
"Sial." Alan nampak mengepalkan tangannya, ia tak menyangka ada seseorang yang berani mengancamnya seperti ini.
"Wanita itu hanya seorang janda dan sebelum bertunangan denganmu pasti pernah tidur dengan beberapa pria jadi apa bedanya jika dia menghabiskan semalam lagi denganku ?" bujuk tuan Weslyn hingga membuat Alan nampak mengepalkan tangannya.
"Berapa pun yang kau minta aku akan memberikannya, asal urungkan niatmu itu." ucapnya kemudian.
Merry pasti akan membencinya jika tahu dirinya telah menjualnya, apalagi ia juga tak ingin berurusan dengan William mantan suami kekasihnya itu.
"Kamu pikir aku miskin hm? tapi terserah kamu juga jika ingin seluruh dunia mengetahui siapa kamu sebenarnya. Bahkan mungkin calon istrimu itu akan jijik padamu setelah itu." ucap tuan Weslyn.
Sebelum membuka suaranya kembali, Alan nampak menghela napasnya dengan berat.
"Baiklah, tapi pastikan Merry tidak pernah tahu jika aku yang melakukan itu karena aku ingin hubungan ku dengan dia tetap baik-baik saja setelah ini." ucapnya kemudian yang langsung membuat tuan Weslyn terkekeh sembari menepuk-nepuk punggung pria itu.
Alan tentu saja lebih memilih bisnis kotornya itu karena dari sana ia bisa memperoleh pundi-pundi uang yang tak sedikit hingga membuatnya bisa hidup mewah seperti saat ini.
"Deal." Tuan Weslyn langsung mengulurkan tangannya tanda setuju dan dengan terpaksa Alan membalas jabat tangan pria itu.
"Baiklah tuan Alan, ku harap setelah acara ini berakhir wanita itu sudah berada di kamarku." ucap tuan Weslyn, kemudian berlalu pergi dari sana.
Pria 40 tahun itu nampak sangat senang, akhirnya ia bisa membalas dendam akan penghinaan wanita itu padanya sebelumnya.
Namun tanpa pria itu sadari dirinya telah membuat lubang kematiannya sendiri jika sang tuan besar tahu perbuatan bejatnya.
"Al, kamu baik-baik saja ?" tanya Merry saat mendekati kekasihnya itu yang sedang meneguk wine.
"Hm, jangan khawatir." sahut Alan.
"Apa kau akan menjalin kerja sama dengan pria itu ?" tanya Merry, sesekali wanita itu nampak memicing menatap kepergian tuan Weslyn.
"Dia bukan orang baik percayalah padaku." imbuh Merry lagi.
"Pria itu adalah orang kepercayaan tuan William apa kau lupa ?" tanya balik Alan.
"Aku tak peduli dia siapa, tapi percayalah dia sangat licik dan aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu." mohon Merry seraya menatap Alan dengan khawatir, meskipun ia belum sepenuhnya mencintai pria itu tapi ia akan belajar untuk mencintainya.
Alan nampak terkekeh kecil. "Baiklah calon istriku apa kau mau berdansa denganku, hm ?" ujarnya kemudian.
"Tentu saja dengan senang hati." sahut Merry.
Kemudian Alan mengajak bergabung kekasihnya itu ke lantai dansa bersama tamu yang lain.
"Kamu sangat cantik malam ini dan pakaian ini terlihat pas di badanmu." puji Alan, tangan pria itu nampak melingkar di pinggang kekasihnya itu dan mulai bergoyang pelan mengikuti irama musik.
Matanya terlihat sesekali melirik ke arah gundukan kenyal wanita itu yang sedikit menyembul, hanya dengan membayangkannya saja Junior Alan mulai meronta di bawah sana.
__ADS_1
Harusnya malam ini ia jadikan momen indah bersama wanita itu dengan menghabiskan malam panjang yang penuh gairah, namun rencananya itu harus gagal karena pria brengsek itu juga menginginkan wanita itu.
"Tak apalah, masih ada malam-malam selanjutnya untukku." batin Alan meyakinkan dirinya.
Merry yang sedang mengedarkan pandangannya nampak tak sengaja melihat sosok pria yang tak ia harapkan kehadirannya.
Apalagi di samping pria itu nampak seorang wanita cantik sedang bergelayut manja di lengannya.
Nyatanya dirinya masih sangat cemburu melihat mantan suaminya bersama wanita lain meski ia sudah berusaha untuk mengikhlaskannya.
Pandangan mereka nampak bertemu namun Merry segera membuang wajahnya, tatapan pria itu sangat tajam seakan ingin membunuhnya.
Hmm
Tiba-tiba William berdehem hingga membuat Alan yang sedang menatap Merry langsung menoleh ke sumber suara.
"Tuan William? anda di sini juga rupanya." Alan langsung terkejut saat melihat keberadaan William, ia tak menyangka jika penyelenggara acara gala dinner tersebut juga mengundang pria itu.
"Tentu saja." sahut William dengan tak ramah, pria itu nampak melirik ke arah mantan istrinya yang penampilannya teramat seksi dan itu membuatnya sangat geram.
