
Setelah meninggalkan Airport Merry segera menuju hotel yang berada tak jauh dari perusahaan WS Corporation berada.
"Bu, apa kita berangkat sekarang ?" tanya Anne saat melihat atasannya itu baru keluar dari kamarnya.
Wanita itu sudah mengganti celana jeans yang sebelumnya ia pakai dengan pakaian kerja, sebuah kemeja dan rok span sebatas lutut melengkapi penampilannya siang itu.
"Tentu saja, Ariel baru saja tidur siang jadi kita bisa meninggalkannya sebentar dan nanti sore aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Rasanya sudah lama sekali aku tak menikmati waktu bersamanya." sahut Merry seraya memasang high heels di kakinya.
Perjalanannya kali ini selain bertemu dengan pimpinan perusahaan WS Corp, ia juga ingin mengajak putranya itu liburan.
"Bu, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya bicarakan." ucap Anne tiba-tiba hingga membuat Merry yang baru selesai mengikat tali high heelsnya langsung menatap asistennya itu.
"Ada apa? apa kamu mau liburan juga? baiklah, setelah urusan kita dengan perusahaan WS selesai kamu boleh pergi shopping sepuasmu." sahut Merry namun Anne langsung menggeleng cepat.
"Bukan itu maksud saya, bu." ralatnya.
"Lalu ?" Merry mengernyit tak mengerti.
"Sebenarnya tadi pagi tuan Alan menghubungi saya lagi dan kebetulan beliau sekarang berada di Singapura juga, jadi jika anda tak keberatan tuan Alan ingin mengundang anda dan Ariel makan malam." terang Anne dengan sedikit gugup karena atasannya itu pasti akan menolaknya lagi.
Menurutnya bossnya itu memang sangat unik, karena selalu menolak ajakan pria tampan serta kaya raya seperti Alan padahal banyak sekali wanita di luar sana yang mengejar pria itu.
"Bagaimana bu ?" tanya Anne lagi karena ia harus segera memberikan kabar pada pria tersebut dan juga tuan Alex tentunya.
"Kenapa dia bisa tahu saya berada di sini ?" selidik Merry menatap asistennya itu.
"Sa-saya kurang tahu bu." Anne nampak semakin gugup saat mata tajam atasannya itu menelisik wajahnya.
"Kamu sedang tidak bekerja sama dengan pria itu kan ?" tuding Merry yang langsung membuat Anne menggeleng cepat.
"Saya tidak mungkin berani, bu." sahut Anne.
"Ini pasti ulah kak Alex." gerutu Merry dengan kesal, karena asistennya itu tak mungkin menghianatinya.
"Jadi bagaimana, bu ?" tanya Anne lagi.
Merry nampak menghela napasnya pelan. "Baiklah, tentukan saja tempatnya nanti malam aku akan ke sana bersama Ariel." sahut Merry yang langsung membuat Anne nampak lega.
Setelah itu mereka segera berlalu pergi ke WS Corp karena jam makan siang pun sudah berlalu jadi bisa di pastikan jika pemimpin perusahaan tersebut berada di kantornya.
"Semoga saja." gumamnya saat mobil yang membawanya mulai melaju kencang menuju perusahaan tersebut.
"Bu, ini berkas-berkas yang anda minta." Anne menyerahkan sebuah map yang akan Merry bawa menemui rival bisnisnya itu.
__ADS_1
Kemudian Merry segera mempelajarinya kembali, ia ingin memastikan jika perusahaan itu memang bersalah.
Beberapa saat kemudian mobil yang membawa mereka telah sampai di depan sebuah gedung perkantoran yang di perkirakan mempunyai belasan lantai tersebut.
"Saya kira pemilik perusahaan WS Corp bukan orang sembarangan, bu. Perusahaan ini baru berdiri tiga bulan lalu namun sudah mempunyai kantor sebesar ini." terang Anne saat memperhatikan gedung perkantoran di depannya itu.
"Aku tidak peduli, An. Aku hanya ingin mendapatkan hakku, karena ku rasa mereka sengaja ingin menghancurkan perusahaanku." tegas Merry lalu memakai kembali kacamata hitamnya, kemudian segera turun dari dalam mobilnya.
Wanita itu nampak menatap sekilas ke atas gedung tersebut lalu mulai melangkahkan kakinya masuk.
"Maaf nyonya, ada keperluan apa anda datang kemari ?" cegah seorang security, namun di mata Merry pria itu lebih tepat di sebut sebagai seorang bodyguard karena badannya yang tinggi besar serta gempal.
Ia jadi mengingat beberapa bodyguardnya dulu yang pernah menjaganya selama tinggal di Amerika.
"Kami ingin ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan ini." sahut Anne saat atasannya itu tak menjawab.
