Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~225


__ADS_3

"Apa benar yang di katakan oleh mereka, kamu sedang hamil ?" Nyonya Darrien langsung menyelidik, ia tidak ingin nama baik kantornya tercoreng hanya karena ulah seorang karyawan yang tidak penting.


"Memang mengunjungi dokter kandungan harus hamil dahulu ya ?" timpal Anne dengan menatap mereka satu persatu.


"Akhir-akhir ini aku merasakan perutku sering kram, jadi aku memutuskan pergi memeriksanya." imbuhnya kemudian.


"Lagipula jika aku hamil anak tuan James atau tuan William kalian mau apa? apa kalian akan marah pada salah satu calon pewaris perusahaan ini ?" ucap Anne lagi yang langsung membuat mereka semua nampak melebarkan matanya, namun detik selanjutnya Anne langsung tertawa.


"Aku hanya becanda, astaga." ucapnya, kemudian wanita itu segera berlalu dari sana meninggalkan mereka yang masih terdiam di tempatnya.


"Syukurlah, dia hanya becanda." timpal salah satu dari mereka setelah Anne pergi.


"Jika cari informasi itu yang benar, lagipula mana mungkin tuan William atau tuan James tertarik pada wanita kampungan itu." tegur Jennifer dengan kesal.


Sementara Anne sepanjang jalan nampak menahan senyumnya. "Baru mendengar gosip saja susah setegang itu, bagaimana jika mereka tahu yang sebenarnya? semoga saja dokter jantung tidak penuh nantinya." gumamnya kemudian.


Siang harinya Anne kembali menghabiskan makan siangnya di taman seorang diri, karena hari ini Rose sedang ada meeting penting dan ia di ultimatum untuk tidak meninggalkan area kantornya.


Sekretaris itu benar-benar bertingkah seperti suaminya saja yang selalu bersikap posesif padanya.


"Sendiri lagi ?" ucap seseorang tiba-tiba yang langsung membuat Anne menoleh.


"Tuan Marco." ucapnya sedikit terkejut.


"Kau kesini lagi ?" imbuhnya lagi seraya mengedarkan pandangannya.


"Kebetulan tadi lewat sini." sahutnya seraya melepaskan masker setelah memastikan tak ada yang memperhatikannya.


"Kamu sudah makan? ambillah aku membawa banyak makanan." Anne nampak mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari dalam paper bag yang ia bawa.


"Sepertinya kau suka sekali makan." timpal Marco kemudian.

__ADS_1


"Aku tidak mau berhemat soal makanan, aku dulu pernah susah sekali makan. Jadi sekarang saat aku ingin sesuatu aku pasti akan membelinya dan saat aku merasakan makanan yang enak aku juga ingin orang lain merasakannya." Anne nampak menatap beberapa tukang kebun yang sedang makan makanan pemberiannya dan itu tak luput dari pengawasan Marco.


"Kau selalu melakukan itu? apa kamu tidak takut suatu saat uangmu akan habis ?" Marco tak habis pikir untuk apa wanita ini susah payah menghabiskan uangnya untuk orang yang tak memberikannya manfaat.


"Aku sangat mempercayai hukum tabur tuai, jika kita mebabur kebaikan maka suatu saat kita juga pasti akan menui kebaikan dan begitu juga sebaliknya. Lagipula sesuatu yang baik itu tak hanya berupa uang tapi juga badan yang sehat, urusan lancar maupun hubungan dengan keluarga dan sesama yang baik. Bukankah sesimpel itu sebuah kebahagiaan ?" ucap Anne kemudian.


"Saat aku bisa berbagi dengan orang lain entah kenapa aku merasa sangat bahagia, aku merasa pikiran dan hatiku menjadi tenang. Sepertinya lain kali kau bisa mencobanya." imbuh Anne seraya tersenyum menatap beberapa tukang kebun tak jauh darinya itu.


Marco yang sedari tadi mendengarnya hanya bisa terpaku, selama ini ia tak pernah memikirkan hal itu. Baginya harta dan kekuasaan adalah nomor satu tak peduli bagaimana cara ia mendapatkannya bahkan dengan bermain curang sekali pun.


Namun nyatanya apa yang ia punya saat ini pun tak dapat membuatnya merasa bahagia, ia kesepian bahkan Jennifer yang menjadi satu-satunya keluarganya saat ini tak mau menerimanya juga. Lalu untuk apa sebenarnya ia hidup?


