
"Apa dia tak bekerja ?" gumam Anne saat melihat suaminya hanya mengenakan pakaian santai padahal hari sudah siang.
"Kalau dia masih di rumah, bagaimana aku bisa keluar ?" sambungnya lagi, tadi pagi-pagi sekali Nicolas mengabarinya jika posisi kasir di restorannya sedang kosong jadi pria itu menawarkan padanya.
Tentu saja langsung ia terima, paling tidak ia tak jadi pelayan di sana dan jika suaminya tahu mungkin takkan semarah beberapa hari lalu saat memergoki dirinya menjadi seorang pelayan.
"Kamu tidak kerja ?" Anne mulai berbasa-basi.
"Kerja." sahut James dengan singkat.
"Kenapa belum bersiap ?" tanya Anne lagi, jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi tapi pria itu masih asyik menikmati kopi buatannya seraya membaca surat kabar.
James yang tadinya fokus menatap surat kabar akhirnya mengangkat wajahnya menatap istrinya tersebut, entah kenapa justru pertama kali yang ia lihat adalah bibir tipis wanita itu yang seakan sedang menggodanya.
"Sial."
James langsung mengumpat dalam hati, lalu membuang wajahnya ke arah lain. "Apa kau keberatan aku tinggal di rumah ?" ucapnya kemudian tanpa menatap wajah wanita itu.
"Bu-bukan begitu, kan biasanya kamu selalu pergi bekerja tepat waktu." timpal Anne mengingatkan, siapa tahu pria itu lupa dengan kebiasaannya meski itu mustahil.
"Kau tak berhak mengaturku di sini, aku mau keluar atau tidak itu hakku sepenuhnya." tegas James seraya menatap wanita itu sejenak, lalu kembali menatap surat kabar di tangannya tersebut.
Anne yang merasa kesal segera menghempaskan bobot tubuhnya di sofa seberang pria itu, bibirnya nampak mengerucut lalu merogoh ponselnya yang sebelumnya ia simpan di kantong pakaiannya.
"Maaf tuan, saya belum bisa datang tapi akan saya usahakan untuk kesana secepatnya."
Anne segera mengirim pesan yang telah ia ketik, semoga saja tuan Nicolas tak memberikan pekerjaannya itu pada orang lain.
"Mau kemana ?" tanya James saat istrinya itu hendak pergi.
"Ke kamar mau kemana lagi." ketus Anne, sepertinya ia masih kesal dengan kejadian kemarin.
"Buatkan saya omelet !!" perintah James kemudian.
"Omelet ?"
Anne baru mengingat jika semalam ia meninggalkan sisa omeletnya di atas meja makan, namun tadi pagi ia sudah tak menemukannya lagi. Apa pria itu sudah membuangnya? lalu bekas piringnya apa pria itu juga yang mencucinya?
"Saya tidak suka melihat bekas makan yang di biarkan berantakan, lain kali jangan di ulangi." ucap James tiba-tiba yang langsung membuat Anne menelan ludahnya, rupanya pria itu yang telah membersihkan bekas makannya semalam.
__ADS_1
Kemudian Anne bergegas ke dapurnya lalu mulai membuat pesanan pria itu.
"Jika tidak enak buang saja." ucapnya seraya meletakkan sepiring omelet di hadapan suaminya itu.
James yang telah pindah duduk di meja makan langsung menyantap sarapannya tersebut, omelet dengan rasa yang sama seperti semalam dan pria itu terlihat sangat lahap.
"Bagaimana rasanya ?" Anne yang duduk di hadapannya nampak menopang dagunya dengan kedua tangannya, wajahnya terlihat serius menatap suaminya itu makan.
James yang rupanya tak menyadari di perhatikan oleh sang istri sedari tadi terlihat salah tingkah lalu memasang wajah angkuhnya.
"Biasa saja." sahutnya dengan datar.
"Saking biasanya sampai lahap begitu ya." sindir Anne dengan tersenyum miring menatap piring pria itu yang telah tandas tak bersisa padahal ia tadi sengaja membuatnya dengan porsi besar karena jika sisa bisa ia gunakan untuk makan siangnya nanti.
"Tidak gampang mencari uang jadi jangan membuang-buang makanan meskipun itu tak enak sekali pun." ujar James seraya mengelap bibirnya dengan tisu, pandangannya tiba-tiba tak sengaja ke arah bibir merah istrinya itu yang langsung berbuat peristiwa kemarin kembali berputar di pikirannya.
"Sial."
James segera beranjak dari duduknya, ada apa dengannya bahkan hanya dengan melihatnya saja miliknya di bawah saja juga ikutan sesak. Pikiran liarnya seakan mendorongnya kembali untuk mencicipi bibir tipis itu yang rasanya masih jelas terekam di benaknya.
"Masa sih nggak enak, apa jangan-jangan hambar ?" gumam Anne setelah kepergian suaminya itu.
"Enak, pas lagi rasanya. Sakit tuh orang." gumamnya dengan kesal.
