
"Nyonya." panggil pengawal Merry tiba-tiba saat wanita itu baru keluar kelasnya.
"Dalle, Dallas? apa kalian baik-baik saja ?" Merry langsung terkejut saat melihat kedua pengawalnya itu.
"Kami sangat baik, nyonya. Terima kasih sudah membela kami di hadapan tuan William." Dallas nampak bersyukur mempunyai seorang nyonya yang tidak pernah bersikap semena-mena padanya.
Tidak seperti Natalie dan Elena, kedua wanita yang sedang dekat dengan tuannya itu selalu bersikap sombong padanya maupun teman-temannya yang lain.
"Semua salahku jadi sudah menjadi kewajibanku untuk membela kalian." sahut Merry.
"Tapi biasanya tuan tak pernah mentolerin sebuah kesalahan baik itu sekecil apapun, tapi semenjak ada nyonya tuan sedikit mempunyai belas kasih." timpal Dalle.
"Benarkah ?" Merry nampak tak percaya.
"Benar nyonya dan sekarang tuan sedang menunggu nyonya di luar." ucap Dallas.
Mendengar itu Merry nampak mengulas senyumnya, karena William ternyata menempati janjinya untuk menjemputnya dan bukan bersama Natalie sesuai permintaan wanita itu pagi tadi.
Merry segera melangkahkan kakinya keluar kampusnya di ikuti oleh kedua pengawalnya tersebut.
Senyumnya terus mengembang saat melihat suaminya sedang bersandar di badan mobilnya.
Pria itu terlihat tampan dengan kemeja hitam yang di lipat sebatas siku beserta kacamata riben yang bertengger di hidung mancungnya.
Beberapa mahasiswa yang baru keluar dari kampusnya nampak menatap kagum suaminya.
William seorang pengusaha muda kaya raya yang tentu saja menjadi idaman para wanita.
Pria itu nampak melihat jam mewah keluaran brand terkenal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kamu terlambat satu menit dua puluh empat detik, honey." ucapnya seraya menatap gadis di depannya itu.
"Baru satu menit ya ampun." protes Merry.
"Tidak ada alasan honey, cepat masuk dan pikirkan hukuman seperti apa yang kamu inginkan !!" perintah William seraya membuka pintu mobil untuk istrinya itu.
Merry nampak mencebik menatap suaminya lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
Setelah menutup pintunya, William segera memutari mobilnya menuju kemudinya.
Mengenakan sefty beltnya lalu mulai melajukan kendaraannya itu.
"Jadi sudah kamu pikirkan, hukuman apa yang pantas kamu dapatkan ?" ucap William seraya menatap jalanan depannya itu.
"Aku tidak tahu, lagipula hanya terlambat 1 menit 24 detik kenapa kamu permasalahkan juga ?" protes Merry dengan kesal.
"Hukuman tetap hukuman, honey." terang William.
"Aku belum memikirkannya." sinis Merry lalu menegakkan tubuhnya dan pandangannya lurus ke depan.
Di tengah mengemudikan mobilnya William nampak mencuri pandang istrinya dari ujung kaki hingga rambutnya.
Wanita itu nampak mengenakan sebuah hoodie, celana jeans beserta sneaker yang menurutnya jauh dari kata seksi.
"Pakaianmu sangat jelek." ucapnya kemudian yang langsung membuat Merry melotot menatapnya.
Ingin sekali wanita itu menggetok kepala suaminya, namun itu tak mungkin ia lakukan jika nyawanya tak ingin melayang sia-sia.
__ADS_1
Lagipula bukannya pakaian tersebut pria itu yang memilihkan untuknya lalu kenapa sekarang protes, Merry benar-benar tidak mengerti.
"Kita mau ngapain kesini ?" Merry nampak terkejut saat menatap pusat perbelanjaan yang ada di depannya itu.
William yang baru menghentikan mobilnya langsung melepaskan sefty beltnya.
"Cepat turunlah !! perintah William tanpa berniat menjawab pertanyaan istrinya itu.
Pria itu segera membuka pintu mobilnya kemudian bergegas turun.
"Dasar pemaksa." gerutu Merry lalu ikut turun dari mobil tersebut.
Setelah mengunci mobilnya William langsung meraih tangan istrinya, menggenggamnya dengan posesif lalu mengajaknya masuk ke dalam mall tersebut.
"Selamat siang tuan William, tempat ini sudah saya kosongnya dan aman untuk anda kunjungi." sapa seorang security saat William mendekat.
"Hm." angguk William lalu mengajak istrinya untuk segera masuk ke dalam Mall tersebut.
"Apa kamu gila, kenapa harus kamu kosongkan mall ini ?" protes Merry saat melihat pusat perbelanjaan tersebut nampak sepi pengunjung padahal semua toko sedang buka.
"Saya tidak suka keramaian." sahut William beralasan, meski ada alasan lain namun tak perlu pria itu ucapkan.
"Apa bagusnya mall sepi." gerutu Merry seraya mengedarkan pandangannya dan setiap penjaga toko yang ia lihat nampak mengangguk sopan padanya.
William mengajak istrinya itu mengelilingi pertokoan lalu menaiki eskalator menuju lantai atas.
"Selamat siang tuan William dan nona." sapa beberapa penjaga toko dengan sopan saat mereka baru masuk.
