
"Apa yang kamu lakukan di kamar saya ?" James langsung memicing saat melihat anak buahnya itu baru keluar dari kamarnya.
"Sayang, kamu kok ada di sini ?" Grace yang baru keluar kamarnya langsung terkejut saat melihat suaminya itu tiba-tiba datang, lalu wanita itu segera mengulas senyumnya kemudian berjalan mendekat.
"Apa yang dia lakukan di kamarmu ?" tanya James yang masih tak berkutik di tempatnya dengan menatap ke arah Nick meskipun kini tangan Grace sudah melingkar di lengannya.
"Nick tadi membantuku membersihkan bekas muntahku sayang, entahlah hari ini aku merasa kurang sehat dari pagi mual terus." terang Grace yang memang terlihat pucat hari itu dan itu tak luput dari perhatian James.
"Apa mau periksa ke dokter ?" tanya James kemudian.
"Tidak, tidak perlu. Aku akan merasa lebih baik jika beristirahat, kamu maukan menemaniku istirahat. Aku ingin tidur dalam pelukanmu." tolak Grace, kemudian menyandarkan kepalanya di lengan kekar suaminya itu.
"Hm, baiklah ayo." James segera membawa istrinya itu kembali ke kamar mereka, sementara Nick nampak menunduk saat keduanya melewatinya.
Setelah menutup pintu kamarnya James langsung mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut dan berakhir di ranjangnya yang terlihat sangat berantakan.
"Kamu tidak menyuruh pelayan untuk merapikan tempat tidurmu ?" tanya James dengan mengernyitkan keningnya.
"Dari pagi aku sangat payah jadi malas bangun dari tempat tidur, tapi kalau kamu mau aku akan perintahkan pelayan untuk merapikannya lebih dahulu." ujar Grace saat melihat wajah datar suaminya.
"Hm, ganti seprainya juga." sahut James seraya menatap seprai kasurnya yang hampir terlepas dari kasurnya.
"Tentu saja." Grace segera mengambil ponselnya lalu menghubungi pelayannya itu untuk mengganti seprai kamarnya.
Tak berapa lama seorang pelayan datang dengan tumpukan seprai di tangannya. "Kotor lagi ya nyonya, kan kemarin baru di ganti ?" tanya pelayan itu tiba-tiba hingga membuat Grace terlihat kesal.
James yang sedang duduk di sofa dan sibuk membalas email di ponselnya nampak mengangkat wajahnya saat mendengar perkataan sang pelayan.
"Tadi kena bekas muntahanku, jangan banyak bicara cepat ganti sekarang." perintah Grace dengan tak sabar.
"Baik nyonya." pelayan tersebut segera mengganti seprainya dengan yang baru.
"Sayang maaf ya." Grace yang merasa tak enak hati pada suaminya langsung duduk di sisih pria itu.
"Tidak apa-apa." James mengulas senyum kecilnya menatap istrinya itu lalu kembali melihat ponselnya.
"Kamu tidak kerja hari ini ?" tanya Grace sembari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu dengan manja.
"Ini lagi kerja." sahut James yang langsung membuat Grace melirik ke arah ponsel pria itu.
__ADS_1
"Banyak kerjaan ya ?" tanya Grace lagi yang terlihat kesal karena suaminya itu lebih fokus dengan pekerjaannya.
"Lumayan." sahut James.
"Kamu menginapkan hari ini ?" tanya Grace lagi.
"Iya." sahut James lagi-lagi dengan singkat dan itu membuat Grace semakin kesal.
Saat melihat pelayannya sudah selesai mengganti seprai kasurnya lalu meninggalkan kamarnya, wanita semakin merapatkan tubuhnya.
"Kamu tidak merindukan ku, hm ?" Grace nampak mengusap lembut dada bidang pria itu dari balik kemejanya.
"Jangan memancingku." James langsung menahan tangan istrinya itu yang sedang mengusap dadanya dengan lembut.
"Kenapa ?" Grace nampak tak mengerti.
"Kamu tahukan jika aku melakukannya maka aku tidak akan bisa berhenti." sahut James mengingatkan.
"Nanti malam saat aku merasa lebih baik, kamu boleh kok menyentuhku asal dengan pelan." terang Grace yang langsung membuat James mengangkat wajahnya menatap wanita itu.
"Benarkah ?" ucapnya dengan menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja sejak aku hamil dan kau pergi ke luar negeri kita belum pernah melakukannya lagi, aku tidak ingin kau melakukannya dengan wanita lain di luar sana." sahut Grace dengan wajah khawatirnya yang langsung membuat James mengulas senyumnya.
"Ten-tentu saja aku setia sayang, apa kau meragukan ku hm ?" tukas Grace kemudian.
"Tidak." James menggeleng kecil yang langsung membuat Grace tersenyum senang.
"Aku mencintaimu." ucapnya seraya menatap suaminya itu.
