Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~210


__ADS_3

"Apa aku mengganggu ?" ucap Anne seraya berjalan mendekati sang suami yang nampak salah tingkah.


"Tentu saja, bukankah kau sudah mengundurkan diri lalu untuk apa datang ke sini ?" sewot Jennifer dengan pandangan tak suka.


"Oh nona Jenni kau berbicara seperti itu seakan kita sangat akrab sebelumnya, aku kemari tentu saja karena ingin meminta pekerjaanku yang telah di sabotase." sahut Anne dengan tersenyum sinis menatap wanita itu.


"Kau !!" Jennifer langsung murka, namun James segera mengangkat tangannya agar wanita itu diam.


"Keluarlah ada hal penting yang harus ku bicarakan dengan is...." James langsung menghentikan perkataannya saat sang istri tiba-tiba menyelanya.


"Tentu saja ada hal penting yang harus kita bicarakan, tuan James." sela Anne seraya menatap tegas suaminya itu seakan tak sabar ingin meminta penjelasan dengan yang ia saksikan saat baru masuk tadi.


"Tapi kamu sedang tidak baik-baik saja, James? apa perlu ku panggilkan dokter? atau mungkin segelas teh hangat akan membuatmu lebih baik, aku akan menyuruh OB membuatnya untukmu." Jennifer nampak khawatir dengan keadaan pria itu.


"Aku baik-baik saja, kembalilah ke ruanganmu." timpal James dengan menatap tegas ke arah Jennifer.


"Baiklah, hubungi aku jika terjadi sesuatu sungguh aku lebih mengkhawatirkan mu dari pada siapapun." tukas Jennifer seraya melirik ke arah Anne, kemudian wanita itu segera berlalu pergi dari sana yang di ikuti oleh James di belakangnya.


Setelah Jennifer pergi dan menutup pintunya dari luar James segera menguncinya.


"Apa yang kau lakukan di sini ?" ucapnya kemudian.


"Apa kamu merasa terganggu jika aku datang ?" Anne memicing menatap suaminya itu.


"Tidak, sama sekali tidak. Aku bahkan sangat senang kamu ke sini." sahut James seraya melangkah mendekati wanita itu.


"Benarkah? ku kira aku sudah mengganggu kalian." sindir Anne dengan tersenyum miring.


"Apa kau sedang cemburu, hm ?" James menatap lekat istrinya itu.


"Melihat suami sedang di pijat oleh wanita lain, istri mana yang tidak cemburu. Bahkan kucing pun akan mencakar jika itu terjadi padanya." sewot Anne dengan kesal, sungguh suaminya itu memang tak berperasaan.


"Bukankah aku pernah berkata apa yang kamu lihat belum tentu sesuai dengan yang ada di pikiranmu, jadi jangan pernah berpikir macam-macam. Dari pagi aku merasa mual hingga membuat kepalaku tiba-tiba pusing, aku tidak tahu jika Jennifer akan memijitku dan saat itu kamu tiba-tiba datang." terang James dengan jujur.


"Kamu mual ?" Anne baru menyadari jika wajah suaminya itu sangat pucat seperti saat pertama kali pria itu menjemputnya waktu itu.


"Hm, tiba-tiba saja." timpal James seraya mengajak istrinya itu duduk di sofa.


"Kenapa bisa? perasaan tadi kamu baik-baik saja saat di rumah." Anne langsung menyentuh kening pria itu dengan punggung tangannya.


"Tidak demam." gumamnya.


"Apa mau ku panggilkan dokter ?" tawarnya kemudian.


James menggelengkan kepalanya. "Memelukmu sebentar mungkin akan lebih baik." sahutnya yang langsung membuat wanita itu melotot.


"Jangan mencari kesempatan, tuan James." sungutnya kemudian.

__ADS_1


"Aku yakin itu pasti akan lebih baik." timpal James dan mau tak mau Anne menggeser duduknya mendekati suaminya itu lalu segera memeluknya.


"Apa merasa lebih baik ?" tanyanya seraya mengeratkan pelukannya.


"Apa kamu percaya jika morning sickness juga bisa di rasakan oleh seorang pria ?" ucap James yang langsung membuat Anne mendongakkan wajahnya menatap pria itu.


"Jadi kamu mengalami morning sickness? sejak kapan? tentu saja aku percaya, tapi aku tidak percaya kamu mengalaminya." sahutnya seraya menarik tubuhnya.


"Akhir-akhir ini sebelum aku menjemputmu." sahut James.


"Benarkah? pantas saja waktu itu kamu pucat sekali." Anne jadi merasa iba pada pria itu, pasti sangat mengganggu pekerjaannya tapi jauh dalam lubuk hati ia senang suaminya bisa ikut merasakan gejala kehamilannya.


"Mualku berkurang saat bersamamu, sangat ajaib." James merasa jauh lebih baik dan itu membuat Anne nampak mengerutkan dahinya, tiba-tiba ia memiliki sebuah ide licik.


"Jadi mualmu berkurang jika berada di dekatku ?" tanyanya memastikan.


"Hm, sepertinya begitu." sahut James.


"Baiklah jika memang begitu, kenapa aku tidak kembali bekerja saja. Dengan begitu kita bisa bertemu setiap harikan ?" Anne langsung mengutarakan keinginannya dan itu membuat James nampak berpikir.


"Hm, tentu saja. Mulai hari ini kamu sudah bisa bekerja." sahutnya kemudian yang tentu saja membuat Anne langsung girang.


