
"Dok, bagaimana keadaannya ?" tanya James setelah dokter memeriksa kandungan Grace, pria itu terlihat sangat khawatir.
"Nyonya Grace mengalami sedikit kram dan tekanan darahnya kembali naik, tolong jaga emosinya demi perkembangan janin dalam rahimnya." terang sang dokter.
"Tentu saja dok, baiklah mari saya antar ke depan." James segera mengajak dokter tersebut keluar dari kamar sang istri.
Keesokan harinya....
Pagi itu Anne nampak pergi bekerja seperti biasanya. "Selamat pagi, bu." sapa Andrew saat managernya itu baru datang.
"Pagi Drew." Anne mengangguk kecil, lalu segera masuk ke dalam ruangannya.
"Ini laporan yang harus anda cek bu." Ucap Andrew seraya meletakkan berkas di atas meja wanita itu.
"Hm, nanti ku cek." timpal Anne seraya menghidupkan layar komputernya.
Andrew nampak mengawasi managernya tersebut yang terlihat sedikit pucat. "Anda baik-baik saja bu ?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Aku hanya kurang tidur." sahut Anne dengan menatap bawahannya itu sejenak lalu kembali ke layar komputernya.
"Untuk masalah kemarin saya janji akan tutup mulut bu dan akan saya pastikan orang kantor tidak tahu jika anda dan tuan James......" Andrew menggantung ucapannya saat Anne tiba-tiba menyelanya.
"Terima kasih Ndrew, bukankah itu sudah biasa yang terjadi dalam sebuah hubungan. Ada pria yang setia dan ada juga yang tidak jadi jangan terlalu di pikirkan." ucap Anne yang langsung membuat Andrew nampak tercengang.
"Ja-jadi anda dan tuan James ?" ucapnya ingin memastikan.
"Lebih baik jika kamu pura-pura tidak tahu saja." ucapnya kemudian.
Andrew mengangguk kecil, ada perasaan kecewa namun juga kasihan pada wanita itu. "Tentu saja bu, jika terjadi sesuatu anda bisa mengandalkan saya." ucapnya kemudian.
"Hm, terima kasih." Anne menatap pria itu sejenak dan bersamaan itu pintu ruangannya tiba-tiba di buka dari luar.
Melihat siapa yang datang, Andrew langsung membungkuk memberikan hormat. "Selamat pagi tuan James." sapanya yang langsung di angguki oleh wakil direkturnya itu.
Kemudian Andrew segera berlalu keluar dan menutup pintunya dari luar.
"Kenapa kamu pergi bekerja ?" ucap James seraya berjalan mendekat.
"Aku harus tetap bekerja, bukankah aku harus membayar semua hutang-hutang keluargaku." sahut Anne tanpa menoleh ke arah pria itu.
__ADS_1
"Hutang kalian akan lunas jika kamu tetap menjadi istriku." timpal James seraya menarik kursi lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
Anne nampak melirik sekilas, kemudian kembali fokus pada layar komputernya. Rasanya sangat malas sekali berbicara dengan pria itu.
"Aku akan berusaha melunasinya dan kamu jangan khawatir." tegas Anne kemudian.
"Seumur hidupmu ?" cibir James mengingat hutang keluarga wanita itu sangatlah banyak.
"Kamu ingin memerasku ?" Anne langsung menatap suaminya itu dengan sorot mata yang tajam.
James nampak mengeluarkan sesuatu dari map yang ia bawa. "Sebenarnya kamu cukup menjadi istriku yang baik dan hutang keluargamu akan lunas, karena itu bukan angka kecil." James menyerahkan selembar kertas perjanjian hutang piutang pada istrinya tersebut.
Anne segera memeriksanya dan di sana nampak tanda tangan sang ayah, rupanya ibu tirinya itu memanfaatkan ayahnya untuk meminjam uang pada pria itu. Jika seperti itu maka ayahnya yang harus bertanggung jawab.
"Kamu benar-benar brengsek." Anne langsung m3r3m4s kertas di tangannya tersebut.
"Harusnya kamu berterima kasih karena aku sudah membantu keluargamu dan sudah ku bilang semua akan mudah jika kamu menurut. Aku cuma minta bersabarlah sampai anak itu lahir dan setelah itu kamu akan menjadi satu-satunya istriku." terang James yang tentu saja membuat Anne langsung tersenyum sinis.
"Dan kamu akan memintaku menjadi ibu tiri untuk bayi yang tak berdosa itu ?" ucap Anne dengan wajah mengejek, lalu wanita itu beranjak dari duduknya.
"Aku bukan ibu peri yang baik hati tuan James, jadi jangan terlalu berharap aku akan sudi merawatnya." imbuhnya seraya menatap tajam suaminya itu, kemudian wanita itu berlalu menjauh ke arah jendela. Menatap pemandangan kota di bawahnya yang membuatnya merasa lebih baik.
"Tentu saja aku akan bersikap baik dan patuh, karena hutangku terlalu banyak padamu." ucap Anne seraya menatap lalu lalang mobil dari jendela ruangannya tersebut.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. "Kenapa kamu keras kepala sekali, harusnya kamu bersyukur karena akan menjadi satu-satunya istriku." ucap James seraya mengecupi leher jenjang istrinya itu, rambutnya yang di kucir kuda membuatnya bebas mengeksplor kulit putihnya dengan kecupan-kecupan kecilnya.