"Aku juga mencintaimu." sahut James, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja sampingnya lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya itu. Bibir wanita itu yang merah seakan ingin menggodanya untuk segera m3lum4tnya dan seketika bayangan bibir Anne menari-nari di pelupuknya.
"Sial."
James langsung meraup bibir istrinya itu dengan rakus seakan ingin menghilangkan bayangan ciumannya dengan Anne beberapa hari yang lalu.
Namun bukannya lenyap dari pikirannya tapi kali ini ia justru sedang membayangkan wanita itu yang sedang ia cium, lalu saat istrinya itu mulai kehabisan napas dengan memukuli dada bidangnya ia segera mengakhiri panggutannya.
Wajahnya nampak pias saat menyadari jika wanita yang ia cium adalah Grace, lalu pria itu merutuki dirinya sendiri karena pernah mencium Anne hingga sampai saat ini ia tak bisa menghilangkan ciuman itu dari benaknya.
__ADS_1
"Kamu terlihat sangat menikmati ciuman kita tadi, apa karena mungkin kita sudah lama tak melakukannya ?" Grace merasakan suaminya sangat berbeda saat menyentuhnya dan ia suka perubahannya itu.
"Kau suka ?" James mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi wanita itu.
"Hm, tentu saja dan tiba-tiba aku mengingkan yang lain." Grace langsung mengusap dada bidang suaminya itu lalu tangannya perlahan melepaskan kancing kemejanya satu persatu.
"Apa kau sedang memancingku, hm ?" James nampak pasrah saat istrinya itu mulai melepaskan kemejanya.
"Hm, aku sangat merindukan ini." Grace menatap dada bidang suaminya yang di penuhi oleh bulu-bulu tipis kemudian pandangannya turun ke perutnya yang seperti roti sobek.
"Sangat liat." pujinya seraya mengusapnya dengan lembut dan James yang mendapatkan sentuhan yang memancing hasratnya langsung membawa wanita itu ke ranjangnya.
Lalu mulai melepaskan pakaian wanita itu hingga kini tak ada sedikit pun benang yang menutupi tubuhnya, perut istrinya yang sedikit buncit karena pengaruh kehamilannya justru terlihat lebih seksi di matanya.
"Kau selalu tak sabar." Grace langsung tergelak manja saat melihat suaminya itu bergegas melepaskan celana kerjanya hingga kini menyisakan kain segitiga sebagai penutup kejantanannya.
"Dan kau yang membuatku seperti ini." James langsung mengungkung wanita itu.
"Kau tidak ingin melepaskan itu juga ?" Grace menatap kain segitiga milik suaminya yang masih menempel di tubuh pria itu, padahal ia ingin sekali melihat dan menyentuh isinya.
"Sepertinya kau yang mulai tak sabar, apa kamu mau langsung di masukin hm ?" James nampak menaikkan sebelah alisnya menggoda istrinya itu.
"Tidak, aku belum siap dan sepertinya kita butuh pemanasan dahulu." Grace langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tentu saja itu membuat James nampak tergelak.
Kemudian pria itu langsung menelusupkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, ia tak memulainya dengan menciumnya karena bayangan istri keduanya yang tak pernah ia harapkan itu pasti akan hadir kembali.
Entah ada apa dengan dirinya ia pun tak mengerti dan sepertinya mulai saat ini ia harus menjauhi wanita itu, karena ia tak ingin menghianati Grace yang telah mengisi hatinya lebih dulu.
Seperti biasanya James selalu menghirup aroma tubuh istrinya itu sebelum memulai pemanasan lebih jauh, namun tiba-tiba pria itu nampak menghentikan aksinya hingga membuat Grace yang menunggu sentuhan pria itu langsung mengernyit.
"Kenapa ?" tanyanya saat suaminya itu tiba-tiba beranjak dari atas tubuhnya, pria itu nampak menatapnya sejenak. Entah apa yang di pikirkannya.
"Apa kau ingin mengambil pengaman dahulu ?" tanya Grace lagi mengingat saat terakhir mereka cek ke dokter di sarankan untuk memakai pengaman saat mereka ingin bercinta.
"Aku sangat khawatir terjadi apa-apa dengan bayi dalam perutmu, sepertinya lain kali saja kita melakukannya." ucap James seraya memakai pakaiannya kembali.
"Tapi kata dokter kita tak masalah melakukannya, asalkan dengan pelan." bujuk Grace, sungguh ia sudah menginginkan pria itu saat ini.
"Istirahatlah, bukannya kamu dari pagi muntah-muntah terus ?" James nampak menarik selimut lalu menyelimuti tubuh polos istrinya itu.
__ADS_1
"Tapi...." Grace terlihat sangat kecewa.
"Aku ingin merokok di kolam belakang, kamu istirahatlah." ucap James, lalu segera meninggalkan kamarnya tersebut. Entah kenapa wajah pria itu terlihat pias dan tangannya terkepal dengan kuat seakan sedang menahan amarah yang bergemuruh di dadanya.