"Apa sebelumnya sudah buat janji ?" tanya Security tersebut.
"Kami belum buat janji tapi sekarang kami akan membuat janji." kali ini Merry yang menjawabnya.
"Memang ada keperluan apa kalian mencari tuan kami ?" tanya Security itu lagi
"Saya dari PT Bumi Nirwana, ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan pemimpin kalian." sahut Merry menatap tegas security di depannya itu dari balik kacamata hitamnya.
"Silakan masuk dan buat janji dahulu di resepsionis !!" perintahnya kemudian.
Tak ingin membuang waktu Merry dan Anne segera masuk ke dalam gedung perkantoran tersebut.
"Ruangan tuan Weslyn ada di lantai 5 paling ujung, tapi tolong tunggu sebentar karena beliau masih menerima tamu." ucap seorang wanita yang duduk di belakang meja resepsionis itu.
"Baiklah, terima kasih." sahut Anne lalu melangkah ke arah Merry yang sedang menunggunya di ruang tunggu.
"Bagaimana ?" tanya Merry kemudian.
"Beliau masih ada tamu bu, tapi kita bisa menunggu di atas." sahut Anne.
"Baiklah, ayo." Merry yang tak sabar langsung beranjak dari duduknya kemudian berlalu menuju lift.
Sesampainya di lantai 5 nampak beberapa orang juga berada di ruang tunggu, sepertinya mereka juga sama seperti dirinya ingin bertemu dengan pemimpin perusahaan tersebut.
Merry nampak menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa, lalu kembali mempelajari berkas di tangannya.
"Tuan Weslyn." gumamnya saat melihat kartu nama pemimpin perusahaan WS Corporation tersebut.
__ADS_1
"Nama yang bagus, namun sayang tak sebagus sepak terjangnya." imbuhnya lagi.
Hingga satu jam kemudian beberapa tamu sudah di panggil dan menyisakan dirinya seorang.
"Mungkin sebentar lagi, bu." ucap Anne saat melihat Merry mulai bosan menunggu.
"Semoga saja." sahutnya meski tak yakin.
Tak berapa lama nampak seorang wanita cantik dengan pakaian minim duduk di seberang Merry, sepertinya wanita itu juga sedang menunggu antrian untuk bertemu dengan tuan Weslyn.
Namun saat melihat penampilan wanita tersebut, Merry tak yakin jika wanita itu adalah seorang karyawan.
Karena pakaiannya sangat terbuka, rok mini serta atasan model kemben hingga memperlihatkan separuh asetnya yang hampir tumpah.
Beruntung rambut panjangnya di biarkan tegerai, paling tidak bisa sedikit menutupi tubuhnya.
"Nona Samantha, silakan masuk tuan Weslyn memanggil anda." panggil seorang wanita yang sepertinya sekretarisnya pemimpin perusahaan tersebut.
"Terima kasih." wanita bernama Samantha itu langsung berdiri namun Merry yang merasa antriannya di serobot oleh wanita itu juga ikut beranjak dari duduknya.
"Tidak bisa begitu dong, aku sudah menunggu hampir satu jam setengah sedangkan dia baru datang tapi sudah di panggil." protes Merry dengan kesal.
"Maaf nona, ini permintaan tuan Weslyn sendiri dan nona Samantha adalah orang terdekat beliau." wanita yang di ketahui bernama Greta dari nametagnya tersebut menjelaskan.
"Benar-benar tidak profesional." Merry terlihat kesal, kemudian kembali duduk di sofanya.
"Sabar bu, mungkin beliau memang benar orang terdekat tuan Weslyn." Anne mencoba menenangkan, bagaimana pun juga ia tidak ingin bossnya itu mendapatkan masalah.
"Orang terdekat atau selingkuhannya." gerutu Merry dengan geram.
"Mungkin kekasih atau istrinya bu." timpal Anne.
"Aku tidak peduli siapa dia, yang jelas dia sudah menyerobot antrianku." Merry terlihat berapi-api.
"Silakan di minum dulu, bu." tiba-tiba Greta membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil lalu meletakkannya di atas meja depannya Merry.
Paling tidak makanan dan minuman tersebut bisa mengalihkan perhatian wanita itu pikir Greta.
"Terima kasih." ujar Anne.
Satu jam kemudian Merry mulai kembali gelisah karena wanita yang masuk ke dalam ruangan tuan Weslyn belum kunjung keluar juga.
"Bu, anda mau kemana ?" tegur Greta saat melihat Merry beranjak dari duduknya lalu melangkah ke arah pintu atasannya tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menunggu lagi." tegas Merry lalu melangkah menuju ruangan pemimpin perusahaan tersebut yang tentu saja langsung di cegah oleh Greta.