Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~292


__ADS_3

"Kartu yang ku berikan itu bisa mencukupi kebutuhanmu dan Axel seumur hidup jadi kamu tak perlu repot bekerja lagi." ucap Alex saat mengantar putranya pulang sore itu.


"Dan kau menjadikan ku benalu seumur hidup ?" Sela Elsa dengan melipat kedua tangannya di dada menatap pria itu.


"Aku tidak keberatan Els." timpal Alex dengan bersungguh-sungguh.


"Dan itu yang ku mau, kamu hanya bergantung padaku seumur hidupmu." imbuh Alex dalam hati.


"Aku bukan wanita seperti itu tuan Alex, terima kasih atas perhatiannya dan kartu itu akan ku gunakan hanya untuk keperluan Axel saja." tegas Elsa, sejak kecil dia sudah biasa berjuang sendiri.


"Terserah kamu saja." Alex mulai belajar sabar untuk menghadapi wanita keras kepala itu.


"Pulanglah dan besok tolong jemput Axel lagi karena aku ada pekerjaan sampai siang, tapi jika kamu tidak bisa biar Sam yang akan menjaganya." terang Anne kemudian.


"Hm, tentu saja aku bisa. Ngomong-ngomong kamu ada pekerjaan apa ?" Alex mengangguk setuju, namun juga penasaran dengan kerjaan wanita itu.


Apa jangan-jangan akan bertemu dengan Max? ia takkan membiarkan hal itu terjadi.


"Aku ada meeting dengan mantan karyawan ku dulu, ku harap mereka bisa bekerja lagi denganku." terang Elsa kemudian hingga membuat Alex nampak lega.


"Baiklah, semoga berhasil. Kalau begitu aku pulang dahulu." Alex segera berlalu dari sana, namun baru beberapa langkah wanita itu memanggilnya kembali hingga membuatnya kembali berbaik badan.


"Terima kasih telah menjaga putraku dengan baik." ucap Elsa kemudian.


"Putra kita." timpal Alex, setelah itu ia segera meninggalkan gedung Apartemen tersebut dengan sudut bibir terangkat ke atas.


Lantas Elsa segera masuk ke dalam apartemennya setelah menatap sejenak punggung pria itu yang mulai menjauh dari pandangannya.


Keesokan paginya.....


"Ini masih sangat pagi tuan Alex, bahkan Axel belum bangun." ucap Elsa setelah membuka pintu apartemennya.


Jarum jam baru menunjukkan pukul 6 pagi tapi pria itu sudah nampak rapi dengan setelan kerjanya, aroma parfum yang menguar serta rambutnya yang sedikit basah membuat pria itu terlihat lebih tampan.


Sementara Alex nampak menelan ludahnya saat melihat Elsa hanya memakai kimono tidur di atas lutut dan sedikit tipis.

__ADS_1


Untung dia yang datang, jika pria lain ia pasti takkan mengampuninya.


"Semalam aku pindah ke unit seberangmu, karena belum sempat belanja bahan makanan boleh aku menumpang sarapan di sini ?" ucap Alex yang langsung membuat Elsa melotot.


"Pi-pindah ?" ucapnya tak percaya.


"Tentu saja, aku pindah tepat di hadapanmu." Alex menggeser tubuhnya lalu menunjuk sebuah pintu apartemen di belakangnya.


"Kenapa dengan apartemen lamamu bukankah di sana lebih dekat dengan kantormu ?" Elsa langsung mengingatkan, siapa tahu pria itu akan mengurungkan niatnya tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya karena itu akan membuatnya merasa selalu di awasi.


"Aku pikir ke depannya kamu akan sibuk, jadi aku pindah ke sini saja karena Axel akan lebih bisa ku pantau." sahut Alex beralasan, padahal niatnya hanya untuk mengawasi wanita itu dan ia takkan memberikan Max sedikit pun ruang untuk mendekatinya.


Elsa mengangguk setuju, ucapan pria itu ada benarnya juga. Ia tidak akan kepikiran jika seandainya akan ada pekerjaan hingga malam karena Axel sudah ada yang menjaga.


"Baiklah, terserah kamu saja." ucapnya menanggapi.


"Jadi aku boleh numpang sarapan ?" ulang Alex memastikan.


"Hm, masuklah. Kami biasanya hanya sarapan roti dan telur." Elsa segera mempersilakan Alex untuk masuk, kemudian wanita itu melangkah menuju dapur dan di ikuti oleh pria itu di belakangnya.


Kemudian Elsa mulai membuat sarapan dan Alex yang kini sedang menunggu di meja makan nampak memperhatikan wanita itu.


