
"Astaga Sam." Alex nampak menggerutu saat mendengar ucapan putranya tersebut.
"Jadi begini sayang, Mommy dan Daddy hanya sedang berbicara penting saat baru bangun tidur. Bukankah itu hal biasa, hm ?" terangnya seraya menatap putranya itu.
"Berbicara penting? apa itu tentang adik bayi ?" tanya Axel penasaran dan semakin membuat Alex tak bisa berkata-kata, lebih baik ia beradu argumen dengan para karyawannya daripada menghadapi putranya yang sedang ingin tahu banyak hal.
"Tentu saja sayang, tapi kita juga harus rajin berdoa pada Tuhan agar segera di berikan adik bayi di perut Mommy." sahutnya kemudian.
"Baiklah, aku akan berdoa setiap hari Daddy." ucap Axel dengan polosnya.
Beberapa saat kemudian mereka telah berada di meja makan untuk menyantap sarapan paginya.
"Kau masih di sini ?" ucap Alex saat melihat kehadiran Sam di tengah mereka.
"Apa kau keberatan ?" timpal Elsa menanggapi.
"Tidak." sahut Alex lantas duduk di hadapan pria itu.
"Selamat pagi tuan Alex." sapa Sam kemudian.
"Hm." Alex mengangguk kecil lantas mengambil secangkir kopi yang berada di hadapannya itu.
Sementara Elsa nampak menggeleng kecil saat menatap Sam, seakan sedang mengisyaratkan agar tidak terlalu di ambil hati atas perilaku kurang ramah pria itu.
Setelah menghabiskan sarapannya Elsa bergegas mencuci peralatan makan mereka di dapur kecilnya, sedangkan Sam memilih meninggalkan Apartemen tersebut.
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan pria itu." ucap Alex seraya bersandar di dinding belakangnya dengan melipat kedua tangan di depan dadanya menatap Elsa yang sedang sibuk mencuci di depan wastafel.
"Siapa? Sam ?" tanya Elsa dengan menatap pria itu.
"Siapa lagi, kedekatan kalian terlihat tidak wajar." timpal Alex kemudian.
Elsa nampak menghela napasnya sejenak, kemudian melangkah mendekati pria itu.
"Bisakah kamu tidak terlalu mengaturku, aku butuh ruang untuk diriku sendiri." ucapnya kemudian.
"Aku tahu, tapi tidak untuk pria itu. Rasanya tidak wajar kalian bisa sedekat itu, lagipula di antara kalian sudah tak ada ikatan pekerjaan lagikan ?" protes Alex.
"Aku mengenal Sam beberapa tahun lalu, dia berasal dari jalanan tapi sangat berbakat sekali dan sejak saat itu hubungan kami seperti saudara." terang Elsa mengingat masa lalunya tersebut.
"Tapi aku tak suka saat melihat dia perhatian sama kamu dan bagaimana jika dia diam-diam menyukaimu ?" timpal Alex namun itu membuat Elsa langsung tersenyum kecil.
"Harusnya itu yang ku takutkan jika terjadi padamu." ucapnya menanggapi.
"Maksud kamu ?" Alex langsung mengernyit tak mengerti.
"Sam tidak menyukai wanita." sahut Elsa dengan menahan senyumnya dan sontak membawa Alex melebarkan matanya.
__ADS_1
"Jadi dia..."
"Dia penyuka sesama jenis." sela Elsa kemudian.
"Astaga." Alex nampak terkejut namun juga bergidik ngeri.
"Jadi yang harusnya khawatir itu aku, bagaimana jika dia tiba-tiba menyukaimu ?" timpalnya dengan nada godaan.
"Tentu saja aku akan menghabisinya." tegas Alex dan itu membuat Elsa langsung terkekeh.
"Jadi lain kali bersikaplah ramah padanya, karena dia tidak mungkin menyukaiku." mohon Elsa seraya mendekati pria itu lantas melingkarkan tangannya di pinggangnya.
"Apa kau sedang mengumpanku padanya, hm ?" balas Alex kemudian.
"Hm, karena kamu tidak mungkin menyukainya." sahut Elsa dengan yakin.
"Bagaimana jika aku menyukainya ?" Alex balik menggoda.
"Aku akan meninggalkan mu." Elsa langsung menjauhkan tubuhnya namun pria itu segera menahannya.
"Tapi aku takkan melepaskan mu." ucapnya seraya mendekatkan wajahnya, tapi saat ia hendak mencium bibir wanita itu tiba-tiba Axel mengagetkanya.
"Apa kalian tak ingin bermain denganku ?" ucap bocah kecil itu yang langsung membuat kedua orang tuanya itu tertawa.
