
Elsa yakin Alex takkan bisa menolak ciumannya dan ia akan membuat pria itu bertekuk lutut padanya, meski itu juga sangat bertentangan dengan hati kecilnya.
Namun demi memuluskan misinya ia akan melakukan apapun itu meski harus menyerahkan miliknya yang sangat berharga sekali pun.
Sementara itu Alex yang tadinya sangat emosi menghadapi wanita itu kini ia seakan tersihir oleh setiap sentuhannya.
Ciuman wanita itu seolah sebagai penawar dari gemuruh dadanya yang hampir meledak karena sebuah amarah yang tertahan.
Kini mereka saling memanggut dan m3lum4t satu sama lainnya, bahkan sebelah tangan Alex yang menganggur pun kini nampak menelusup masuk ke dalam kemeja wanita itu dan m3r3m4s salah satu gundukan kenyal miliknya yang masih terbungkus bra.
Ah, sial. Alex benar-benar hilang akal setiap di hadapkan dengan Elsa, bahkan pria itu mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja milik wanita itu hingga kini menyisakan bra berenda yang menutupi asetnya yang besar itu.
Tanpa berpikir panjang Alex langsung menurunkannya hingga kini bongkahan gunung kembar milik wanita itu terpampang menggodanya yang langsung membuatnya melahapnya dengan gemas.
Elsa yang niatnya hanya ingin menggoda pria itu pun ikut bergairah akibat setiap sentuhannya yang membuatnya langsung meremang, bahkan ia merasakan miliknya di bawah sana mulai lembab.
Namun ia masih waras untuk tidak membiarkan pria itu berbuat lebih jauh tanpa menuruti keinginannya, kemudian Elsa langsung mendorong tubuh kekar Alex menjauh saat tangan pria itu baru saja membelai miliknya di bawah sana dengan jemarinya.
"Aku tidak akan melakukannya kecuali di kamar pribadimu dan istrimu itu." ucapnya seraya merapikan kembali kancing kemejanya yang berantakan.
"Sial !!
Alex nampak mengumpat dalam hati, namun ia takkan memperlihatkan kekesalannya karena sama saja ia akan kehilangan wibawanya di depan wanita penggoda itu.
Memang siapa wanita itu berani sekali mengaturnya dan sampai kapan pun ia takkan menyakiti sang istri dengan meniduri wanita lain di kamar pribadinya.
Cukup ia pernah melakukan kesalahan fatal yang mungkin akan ia rahasiakan seumur hidup dari wanita itu, di mana ia pernah tak sengaja meniduri seorang gadis dalam keadaan mabuk dan merenggut kesuciannya saat itu.
Namun ia tak mengingat siapa gadis itu, tapi rasanya begitu sama saat ia menyentuh Elsa. Tapi ia yakin mereka adalah dua gadis yang berbeda.
Gadis yang ia tiduri waktu itu begitu polos bahkan hanya bisa menangis saat ia terus-menerus menghentakkan tubuhnya merenggut kegadisannya.
Sedang gadis di hadapannya kini bahkan tak lebih dari seorang j4l4ng penggoda para pria hidup belang.
"Pergi dari sini sekarang juga !!" perintah Alex kemudian dengan nada dingin.
"Tentu saja, terima kasih atas kudapannya lumayan membuat calon sel telurku sehat." sahut Elsa seraya mengambil tasnya kemudian segera berlalu pergi dari sana.
Namun baru beberapa langkah wanita itu kembali berhenti. "Penawaranku masih sama jika kau berubah pikiran." ucapnya dengan tersenyum menggoda, setelah itu Elsa benar-benar meninggalkan pria itu dalam keadaan frustasi karena hasratnya yang belum terpenuhi.
"Si4l4n !!"
Alex langsung mengumpat kesal, cukup ia pernah melakukan kesalahan dan takkan pernah ia ulangi lagi. Meskipun ia tahu istrinya juga tak sebaik dirinya, tentu saja Alex mengetahui sepak terjang wanita itu saat menggeluti dunia model.
__ADS_1
Tapi ia yakin wanita itu benar-benar berubah setelah meninggalkan dunianya dahulu dan mulai mengabdikan diri menjadi istrinya.
Karena sesungguhnya cinta itu bisa bersatu jika saling menerima kekurangan dan mau belajar memperbaikinya bersama.
Sementara itu di sebuah hotel nampak dua orang berlawan jenis sedang bermandikan peluh akibat percintaan dahsyat mereka.
Meski hari masih pagi namun tak membuat semangat mereka luntur, bahkan tenaga mereka seakan tak ada habisnya menggapai nirwana untuk ke sekian kalinya.
"Jangan lakukan itu, suamiku bisa murka jika melihatnya." protes Celine saat Marco yang sedang berada di atas tubuhnya nampak mengecupi kulit lehernya dan sedikit menggigitnya, sementara miliknya di bawah sana terus menghujam milik wanita itu dengan kuat.
Marco nampak terkekeh, lama tak menjamah tubuh wanita itu rupanya masih tetap sama selalu menolak saat ia hendak menandai tubuhnya.