Tak ingin pusing sendiri Anne segera beranjak ke dapur untuk mencuci piring bekas tersebut, tak lupa ia juga menghidupkan musik Korea kesukaannya.
Selanjutnya wanita itu terlihat menyanyi dan juga menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik yang sedikit ngebeat.
"Saya pergi dulu." ucap James tiba-tiba hingga membuat Anne yang sedang membersihkan tempat cucian piring langsung terlonjak kaget dan tak sengaja menginjak lantai yang basah hingga membuatnya terpeleset dan hampir saja jatuh jika suaminya itu tak segera menopang tubuhnya.
Kini posisi mereka begitu intim hingga membuat keduanya saling berpandangan dan James yang melihat bibir merah istrinya itu langsung mendekatkan wajahnya namun sepertinya akal sehatnya masih berfungsi dengan baik hingga pria itu langsung mendorong tubuh wanita itu menjauh.
"Lain kali jangan teledor, kau bisa saja membuat rumahku kebanjiran." ucapnya kemudian, lalu pria itu segera pergi dari sana.
Anne yang masih terkejut karena terpeleset nampak menghela napasnya sejenak. "Syukurlah, hampir saja jatuh." gumamnya, lalu ia segera berlari saat mendengar mesin mobil menyala.
Suaminya itu terlihat pergi meninggalkan rumahnya dan itu membuatnya sangat senang, karena ia harus segera datang ke restorannya tuan Nicolas.
Tak ingin menunda waktu, Anne segera berganti pakaian lalu bergegas pergi. Semoga posisi kasir yang di tawarkan oleh pria itu belum di tempati orang lain.
__ADS_1
"Maaf tuan saya terlambat." ucapnya beberapa saat setelah sampai di restoran tempatnya bekerja.
"Syukurlah kau datang, bagaimana apa kau menerima tawaranku ?" timpal Nicolas dengan wajah sumringah karena kedatangan karyawan yang menurutnya membawa hoki bagi restorannya tersebut.
"Tentu saja tuan, saya sangat membutuhkan pekerjaan itu." sahut Anne dengan napas sedikit ngos-ngosan karena tadi berjalan dengan cepat.
"Ayo duduklah dulu, sebelum kamu bekerja ada hal penting yang ingin ku tanyakan." Nicolas segera menarik kursi lalu menyuruh Anne untuk duduk di sana.
"Terima kasih." ucap Anne setelah menghempaskan bobot tubuhnya.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan tuan James ?" tanya pria itu dengan wajah penasarannya.
"Anda mengenalnya ya ?" Anne langsung mengernyitkan dahinya.
"Tentu saja beliau salah satu pelanggan VVIP restoran ini." sahut Nicolas.
"Oh." Anne nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia pikir pertemuan mereka waktu itu hanyalah kebetulan karena pria itu mampir makan siang di restorannya.
"Tidak hanya itu tuan James juga orang yang sangat berpengaruh di kota ini, jadi aku tidak mungkin mengambil resiko jika kau ada hubungan dengannya." sambung Nicolas lagi.
"A-aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya tuan, percayalah. Kita hanya tak sengaja bertemu sebelumnya dan ada sedikit salah paham." Anne langsung mencari alasan.
"Tapi jika tuan James melihatmu bekerja di sini apa beliau tak masalah ?" Nicolas ingin memastikan karena ia juga tak ingin restorannya akan rata dengan tanah karena perbuatan pria itu.
"I-itu pasti tidak akan terjadi tuan, sebenarnya dia itu menyukai ku tapi aku tidak suka padanya jadi bisakah aku minta tolong jika dia datang kesini aku bersembunyi saja." sahut Anne dengan menambahi sedikit bumbu kebohongan.
"Pantas dia seperti terobsesi sama kamu, baiklah itu bisa di atur karena beliau selalu reservasi sebelumnya jika ingin makan di sini." sahut Nicolas.
"Baiklah, terima kasih banyak tuan." akhirnya Anne bisa bernafas lega, karena ia memang sangat membutuhkan pekerjaan ini. Selain karena bisa membuat saldo tabungannya menggelembung ia juga merasa bosan jika harus terus-menerus tinggal di rumahnya.
Sementara itu di tempat lain, James yang baru saja sampai di rumah Grace nampak mengulas senyumnya saat membayangkan istrinya itu pasti terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
Hari ini ia memang sengaja meluangkan waktunya untuk menemani wanita yang sedang hamil muda itu, ia menyadari jika dirinya sejak kecil sudah tak punya orang tua dan ia tak ingin anaknya juga mengalami hal seperti dirinya.
James yang memang mempunyai kunci cadangan rumahnya langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Kemudian pria itu berjalan perlahan ke arah kamarnya yang berada paling belakang rumahnya, namun matanya langsung memicing saat melihat Nick baru keluar dari kamar pribadinya tersebut.
"Tu-tuan." Nick langsung terkejut saat tuannya itu tiba-tiba datang.
__ADS_1