
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin tahu keadaan anak itu ?" Carla nampak sedikit heran dengan pria di hadapannya itu.
"Aku hanya merasa iba, apa itu salah ?" timpal Alex beralasan.
"Dia baik-baik saja, dia mempunyai ibu yang hebat jadi ku rasa dia akan tumbuh seperti anak lainnya meski tanpa ayah kandungnya yang brengsek itu." terang Carla kemudian, namun itu membuat Alex nampak tak terima seolah ia adalah pria brengsek yang tak bertanggung jawab itu.
Meski ia belum yakin jika Elsa adalah wanita masa lalunya yang telah melahirkan darah dagingnya.
"Bisa jadi ayah kandungnya tidak tahu jika telah mempunyai seorang anak dari perempuan yang di nodainya." timpal Alex membela diri.
"Entahlah aku kurang begitu tahu, yang ku tahu sahabatku ini di keluarkan dari universitasnya karena telah hamil. Belum lagi dia juga mendapatkan begitu banyak sanksi sosial dari teman-teman kuliahnya, hingga akhirnya dia memutuskan mencari suaka ke sini." terang Carla kemudian.
"Jadi dia bukan asli orang Jerman ?" Alex nampak semakin tertarik dengan cerita wanita itu.
"Dia orang Amerika sepertimu." sahut Carla dan itu membuat Alex semakin yakin jika Elsa adalah gadis itu.
Pantas saat ia kembali berhubungan intim dengannya di kamar pribadinya waktu itu, ia seperti merasa tak asing seolah sebelumnya pernah melakukannya.
"Kenapa kamu tertarik sekali membahas sahabatku ini? apa kamu tidak ingin sedikit pun tahu tentangku hm ?" imbuh Carla lagi seraya menatap pria tampan di hadapannya itu.
"Aku hanya merasa iba." balas Alex lagi-lagi dengan alasan yang sama.
"Baiklah, lebih baik kita bahas bisnis saja. Ngomong-ngomong hari ulang tahun ayahku sebentar lagi, ku harap kamu bisa hadir." Carla mengingatkan karena sebelumnya ia telah memberitahu pria itu.
"Tentu saja, kamu jangan khawatir." Alex mengangguk kecil, bagaimana pun juga wanita itu adalah seorang putri pebisnis sukses di negeri ini dan tak ada salahnya jika ia lebih mengenalnya agar kerja sama mereka berjalan lancar di kemudian hari.
Hingga beranjak siang mereka baru meninggalkan Cafe tersebut, tak terasa hampir dua jam mereka bersama dan Alex baru menyadari jika Carla seorang wanita yang sangat asyik untuk di ajak bicara.
Selain ramah wanita itu juga memiliki wawasan yang sangat luas hingga membuatnya bisa bertukar pikiran dalam urusan bisnis dan tak lupa ia juga menyelipkan obrolan tentang bocah kecil waktu itu.
__ADS_1
"A-apa yang kau lakukan di sini ?" Elsa tiba-tiba terkejut saat melihat Alex sudah berada di depan pintu apartemennya.
Begitu juga dengan pria itu yang nampak memasang wajah datar saat menatap wanita itu.
"Hai Elsa, aku yang membawanya kemari. Kamu tidak keberatankan? sekalian aku ingin mengenalkannya padamu, dia bilang sangat menyukai anak kecil jadi kenapa tidak ku kenalkan juga pada Axel." ucap Carla tiba-tiba dengan senyum mengembang di bibirnya.
Rupanya wanita itu yang telah membawa pria itu datang ke rumahnya, sial batin Elsa.
"Lex, kenalkan ini Elsa teman kuliahku. El, ini Alex pria yang pernah ku ceritakan padamu waktu itu." imbuh Carla lagi dan Alex yang masih tak percaya jika wanita di hadapannya itu adalah Elsa nampak sedikit tercengang.
"Aku sud...." ucapnya namun langsung terjeda karena tiba-tiba wanita itu menyelanya.
"Senang bertemu dengan anda, tuan Alex." ucap Elsa seraya mengulurkan jabat tangannya, wanita itu bersikap seolah tak mengenal pria itu sebelumnya dan tentu saja itu membuat Alex langsung geram.
