Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~188


__ADS_3

"Bu anda baik-baik saja ?" Andrew nampak mengernyit saat melihat managernya itu tiba-tiba berpegangan dinding saat hendak melangkah.


"Aku sedikit pusing, Ndrew." sahut Anne, entah kenapa saat baru beranjak dari duduknya tiba-tiba kepalanya terasa berputar-putar.


"Apa mau saya beritahukan keadaan anda pada tuan James, bu ?" tawar Andrew kemudian.


"Apa kamu sedang ingin memancing masalah, Ndrew ?" tukas Anne menatap asistennya itu.


"Tidak bu, saya hanya khawatir." sahut Andrew.


"Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku mau ke toilet sebentar." ucap Anne, lalu ia segera meninggalkan departemennya tersebut.


Perutnya tiba-tiba mual dan ia harus segera pergi ke toilet, namun sesampainya di sana ia hanya mual-mual biasa. Sepertinya ia sedang masuk angin saat ini.


Setelah merasa lebih baik Anne kembali ke ruangannya, tapi ia mampir ke pantry terlebih dahulu untuk membuat teh hangat.


Hmm


Tiba-tiba seseorang berdehem hingga membuat Anne langsung menoleh. "Selamat pagi nyonya Darrien, apa anda ingin membuat teh hangat juga ?" sapanya saat melihat HRDnya itu sedang berdiri tak jauh darinya dengan tangan bersendekap di dada.


Anne yang sedang duduk nampak meniup tehnya yang sedikit panas, tak peduli HRDnya itu siap menerkamnya.


"Ini jam berapa ?" tanya nyonya Darrien dengan tak ramah.


"Jam 10, nyonya Darrien." sahut Anne setelah menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu kembali menyesap tehnya.


"Dan kamu sudah bersantai di sini ?" timpal Nyonya Darrien dengan wajah sinisnya.


"Saya merasa pusing nyonya, jadi saya ingin membuat teh hangat." sahut Anne tanpa merasa tertekan dengan pandangan intimidasi wanita berstatus perawan expired itu.


"Ck, alasan klasik. Jika memang sudah bosan bekerja di sini pintu keluar sangat terbuka untukmu." ucap nyonya Darrien to the point.


"Terserah nyonya saja." Anne segera beranjak dari duduknya, kemudian membawa secangkir tehnya meninggalkan wanita itu.


"Tidak sopan, aku belum selesai bicara denganmu." Teriak nyonya Darrien, ia tak suka jika ucapannya di abaikan begitu saja.


"Apalagi nyonya Darrien, kamu memintaku untuk kembali bekerjakan ?" Anne nampak menghela napasnya, tubuhnya terlalu letih untuk menghadapi wanita itu.

__ADS_1


"Ini peringatan terakhir untukmu, jangan pernah meninggalkan ruanganmu selain urusan pekerjaan. Lagipula sudah ada OB jika kamu menginginkan teh atau kopi, jadi jangan jadikan itu alasan untuk bermalas-malasan bekerja. Ingat waktu satu menit itu sangat berharga." tegas nyonya Darrien mengingatkan.


"Satu menit sangat berharga ya, lalu mereka anda anggap apa ?" Anne nampak menggerakkan dagunya ke arah beberapa karyawan yang baru keluar dari toilet sembari berbincang seru.


"Me-mereka sedang merapikan penampilannya, bukankah itu juga perlu karena sebagai costumer service wajib berpenampilan menarik." ujar nyonya Darrien beralasan.


"Ck, lalu ngerumpi apa juga tidak membuang-buang waktu juga ?" cibir Anne seraya melirik ke arah beberapa wanita yang masih asyik ngobrol di depan toilet.


"Sungguh tidak profesional." imbuh Anne dengan menatap sinis HRDnya tersebut, lalu segera berlalu pergi dari sana.


Kepalanya yang sakit semakin sakit gara-gara wanita itu, sebenarnya ada masalah hidup apa HRDnya tersebut karena sejak pertama kali ia datang sudah tak di sukainya.


"Kalian semua, cepat kembali bekerja !!" teriak nyonya Darrien pada beberapa karyawan yang masih betah berada di depan toilet hingga membuat mereka langsung berhamburan pergi.


"Selalu saja menjawab, mentang-mentang dekat dengan tuan James. Lihat saja jika ponakanku mulai bekerja di sini, perhatian tuan James akan selalu tertuju padanya." gumam nyonya Darrien, mengingat keponakannya adalah teman masa remaja pria itu dan mereka sempat dekat namun ponakannya harus melanjutkan pendidikannya di luar negeri.


