Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~136


__ADS_3

Anne Wijaya



James



"Aunty kenapa bengong ?" tanya Ariel tiba-tiba saat melihat Anne sedang duduk merenung di hadapannya.


"Nggak sayang, Aunty sedang tidak bengong. Sudah habis makannya hm ?" Anne langsung tersenyum menatap bocah kecil di hadapannya itu.


"Aunty kangen kakek ya ?" bocah kecil itu mulai penasaran setelah tadi pagi sempat mendengar wanita itu menghubungi ayahnya.


"Hm, tentu saja." sahut Anne lalu segera beranjak dari duduknya untuk mencuci bekas peralatan makan bocah tersebut.


Wanita itu sesekali nampak menghela napasnya saat mengingat pembicaraannya dengan sang ayah, ayahnya harus segera check up ke dokter namun ia belum mempunyai uang.


Rasanya tak mungkin jika ia meminta gajinya di bayar di muka sedangkan ia baru sehari bekerja.


"Aunty !!" panggil Ariel yang langsung membuat Anne tersadar dari lamunannya.


"Ya sayang." sahutnya lalu berjalan mendekati bocah itu.


"Paman James tampan tidak ?" tanya Ariel tiba-tiba yang tentu saja membuat Anne langsung menganga mendengar penuturan bocah berusia 4 tahun tersebut, namun itulah Ariel gumamnya memaklumi seakan wanita itu sangat hafal dengan sikap anak asuhnya itu.


"Hm, iya lumayan." sahut Anne kemudian, James memang tampan tapi sangat menjengkelkan baginya.


Sedangkan Ariel hanya mengangguk-angguk kecil dan itu membuat Anne nampak mengernyit, bocah di hadapannya itu bukanlah bocah sembarangan karena jika sudah bertanya tentang sesuatu itu berarti sangat menarik baginya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Nak ?" desak Anne menatap curiga bocah di hadapannya itu.

__ADS_1


"Tidak Aunty, Paman James itu tampan dan Aunty juga cantik sama seperti mommy dan Daddy." sahut Ariel jujur dan itu makin membuat Anne mengernyitkan dahinya, jangan bilang bocah itu ingin membuatnya dekat dengan pria bermuka datar itu.


Oh tidak, bisa-bisa ia akan mati muda karena darah tinggi jika mempunyai suami seperti pria itu.


"Sayang, apa kamu mau Aunty ajarin menggambar ?" Anne langsung mengalihkan pembicaraan, ia akan membuat bocah itu berpikir sesuai umurnya dan tidak bicara macam-macam lagi apalagi mengenai dirinya dan James.


"Iya, iya mau Aunty. Ariel ambil buku di kamar dulu ya." Ariel nampak antusias kemudian ia bergegas ke kamarnya.


Seharian itu mereka melalui harinya dengan gembira, Anne yang memang sudah mengenal Ariel sejak lahir sedikit pun tak merasa terbebani dengan tingkah bocah itu.


"Paman !!" teriak Ariel saat James baru datang, bocah kecil itu langsung berlari ke arah James yang nampak membawa mainan di tangannya.


Anne yang sedang menyusun makan malam di meja makan langsung tersenyum saat melihat kebahagiaan Ariel, bocah kecil itu memang pantas bahagia mengingat sejak dalam kandungan hari-harinya selalu di temani air mata ibunya.


Anne jadi membayangkan jika ia sudah menikah nanti, pasti akan seperti ini ia sibuk mengurus anaknya sembari menunggu suami pulang kerja.


Membayangkan itu Anne nampak senyum-senyum sendiri, semoga secepatnya ia di pertemukan dengan pria idamannya yang tentunya bukan James pria datar dengan kepedasan mulutnya tingkat dewa.


"Saya membayarmu mahal bukan untuk menjadi gila, jadi segera selesaikan kerjaanmu." ucapnya kemudian berlalu menuju kamarnya sebelum wanita itu menimpalinya.


"Apa dia bilang tadi ?" Anne mendadak geram, kalau saja penggorengan panas yang ia pegang kosong pasti sudah ia buat membungkam mulut pedas pria itu.


