempekerjakan sang istri.


__ADS_2