
"Kak Alex ?" ucap Merry saat melihat Alex berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Aku sudah mengetuk beberapa kali tapi sepertinya kamu tak mendengar, karena pintu tak di kunci jadi langsung ku buka." terang Alex saat melihat wajah terkejut sang adik.
"Nggak apa-apa kak, masuk saja." sahut Merry.
"Kau melamun lagi ?" tanya Alex seraya melangkahkan kakinya mendekati wanita itu.
Merry langsung menggelengkan kepalanya dan memaksakan senyumnya.
"Mungkin kau bisa berbohong pada Ariel tapi kau tidak bisa berbohong padaku, Merr." terang Alex, pria itu nampak berdiri tak jauh dari ranjang di mana Merry sedang duduk di tepinya.
"Aku baik-baik saja, percayalah." ucap Merry meyakinkan.
"Kenapa kamu tidak mengikuti saran Ariel saja ?" tanya Alex yang langsung membuat Merry mengernyit.
"Saran apa ?" tanyanya tak mengerti.
"Memberikannya seorang adik." sahut Alex yang langsung membuat Merry melotot.
"Kamu jangan gila kak." protes Merry dengan berapi-api.
"Ayolah Merr, sampai kapan kamu akan menunggu William." bujuk Alex, karena selama 4 tahun ini adiknya sepertinya tak berminat dekat dengan pria manapun.
"Aku tidak sedang menunggunya kak bahkan aku sudah melupakannya." dusta Merry, karena sejujurnya hatinya sepenuhnya masih menjadi milik mantan suaminya itu.
Selama ini Merry sudah berusaha untuk melupakan William tapi pria itu sudah terlanjur menguasai seluruh relung hatinya.
"Kalau memang sedang tidak menunggunya, ya sudah mulailah membuka hatimu pada pria lain." nasihat Alex.
"Lagipula Ariel butuh sosok ayah, Merr. Karena kamu tahu sendiri aku tidak selalu bersama kalian. Sedangkan Ariel butuh sosok pria yang setiap hari bisa menemaninya." imbuh Alex lagi.
"Baiklah akan ku pikirkan, kak." sahut Merry, meski ia tak benar-benar memikirkannya karena kakaknya itu sering sekali menasihatinya seperti itu.
"Kenapa tidak dengan Alan saja ?" ucap Alex yang langsung membuat Merry melebarkan matanya.
"Aku tidak tahu dia baik atau tidak." Merry langsung menolaknya dengan halus, sungguh ia belum siap untuk menjalin hubungan yang baru lagi.
"Tentu saja Alan baik, Merr. Alan temanku kuliah dan ayahnya banyak sekali mengajariku berbisnis." terang Alex.
__ADS_1
"Tapi aku tidak tahu dia cocok dengan Ariel atau tidak." Merry berusaha menolak dengan cara apapun.
"Bagaimana bisa tahu jika kamu tak memberikan kesempatan Alan untuk mengenalmu dan juga Ariel." cibir Alex, pria itu terlihat sangat gemas dengan penolakan sang adik.
"Baiklah nanti ku pikirkan lagi, lagipula kenapa tidak kak Alex saja yang memberikan Ariel adik bukankah itu sama saja." saran Merry namun itu justru membuat Alex nampak muram.
"Sebenarnya aku juga ingin, tapi Celine sepertinya masih ingin mengejar karirnya." sahut Alex, Celine adalah wanita yang ia nikahi dua tahun silam tapi sepertinya istrinya itu masih ingin mengejar karirnya sebagai model di New York dan selalu menunda saat dirinya menginginkan seorang anak.
"Jadi kapan kakak akan kembali ke Amerika ?" tanya Merry kemudian.
"Secepatnya setelah urusanku di sini beres." sahut Alex, pria itu memang kerap bolak balik Indonesia-Amerika hanya untuk memastikan keadaan adiknya itu baik-baik saja, meski sudah ada ayah dan ibunya yang menemani tapi sebagai kakak tertua tentu saja keselamatan adik perempuannya itu menjadi tanggung jawabnya.
"Hm, aku mengerti." ucap Merry.
"Tolong pertimbangkan lagi tentang Alan, percayalah selain mapan Alan juga pria yang sangat baik. Dia pasti bisa membuat kalian bahagia." pinta Alex sebelum keluar dari kamar sang adik.
"Aku tidak menyuruhmu untuk langsung serius, paling tidak berikan Alan kesempatan untuk mengenalmu. Dia seorang pebisnis hebat, percayalah akan banyak ilmu yang kau dapatkan." imbuh Alex lagi sebelum ia benar-benar menutup pintu kamar adiknya itu.
Sedangkan Merry nampak menghela napasnya pelan, sungguh ia belum siap untuk membuka hatinya kembali.
Beberapa hari setelah itu....