"Apa anda tidak ingin mengenalkan wanita cantik di sebelah anda ini, tuan ?" ujar Alan seraya menatap ke arah Vivian.
"Tentu saja, perkenalkan ini Vivian tunangan saya." ucap William memperkenalkan Vivian.
"Sesegera mungkin." kali ini William yang menjawab yang langsung membuat mantan istrinya itu nampak mengalihkan pandangannya.
"Bagaimana kalau kita menikah di hari yang sama? sepertinya itu akan menjadi kado spesial buat Ariel." saran Alan dengan senang hati, ia bersyukur mantan suami kekasihnya itu tak mempersulit jalannya untuk mendapatkan wanita itu.
"Itu ide yang sangat bagus, karena dalam waktu bersamaan Ariel akan mendapatkan dua pasang orangtua. Benarkan, sayang ?" timpal Vivian seraya menatap William, berharap pria itu juga setuju.
"Kita serahkan saja pada nyonya Merry Martin untuk memutuskannya." timpal William seraya menatap mantan istrinya tersebut.
Merry yang masih belum menerima Vivian sebagai ibu sambung sang putra nampak bersikap datar.
"Ten-tentu saja." sahut Merry dengan terpaksa, kemudian wanita itu berpamitan ke toilet.
"Maaf, aku tinggal ke belakang sebentar." ucapnya kemudian.
"Mau ku temani ?" tawar Alan.
"Tidak." Merry menggelengkan kepalanya, kemudian bergegas pergi.
Sesampainya di toilet Merry nampak bersandar di balik pintu, rasanya sangat sesak memikirkan mantan suaminya itu akan menikahi wanita lain.
Namun ia harus tetap kuat, Alan sudah terlalu baik padanya dan ia tak ingin mengecewakan pria itu.
__ADS_1
Kemudian wanita itu melangkah ke arah wastafel, lalu mencuci tangannya. Namun saat mematut dirinya di depan cermin, ia tiba-tiba melihat bayangan mantan suaminya di sana.
"A-apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" ucapnya setelah berbalik badan.
Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa pria itu seperti hantu yang tiba-tiba hadir atau mungkin dirinya yang terlalu banyak melamun hingga tak menyadari kedatangan pria tersebut.
"Sepertinya kau tak keberatan dengan ide konyol bajingan itu." cibir William, pria itu nampak bersandar di dinding belakangnya dan kedua tangannya bersendekap di depan dadanya.
"Kalau iya kenapa? bukankah kamu juga tidak keberatan ?" sahut Merry kemudian.
"Aku berikan satu kesempatan padamu, tinggalkan bajingan itu dan kembali padaku." ucap William yang langsung membuat mantan istrinya itu tersenyum sinis.
"Lebih baik lupakan tawaranmu itu tuan William Smith, apapun yang terjadi aku akan menikah dengan Alan." sahutnya kemudian dengan tegas.
"Apapun yang terjadi ?" ucap William seraya berjalan mendekat.
"Hm, tentu saja." angguk Merry, wanita itu nampak waspada saat pria di depannya itu semakin mengikis jarak di antara mereka.
"Bagaimana jika pria yang selama ini kamu anggap baik ternyata seorang bajingan." ucap William dengan tersenyum miring.
"Alan sangat baik dan tuduhanmu padanya itu takkan merubah keputusanku." tegas Merry.
"Benarkah? lalu bagaimana dengan ini semua." William nampak memberikan beberapa lembar foto kebersamaan Alan dengan beberapa wanita yang berbeda di sebuah club malam.
"Ini pasti bohong? Alan pria yang sangat baik, dia tidak mungkin seperti itu. Ini pasti editankan? atau mungkin itu hanya foto-foto lama." ucap Merry tak percaya.
Di matanya Alan pria yang sangat baik dan jika itu memang foto-foto kelam pria itu ia akan tetap memaafkannya karena setiap orang pasti mempunyai masa lalu buruk.
"Pria baik tidak akan membiarkan orang yang di cintainya berpenampilan murahan seperti ini." ucap William seraya memindai penampilan wanita itu hingga membuat Merry nampak menelan ludahnya.
Karena tatapan pria itu seakan sedang menelanjanginya, Wanita itu jadi menyesal kenapa tidak memakai pakaian lain yang lebih tertutup
"Atau mungkin dia berniat menjualmu pada pria hidung belang langganannya, bukankah itu memang pekerjaan pria itu." imbuh William lagi, namun....
Plakk
Sebuah tamparan langsung mendarat di pipinya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Jaga bicaramu, tuan William Smith." teriak Merry tak terima.
Bukannya marah, William justru tersenyum mengejek. Kemudian ia merapatkan tubuhnya lalu m3lum4t bibir merah wanita itu dengan rakus.
.
Happy New year 2023 buat teman-teman semuanya, terima kasih banyak masih setia sama cerita receh ini. Semoga sepanjang tahun 2023 ini kita semua selalu di beri keberkahan dan juga kesehatan... Aamiin.
__ADS_1