Melihat Alex tak membalas jabat tangan Elsa, Carla nampak tersenyum kecil. "Dia memang sulit sekali dekat dengan seorang wanita, maklumi saja." ucapnya pada Elsa yang membuat wanita itu kembali menarik tangannya, kemudian langsung memalingkan wajahnya karena pria di hadapannya itu menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Kamu tidak ingin menyuruh kami untuk masuk ?" ucap Carla kemudian.
Carla dan Alex yang baru masuk nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut Apartemen tersebut. "Tapi tempatnya bersih dan nyaman, ku rasa masih sangat layak." timpal Carla seraya menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa.
"Aku selalu membuatnya nyaman agar putraku betah di sini, Carl." sahut Elsa seraya meletakkan dua kaleng minuman di atas meja.
"Apa kamu sudah memikirkan tawaranku kemarin? kau bisa bekerja di kantorku El atau aku dan Alex berencana membuat usaha baru jika kamu berminat kamu bisa gabung untuk membantu kami." tawar Carla, namun langsung di sela oleh Elsa.
"Tidak Carl, terima kasih. Aku akan merintis usahaku dari awal lagi." tolaknya kemudian, bekerja sama dengan pria itu sama saja ia mencari masalah baru.
Saat pandangan mereka bertemu, lagi-lagi Elsa langsung membuang wajahnya. Pria itu bersikap seolah-olah sedang mengulitinya hidup-hidup.
Mata elangnya yang tajam seakan menusuk sampai ke jantungnya hingga membuatnya sedikit merinding.
__ADS_1
"Oh ya di mana keponakanku, apa dia sedang tidur ?" tanya Carla saat menyadari tak melihat keberadaan Axel sejak tadi.
"Dia baru saja bangun tidur siang, sepertinya sedang bermalas-malasan di ranjangnya." sahut Elsa seraya melirik Alex dengan ekor matanya dan lagi-lagi pandangan pria itu tak pernah sedikit pun berpaling darinya.
"Baiklah aku akan melihatnya, Lex kamu tunggu di sini sebentar ya akan ku panggilkan Axel kemari. Kamu pasti akan menyukainya jika sudah melihatnya." Carla langsung beranjak dari duduknya dan itu tak bisa Elsa cegah.
Padahal wanita itu tak ingin jika Alex sampai melihat putranya, semoga saja pria itu sudah melupakan perbuatannya beberapa tahun silam hingga takkan memiliki pikiran macam-macam saat melihat putranya nanti.
Setelah Carla berlalu ke kamar putranya, Elsa pun turut beranjak dari duduknya. Rasanya sangat tak nyaman saat di tinggal berduaan dengan pria itu.
Namun saat ia hendak melangkah tiba-tiba tangannya di tarik dari belakang hingga membuatnya langsung jatuh ke pangkuan pria itu.
"A-apa yang kamu lakukan ?" protes Elsa seraya berusaha melepaskan diri dari dekapan pria itu, matanya nampak melirik ke pintu kamar sang putra di mana Carla baru saja masuk ke dalam sana.
"Lepaskan aku, bagaimana jika Carla melihat kita seperti ini ?" imbuh Elsa lagi.
"Kenapa memangnya jika dia melihatnya? bukankah itu lebih bagus." ucap Alex tanpa perasaan.
"Jaga ucapanmu tuan Alex, anggap saja kita tak pernah mengenal sebelumnya. Bukankah itu lebih baik? aku juga tidak butuh kenalan sepertimu." sahut Elsa dengan sinis.
"Ck, bagaimana aku bisa pura-pura tidak mengenalmu di saat seluruh tubuhmu ini selalu menari-nari di kepalaku." balas Alex dan tentu saja itu membuat Elsa nampak kesal sekaligus gemas.
"Kamu benar-benar cari masalah." gerutunya seraya memukul lengan pria itu.
"Mommy, apa Mommy ada di luar ?" teriak Axel dari dalam kamarnya yang tentu saja membuat Elsa langsung panik.
"Ku mohon, lepaskan aku." mohonnya pada pria itu, ia tak ingin putranya maupun sahabatnya itu melihatnya dalam posisi seperti saat ini.
"Katakan, apa dia putraku !!" ucap Alex lirih namun masih terdengar jelas di telinga wanita itu hingga membuat Elsa langsung menelan ludahnya.
__ADS_1
Bagaimana bisa pria itu tiba-tiba mengatakan hal itu, apa sebenarnya Alex sudah tahu perihal masa lalunya dulu?