"Sial, semoga saja kamu akan menjadi perjaka tua seumur hidup." gerutu Anne seraya menempatkan capcay di dalam penggorengan tersenyum ke atas piring saji dan itu tak luput dari pengawasan Ariel, bocah kecil itu nampak tertawa kecil melihat tingkah sang pengasuh.


Beberapa saat kemudian James nampak keluar dari kamarnya, pria itu terlihat segar setelah membersihkan dirinya. Seharian ini pekerjaannya sangat menumpuk karena William menyerahkan semua pekerjaan padanya selama pria itu berbulan madu dengan istrinya.


Malam itu James yang menggunakan kaos polo dan celana training panjang terlihat sangat tampan apalagi di tunjang oleh tubuhnya yang atletis. Namun itu tak membuat Anne tertarik, karena wanita itu terlanjur tidak suka padanya.


Kini mereka nampak makan dalam diam dan hanya Anne yang sesekali mengeluarkan suaranya untuk menawarkan Ariel makanan.


"Paman James masakan Aunty enakkan ?" ucap Ariel tiba-tiba saat melihat pria yang duduk tak jauh darinya itu nampak makan dengan lahap.

__ADS_1


"Hm." James mengangguk ragu menatap bocah kecil itu.


Anne yang mendengar itu nampak tersenyum hangat, masakannya memang enak buktinya sekecil Ariel saja sangat lahap makan, batinnya.


"Ariel sudah selesai dan mau lanjutin gambar lagi." ucap Ariel setelah menghabiskan makanannya, lalu bocah itu segera beranjak dari duduknya.


Kini tinggallah Anne dan James di meja makan tersebut, mereka pun nampak makan dalam diam dan hanya suara sendok dan piring yang saling beradu.


"Bagaimana? masakanku enakkan ?" akhirnya Anne mengeluarkan suaranya, wanita itu memang bukan tipe wanita pendiam yang mampu berlama-lama untuk diam.


Ia bisa bisa mati jika terus-menerus tak mengeluarkan suaranya entah itu kata-kata penting atau hanya sekedar bualan.


"Biasa saja, makanan seperti ini banyak saya temui di pinggir jalan." sahut James di tengah kunyahan terakhirnya, kemudian pria itu meraih gelas air minumnya. Setelah minum lalu mengelap bibirnya dengan tisu.


Setelah itu segera beranjak dari duduknya. "Besok jangan bangun kesiangan lagi karena saya sudah terbiasa minum kopi dan sarapan ringan sebelum ke kantor." ucapnya setelah itu segera berlalu menuju kamarnya.


Anne yang melihat kepergian pria itu nampak sangat kesal, seandainya sedang tak butuh duit pasti ia tak sudi kerja dengan pria itu.


Selain bermuka datar pria itu juga sangat sombong dan setiap perkataan yang keluar dari bibirnya selalu sukses membuatnya meradang.


"Dasar lelaki sial ku sumpahi tak ada wanita yang mau menikah denganmu, mentang-mentang kaya tapi sangat sombong sekali." umpat Anne sembari mencuci peralatan makannya di wastafel, ia masih heran dirinya yang menjadi asisten Merry selama bertahun-tahun saja tak membuatnya cukup kaya namun pria itu kekayaannya justru mengalahkan CEO-CEO yang ada di Indonesia.


"Pasti dia sudah mencurangi harta tuan William, lihat saja sampai waktunya tiba yang namanya bangkai pasti akan tercium juga." gumamnya berapi-api sembari memeras lap basah dengan sekuat tenaga seakan lap itu adalah tubuh James yang ia remukkan.


"Apa kau sudah terbiasa bicara sendiri? jangan sampai saya mempekerjakan wanita gila." ucap James tiba-tiba yang langsung membuat Anne berbalik badan, lalu menelan ludahnya saat melihat pria itu yang kini sudah kembali duduk di meja makan tak jauh darinya.


"Mampus aku, sejak kapan dia duduk di sana? jangan sampai aku yang baru sehari bekerja di pecat."


.


Part full pasangan baru, ada yang suka ga jika cerita Anne dan James ini di bikin panjang👀 tentunya setelah kisah percintaan WillMer kelar ya.

__ADS_1


__ADS_2