Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~277


__ADS_3

Sore itu Carla nampak terburu-buru pergi ke bandara setelah di hubungi oleh Alex. "Maaf aku telat, apa kau terlalu lama menunggu ?" ucapnya setelah mereka berada di sebuah Cafe tak jauh dari area Bandara tersebut.


"Tidak, saat menghubungimu aku masih berada di dalam pesawat. Aku sengaja menghubungimu lebih awal karena kamu pasti perlu beberapa waktu untuk sampai." sahut Alex yang tengah menatap menu di tangannya itu.


"Aku baru saja bertemu dengan teman lamaku di sekitar sini, karena keasyikan ngobrol aku sampai tak ingat waktu." ucap Carla beralasan.


"Benarkah ?" timpal Alex yang sepertinya kurang tertarik dengan alasan wanita itu.


"Hm. Apa kamu tahu, sahabatku ini kasihan sekali beberapa tahun lalu ia diperkosa oleh pria asing dan pada akhirnya ia hamil tanpa pria itu tahu." ucap Carla lagi yang langsung membuat Alex menatapnya, sepertinya pria itu sedikit tertarik dengan topik yang di bicarakan oleh wanita itu.


"Kenapa wanita itu tidak meminta pertanggung jawaban pria itu ?" timpal Alex kemudian.


"Temanku ini waktu itu masih sangat belia, baru 18 tahun dan dia juga yatim piatu jadi mungkin tidak tahu harus meminta bantuan siapa." sahut Carla kemudian.


"Jika aku bertemu pria itu aku pasti akan menghajarnya." imbuh Carla lagi dan itu membuat Alex nampak menarik sudut bibirnya.


Secara kepribadian wanita di hadapannya itu hampir mirip sekali dengan Elsa, namun wanita itu sedikit lebih manja.


Alex nampak menghela napasnya, lagi-lagi pikirannya selalu di penuhi oleh sosok Elsa di manapun ia berada.


"Jadi bagaimana dengan keadaan wanita itu sekarang ?" tanya Alex mengalihkan pikirannya.


"Dia telah menjadi designer sukses dan juga seorang ibu yang baik, kapan-kapan aku akan mengenalkanmu padanya." terang Carla dengan antusias karena rupanya topik yang ia bahas membuat pria itu sedikit tertarik dan itu membuatnya sangat senang.


Karena pria di hadapannya itu tipe laki-laki yang kurang banyak bicara hal-hal di luar pekerjaan dan itu membuat Carla kesulitan untuk bersikap akrab padanya.


"Designer ?" ulang Alex, apapun yang berhubungan dengan seorang designer Alex selalu mengingat Elsa. Wanita itu benar-benar tak bisa jauh dari pikirannya.


"Hm." sahut Carla menimpali.


"Oh ya beberapa hari lagi ulang tahun Papaku, apa kamu mau datang? papaku pasti akan senang sekali jika semua relasi bisnisku bisa berkumpul." imbuh Carla saat mengingat hari ulang tahun sang ayah dan ia ingin membawa pria itu dan memperkenalkan pada keluarganya.


"Aku belum tahu, banyak hal yang harus ku kerjakan di sini." timpal Alex yang nampak tak begitu tertarik dengan tawaran wanita itu.


"Jika membutuhkan bantuanku katakan saja aku pasti akan dengan senang hati melakukannya." tawar Carla kemudian.

__ADS_1


"Tidak, semua sudah di kerjakan oleh asistenku dan aku tinggal mengeceknya saja." timpal Alex seraya menatap ipad di tangannya.


Melihat Alex nampak sibuk dengan pekerjaannya, Carla merasa bosan lalu mengedarkan pandangannya ke sekitarnya dan tiba-tiba wanita itu mengulas senyumnya saat tak sengaja melihat Axel sedang berada di depan sebuah toko mainan tak jauh dari tempatnya duduk.


Kemudian ia segera memanggil bocah kecil itu. "Hey sayang, apa yang kamu lakukan di sana ?" ucapnya dengan sedikit berteriak hingga membuat Axel langsung menoleh.


Melihat sahabat ibunya itu, Axel segera mendekat. "Apa yang sedang tante lakukan di sini ?" tanya balik Axel hingga membuat Alex yang sedari tadi fokus dengan ipadnya langsung mengangkat wajahnya.


Pria itu nampak menatap Axel dengan lekat, wajah bocah itu seperti tidak asing namun ia tidak ingat pernah bertemu di mana.


Sepertinya Alex benar-benar lupa jika sebelumnya pernah melihat wajah Axel di dokumen yang pernah di berikan oleh asistennya tersebut.


