
"Jadi apa kita harus melakukannya lagi ?" ujar William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya.
Ingin sekali gadis itu menggetok kepala suaminya agar tidak selalu memikirkan urusan ranjang.
"Ti-tidak bisa sekarang." sahut Merry kemudian.
"Apa itu sebuah penolakan, honey?" William nampak mengernyit.
"Bukan begitu, aku sedang mendapatkan tamu bulanan." sahut Merry kemudian.
"Kamu serius ?" William masih mengernyit.
"Hm, apa kamu mau bukti ?" terang Merry bersungut-sungut hingga membuat William merasa gemas.
"Tidak perlu, kalender ini sudah menjawab semuanya." William menunjuk sebuah kalender yang sudah pria itu lingkari tanggalnya.
Merry nampak tak percaya bagaimana bisa suaminya itu sampai mengingat periode bulanannya.
"Istirahatlah honey, simpan tenagamu untuk 10 hari ke depan karena saat itu ku pastikan benih terbaikku akan tumbuh di rahimmu." perintah William kemudian yang langsung membuat Merry melotot.
Namun wanita itu enggan berdebat lagi karena tubuhnya terlalu lelah dan perutnya sedikit kurang nyaman.
"Baiklah, aku istirahat dulu." ucapnya lalu melangkahkan kakinya pergi.
Merry nampak menaiki anak tangga dengan pikiran kalut, kepalanya terasa penuh dan ia ingin segera tidur.
Keesokan harinya....
Pagi itu Merry nampak mengerjapkan matanya saat alarm di ponselnya berdering nyaring.
Pagi ini gadis itu ada kuliah pagi hingga membuatnya harus segera beranjak dari tidurnya.
Di lihatnya sebelah tempat tidurnya masih nampak rapi dan bisa ia pastikan William semalam tak tidur di kamarnya.
"Apa dia tidur di tempat Natalie? atau Elena ?"
Memikirkan hal itu membuat Merry sedikit kesal, kemudian gadis itu segera berlalu ke kamar mandinya.
Beberapa saat kemudian sesampainya di kampusnya Merry nampak menghempaskan bobot tubuhnya di kursi.
Periode bulanan yang ia alami membuat moodnya naik turun semenjak ia bangun tidur tadi pagi apalagi saat tak mendapati sang suami di kamarnya.
Ingin sekali Merry mengingkari perasaannya, namun semakin ia menolak hatinya semakin terisi penuh oleh pria itu.
Sosok William telah berhasil menyentuh perasaannya, memporak-porandakan hatinya hingga meruntuhkan pertahanan yang selama ini ia bangun.
Bagaimana pun juga wanita adalah makluk lemah, begitu juga dengan Merry.
"Kamu baik-baik saja ?" Sarah yang baru datang langsung menepuk bahu Merry yang sontak membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Apa kau mau membuatku sakit jantung, sarah ?" gerutu Merry dengan kesal.
"Itu tak seberapa dari apa yang di lakukan oleh suamimu." goda Sarah seraya duduk di samping sahabatnya itu.
__ADS_1
Merry mengedarkan pandangannya, beruntung kelas masih sepi hingga ucapan Sarah tak di dengar oleh teman-temannya yang lain.
Karena di kampusnya hanya Sarah dan Jason yang mengetahui hubungannya dengan William.
"Apa suamimu yang ganteng tapi menyeramkan itu telah mengusik hatimu lagi ?" tanya Sarah saat melihat wajah Merry yang mendung.
"Lebih dari itu." sahut Merry dengan tak bersemangat.
"Serius? apa dia membuatmu lelah sepanjang malam ?" Sarah nampak antusias bertanya.
"Bukan." Merry menggeleng lemas.
"Lalu apa? dia membawa selingkuhannya ke rumah lagi ?" Sarah nampak makin penasaran.
"Dia ingin aku hamil." sahut Merry yang langsung membuat Sarah tertawa nyaring, namun Merry langsung melotot menatap gadis itu.
"Bagus dong berarti sebentar lagi aku akan menjadi aunty dan aku juga tak perlu membembawakanmu obat pencegah kehamilan lagi." sahut Sarah, mengingat selama ini sahabatnya itu meminta padanya untuk membelikan obat pencegah kehamilan.
"Tapi aku tidak mau mempunyai anak darinya, dia itu playboy bagaimana nasib anakku kelak." Merry nampak bersungut-sungut.
"Siapa tahu dengan hadirnya seorang anak suamimu akan berubah." bujuk Sarah.
"No, aku tidak yakin hal itu." keukeh Merry.
"Jadi apa kamu membawa obat yang ku minta ?" imbuhnya lagi menatap sahabatnya itu.
"Baiklah jika itu keputusanmu, jika suatu saat terjadi apa-apa padamu aku dan Jason akan selalu ada buatmu." ucap Sarah kemudian mengambil sebuah botol obat di dalam tasnya lalu memberikannya pada sahabatnya itu.