"Terima kasih banyak, tuan James. Kau memang suami terbaik." tanpa sadar Anne langsung memeluk pria itu dan itu membuat James nampak menggelengkan kepalanya gemas.


"Sekarang katakan di mana ruanganku? apa aku akan menjadi manager marketing seperti sebelumnya ?" Anne nampak sangat antusias.


"Di sini? maksudnya ?" Anne tak mengerti dengan perkataan suaminya itu.


"Ruanganmu di sini, bersamaku." sahut James seraya beranjak dari duduknya dan kembali ke meja kerjanya.


"Di sini ?" Anne menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenapa ruanganku di sini, memang aku akan bekerja sebagai apa ?" tanyanya kemudian seraya mengejar suaminya yang sudah terlebih dahulu beranjak dari sisinya.


"Pekerjaanmu cukup menemaniku." sahut James yang mulai kembali bekerja.


"A-apa? kamu serius? tidak bisa begitu dong tuan James, pokoknya aku mau bekerja seperti biasanya dan memiliki ruangan sendiri atau satu ruangan bersama karyawan yang lain juga tidak apa-apa." protes Anne tak terima.


"Setuju atau tidak sama sekali." tegas James tak mau di bantah dan itu membuat Anne harus memutar otaknya untuk berpikir.


"Ta-tapi tuan James..."


"Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan lain ?" James menatap istrinya itu dengan kesal karena wanita itu masih saja memanggilnya seperti itu, benar-benar tak romantis.


"Aku belum memikirkan hal itu, bagaimana jika aku membantu pekerjaan sekretarismu saja. Di sana masih ada meja kosongkan ?" mohon Anne dengan memasang wajah melasnya.


"Ayolah tuan James, sepertinya ini keinginan bayimu apa kamu mau dia ileran saat lahir nanti ?" imbuhnya lagi.

__ADS_1


James nampak menghela napasnya, tentu saja ia tak mau terjadi apa-apa dengan anaknya itu. "Baiklah, terserah padamu." sahutnya kemudian yang tentu saja membuat Anne langsung mengulas senyumnya.


"Terima kasih." ucapnya dengan senang.


"Baiklah aku akan ke mejaku sekarang." Anne terlihat bersemangat dan ia segera berlalu pergi.


"Oh ya, bisakah pernikahan kita di sembunyikan dahulu aku belum siap melihat reaksi mereka jika tahu. Mereka pasti akan menyulitkan pekerjaanku." mohon Anne saat hendak membuka pintu ruangan tersebut.


"Aku tidak janji." timpal James kemudian.


"Tidak untuk saat ini, ku mohon." ucap Anne lalu bergegas keluar ruangan, entah kenapa ia mempunyai firasat buruk tentang Jennifer dan wanita itu tidak boleh mengetahui hubungannya dengan James sebelum ia tahu maksud dan tujuannya.


Sementara itu James nampak menghempaskan punggungnya di sandaran kursinya. "Memang ada ngidam seperti itu? benar-benar aneh." gerutunya, semoga itu bukan akal-akalan sang istri menggunakan calon bayinya sebagai alasan.


Ia tak suka wanita itu bekerja kembali dan menjadi pusat perhatian para lelaki di kantornya.


"Tuan, apa ada masalah ?" tanya Mark dari ujung telepon saat mendengar helaan nafas sang tuan.


"Istriku minta kembali bekerja dengan alasan calon bayinya yang mau, Mark." terang James pada pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu.


"Turutin saja tuan, karena waktu Ester hamil anak kami dulu dia juga menginginkan yang aneh-aneh. Lagipula bukankah itu bagus untuk anda karena bisa sesering mungkin dekat dengan beliau."


"Ya, kau benar. Pagi ini mualku langsung reda saat bersamanya tapi yang aku tidak habis pikir bisa-bisanya dia menginginkan pernikahan kami di rahasiakan. Apa dia malu mempunyai suami sepertiku ?" James nampak sedikit kesal.


"Sepertinya untuk sementara waktu lebih baik seperti itu tuan."


"Jadi kamu mengatakan jika aku tak layak menjadi suaminya ?" geram James.


"Bukan begitu tuan, saya rasa dengan merahasiakan pernikahan kalian itu lebih baik karena saya khawatir jika tuan Marco tahu maka nyonya Anne yang akan menjadi incarannya."


"Aku seperti pria lemah yang tak dapat melindungi istriku sendiri, Mark." James semakin terlihat geram.


"Demi kebaikan nyonya tuan, anda tahu sendirikan bagaimana atraktifnya nyonya."


"Ya kau benar, istriku benar-benar sangat keras kepala."


Akhirnya James menyetujui ide Mark, semoga ini yang terbaik sampai ia bisa mengatasi musuh-musuhnya.


Sementara itu seorang wanita dewasa nan cantik nampak menghela napasnya sejenak setelah baru membaca sebuah pesan di emailnya, sepertinya tugas berat telah menantinya.


"Rose, kamu pahamkan tugasmu ?"


"Baik, tuan." balasnya kemudian.


Setelah itu ia kembali menyambut kedatangan sang nyonya yang baru saja menghempaskan bobot tubuhnya di meja sebelahnya itu.


"Benar-benar sangat aneh, di saat semua wanita ingin mendapatkan pengakuan dari sang tuan wanita ini justru ingin menyembunyikan pernikahannya."

__ADS_1


__ADS_2