"Tante sedang bersama teman, jadi kenapa kamu sendirian di mana ibumu ?" ucap Carla kemudian.


"Mommy pergi ke toilet dan memintaku untuk menunggu di sana tapi aku sangat bosan." terang Axel kemudian beralih menatap ke arah Alex.


"Kenapa paman melihatku seperti itu? apa karena aku tampan ?" ucapnya saat melihat Alex yang tak berkedip menatapnya dan itu membuat pria itu nampak tersenyum sinis.


"Kau terlalu percaya diri sekali, boy." sahut Alex kemudian.


"Dia putra dari temanku yang ku ceritakan tadi, bukankah dia sangat tampan." timpal Carla kemudian.


Namun tiba-tiba ponselnya berdering nyaring dan pria itu segera menjawabnya. "Hm, baiklah aku akan segera ke sana." ucapnya lalu Alex segera mengakhiri panggilannya.


"Aku harus pergi sekarang, asistenku sudah menjemputku." imbuhnya seraya beranjak dari duduknya.


"Baiklah padahal aku ingin memperkenalkan mu pada sahabatku." timpal Carla sedikit kecewa.


"Mungkin lain kali." sahut Alex, kemudian segera melangkahkan kakinya pergi. Saat melewati Axel pria itu nampak mengacak puncak kepalanya hingga membuat bocah itu terlihat kesal lalu kembali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Beberapa saat kemudian Elsa yang nampak panik terlihat sedikit lega saat melihat putranya bersama dengan Carla.


"Astaga sayang, aku mencarimu kemana-mana." ucapnya dengan napas ngos-ngosan.


"Dia bersamaku, apa kamu baik-baik saja ?" tanya Carla dengan khawatir.

__ADS_1


"Tadi toilet sedikit antri, terima kasih sudah menjaga putraku Carl." Elsa nampak lega karena putranya baik-baik saja.


Kemudian mereka segera meninggalkan tempat tersebut karena sebentar lagi hari mulai petang.


"Mommy, tadi aku bertemu dengan seorang paman." ucap Axel saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Paman ?" tanya Elsa yang nampak fokus mengemudi.


"Iya paman temannya tante Carla." terang Axel.


"Benarkah ?" Elsa nampak mengernyit karena saat ia datang tak melihat siapa pun bersama wanita itu kecuali sang putra.


"Mungkin itu pria yang di sukai oleh Carla, semoga saja mereka berjodoh." gumam Elsa kemudian.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kediamannya, Elsa yang baru keluar dari mobilnya nampak menatap rumah yang beberapa tahun ia tinggali itu.


Rumah penuh kenangan dengan sang putra yang harus rela ia jual untuk menutupi keuangannya yang semakin menipis, kini Elsa benar-benar tak punya apa-apa lagi.


Setelah ini ia akan mencari apartemen untuk ia tinggali bersama sang putra sampai keuangannya kembali membaik.


"Nona, perusahaan X milik nona Carla kenapa anda tidak meminta bantuan beliau saja." saran Sam malam itu, pria itu terlihat iba melihat keadaan wanita itu saat ini.


"Tidak, aku masih punya tabungan untukku bertahan hidup. Tapi aku sudah tak mampu menggajimu lagi jadi terima kasih untuk waktumu selama ini dan mulai hari ini kau ku bebaskan Sam. Carilah pekerjaan yang lebih baik, maaf sudah banyak merepotkan mu." ucap Elsa menatap asistennya itu.


"Jangan memikirkan hal itu nona, kau penyelamatku dan apapun yang terjadi kita lalui bersama-sama." tegas Sam, ia telah di pungut dari jalanan oleh wanita itu jadi mana mungkin ia akan meninggalkannya.


"Terima kasih." Elsa nampak bersyukur mempunyai seseorang seperti Sam.


Sementara itu Alex yang tertidur di kamar hotelnya nampak gelisah, sepertinya pria itu sedang bermimpi buruk.


"Tidak tuan, ku mohon jangan lakukan itu." mohon seorang gadis dengan isak tangisnya dan itu membuat Alex langsung terbangun dari tidurnya.


"Syukurlah, hanya mimpi."


Alex nampak mengusap wajahnya dengan kasar, entah kenapa kejadian beberapa tahun silam saat ia menodai seorang gadis dalam keadaan mabuk tiba-tiba hadir dalam mimpinya.

__ADS_1


Mungkin itu karena cerita Carla tadi sore hingga membuatnya mengingat perbuatannya dahulu.


"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan gadis itu sekarang ?" gumamnya kemudian.


__ADS_2