Bisa di bilang ponakannya adalah cinta pertama pria itu dan cinta pertama sampai kapan pun akan memiliki tempat tersendiri meskipun bertahun-tahun tak bertemu.


Lalu dengan gosip yang beredar jika James sudah mempunyai kekasih tak membuat nyonya Darrien patah arang untuk menjodohkan ponakannya dengan pria itu.


Karena ia sudah puluhan tahun bekerja untuk William dan ia harus mendapatkan keuntungan dari itu semua, ia lelah terus-menerus menjadi karyawan dan ia juga menginginkan menjadi seorang nyonya jika ponakannya berhasil menikah dengan James sang pemilik 20 persen saham di perusahaan tersebut.


"Lebih baik pura-pura tidak melihat saja."


Anne segera berbelok saat suaminya itu akan melewatinya, rasanya malas sekali bertemu dengan pria itu.


"Tunggu !!" ucap James saat melihat istrinya pura-pura tak melihatnya padahal sebelumnya pandangan mereka sempat bertemu.


Anne yang pura-pura tak mendengar langsung saja melangkahkan kakinya menuju lorong sepi entah akan menuju kemana asalkan dia tak bertemu dengan pria ini.


"Astaga, apa dia sudah mulai tuli ?" James nampak geram saat sang istri mengabaikannya, lalu pria itu segera melangkahkan kaki panjangnya mengejar wanita itu.


Mencekal tangannya hingga membuat Anne langsung berhenti lalu menatapnya.


"Tuan James, apa yang anda lakukan di sini ?" ucapnya pura-pura terkejut dan bibirnya langsung tersenyum meringis.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kamu lakukan di sini ?" ucap James dengan menatap curiga istrinya itu.

__ADS_1


"A-aku mau kesana, iya ke sana." Anne menunjuk ke ujung lorong dimana ada sebuah ruangan yang ia sendiri tidak tahu ruangan apa itu.


Meski sudah beberapa bulan bekerja Anne belum terlalu hafal dengan ruangan di setiap lantai kantornya.


"Kesana ?" James nampak memicing.


"Iya tentu saja kesana, memang mau kemana lagi. Bukankah di sana cuma ada satu ruangan." sahut Anne yang membuat James semakin memicing lalu pria itu mendekatkan wajahnya yang sontak membuat Anne menelan ludahnya.


"Ka-kamu mau ngapain? ini tempat umum tuan James." Anne langsung mengingatkan karena suaminya atau bisa di bilang juga suaminya orang itu selalu tak tahu tempat jika ingin menyentuhnya.


Anne langsung memejamkan matanya saat pria itu semakin mendekatkan wajahnya, namun hingga beberapa saat pria itu tak kunjung menciumnya membuat Anne langsung membuka matanya.


"Astaga." Anne langsung melotot saat suaminya sudah berlalu menjauh dari hadapannya.


"Jika ingin berbohong, sedikitlah berkelas." ucap James seraya berlalu pergi, pria itu hanya ingin mengecek apa istrinya benar akan ke ruangan khusus merokok tersebut namun setelah ia mengendus napasnya tak ada bau rokok di sana.


"Bu, anda di sini ?" Andrew yang baru keluar dari ruangan di ujung sana langsung terkejut saat melihat Anne berada di lorong.


"Kamu ngapain di sini ?" tanya Anne balik.


"Maaf bu saya habis merokok, kepala saya sedikit pusing tadi." sahut Andrew salah tingkah.


"Merokok, di sana ?" Anne langsung menunjuk ruangan tersebut.


"Benar bu, itu ruangan khusus merokok." sahut Andrew.


"Jadi itu ruangan khusus merokok ?" Anne langsung menepuk keningnya sendiri.


Ia pikir suaminya tadi ingin menciumnya ternyata hanya ingin memastikan dirinya merokok atau tidak.


"Sial, dia pasti mengejekku karena sudah menginginkan ciumannya."


Anne langsung menghentakkan kakinya dengan kesal, namun saat akan masuk ke dalam ruangannya Anne melihat seorang wanita cantik sedang berjalan dengan anggun ke ruangan sang suami.


Tak hanya dirinya saja yang terperanga tapi juga beberapa karyawan lain yang nampak terpanah dengan keanggunan wanita itu.


"Siapa wanita itu, apa dia kekasih barunya? ck, dasar lelaki buaya apa dia mau beristri tiga ?"

__ADS_1


.


Ngakak brutal🤦‍♂️🤦‍♂️


__ADS_2