
"Katakan, apa kamu benar-benar mencintai pria itu ?" ucap William dengan penuh penekanan dan itu membuat Merry langsung menelan ludahnya.
"Will please, bukankah kita sudah bahas ini sebelumnya ?" balasnya kemudian, Merry berusaha untuk tidak goyah dengan keputusannya.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu, apakah kau masih mencintaiku ?" rupanya William masih belum menyerah, ia yakin wanita itu juga masih mencintainya.
"Jalan kita sudah berbeda Will, aku mencintaimu atau tidak itu takkan bisa merubah semua yang sudah terjadi." balas Merry, lalu menjauh dari himpitan pria itu.
William nampak frustasi dengan ego yang wanita itu pertahankan.
"Kenapa jika saling mencintai harus menyiksa diri ?" gumamnya, pria itu nampak mengepalkan tangannya dengan erat.
"Bisakah kamu antar aku ke kantor, 30 menit lagi aku ada meeting." mohon Merry kemudian.
William nampak mendesah kasar, kemudian pria itu merogoh sesuatu dari saku celananya.
"Baiklah, tapi tolong terima rumah ini karena hanya ini yang bisa ku lakukan buat putraku." ucapnya seraya menyerahkan kunci rumah tersebut.
"Tapi Will...."
"Aku tidak suka penolakan, kalian tidak harus membawa banyak barang untuk pindah kemari. Karena kebutuhan kalian sudah lengkap di sini." potong William.
"Aku memberikan rumah ini pada Ariel putraku dan kamu tak berhak menolaknya karena dia juga putraku." tegasnya kemudian.
Merry nampak terdiam, menolak pun tak ada gunanya karena pria itu pasti mempunyai banyak cara untuk membuatnya menerima itu dan mau tak mau akhirnya ia menerima kunci rumah tersebut.
Setelah itu William segera mengantar mantan istrinya itu ke kantornya.
Sesampainya di sana Merry nampak terkejut saat melihat Alan sudah menunggunya.
"Tuan William ?" Alan langsung memicing saat melihat tunangannya itu turun dari motor pria itu.
"Kalian kenapa bisa bersama ?" tanyanya kemudian.
"Al aku bisa jelasin semuanya, sebenarnya...." ucapan Merry terhenti saat tiba-tiba William menyelanya.
"Aku adalah ayah kandung Ariel dan kebetulan mobil dia bermasalah jadi aku mengantarnya kesini." tegas William.
Mendengar penuturan William, Alan nampak tercengang. Ia tak percaya jika pria itu adalah mantan suami tunangannya.
"Benar begitu Merr ?" tanyanya kemudian pada Merry.
"Hm." angguk Merry.
"Maafkan aku Al yang tidak jujur dari awal, tapi percayalah adanya dia tidak akan pernah mengubah hubungan kita. Kami tetap berhubungan semata-mata hanya karena Ariel." terang Merry kemudian yang langsung membuat Alan nampak sangat senang.
__ADS_1
"Terima kasih." ucapnya seraya memeluk pinggang wanita itu dengan posesif seakan ingin menunjukkan pada pria di hadapannya itu jika wanita itu saat ini adalah miliknya.
"Senang bertemu dengan anda tuan William, semoga ke depannya kita akan menjadi ayah yang baik bagi Ariel." ucap Alan seraya mengulurkan tangannya.
"Tentu saja." William langsung membalas jabat tangan pria itu, ada kilatan permusuhan dari keduanya saat saling beradu pandang.
Beberapa hari kemudian....
"Sejauh mana penyelidikan mu James ?" tanya William malam itu saat James baru menghadap padanya.
"Ternyata dugaan anda benar tuan, tuan Alan dan keluarganya sudah lama menjalankan bisnis gelapnya di sini hingga merambah ke luar negeri." terang James yang langsung membuat William nampak tersenyum miring.
"Beliau mempunyai beberapa saham club malam yang tersebar di berbagai kota maupun negara dan terindikasi sebagai prostitusi terselubung." imbuh James lagi.
"Sesuai dugaanku." ucap William.
"Untuk sementara hanya itu yang bisa saya informasikan tuan." ucapnya James kemudian.
"Baiklah, selidiki terus James. Aku tidak ingin putraku mendapatkan ayah sambung seorang bajingan." perintah William kemudian.
"Baik tuan." angguk James dengan patuh.
Keesokan harinya, William nampak berdiri di depan rumah yang ia berikan pada putranya beberapa hari yang lalu.
