Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~227


__ADS_3

"Ber-berkeliaran di taman? jadi kamu tahu selama ini aku selalu menghabiskan makan siangku di taman kantor ?" tanya Anne memastikan.


"Aku selalu tahu kamu melebihi apa yang kamu tahu." sahut James hingga membuat Anne mendadak pucat.


"Apa kamu juga tahu jika selama ini aku diam-diam bertemu dengan tu-tuan Marco ?" tanya Anne dengan ragu.


"Hm."James mengangguk kecil.


Deg!!


Anne mendadak jadi tak nafsu makan lagi mengingat suaminya pasti akan marah besar setelah ini.


Kemudian ia langsung menggeser duduknya mendekati suaminya itu. "Tolong maafkan aku, aku bersumpah tak mempunyai hubungan apapun dengannya. Aku yakin tuan Marco sebenarnya orang baik, aku hanya ingin membuat dia lebih mengenali sisi kemanusiaannya saja." mohon Anne seraya menyentuh lengan kekar suaminya itu.


"Hanya itu ?" Suara James terdengar dingin.


"Hm." Anne mengangguk yakin.


"Apa kamu sadar, apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya ?" James menaikkan oktaf suaranya hingga membuat Anne langsung berjingkat kaget.


"Aku tahu, tapi aku yakin tuan Marco tidak akan melakukan apapun padaku." sahutnya dengan yakin, ia menyadari dirinya memang salah tapi itu semua ia lakukan demi kebaikan suaminya itu juga.


"Seyakin itu ?" James tersenyum sinis menatap istrinya tersebut.


"Hm, aku yakin." Anne mengangguk yakin.


"Kenapa ?" James diam-diam nampak mengepalkan tangannya.


"A-aku tidak tahu tapi aku yakin tuan Marco tidak akan berbuat jahat padaku, dia sebenarnya...."


"Karena dia menyukaimu." potong James yang langsung membuat Anne melebarkan matanya.


"Apa kau juga menyukainya ?" imbuh James to the point dengan tatapan yang siap menghunus.


"I-itu tidak mungkin sayang, a-aku melakukan itu semua demi dirimu. Aku tidak ingin....." Anne langsung menjeda perkataannya saat suaminya itu mengangkat tangannya.


"Bukankah sudah pernah ku katakan jangan lakukan apapun karena aku bisa melindungi diriku sendiri atau jangan-jangan kamu memang sudah mulai tertarik pada bajingan itu hah ?" tuding James dengan tangan terkepal.


Beberapa hari ini ia memang sengaja membiarkan wanita itu bertemu dengan Marco di taman setiap jam makan siang tiba, lagipula ia sudah menyiapkan beberapa sniper jika pria itu hendak berbuat jahat pada sang istri.


Namun rupanya tanpa James sadari semakin hari mereka nampak semakin dekat dan itu membuatnya langsung murka.


Akankan ia akan di hianati lagi oleh seorang wanita sebagaimana dulu Grace menghianatinya ?

__ADS_1


"I-itu tidak mungkin sayang, aku sangat mencintaimu jadi...."


"Grace dahulu juga berkata seperti itu tapi kamu lihat, dia tidur dengan pria lain." sela James dengan nada hinaan.


"Ta-tapi...."


James langsung menyela. "Aku tidak butuh penjelasanmu, jika itu hanya untuk menutupi kebohonganmu." ucapnya dengan menatap tajam istrinya itu, lalu pria itu segera berlalu pergi dari kamarnya dengan membanting pintunya sedikit keras.


Sementara Anne hanya bisa menangis melihat kepergian suaminya itu. "Tolong percayalah padaku." lirihnya di tengah isak tangisnya.


Malam pun telah tiba, Anne yang menunggu suaminya itu pulang nampak gelisah karena sejak pria itu pergi tadi siang tak dapat ia hubungi.


Kemudian Anne segera mengetik sesuatu lalu mengirimnya pada Rose.


"Rose, apa tuan sudah pulang dari kantor ?"


"Tuan hari ini tidak datang ke kantor, nyonya."


Anne nampak menghela napas panjang, lalu ia kembali mondar-mandir di depan pintu rumahnya menunggu suaminya itu pulang.


Di tempat lain James yang berada di sebuah bar terlihat meneguk beberapa sloki minuman beralkohol di hadapannya itu.


Entah ia harus mempercayai istrinya itu atau dengan apa yang ia lihat. "Semua wanita sama saja." racaunya dengan sinis.


"Tapi aku tidak mau di samakan dengan wanita murahan di luar sana." imbuhnya lagi seraya menatap miris pria di hadapannya itu.


James tersenyum sinis. "Apa yang kau lakukan di sini ?" ucapnya dengan nada dingin.