"Simpan baik-baik jangan sampai ketahuan suamimu." imbuhnya mengingatkan dengan berbisik karena teman-temannya yang lain nampak mulai memasuki kelasnya satu persatu.
Sore harinya Merry yang baru pulang dari kampusnya nampak tak menemukan keberadaan suaminya di mansionnya.
"Hanna, apa tuan tadi siang pulang ?" tanya Merry pada pelayannya.
"Tidak nyonya." sahut Hanna.
"Apa kamu tahu sejak kapan tuan pergi ?" tanya Merry lagi.
"Saya tidak tahu nyonya, saya akan datang ke ruang utama ini jika tuan memanggil." sahut Hanna.
"Tapi biasanya jika tuan tidak datang kesini mungkin beliau pulang ke rumah nyonya besar." imbuh Hanna.
Merry nampak terdiam, sejenak ia mengingat jika suaminya juga mempunyai seorang istri lainnya.
"Baiklah kalau begitu tolong buatkan saya jus dan snack lalu bawa ke kamar, saya mau mandi !!" perintah Merry kemudian.
"Baik nyonya." ujar Hanna lalu segera pergi.
Setelah kepergian Hanna dari ruang utama, Merry nampak berjalan mengendap-endap menuju ruang kerja suaminya.
Meski ada perasaan kecewa karena dari semalam pria itu tak pulang namun ia menjadikan kesempatan itu untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
Sungguh gadis itu masih sangat penasaran dengan kamar rahasia yang ada di sana.
__ADS_1
Setelah masuk, Merry nampak menutup pelan pintu tersebut lalu ia melangkahkan kakinya menuju sebuah rak buku.
Mengetuk rak tersebut beberapa kali sampai bergeser hingga menampakkan sebuah pintu rahasia di balik sana.
Sebuah pintu yang di lengkapi dengan alat modern dan untuk membukanya harus menggunakan pin.
Merry nampak beberapa kali memasukkan pin namun satupun tak ada yang berhasil.
Akhirnya gadis itu menyerah lalu melangkahkan kakinya menuju meja kerja suaminya.
Menghempaskan bobot tubuhnya di sana dan mulai memikirkan rangkaian angka agar bisa membuka pintu tersebut.
Namun tak berapa lama kemudian Merry nampak terlelap karena tak kunjung menemukan jawaban.
...----------------...
"Paman, apa kamu baik-baik saja ?" seorang gadis kecil berusia 10 tahun nampak menemukan seorang pria yang terlihat penuh luka sekujur tubuhnya di sebuah taman yang sepi.
Bahkan wajah pria itu hampir tak di kenali karena banyaknya darah yang mengucur dari kepalanya.
"Tolong !!" teriak gadis kecil itu.
"Tolong." teriaknya lagi.
"Honey, apa kamu baik-baik saja." William nampak menggoyang lengan istrinya saat gadis itu mengigau dalam tidurnya.
"Apa kamu bermimpi buruk ?" tanyanya lagi setelah istrinya membuka matanya.
Merry nampak berkeringat dingin, setelah sekian lama mimpi buruk itu kembali menghantuinya.
"Aku takut." sahutnya.
"Katakan kamu bermimpi apa ?" William mendudukkan dirinya di tepi ranjang samping wanita itu.
Merry nampak mengingat mimpinya, mimpi yang selalu berulang hadir dalam tidurnya.
"Mungkin aku terlalu lelah, tadi di kampus banyak tugas." sahut Merry beralasan, wanita itu nampak enggan menceritakan mimpinya.
Sebuah peristiwa beberapa tahun lalu yang kadang hadir kembali dalam mimpinya dan ia menganggapnya tidak terlalu penting untuk ia ceritakan pada siapa pun.
"Kamu baru pulang ?" tanya Merry yang nampak mengedarkan pandangannya, rupanya ia telah berada di dalam kamarnya.
Entah sejak kapan, karena seingatnya ia tadi sore berada di ruang kerja pria itu.
"Ada sedikit pekerjaan." sahut William seraya bangkit dari duduknya.
"Pekerjaan dengan para wanitamu." gumam Merry dalam hati.
"Tidurlah kembali, ini masih malam." perintah William seraya mendudukkan dirinya di sebuah sofa dengan lampu baca di sampingnya.
Pria itu terlihat sibuk dengan ipad di tangannya, sepertinya sedang memeriksa pekerjaannya.
Merry yang tak bisa memejamkan matanya kembali, nampak duduk dan bersandar di headboard ranjangnya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah mencari tahu tentang orang tuaku ?" tanyanya kemudian yang langsung membuat William menatapnya, pria itu langsung mematikan ipadnya yang sedang menampakkan foto seseorang.