Ia sudah memberikan cukup waktu untuk wanita itu berbicara pada sang putra dan hari ini ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan darah dagingnya tersebut.
"Ini sudah jam delapan pagi, tolong jangan ajarin putraku untuk menjadi pemalas." cibir William.
"Aku ibunya, aku tahu apa yang terbaik untuknya." balas Merry seraya membuka pintu pagarnya.
"Apa dia masih tidur ?" tanya William setelah melangkah masuk lalu mengikuti langkah wanita itu masuk ke dalam rumah tersebut.
"Hm." Merry mengajak pria itu masuk ke kamar Ariel yang berada di lantai dua.
Tokk
Tokk
Merry segera mengetuk beberapa kali, lalu langsung membuka pintu yang memang tak di kunci tersebut.
Ceklek
Bunyi pintu di buka dan nampak seorang bocah sedang menyambutnya dengan senyuman lebar di atas ranjangnya.
"Mommy." teriak Ariel saat melihat sang ibu.
__ADS_1
"Sudah bangun sayang, lihat mommy bersama siapa ?" ucap Merry sembari mendekati putranya yang sepertinya baru bangun tidur itu.
"Daddy ?" Ariel nampak terkejut saat melihat William, meskipun semalam ibunya telah mengatakan jika ayahnya akan datang berkunjung.
"Ya, ini Daddy sayang." William berjalan mendekat.
"Stop Daddy." Ariel tiba-tiba mengangkat tangannya saat ayahnya itu ingin mendekatinya.
"Aliel butuh penjelacan, kenapa Daddy tidak mengenalku waktu itu ?" tanya Ariel saat mengingat pertama kali bertemu dengan pria yang mengaku sebagai ayahnya tersebut.
Merry nampak tersenyum puas saat melihat putranya itu bersikap tegas pada William, sungguh ia belum rela jika kasih sayang bocah itu akan terbagi untuk dirinya dan juga pria itu.
"Daddy waktu itu belum tahu sayang, karena mommy mu diam-diam membawamu pergi dari Daddy saat kamu masih dalam perut Mommy." sahut William dengan wajah sedihnya dan tentu saja itu membuat Merry langsung melotot.
Apa pria itu sengaja ingin membuat putranya membenci dirinya.
"Benalkah begitu mommy ?" tanya Ariel menatap sang ibu.
"Bu-bukan begitu sayang, waktu itu...."
"Waktu itu Daddy sakit parah tapi mommy mu justru meninggalkan Daddy dan membawamu pergi jauh." sela William yang sontak mendapatkan tatapan tajam dari mantan istrinya itu.
"Kenapa mommy jahat cekali ?" Ariel menatap ibunya dengan wajah tak percaya.
"Mommy tidak seperti itu sayang, percayalah mommy mempunyai alasan waktu itu." Merry nampak bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya pada bocah kecil itu.
"Mommy dulhaka kalena cudah picahin Ariel dan Daddy." Ariel nampak mencebik seraya melipat tangannya di depan dadanya, terlihat sangat angkuh sama seperti sang ayah.
"Bu-bukan begitu sayang." Merry jadi serba salah, kemudian wanita mendekati William atau lebih tepatnya membawa pria itu menjauh untuk berbicara.
"Kau harus bertanggung jawab, gara-gara kamu Ariel jadi menuduhku yang tidak-tidak." bisiknya kemudian pada pria itu.
"Putraku sudah besar, dia tahu mana yang benar dan salah." sahut William, rupanya pria itu merasa menang karena berhasil mempengaruhi sang putra.
"Tapi itu semua bohong, nyatanya kamu yang meninggalkan aku waktu." sinis Merry.
"Aku tidak pernah meninggalkanmu, tapi ayahmu yang memaksaku untuk meninggalkan mu." sahut William tak ingin di salahkan.
"Tapi kamu juga tak ada usahanya." cibir Merry.
"Aku sudah berusaha tapi kamu menipuku dengan mengirim foto pernikahan bohongan kamu waktu itu." William tak kalah mencibir.
"Apa kalian cedang beltengkal ?" tiba-tiba saja Ariel berada tepat di belakang mereka dan itu membuat Merry dan William langsung terlonjak kaget.
"Bu-bukan sayang, kami sedang berunding." sahut mereka dengan kompak.
__ADS_1
"Belunding agal Daddy tinggal di cini cama kita ya mommy ?" tanya Ariel kemudian.
"Ya, benar sekali sayang. Daddy akan tinggal di sini." timpal William yang tanpa ia tahu mantan istrinya itu sudah siap untuk menerkamnya hidup-hidup.