
Siang itu nampak seorang pria sedang memeriksa sebuah proposal, kemudian segera meletakkannya kembali setelah selesai membacanya.
"Jika saya menjadi investor di proyek anda, apa keuntungannya akan sesuai ?" ujarnya kemudian.
"Tentu saja tuan, itu bisa kita bicarakan secara rinci dan transparan nantinya." Merry mencoba meyakinkan.
Sudah beberapa hari ini ia berkunjung dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya, namun hingga detik ini satu pun tak ada yang berniat menanamkan investasinya bahkan ia tak sedikit mendapatkan pelecehan verbal dari mereka.
Pria itu nampak mengangguk kecil seraya berpikir sejenak. "Sebenarnya saya bisa saja memberikan investasi yang lebih besar dari yang kau kira tapi segala sesuatu pasti ada hitung-hitungannya bukan." ucapnya kemudian.
"Katakan tuan, apa anda ingin menaruh orang kepercayaan anda di kantor kami? nanti pasti akan saya sediakan kantornya." terang Merry dengan antusias.
"Bukan, bukan itu nona." sahut pria tersebut.
"Lalu ?" Merry nampak menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
Pria tersebut segera bangkit dari duduknya lalu melangkah mendekati Merry.
"Saya tahu saat ini kau sedang membutuhkan banyak pendanaan dengan nilai yang tak sedikit meski pada akhirnya kau akan mendapatkan banyak keuntungan nantinya, tapi sepertinya saya kurang sabar jika harus menunggu waktu itu tiba." terang pria tersebut yang kini nampak berdiri tak jauh dari Merry dengan bersandar di meja kerjanya.
"Tolong langsung saja tuan, saya kurang mengerti maksud anda." mohon Merry kemudian.
"Bagaimana jika menghabiskan malam bersama, hanya semalam ku rasa itu cukup sebagai tanda awal hubungan kerja sama kita." ucap pria itu yang langsung membuat Merry melebarkan matanya lalu bergegas beranjak dari duduknya.
"Maaf tuan, sepertinya saya salah cari investor." tegasnya, kemudian melangkahkan kakinya pergi.
"Tunggu !!" cegah pria tersebut.
Merry nampak menghela napasnya, untuk kesekian kalinya ia di perlakuan kurang baik oleh calon investornya.
"Kenapa menolak tawaranku hm, bukankah itu tawaran yang sangat menggiurkan ?" ucap pria tersebut seraya melangkah mendekati Merry.
"Saya tidak akan menjual harga diri saya tuan, jadi lupakan saja niat anda itu." Merry berucap dengan sinis.
"Harga diri? ck, kau bukan seorang perawan jadi lupakan harga dirimu. Kau hanya seorang janda, jadi bersikaplah seperti janda pada umumnya." balas pria itu dengan tak kalah sinis, namun....
Plakk
Merry langsung melayangkan tamparannya pada pria tersebut hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipinya.
"Jaga ucapan anda tuan, apapun status seorang wanita harus tetap anda hormati dan anda harus ingat tuan mungkin saja posisi seperti saya suatu saat bisa saja di alami oleh keluarga anda sendiri." tegas Merry, kemudian berlalu keluar dari ruangan tersebut dengan menutup pintunya sedikit kasar.
"Sial." umpat pria tersebut seraya memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Merry beberapa saat lalu.
Sesampainya di dalam mobilnya, Merry nampak terisak. Untuk kesekian kalinya ia mendapatkan pelecehan verbal dan itu sungguh sangat menyakitkan.
Lagipula apa ada yang salah dengan statusnya? apa segitu rendahnya seorang janda di mata pria?
Merry segera mengusap air matanya, ia tidak boleh menyerah dan ia akan tetap berjuang karena ia yakin ia mampu.
__ADS_1
"Silakan duduk !!" perintah seorang pria saat Merry datang ke kantornya beberapa saat kemudian.
Kali ini pria tersebut terlihat sangat sopan dan Merry yakin ia bisa meyakinkannya untuk menanamkan modal di proyeknya nanti.
"Terima kasih, tuan." ucap Merry setelah menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa seberang pria tersebut.
"Saya sudah membaca proposal yang ada kirim sebelumnya, sebenarnya saya sangat tertarik hanya saja...." pria tersebut nampak menjeda ucapannya sejenak.
"Tuan Collins memberikan kami tawaran yang sangat menggiurkan." lanjut pria itu.
"Saya tidak mengerti maksud anda tuan." Merry nampak mengernyit tak mengerti, lagipula siapa tuan Collins ia baru dengar nama itu.
"Beberapa hari lalu saat kami menghadiri peresmian kantor WS Corp, tuan Collins selaku perwakilan WS Corp yang datang langsung dari Amerika menawarkan banyak kerja sama." terang pria tersebut.
"Namun dengan syarat kami tidak boleh menanamkan modal pada anda, sepertinya beliau sangat tertarik dengan proyek yang di berikan tuan Alan pada anda nona, jadi lebih baik serahkan saja proyek tersebut pada beliau." terang pria tersebut yang langsung membuat Merry nampak geram, sebenarnya apa salahnya hingga perusahaan WS itu seakan tak menginginkannya berkembang.
"Baiklah, tuan. Terima kasih sebelumnya atas waktunya." ucap Merry seraya bangkit dari duduknya.
Kemudian setelah berbincang sebentar wanita itu segera meninggalkan kantor tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan ?" gumam Merry seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri, ia tak menyangka perusahaan WS Corp begitu licik.
