
"Ini barangnya, tuan." seorang pria nampak menyerahkan sebuah bungkusan berwarna hitam pada William, entah apa isinya namun sepertinya sangat penting.
"Apa Joan sudah datang ?" William mengedarkan pandangannya ke arah jalanan mencari sosok yang ia tunggu, lalu ia kembali menghadap ke arah anak buahnya tersebut.
"Mungkin sebentar lagi tuan." sahut anak buahnya itu.
"Ah itu dia." pria itu nampak memperhatikan sosok pria yang sedang berlari menyeberangi jalan ke arahnya.
"Maaf tuan saya terlambat karena tadi ada sedikit masalah." pria bernama Joan itu nampak terengah-engah seakan baru saja berlari kiloan meter, kemudian pria itu segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikannya pada William.
"Joan, awas." salah satu anak buah William langsung berteriak saat melihat sebuah mobil melintas dengan menembakkan sebuah peluru ke arah pria tersebut.
Beruntung Joan langsung menghindar, namun siapa sangka peluru itu justru menyerempet kemeja William.
"Anda baik-baik saja, tuan ?" kedua anak buahnya tersebut langsung khawatir.
"Aku baik-baik saja." William nampak menatap kemejanya yang sedikit robek.
"Maaf tuan gara-gara saya anda...." Joan menjeda ucapannya, sungguh pria itu merasa bersalah karena aksi pengintaiannya di ketahui oleh targetnya namun beruntung ia bisa kabur dari kejaran mereka.
"Tidak apa-apa, lebih baik kalian segera menghapus semua rekaman cctv yang ada di sekitar sini jangan sampai mereka mengetahui kalian bekerja sama dengan ku !!" perintah William kemudian, beruntung ia tadi memunggungi jalanan hingga penembak tersebut tak mengenalinya dan sepertinya hanya Joan yang menjadi incarannya.
"Baik, tuan."
Sementara itu Merry yang terbangun dan tak melihat sang suami di sisinya, ia segera beranjak dari tidurnya.
"Will !!" teriaknya seraya turun dari ranjangnya, ia langsung membuka pintu kamar mandi namun tak ada pria itu di sana.
"Tidak, dia tidak mungkin pergi ninggalin aku." Merry bergegas membuka pintu balkon kamarnya tapi pria itu pun tak ada juga di sana.
"Pasti sedang di luar." Merry segera berlari menuju pintu kamarnya lalu segera membukanya dan....
"Kamu sudah bangun ?" William langsung mengulas senyumnya saat melihat istrinya itu baru membuka pintu kamarnya.
"Will, kamu dari mana saja? kenapa pergi tak memberitahuku ?" Merry langsung memberondong beberapa pertanyaan pada pria itu.
"Cari angin sebentar." William nampak tergelak saat melihat wajah khawatir wanita itu.
"Syukurlah, aku kira kamu pergi." Merry terlihat lega lalu ia memberikan jalan agar suaminya itu segera masuk.
__ADS_1
William yang bergegas masuk langsung melangkah ke dalam kamar mandi untuk mengganti kemejanya yang sobek akibat terkena tembakan tadi.
"Kamu mau ikut mandi ?" William menaikkan sebelah alisnya saat istrinya itu ikut masuk ke dalam kamar mandinya.
"Tidak, baiklah aku akan tunggu di luar." Merry yang terlalu khawatir tak menyadari jika suaminya itu sudah bertelanjang dada, lalu ia segera melangkah keluar.
"Kamu mau kemana, hm ?" Sepertinya William tak ingin menyia-nyiakan kesempatan karena pria itu telah menarik tangan istrinya untuk mendekat.
"Aku akan menunggumu di luar, katanya kamu mau mandi." sahut Merry namun detik selanjutnya air shower yang baru saja di nyalakan oleh suaminya itu langsung membasahi tubuhnya hingga pakaiannya pun ikut basah.
"Kamu harus mandi honey, kamu tidak inginkan kita terbang ke Indonesia dalam keadaan bau." ucap William seraya melepaskan kancing pakaian wanita itu satu persatu.
"Benarkah kita akan kesana? kamu tidak bohongkan ?" Merry nampak tak percaya saat suaminya akan mengajaknya menjemput sang putra, padahal liburan mereka masih ada beberapa hari lagi di pulau ini.