"Ayolah ini tempat umum, siapa pun berhak datang ke sini bukan? harusnya aku yang bertanya padamu, ada apa denganmu ?" Jennifer menatap satu botol wiskey yang hampir habis.


"Tidak usah ikut campur urusan orang lain." tegas James lalu menuang lagi slokinya.


"Apa hanya karena seorang wanita kamu jadi mengenaskan seperti ini ?" pancing Jennifer ingin tahu.


"Diamlah !!" James menatap nyalang wanita itu, lalu mulai meneguk lagi minumannya.


"Ayolah James, sejak kapan kamu lemah hanya karena wanita ?" Jennifer nampak beranjak dari duduknya lalu duduk di samping pria itu.


"Masih ada aku yang akan selalu berada di sampingmu dan kau tahu itu kan? seandainya dulu kamu tak mengirimku keluar negeri pasti takkan ku biarkan kamu berhubungan dengan wanita yang saat ini membuatmu seperti ini." imbuh Jennifer lagi.


James nampak terdiam, sebelumnya Anne datang seperti seorang malaikat untuk menyembuhkan luka hatinya karena sebuah penghianatan tapi kini wanita itu justru berusaha menjadi malaikat untuk pria lain.


Memikirkan hal itu James nampak geram, kemudian pria itu kembali meneguk minumannya hingga tandas tak bersisa.

__ADS_1


"Kau mau kemana ?" Jennifer langsung menahan lengan pria itu saat beranjak dari duduknya.


"Bukan urusanmu." timpal James seraya berlalu pergi dari sana.


"Kau tidak bisa mengemudi dalam keadaan seperti ini James." Jennifer kembali menghentikan langkah pria itu lagi.


"Ayo aku akan mengantarmu pulang, apa kau masih tinggal bersama tuan William ?" tanya Jennifer seraya memapah pria itu meninggalkan bar tersebut.


"Tuan William pasti akan marah jika melihatmu seperti ini, lebih baik untuk sementara waktu kamu menginap di apartemen ku saja." imbuhnya lagi


"Lagipula aku sangat merindukanmu, sudah lama sekali kita tak menghabiskan waktu bersama." gumam Jennifer dengan tersenyum licik, kemudian ia langsung membawa James ke dalam mobilnya.


"Maaf nona, tuan James akan pulang bersama kami." tiba-tiba seseorang menghentikan Jennifer saat wanita itu hendak membantu James masuk ke dalam mobilnya.


"Kalian siapa ?" Jennifer langsung melebarkan matanya saat melihat beberapa orang mendekat.


"Kami yang mengantar tuan James kemari jadi beliau akan pulang bersama dengan kami." tegas salah satu dari mereka.


"Apa aku bisa mempercayai kalian? bagaimana jika kalian ingin berbuat jahat? jadi lebih baik aku yang akan mengantarnya saja." tolak Jennifer kemudian membuka pintu mobilnya, namun seseorang tiba-tiba menahannya lagi.


"Mark ?" Jennifer langsung melebarkan matanya saat melihat Mark yang baru datang.


"Mari tuan saya antar pulang." Mark langsung menarik tangan James lalu membawanya ke dalam mobilnya dan di ikuti oleh beberapa anak buahnya tersebut.


Sementara Jennifer nampak geram setelah tak berhasil membawa James ikut bersamanya.


"Langsung pulang, tuan ?" tanya Mark saat mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan bar tersebut.


"Ke apartemen saja." sahut James yang kini menyandarkan kepalanya di kursi belakangnya dengan mata terpejam.


Mark menatap tuannya yang nampak kacau dari kaca spion lalu pria itu mengangguk kecil meski sang tuan tak melihatnya. "Baik tuan." ucapnya kemudian.


Keesokan harinya....


Pagi itu Anne nampak terbangun di atas sofa ruang tamu tempatnya menunggu suaminya semalam, rupanya dia ketiduran hingga keesokan harinya.


Menyadari suaminya tak pulang, Anne segera membersihkan dirinya dan bergegas ke kantor.


Sesampainya tiba di kantornya, Anne merasa lega saat melihat mobil sang suami yang juga baru datang. Rupanya pria itu baik-baik saja dan tak terjadi sesuatu sesuai dugaannya.


"Tuan James ?" ucapnya dengan tersenyum lebar ketika hendak mendekati suaminya yang juga baru turun dari mobilnya, namun senyumnya langsung menyurut saat mengetahui Jennifer juga baru turun dari mobil pria itu.


"Kenapa wanita itu bisa semobil dengannya? apa mereka semalam telah menghabiskan waktu bersama ?"

__ADS_1


Anne tiba-tiba merasa sesak, ia tahu telah salah tapi tak seharusnya suaminya itu membalasnya dengan membawa wanita lain bersamanya.


__ADS_2