"Tentu saja, Nak." Elsa segera mendekati putranya tersebut.
"Jadi kapan kita mulai pindah ?" tanya Alex sore itu saat mereka berada di balkon kamarnya menikmati matahari terbenam.
"Pindah ?" Elsa langsung menatap pria itu.
"Hm, pindah ke rumah kita." sahut Alex.
"Tidak, tidak untuk saat ini. Lagipula bagaimana mungkin kita tinggal bersama sebelum ada pernikahan ?" tolak Elsa.
"Tapi kita sudah tidur bersama, lalu apa bedanya? lagipula pernikahan kita tak lama lagi." sarkas Alex kemudian.
"Bahkan kamu tak melibatkan ku dalam mengurus pernikahan itu." sindir Elsa sedikit kesal dan itu membuat Alex nampak mengangkat sudut bibirnya.
"Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan." timpal Alex seraya mendekati wanita itu.
"Aku tahu, tapi sebenarnya aku mempunyai sebuah impian pernikahan meski sebelumnya aku tak yakin bisa mewujudkannya." Elsa nampak menatap sunset di depannya itu.
"Benarkah ?" Alex terlihat penasaran.
"Hm, pernikahan dengan konsep dan gaun rancanganku sendiri." sahut Elsa dengan mengulas senyumnya membayangkannya.
"Baiklah, tapi aku tidak ingin kamu kelelahan jadi ku harap ada beberapa vendor yang akan membantumu." tegas Alex yang langsung membuat Elsa tersenyum lebar.
__ADS_1
"Terima kasih." ucapnya lantas sedikit berjinjit lalu mencium bibir pria itu, namun saat hendak mengakhirinya pria itu langsung menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya.
Ciuman yang awalnya lembut itu kini berubah sedikit kasar dan menuntut hingga membuat Elsa mengerang di buatnya.
Alex segera membawa wanita itu duduk di atas pangkuannya lantas kembali m3lum4t bibirnya, tangannya yang menganggur pun nampak menelusup ke dalam punggung wanita itu lalu melepaskan pengait branya hingga kini bongkahan kenyal milik wanita itu bebas ia mainkan.
Napas Elsa yang naik turun di tengah d3s4h4nnya terlihat seksi di mata pria itu dan itu membuatnya semakin hilang akal lantas menarik kain segitiga milik wanita itu.
"Lakukan sayang, aku ingin melihatmu keluar." lirihnya yang langsung membuat Elsa mengangkat tubuhnya dan memulai permainannya.
"Ahhh." d3s4hnya saat milik pria itu telah memenuhi miliknya lantas ia segera menggerakkan tubuhnya naik turun.
Alex yang bersandar di kursi belakangnya nampak mendesah saat merasakan milik wanita itu begitu sempit mengurut miliknya.
Hingga satu jam kemudian dan hari mulai gelap mereka segera menyudahi permainannya.
"Jadi aku pulang ?" Alex nampak tak rela meninggalkan Apartemen tersebut.
"Hm, kita belum menikah jadi sebaiknya tinggal di tempat masing-masing dahulu." sahut Elsa yang keukeh dengan keinginannya itu.
"Baiklah, tapi jika aku tiba-tiba merindukan mu aku akan datang tak peduli jam berapa pun itu." ucap Alex kemudian.
"Iya." angguk Elsa dengan menahan tawanya.
Beberapa hari kemudian Elsa di sibukkan dengan persiapan pernikahannya hingga membuatnya tiba-tiba merasa kelelahan dan....
Huekk
Wanita itu langsung berlari ke kamar mandi saat merasakan mual di perutnya.
"Kamu baik-baik saja ?" Alex yang baru datang pun langsung mendatanginya.
"Entahlah, aku tiba-tiba mual." sahut Elsa yang terlihat pucat.
"Ayo kemarilah." Alex langsung menuntun wanita itu lalu membawanya ke ranjangnya.
"Sebaiknya ku panggilkan dokter saja." ucapnya kemudian namun Elsa langsung menggeleng.
"Aku baik-baik saja mungkin hanya kelelahan." timpalnya meyakinkan.
"Yakin hanya kelelahan ?" Alex masih tak percaya.
"Tentu saja, mungkin aku terlalu antusias mengurus pernikahan kita." sahut Elsa beralasan.
"Tapi beberapa kali kita melakukannya, aku tak menggunakan pengaman. Apa mungkin sekarang ini kamu sedang hamil ?" ucap Alex yang langsung membuat Elsa melotot.
"Itu tidak mungkin." ucapnya seketika.
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin ?" Alex menatap wanita itu dengan lekat dan tentu saja membuat Elsa mendadak salah tingkah, haruskah ia berkata jujur?