"Ayo makanlah, kamu takkan kenyang jika hanya melihatnya saja." Anne langsung menarik tangan Marco lalu meletakkan sebungkus sandwich di sana.


"Kamu tahu, dari dulu aku ingin sekali mempunyai seorang kakak laki-laki. Saat ibu tiriku memukulku aku berharap dia bisa melindungiku dengan tangan kekarnya, namun nyatanya aku hanya seorang sulung yang harus kuat bagaimana pun keadaannya." imbuh Anne lagi dengan mencoba mengulas senyumnya.


"Tapi aku bahagia menjadi sulung karena dengan begitu aku tahu apa itu artinya bertanggung jawab dan berbagi." ucap Anne lagi, setelah itu ia merapikan peralatan makannya lalu segera beranjak dari duduknya.


Sementara Marco nampak mengangkat sudut bibirnya saat menatap sandwich di tangannya, lalu ia segera memakannya seraya mengedarkan pandangannya menatap beberapa tukang kebun yang sedang makan dengan menu yang sama seperti dirinya.


Entah kenapa rasanya sangat berbeda, lebih enak dan membuat hatinya yang sedingin es perlahan menghangat.


"Si4l4n, kau benar-benar membuatku menjadi orang lain."


Marco segera meninggalkan tempat tersebut, lalu melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan pandangannya tak sengaja menatap beberapa tunawisma yang tinggal di pinggir jalan.


"Saat aku bisa berbagi dengan orang lain entah kenapa aku merasa sangat bahagia, aku merasa pikiran dan hatiku menjadi tenang. Sepertinya lain kali kau bisa mencobanya."


Tiba-tiba ucapan Anne kembali terngiang-ngiang di kepalanya hingga membuat pria itu tiba-tiba mengerem mendadak.


"Si4l4n, sebenarnya siapa kamu? apa kamu malaikat yang di kirim oleh Tuhan? kenapa kamu tidak seperti Jennifer atau wanita-wanita lain di luaran sana saja ?"

__ADS_1


Marco langsung mengumpat kesal seraya memukul stir mobilnya, bahkan dalam waktu yang singkat wanita itu berhasil memporak-porandakan prinsip sekaligus hatinya.


Namun sepertinya hati dan pikiran pria itu tak sinkron, karena saat pikirannya menolak tapi hatinya justru menuntunnya untuk segera turun dari mobilnya.


Mengambil dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar isinya dan membagikan kepada para tunawisma di sana.


"Terima kasih banyak, tuan." ucap mereka dengan wajah bersyukur dan Marco yang melihat itu tiba-tiba hatinya menghangat.


Rupanya bisa membuat seseorang tersenyum meski dengan hal kecil pun itu sangat menyenangkan.


Beberapa hari kemudian....


Hampir satu minggu ini, Marco tak pernah absen bertemu dengan Anne di taman saat jam makan siang tiba. Pria itu juga tak lupa membawa beberapa makanan untuk ia bagikan pada tukang kebun di sana dan itu membuat Anne merasa senang karena telah berhasil menyentuh hati pria itu.


"An." Panggil Marco saat Anne sedang menatap hamparan taman di depannya hingga membuat wanita itu mengangkat wajahnya, pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat namun Anne langsung mengalihkan pandangannya.


Entah kenapa kali ini ia merasa tatapan pria itu sangat berbeda. "Aku harus kembali ke kantor, kamu ingatkan wanita bernama Jennifer yang ku ceritakan itu sangat galak. Dia suka melaporkan ku pada nyonya Darrien jika terlambat masuk kerja." ucapnya kemudian.


Marco terkekeh, ia sangat menyukai jika wanita di hadapannya itu bercerita dengan berapi-api padanya. Sangat polos dan juga lucu pikirnya.


"Baiklah, tapi besok kita bertemu di sini lagikan ?" timpal Marco dengan suara berharap.


"Aku tidak janji." sahut Anne mengingat suaminya besok pulang dari luar kota setelah hampir satu minggu meninggalkannya, kemudian ia segera berlalu pergi dari sana.


Keesokan harinya....


Pagi itu saat Anne baru membuka matanya ia di kejutkan oleh kehadiran sang suami yang tiba-tiba sudah berada di sisinya.


"Astaga, apa aku sedang bermimpi ?" ucapnya tak percaya.


"Jadi kau menganggap kehadiranku ini hanya mimpi? atau sebenarnya kau sedang mengharapkan kehadiran pria lain ?" ucap James dengan menatap datar istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2