"Aku harus membuat perhitungan pada mereka, terutama pria bernama Collins itu." imbuhnya lagi, kemudian segera mengemudikan mobilnya kembali.
Sementara itu di tempat lain, James dan Alan nampak berbincang di sebuah Cafe.
"Sepertinya saya yang harus berterima kasih pada anda tuan Collins dan mohon maaf jika beberapa hari lalu saya tidak hadir di peresmian kantor anda karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa saya tinggalkan." sahut Alan beralasan, padahal ia tak datang karena Merry tak mau menerima undangannya untuk menemaninya.
"Tidak apa-apa, hanya acara kecil-kecilan saja." sahut James.
"Anda terlalu merendah tuan dan saya rasa orang sepenting anda ingin bertemu dengan saya bukan hanya untuk berbasa-basi saja bukan ?" ucap Alan to the point yang langsung membuat James nampak tertawa kecil.
"Tentu saja, tuan Alan. Baiklah langsung pada intinya saja, jujur saya sangat tertarik dengan proyek terbaru anda, hanya saja anda sudah memberikannya pada orang lain." terang James.
"Ya anda benar tuan Collins." sahut Alan membenarkan.
"Saya tahu proyek itu masih dalam perencanaan dan saya harap anda sudi melimpahkannya pada kami, percayalah semua investor setuju jika perusahaan kami yang mengerjakan." terang James lagi dan sontak membuat Alan melebarkan matanya.
"Ini beberapa investor yang sudah menyetujui kerja sama dengan saya." James menyodorkan berkas pada Alan dan tentu saja membuat pria itu terkejut karena beberapa investor yang akan Merry ajak kerja sama ternyata sudah pindah haluan pada pria di hadapannya tersebut.
"Saya rasa anda akan rugi besar jika tetap melanjutkan kerja sama dengan perusahaan wanita itu, bahkan asal anda tahu tanpa bantuan investor pun itu hal mudah bagi perusahaan kami untuk mengerjakannya." imbuh James lagi.
Alan nampak berpikir, mungkin benar ucapan pria itu namun tujuan awalnya memberikan proyek pada Merry adalah untuk mendekati wanita itu, namun jika Merry kesulitan mencari investor maka dirinya juga yang akan rugi karena telah membuang-buang banyak waktu.
"Akan saya pikirkan." ucap Alan kemudian.
"Baiklah saya tunggu kabar baik dari anda segera tuan Alan." ujar James seraya beranjak dari duduknya lalu menjabat tangan pria itu.
Setelah itu James segera meninggalkan Cafe tersebut, ia yakin usahanya akan berhasil.
__ADS_1
Dalam perjalanannya menuju hotelnya, James nampak mendapatkan telepon dari sang tuan.
"Bagaimana, James ?" tanya William dari ujung telepon.
"Sudah tuan, saya rasa tuan Alan akan setuju jika tidak maka beliau akan menanggung banyak kerugian karena pada akhirnya proyek akan mandek karena kekurangan pendanaan." sahut James.
"Bagus, kalau begitu segera kembali kesini James dan biarkan Weslyn yang melanjutkan semuanya." perintah William kemudian.
"Baik, tuan. Besok sore kami akan kembali ke Amerika." sahut James lalu mengakhiri panggilannya.
Sesampainya di hotel tempatnya menginap, James nampak melihat bocah kecil yang akhir-akhir ini membuatnya kesal sedang berada di Cafe bersama pengasuhnya.
Hmm
James berdehem nyaring hingga membuat Ariel yang sedang makan es krim langsung menoleh padanya.
"Paman." sapa Ariel duluan dengan senyum lebarnya hingga membuat James langsung mendekatinya, mungkin mood bocah itu sedang baik.
"Paman mau makan es eskim ?" ucap Ariel seraya memperlihatkan beberapa cup es krim di hadapannya.
"Boleh ?" tanya James dengan mengulas senyum kecilnya, rupanya bocah di hadapannya itu moodnya benar-benar baik hingga mau menawari es krim miliknya itu.
"Boyeh tapi beyi cendiyi cana maca minta-minta." sahut Ariel yang sontak membuat James menyurutkan senyumnya, dirinya benar-benar di kerjai pikirnya.
James jadi penasaran siapa orang tua dari bocah tersebut dan pasti bukan anak sembarangan.
"Paman sedang tidak ingin makan es krim." ucap James yang mencoba untuk bersabar menghadapi bocah menyebalkan di hadapannya tersebut.
"Teyus Paman mau apa ?" tanya Ariel kemudian, mulutnya nampak penuh dengan es krim vanila kesukaannya.
James yang sedang menatap Ariel entah kenapa tiba-tiba bayangan wajah sang tuan langsung melintas di pikirannya.
Jika di lihat-lihat wajah bocah itu memang sangat mirip dengan tuannya, meski itu hanya sebuah kebetulan pikirnya.
"Paman ingin tahu namamu." sahut James kemudian.
"Nama Paman capa ?" tanya balik Ariel dan tentu saja itu membuat James nampak gemas bercampur kesal.
"Panggil saja Paman James." sahut James.
"Talau nama atu Aliel." ucap Ariel.
"Aliel ?" James nampak menaikkan sebelah alisnya.
"Ariel, tuan." ralat pengasuhnya Ariel.
"Nama lengkapnya ?" tanya James pada wanita itu.
"Nama lengkapnya....
__ADS_1