Anne terlihat menahan napasnya, suaminya itu benar-benar brengsek apa pria itu tak menyadari saat ini sedang berada di kantor.
"Menjauhlah !!" lirih Anne dengan mengepalkan tangannya, wanita itu sebisa mungkin untuk tidak mendesah saat pria itu menghisap kulit lehernya dengan kuat yang pasti akan meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Tolong lepaskan, bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk kesini ?" mohon Anne saat tangan pria itu dengan lancang masuk ke dalam pakaiannya lalu m3r3m4s gundukan kenyal miliknya dari balik branya.
"Itu tidak masalah, sekalian ku umumkan pada mereka jika kita suami istri." timpal James dengan suara seraknya, rupanya pria itu telah tersulut oleh gairah yang ia ciptakan sendiri.
"Jangan lakukan itu dan segera pergi dari ruangan ini." Anne tidak ingin semua orang tahu, karena mereka akan menganggap jika dirinya seorang pelakor dan apapun alasannya seorang pelakor selalu menjadi musuh besar seluruh wanita di dunia ini. Apalagi mengingat Grace saat ini sedang hamil, itu pasti akan membuatnya semakin di benci oleh mereka.
"Kenapa tidak boleh, kamu istriku dan seluruh tubuhmu adalah milikku." tangan James mulai menelusup ke dalam bra wanita itu, lalu m3r3m4snya dan memainkan puncaknya hingga membuat Anne langsung mendesah.
"Lihatlah bahkan tubuhmu tak pernah menolakku." James nampak tersenyum menyeringai saat tangannya turun ke bawah lalu menelusup ke dalam rok span wanita itu, membelai intinya yang sudah basah akibat sentuhannya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar brengsek tuan James Collins." umpat Anne dengan wajah merah padam, karena gairah bercampur emosi.
"Dan si brengsek ini sangat mencintaimu." ucap James seraya memutar tubuh wanita itu menghadap ke arahnya lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus.
Anne yang di serang tiba-tiba, hanya bisa pasrah merutuki nasibnya yang begitu sial. Sampai pada akhirnya tiba-tiba salah satu kakinya di angkat ke atas oleh pria itu lalu sebuah benda keras dan panjang memaksa memasuki inti tubuhnya.
"Kau selalu nikmat sayang." rutuk James saat merasakan miliknya terbenam semua pada milik wanita itu, posisi mereka yang berdiri membuat Anne mau tak mau memeluk suaminya itu jika tak ingin terjatuh.
"Lakukan dengan cepat setelah itu segera pergi dari sini." Anne benar-benar sangat muak.
"Sayangnya aku tidak biasa bermain cepat." ucap James seraya menggerakkan miliknya keluar masuk dari inti sempit milik wanita itu.
Anne nampak menggigit bibirnya, agar tidak mengeluarkan d3s4h4nnya meski ia sangat ingin. Pandangannya terus ke arah pintu, khawatir jika tiba-tiba ada yang masuk dan melihat pembuatan mesum mereka.
"Ahhh." akhirnya satu d3s4h4n keluar dari bibirnya saat pria itu menenggelamkan wajahnya di gundukan kenyalnya, memainkan puncaknya dengan lidahnya lalu m3lum4tnya dengan sedikit kasar.
"Ya lebih nyaring lagi sayang, suaramu benar-benar membuatku tak ingin berhenti." ucap James namun terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Anne.
James semakin mempercepat hujamannya saat istrinya itu berusaha keras tak bersuara, ia ingin wanita itu juga mendesah nikmat seperti dirinya.
"Ahhh, kamu sangat brengsek." umpat Anne di sertai d3s4h4nnya dan itu membuat James semakin bergairah dan semakin cepat menghentak milik wanita itu.
Sampai pada akhirnya tubuh istrinya itu bergetar hebat dan miliknya di bawah sana seperti di r3m4s dengan kuat yang menandakan wanita itu telah sampai pada puncaknya.
"Kita sama-sama sayang." ucap James dengan menghentakkan kuat-kuat miliknya dan d3s4h4n panjang dari bibirnya menandakan pria itu juga telah sampai.
Napas mereka nampak terengah-engah dan James langsung tertawa saat melihat wajah memerah istrinya itu. "Jangan munafik kau juga sangat menikmatinya kan? sebenarnya aku ingin melakukannya lagi tapi sebentar lagi ada meeting penting." ucapnya seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Kemudian James segera menjauhkan dirinya, mengambil tisu untuk membersihkan miliknya dan milik wanita itu dari cairan sisa-sisa percintaan mereka. Kemudian kembali memakai celananya lalu membantu istrinya itu merapikan pakaiannya yang sudah tak berbentuk.
"Ku harap kau akan tetap tutup mulut dari tuan William dan nyonya Merry, jika tidak aku bisa semakin menggila." ancamnya seraya menatap lekat manik wanita itu, ia ingin menekankan jika perkataannya sangat serius.
Sebelum berlalu pergi James kembali m3lum4t bibir wanita itu dengan rakus, lalu segera meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah datar seperti biasanya.
Sementara Anne yang sudah tak kuat menopang tubuhnya, nampak luruh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini.
.
Dah ah kagak ikut-ikut masih volos, di marahin emak ntarπππ
__ADS_1