"Hm." William hanya berdehem tanpa berniat membalas sapaan mereka.
"Selamat siang juga." balas Merry seraya tersenyum nyengir menatap mereka lalu melangkahkan kakinya saat suaminya membawanya menjauh dari sana.
"Kenapa harus aku, bukannya tadi Natalie yang mau memilihkannya ?" gumam Merry, meski jauh dalam lubuk hatinya wanita itu nampak senang.
"Baiklah, kamu ingin kemeja seperti apa ?" tanya Merry kemudian.
"Yang menurutmu bagus, ambil saja." sahut William seraya mendudukkan dirinya di sebuah sofa.
Sebelum memilih kemeja, Merry nampak mengamati penampilan William untuk mencari kemeja yang cocok dengannya.
Bahkan gadis itu berjalan mendekati pria itu lalu menelisik penampilannya dari dekat.
"Apa yang sedang kamu lakukan ?" William melotot menatap istrinya itu.
Merry tersenyum nyengir. "Kamu salah tingkah ya ku perhatikan ?" ucapnya menggoda.
"Omong kosong, segera pilihkan beberapa kemeja untukku !!" William nampak mendorong wajah istrinya agar menjauh.
"Iya-iya." gerutu Merry seraya melangkah pergi.
William yang melihat istrinya menggerutu pergi nampak menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.
Namun saat wanita itu berbalik badan dengan membawa beberapa kemeja ke arahnya, William langsung memasang wajah dinginnya kembali.
"Bagaimana kalau ini, baguskan ?" Merry membawa dua buah kemeja berwarna biru muda dan biru langit pada suaminya itu.
Kemeja yang terlihat sangat cerah dan gadis itu pikir akan bisa mengurangi aura galak sang suami.
__ADS_1
William yang sebelumnya tak pernah memakai pakaian cerah nampak mengerutkan dahi seolah sedang membuat pertimbangan.
"Bagaimana? yang ini saja ya, aku suka yang ini." mohon Merry dengan wajah gemas menatap suaminya itu.
William nampak tersenyum dalam hati, tanpa bersikap gemas seperti itu. Istrinya sudah sangat mengemaskan baginya.
"Baiklah." sahutnya kemudian yang langsung membuat Merry melebarkan senyumnya.
"Pilihanku tak pernah salah." ucapnya memuji dirinya sendiri, lalu kembali lagi memiliki kemeja yang lainnya.
Gadis itu nampak memilih beberapa kemeja yang tentunya berwarna cerah semua.
Dan saat melewati manekin, Merry langsung menghentikan langkahnya lalu pandangannya tertuju pada sepasang manekin dengan pakaian couple berwarna merah muda.
Sebuah kemeja merah muda dengan celana putih serta sebuah dress berwarna senada.
Gadis itu nampak melirik suaminya sekilas lalu senyumnya langsung terbit.
"Aku mau yang itu." Merry menunjuk pakaian couple tersebut pada sang pelayan yang sedari tadi mengikutinya.
"Baik, nona. Saya akan ambilkan yang baru." pelayan tersebut segera pergi untuk mengambil pesanan Merry.
Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali dengan lipatan pakaian di tangannya.
"Silakan nona." ucapnya seraya memberikan pakaian tersebut pada Merry.
Merry segera membawanya ke ruang ganti lalu di pakainya gaun tersebut.
Gaun dengan perpaduan warna merah muda dan putih itu terlihat pas di tubuh gadis itu.
Kemudian Merry segera meninggalkan ruang ganti tersebut.
"Bagaimana bagus tidak ?" tanyanya dengan menunjukkan penampilannya pada William.
William nampak termangu, apapun jenis pakaian yang di pakai istrinya selalu terlihat cantik di matanya.
Gaun selutut dengan tali model spaghetti itu nampak pas di tubuh wanita itu.
"Bagaimana, bagus tidak ?" ulang Merry saat suaminya tak menanggapi.
William langsung mengalihkan pandangannya. "Biasa saja." sahutnya yang langsung membuat Merry nampak mencebik.
Dirinya memang tak sesempurna Natalie, tapi tidak bisakah pria itu sedikit saja menyenangkan hatinya.
Lalu Merry nampak tersenyum miring lalu mengulurkan tangannya yang berisi sebuah kemeja pada suaminya.
"Ini..." William nampak tak percaya dengan pakaian berwarna merah muda yang di berikan oleh istrinya itu.
"Itu pakaian couple, kamu mau kan memakainya ?" mohon Merry yang langsung membuat William memicing.
Pria itu nampak tak percaya, bagaimana bisa wanita itu menyuruhnya memakai pakaian yang menurutnya sangat norak.
"Jangan macam-macam." tegurnya kemudian.
Merry nampak mencebik, sudah ia duga pria itu pasti akan menolaknya.
"Nggak mau ya sudah, sepertinya Jason...." ucapan Merry tertahan saat William langsung merebut pakai tersebut dari tangannya.
__ADS_1
"Kau sebut nama pria itu lagi di depanku, akan ku ledakan kepalanya." ucapnya dengan sinis hingga membuat Merry menelan ludahnya.
Kemudian William segera pergi ke ruang ganti dan tentu saja langsung di ikuti oleh Merry yang nampak senyum-senyum sendiri.