"Hm, tentu saja." William nampak menelan ludahnya saat melihat tubuh polos sang istri dan tatapan pria itu menyadarkan Merry akan penampilannya saat ini.
"Kamu selalu saja mencari kesempatan." Merry langsung tertunduk malu namun bukan William yang tak mampu membuatnya menyerah.
Dan kini wanita itu hanya pasrah saat pria itu melancarkan sentuhan demi sentuhannya hingga membuatnya tak berdaya dan menginginkan lebih.
William langsung mendorong pelan tubuh istrinya itu ke dinding kamar mandi lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus dan sedikit menuntut.
"Will, please." Merry langsung melepaskan panggutannya saat titik-titik sensitifnya di mainkan oleh suaminya itu.
"As you want, honey." William yang juga sudah tak mampu menahan hasratnya langsung mengangkat sebelah kaki istrinya itu sedikit ke atas lalu ia segera menghentakkan miliknya.
Kini keduanya nampak saling memacu untuk mencapai sebuah kenikmatan, air shower yang dingin kini terasa hangat seiring percintaan panas mereka.
Setelah puas bermain di dalam kamar mandi mereka kembali melanjutkan permainannya di atas ranjangnya hingga ******* panjang dari keduanya menandakan jika mereka telah sampai pada puncaknya.
"Terima kasih." ucap William seraya mengecup dahi istrinya itu, lalu ia segera beranjak dari atas tubuhnya setelah seluruh cairan percintaannya ia keluarkan semua di dalam rahim wanita itu.
Merry yang lelah hanya menanggapinya dengan lenguhan kecil, lalu wanita itu kembali terlelap.
"Sepertinya penerbangan kita tunda besok pagi saja." ucap William yang langsung membuat Merry kembali membuka matanya.
"Tidak, aku mau sekarang." ucapnya seraya menatap suaminya itu.
William yang awalnya hanya ingin menggodanya kini nampak tergelak. "Aku tidak yakin kamu mampu untuk berdiri, honey." ejeknya mengingat bagaimana percintaan panas mereka tadi yang lumayan menguras tenaga.
__ADS_1
"Tentu saja aku bisa." Merry segera turun dari ranjangnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan tertatih, tubuhnya rasanya remuk sekali hingga membuatnya seperti tak mampu berjalan lagi namun baru beberapa langkah ia merasakan badannya tiba-tiba melayang.
"Will." teriaknya saat pria itu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu selalu sok kuat." cibir William.
Beberapa saat kemudian mereka telah siap lalu segera meninggalkan villanya tersebut.
Keesokan paginya...
Setelah menempuh lebih dari 17 jam, pagi itu William dan Merry telah tiba di Apartemen di mana putranya tersebut tinggal bersama Anne dan James.
Merry dan William sengaja tak memberitahu kedatangannya karena tak ingin mengganggu waktu istirahat mereka mengingat ia tiba di Bandara hari masih sangat pagi.
"Ini akan menjadi kejutan untuk putra kita." ucap Merry sepanjang ia melangkah menuju Apartemen James.
William yang melihat kegembiraan di wajah istrinya itu hanya bisa mengulas senyum tipisnya.
"Mommy, Daddy ?" Ariel langsung berteriak saat melihat kedua orang tuanya sudah berdiri di depan pintu Apartemennya.
"Kejutan, kamu senang hm ?" Merry langsung duduk bersimpuh menyamakan tingginya dengan tinggi putranya tersebut lalu ia segera memeluk bocah kecil itu.
"Mommy sangat merindukanmu sayang." ucapnya kemudian.
"Apa kamu baik-baik saja hm? apa Paman James dan Aunty Anne baik padamu ?" Merry nampak mengecek tubuh putranya itu setelah mengurai pelukannya.
"Ariel baik-baik saja Mommy, mereka sangat baik." sahut Ariel.
"Sayang, kenapa kamu yang membuka pintunya? di mana Paman James dan Aunty ?" William yang melihat Apartemen nampak sepi langsung memicing.
"Hm, mereka masih tidur." sahut Ariel dengan ragu.
"Benarkah? sepertinya kita terlalu pagi." timpal Merry seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tapi tak biasanya James tak siaga seperti ini." William yang terlihat kesal langsung masuk ke dalam kamar asistennya tersebut dan...
Brakkk
"Kalian ?" William nampak melebarkan matanya saat melihat James dan Anne sedang tertidur di atas ranjang yang sama.
__ADS_1