Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~126


__ADS_3

"Kau selalu saja mengancamku, cepatlah makan aku masih banyak kerjaan." Akhirnya Merry menyerah lalu mengikuti kemauan mantan suaminya itu.


"Duduk !!" perintah William saat wanita itu hanya berdiri dengan tangan bersendekap di depan dadanya sembari melihat ia makan.


"Itu akan sangat tidak sopan tuan William yang terhormat." Merry langsung menolak.


"Ini perintah !!" tegas William lagi yang mau tak mau membuat wanita itu menurut lalu berjalan mendekat dan menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi dengan sedikit kasar.


"Selalu saja pemaksaan." gerutunya dengan kesal.


"Buka mulutmu !!" perintah William kemudian yang langsung membuat wanita itu nampak melebarkan matanya.


"Kamu tahu caranya membuka mulutkan ?" tanya William saat mantan istrinya itu hanya diam saja.


Mantan istri? entahlah sampai saat ini William belum yakin jika mereka sudah bercerai, ia memang pernah mengirimkan surat pengajuan cerai itupun terpaksa ia lakukan karena perintah Martin namun entah wanita itu sudah mendatanganinya atau belum karena hingga kini surat cerai yang sah dari pengadilan belum ia dapatkan dan sepertinya ia harus memerintahkan James untuk segera mengeceknya lagi.


Semoga saja Martin tak pernah benar-benar mengurus perceraian mereka saat itu, karena itu akan menjadi senjatanya untuk mendapatkan wanita keras kepala di hadapannya itu lagi.


Merry yang malas berdebat akhirnya membuka mulutnya dan seketika sesuap makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Diam dan kunyah dengan benar !!" perintah William yang malas mendengar protes wanita itu.


Merry yang masih terkejut hanya bisa menurut dan segera mengunyah makanan dalam mulutnya, diam-diam hatinya langsung menghangat.


William tetaplah yang terbaik dari sekian pria yang pernah singgah di hatinya meski mulut pria itu sedikit pedas di dengar.


Kini sesuap demi sesuap makanan yang ada di atas meja telah pindah ke perut mereka berdua dengan sendok yang sama tentunya.


Pria itu tak pernah berubah tetap sama perhatian padanya dengan caranya sendiri.


"Kenapa kau seperti ini? selalu saja mempermainkan perasaanku." Merry hanya bisa bertanya dalam hati.


"Tak usah terharu begitu, kau bisa membalasnya dengan menciumku mungkin." ucap William yang langsung membuat wanita itu melotot lalu segera bangkit dari duduknya.


"Jaga bicaramu tuan William, meskipun saat ini aku sebagai pelayan anda bukan berarti anda bisa melecehkan ku seenaknya." tegas Merry, lalu segera membersihkan meja makan tersebut lalu memindahkan peralatan makannya ke atas trolinya.


"Permisi." ucapnya lalu menghentakkan kakinya meninggalkan kamar tersebut.


Braakk


"Astaga pelayan macam apa itu, untung aku cinta." William hampir terjungkat saat mantan istrinya itu membanting pintunya dari luar dengan keras.


Benar dugaannya sangat sulit menaklukkan hati wanita itu, bahkan jika ia mengemis pun wanita itu pasti akan tetap mempertahankan harga dirinya yang setinggi gunung itu.

__ADS_1


"Dari dulu kau memang lebih suka di paksa honey." gumamnya.


Lalu William segera menghubungi James untuk mencari tahu status pernikahannya dengan wanita itu. Meski sebelumnya ia yakin Martin telah mengurus semuanya tapi ia masih belum percaya jika belum mendapatkan buktinya.


Sore harinya Merry yang baru keluar dari hotel tersebut nampak menunggu taksi.


"Masuk !!" perintah William setelah menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Tidak perlu aku naik taksi saja." tolak Merry.


"Ini perintah !!" tegas William.


"Hei tuan William jam kerjaku sudah habis menjadi pelayanmu." keukeh Merry, enak saja bahkan kebebasannya pun akan di renggut oleh pria itu.


William yang merasa gemas langsung saja keluar dari mobilnya lalu tanpa banyak berkata pria itu langsung mengangkat wanita itu lalu memasukkannya ke dalam mobilnya.


"Lepaskan, astaga." Merry langsung memberontak namun tenaganya yang sudah lelah tak mampu mengimbangi pria itu.


Dan pada akhirnya ia menyerah dan membiarkan pria itu memasang sefty belt untuknya.


William yang berada dekat dengan wajah wanita itu, nampak mencuri pandang ke arah bibirnya. Bibir yang selalu menjadi candunya namun sebisa mungkin ia menahan untuk tidak lancang m3lum4tnya.