Memberikan beberapa kecupan hingga meninggalkan bekas kemerahan setelahnya. Sial, Alex benar-benar tak bisa berpikir jernih saat ini.


Setiap berada dekat dengan wanita itu pikirannya selalu saja kotor dan di penuhi oleh bayangan-bayangan percintaan mereka di masa lalu.


Hingga membuatnya kini merasa tersiksa dengan miliknya di bawah sana yang mulai meronta ingin di puaskan.


"Ah, sial." Alex beranjak dari duduknya, lalu segera pergi dari apartemen tersebut tanpa berpamitan pada wanita itu.


Beberapa saat kemudian Elsa yang baru selesai dengan masakannya, tiga porsi roti bakar isi telur dan sedikit sayuran segar nampak terkejut saat tak mendapati Alex di kursinya.


Padahal terakhir ia melihat pria itu sedang bermain dengan ponselnya. "Mungkin dia sedang bangunin Axel." gumamnya, lalu setelah menghidangkan makanannya di atas meja wanita itu segera berlalu ke kamar sang putra.


"Tidak ada, apa dia kembali ke Apartemennya ?" gumamnya setelah memeriksa kamar sang putra dan tak ada pria itu di sana bahkan putranya itu masih terlelap tidur.

__ADS_1


"Lebih baik aku panggil saja ke Apartemennya, aku sudah lelah masak awas saja kalau dia tidak mau makan." Akhirnya Elsa memutuskan untuk mengunjungi Apartemen pria itu.


Saat akan menekan bel ia melihat pintu Apartemennya tak di tutup rapat. "Astaga ceroboh sekali, bagaimana jika ada yang masuk." gerutu Elsa lalu ia segera memanggil pria itu.


"Tuan Alex, kau di dalam ?" teriaknya kemudian.


Hingga beberapa kali pria itu tak kunjung menjawab panggilannya dan itu membuatnya sedikit khawatir, jangan-jangan pria itu sudah pergi ke kantornya dan membiarkan maling mengacak-acak isi apartemennya.


"Ini tak bisa di biarkan." Elsa segera membuka lebar pintu Apartemen tersebut dengan pandangan waspada.


Wanita itu nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut Apartemen yang kini telah di sulap menjadi Apartemen yang sangat mewah dengan furnitur mahalnya.


"Tuan Alex ?" teriak Elsa lagi, sejak tadi ia tak menemukan keberadaan pria itu.


Kemudian ia mencoba membuka sebuah pintu entah kamar siapa karena di dalam unit tersebut ada dua kamar sama seperti unit miliknya.


Matanya nampak terbelalak saat melihat sebuah kamar yang di desain khusus anak lelaki dengan furnitur mahal di dalamnya, ini pasti akan menjadi kamar putranya jika menginap nanti.


Elsa merasa senang karena rupanya Alex begitu menyayangi sang putra hingga hatinya selalu bergetar saat mengingat kebaikan pria itu.


Namun menurutnya seorang ayah yang baik belum tentu akan menjadi suami yang baik juga. Karena mendiang ayahnya juga seperti itu sangat baik padanya tapi tidak pada ibunya.


Setelah mengamati kamar dengan banyak mainan itu, Elsa kembali menutupnya dengan rapat lalu pandangannya ke arah kamar sebelahnya yang kebetulan sedikit terbuka.


"Tuan Alex, kau di dalam? sarapanmu sudah selesai." teriak Elsa yang kini berada di depan pintu kamar tersebut.


Meskipun sedikit terbuka namun wanita itu tak berani untuk mengintip dan lebih memilih memanggilnya saja.


Namun hingga beberapa kali panggilan pria itu tak kunjung menjawabnya dan itu membuatnya semakin penasaran.


"Apa dia sudah pergi ke kantornya ?" gumamnya.


"Mungkin saja, dasar ceroboh bisa-bisanya dia pergi tanpa mengunci pintunya terlebih dahulu." imbuhnya.


Lalu saat ia akan beranjak meninggalkan Apartemen tersebut tiba-tiba telinganya samar-samar mendengar sesuatu dari dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Suara d3s4h4n yang membuat tubuhnya langsung merinding. "A-apa dia sedang membawa seorang wanita masuk ke dalam kamarnya ?" gumamnya tak percaya, karena makin lama suara d3s4h4n pria itu semakin jelas di telinganya dan entah kenapa itu membuatnya tiba-tiba sangat kesal.


"Awas saja kalau dia membawa wanita ke dalam kamarnya, dasar ceroboh bagaimana jika Axel yang melihatnya." gerutunya kemudian.


__ADS_2