"Katakan !!" perintahnya seraya menghempaskan bobot tubuhnya di kursi kerjanya.
"Beberapa investor yang akan menangani proyek kita di Malaysia, tiba-tiba menarik investasinya." lapor Anne yang langsung membuat Merry meradang.
"Bagaimana bisa ?" tanyanya tak percaya.
"Saya mendapatkan kabar jika mereka memindahkan investasinya ke perusahaan WS Corporation di Singapura." sahut Anne.
"Sial, mereka tidak bisa melakukan ini semua." Merry nampak memukul meja dengan sedikit kasar.
"Sepertinya mereka tergiur dengan keuntungan besar yang di tawarkan oleh perusahaan WS Corporation." lanjut Anne melaporkan.
"Omong kosong, sepertinya itu hanya jebakan yang di berikan oleh perusahaan baru itu. Ini tidak bisa di biarkan, jika tidak perusahaan kecil seperti kita akan tenggelam dan sulit untuk maju." Merry terlihat sangat geram, ia menyadari perusahaan yang di kelola Alex sebelumnya memang perusahaan kecil dan ia beserta ayahnya berjuang untuk bertahan di tengah perusahaan besar lainnya.
Kehidupan Merry tidaklah mudah, setelah Alex menikah dan memutuskan tinggal di Amerika. Merry dan ayahnya harus berjuang mengurus perusahaannya itu sendiri.
Martin yang semakin berumur membuat pria itu tak lagi menciptakan ide-ide cemerlang hingga membuat perusahaannya itu semakin tertinggal.
__ADS_1
Merry yang belum berpengalaman harus berjuang sendiri untuk memajukan perusahaannya tersebut, berkat keuletannya wanita itu berhasil membuat perusahaannya sedikit terkenal namun masih kalah jauh dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya.
Namun ia bersyukur dahulu William memaksanya untuk belajar bisnis hingga membuatnya kini tahu banyak hal.
Dan ngomong-ngomong tentang William, bagaimana kabar pria itu saat ini? Merry langsung menepis pikirannya itu jauh-jauh.
Karena William pasti sudah melupakannya dan mungkin saat ini pria itu telah mempunyai keluarga baru lagi.
"Segera urus perjalanan ku ke Singapura, An. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya !!" perintah Merry kemudian.
"Tapi bu...." Anne terlihat ragu, perusahaan WS Corporation bukanlah perusahaan biasa. Karena perusahaan tersebut adalah salah satu perusahaan raksasa di Amerika.
Jika atasannya melawan itu sama saja mencari penyakit dan bisa-bisa berakibat fatal pada perusahaannya, belum lagi keselamatan bossnya itu terancam.
Mengingat kabar burung yang beredar jika pemilik perusahaan WS Corporation adalah seorang mafia kelas kakap di Amerika.
"Keputusanku sudah bulat An, bagaimana pun juga aku harus memperjuangkan keadilan bagi perusahaan kecil seperti kita." tegas Merry yang membuat asistennya itu mau tak mau mematuhi perintahnya.
Kemudian Anne segera keluar dari ruangan atasannya tersebut lalu bergegas mengurus keperluan wanita itu untuk kepergiannya ke Singapura.
"Mommy, jadi kita mau libulan ?" Ariel nampak bersemangat saat sang ibu sedang menyusun pakaiannya di dalam kopernya malam itu.
"Mommy di sana bekerja sayang, tapi setelah Mommy pulang kerja kita bisa jalan-jalan." sahut Merry menatap gemas putranya tersebut.
"Baiklah, di cana nanti kita ke wahana belmain ya Mommy." mohon Ariel.
"Iya sayang, kemana pun yang kamu mau tapi dengan satu syarat. Apa itu syaratnya sayang ?" ucap Merry lalu membawa Ariel ke dalam pangkuannya.
"Mommy bekelja dulu." sahut Ariel dengan tersenyum lebar dan itu membuat Merry benar-benar merasa gemas lalu menciumi pipinya hingga memerah.
Sungguh Merry sangat bersyukur mempunyai putra seperti Ariel yang selalu mengerti keadaannya dan tak pernah rewel.
Esok hari pun tiba, Merry dan putranya itu kini siap berangkat menuju Singapura di temani oleh Anne dan juga pengasuhnya Ariel.
Dahulu kala setiap kemana pun Merry pergi selalu ada bodyguard yang mengawalnya namun sekarang wanita itu merasa bebas kemana pun pergi tanpa pengawalan.
Semenjak ayahnya mengajaknya pulang ke Indonesia dan memulai hidup baru, Merry benar-benar memulai hidup menjadi orang biasa yang jauh lebih tenang tanpa takut musuh-musuh ayahnya terdahulu mengawasinya.
"Semoga semuanya baik-baik saja." gumam Merry setelah tiba di Bandara internasional Changi, Singapura.
__ADS_1