Setelah selesai William segera menarik dirinya lalu menutup pintu mobilnya dengan pelan, kemudian ia segera memutari badan mobilnya lalu masuk dan duduk di balik kemudinya.


"Hm." sahut William singkat, pria itu seakan tahu tujuan selanjutnya.


"Memang kamu tahu di mana putraku saat ini ?" tanya Merry kemudian.


"Putra kita bukan putramu saja, aku juga orang tuanya jika tidak ada benih unggulku dia tidak akan ada di dunia ini." ucap William seakan tak terima saat wanita itu selalu mengucapkan kata 'putraku'.


Merry langsung merendahkan suaranya. "Iya apa kamu tahu di mana Ariel berada saat ini ?" tanyanya kemudian, rasanya masih sangat enggan menyebut 'putra kita' di hadapan pria itu.


"Aku ayahnya tentu saja tahu." sahut William sembari membelokkan mobilnya ke sebuah sekolah kanak-kanak.


William bersyukur wanita itu memilih tempat sekolah yang bagus untuk putranya meskipun dalam keadaan yang sulit.


"Daddy ?" Ariel langsung berlari saat melihat ayahnya yang menjemputnya.


"Daddy atu tangen." ucap Ariel setelah berada dalam gendongan sang ayah.


"Daddy juga kangen sayang, maafkan Daddy ya." William nampak berkaca-kaca memeluk putranya tersebut.


"Daddy janan pelgi-pelgi lagi ya." mohon Ariel kemudian.

__ADS_1


"Kita takkan berpisah lagi sayang, Daddy janji." sahut William menenangkan.


Beberapa saat kemudian mobil mereka mulai melaju kembali, lalu William nampak mampir ke sebuah toko mainan dan membelikan putranya itu banyak mainan di sana.


"Akibat keegoisanmu itu membuat putraku menderita." ucap William seraya melirik ke spion depannya di mana putranya itu sedang bermain dengan mainan barunya di kursi belakang.


"Jangan hanya menyalahkan ku saja, kau juga bersalah." sahut Merry dengan sinis.


"Seandainya dulu kamu membatalkan pertunangan mu dengan bajingan itu dan kembali padaku semua ini takkan terjadi." balas William.


"Kau pikir aku tega menghancurkan pertunanganmu itu di saat hubungan kalian sedang mesra-mesranya." cibir Merry kemudian.


"Aku tak pernah mesra dengannya, kamu yang justru mesra dengan bajingan itu." balas William tak mau kalah, rasanya ia ingin mencincang Alan saat pria itu telah mencium wanita itu.


Kini suasana di dalam mobil itu terasa sangat panas seiring ungkapan rasa cemburu dari keduanya.


"Daddy dan Mommy belantem ?" tanya Ariel kemudian, bocah kecil itu langsung meletakkan mainannya lalu mencondongkan tubuhnya untuk menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Tidak sayang." sahut mereka bersamaan dan itu membuat Ariel langsung terkekeh.


"Daddy lumah Paman Alex di depan itu." Ariel langsung menunjuk rumah mewah dua lantai dengan pagar tinggi di depannya itu.


"Hm, baiklah." William langsung menghentikan mobilnya lalu segera melepaskan sefty beltnya.


"Kamu mau kemana ?" tanya Merry saat mantan suaminya itu hendak mengikutinya masuk ke dalam rumahnya.


"Tentu saja masuk." sahut William.


"Tidak, kamu sampai sini saja." tolak Merry, sepertinya wanita itu masih jengkel akibat perselisihan mereka di dalam mobil tadi.


"Daddy tidak boleh masuk sama mommy sayang." William langsung mengadu ke putranya tersebut dan tentu saja itu membuat Merry langsung melotot.


"Bukan begitu nak, bukannya kita harus izin ke Paman Alex dulu. Inikan rumahnya Paman Alex dan aunty Celine." Merry mencoba memberikan pengertian pada putranya tersebut.


Mendengar nama Celine, wajah Ariel langsung pias. Sejak ia tinggal di rumah tersebut wanita itu memang tak pernah ramah padanya.


"Jangan bersedih ya, secepatnya kita akan segera pindah ke rumah yang lebih besar dari rumah ini." bujuk William saat melihat putranya nampak sedih.


"Janji ?" ucap Ariel.


"Daddy janji." sahut William, kemudian mereka nampak berpelukan sangat lama sebelum akhirnya William meninggalkan tempat tersebut.


Setelah mobil William menghilang dari sana, Merry langsung mengajak putranya itu untuk segera masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Siapa pria kaya itu? apa dia calon mangsamu yang baru ?" ucap Celine yang baru menuruni anak tangga, sebelumnya wanita itu melihat sebuah mobil mewah baru saja meninggalkan mansionnya tersebut dan karena penasaran ia bergegas turun dari kamarnya.


__ADS_2