"Baiklah, as you wish honey." ucapnya kemudian lalu menarik miliknya yang masih menegang keluar dan tentu saja itu membuat wanita itu nampak kecewa.
"Move, sayang !!" perintah Marco seraya merebahkan tubuhnya dan Celine yang tahu apa yang di inginkan oleh pria itu langsung bangun lalu menaiki tubuhnya.
Dan kini penyatuan mereka kembali terjadi, Celine yang kini berada di atas dapat mengendalikan permainan sesuka hatinya.
Wanita itu nampak menaik turunkan tubuhnya seiring rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Lebih cepat honey, kau selalu nikmat seperti dahulu." racau Marco.
Saking nikmatnya mereka seakan lupa jika mereka bukan pasangan yang sah, bahkan Celine pun seolah kembali liar seperti saat menjadi model dahulu.
Namun pesona Marco yang tak pernah lekang oleh waktu mampu membuatnya mengingkari janjinya pada dirinya sendiri untuk tetap setia pada sang suami.
Beberapa saat kemudian mereka telah mengakhiri penyatuannya setelah sama-sama merasa puas dan Celine yang baru membersihkan tubuhnya di toilet nampak sedikit terkejut saat Marco sudah menunggunya di depan pintu.
Pria itu juga telah mengenakan pakaian kerjanya kembali dan kini nampak memasang wajah seriusnya.
"Ada apalagi ?" tanya Celine kemudian.
"Jika kamu ingin pulang, duluan saja aku masih ingin mengeringkan rambutku." imbuhnya seraya mengambil pengering rambut di lemari hotel, Celine tidak ingin suaminya itu melihatnya pulang dalam keadaan rambut yang masih basah atau bahkan tercium aroma tubuh pria lain.
Untuk itu ia tadi membersihkan tubuhnya dan juga rambutnya dengan sangat bersih agar suaminya itu tak curiga.
"Ck, jadi setelah puas kau ingin mengusirku begitu saja ?" cibir Marco dengan tersenyum miring.
"Lalu kau mau apa? lagipula kita melakukannya atas dasar suka sama suka jadi tak ada yang di rugikan." tegas Celine, ia bukanlah sosok wanita yang mudah di stir begitu saja.
"Bagaimana jika suaminya mengetahui istrinya yang ia kira setia itu rupanya telah menghianatinya dengan tidur bersama rival bisnisnya ?" ucap Marco yang langsung membuat Celine mematikan alat pengering rambutnya lalu menatap pria itu dengan tajam.
"Astaga, sejak kapan kau suka ikut campur kehidupan pribadiku ?" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Sejak hari ini." tegas Marco.
"Katakan, apa yang kau inginkan dariku ?" Celine nampak jengah menatap pria itu.
"Proyek." sahut Marco.
"Proyek apa aku tidak mengerti ?"
"Baru-baru ini suamimu mendapatkan beberapa proyek dari James ku harap kau mampu menggagalkannya." terang Marco.
"Aku tidak bisa, lagipula aku tak mengerti masalah itu." tolak Celine.
"Baiklah rupanya kau lebih suka kehilangan ATM berjalanmu itu dari pada membantuku." timpal Marco seraya berjalan menjauhi wanita itu.
"Tunggu apa yang akan kau lakukan ?" Celine langsung mengejarnya.
"Ku rasa kau cukup pintar untuk mengerti ucapanku." cibir Marco menatap wanita itu sejenak lalu berbalik badan dan segera meninggalkan kamar hotel itu.
"Ah, sial."
Celine nampak mengumpat kesal, bisa-bisanya ia tadi tergoda dengan tawaran pria itu saat berada di butik tadi.
Marco yang awalnya hanya ingin mengajaknya menikmati kopi di pagi hari rupanya telah membooking sebuah kamar hotel untuk mereka.
Brukk
Celine yang baru keluar dari kamar hotel dan berjalan terburu-buru di lobby nampak tak sengaja menabrak seseorang.
"Aku tak sengaja, kau baik-baik saja ?" ucapnya seraya membantu wanita yang ia tabrak tadi memunguti barang-barangnya.
"Kau ?" Celine langsung terkejut saat mengetahui siapa wanita itu, wanita yang sama saat ia temui di pesta waktu itu.
Entah kenapa ia merasa wajah wanita itu begitu tak asing seolah dahulu mereka sering bertemu sebelumnya.
"Selamat siang, senang bertemu denganmu lagi." sapa Elsa dengan ramah.
"Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini ?" imbuh Elsa lagi.
"Tidak ada dan bukan urusanmu." sahut Celine tak ramah, kemudian wanita itu segera berlalu pergi tanpa mempedulikan Elsa lagi.
Sementara Elsa nampak tersenyum sinis saat di abaikan begitu saja, lalu pandangannya tak sengaja ke arah Cafe di mana Marco sedang menikmati kopi di sana.
"Baiklah, aku tahu apa yang baru saja kalian lakukan."
__ADS_1