
"Kau mau bawa aku kemana ?" Merry tak henti-hentinya bertanya saat William mulai melajukan mobilnya.
"Diamlah honey kau bisa mengganggu konsentrasiku mengemudi." sahut William dengan lembut.
"Makanya katakan kamu mau bawa aku kemana ?" desak Merry lagi.
"Kemana saja asal kita bahagia." sahut William sekenanya.
Merry yang tak sabar nampak mencebik di kursinya dan itu membuat William menjadi gemas sendiri. Kemudian pria itu meraih sebelah tangan wanita itu, menggenggamnya lalu mengecup punggung tangannya.
"Lepaskan." teriak Merry seraya menarik tangannya saat William memperlakukannya seperti itu namun itu justru membuat mobil yang pria itu kemudikan menjadi oleng, beruntung William cepat mengendalikannya jika tidak mungkin sudah menabrak portal jalan.
"Kita bahkan belum malam pertama honey tapi sepertinya kau tak sabar ingin menghadap Yang Maha Kuasa." sarkas William seraya menarik wanita itu ke dalam pelukannya, sedangkan sebelah tangannya masih memegang kendali mobilnya.
"Makanya jangan menyentuhku sembarangan, itu sama saja kamu yang membuat kita hampir celaka." sahut Merry, karena masih terkejut sebab mobilnya hampir oleng wanita itu nampak tak melawan saat William membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku tak pernah membuatmu celaka honey, coba kamu pikir selama ini kamu celaka karena tak pernah mendengar ucapanku bukan ?" terang William yang masih mengemudi dengan sebelah tangannya dan sebelahnya lagi nampak mengusap lembut lengan wanita yang kini berada dalam pelukannya itu.
Merry nampak terdiam, perkataan pria itu memang benar adanya mungkin dirinya yang terlalu kekanak-kanakan selama ini dan tanpa wanita itu sadari ia nampak merapatkan tubuhnya ke dada bidang pria itu seakan tempat itu adalah yang ternyaman.
"Tolong biarkan aku egois untuk sebentar saja." gumamnya pada hatinya sendiri, mengingat ia tak pantas seperti ini pada tunangan wanita lain.
Tak berapa lama William menghentikan mobilnya di sebuah klinik kecantikan dan kebugaran. "Sepertinya kau sengaja memancingku untuk segera mengurungmu di kamar hotel." sindirnya saat istrinya itu tetap memeluknya meski mobilnya telah berhenti.
Merry yang menyadarinya langsung saja menarik dirinya menjauh. "A-aku ketiduran." ucapnya beralasan lalu mulai melepaskan sabuk pengamannya.
"Kamu mau ngapain ke sini ?" tanyanya kemudian saat melihat panti kebugaran di depannya tersebut.
"Pijatlah apalagi." sahut William sembari melepaskan juga sabuk pengamannya.
Merry yang sudah membayangkan yang tidak-tidak langsung menahan pria itu saat hendak membuka pintu mobilnya.
"Apa kamu mau pijat plus-plus ?" tudingnya to the point yang langsung membuat William menahan tawanya lalu terbesit ide untuk mengerjai wanita itu.
"Hm, iya memang kenapa ?" sahutnya membenarkan yang langsung membuat wanita itu melotot.
__ADS_1
"Jika sedang ingin kenapa tidak kamu lakukan dengan tunanganmu saja yang pastinya lebih aman." saran Merry dengan nada kesal.
William nampak menahan kekehannya, rupanya wanita itu masih belum mengetahui jika ia dan Vivian telah berakhir, apa dia tak pernah melihat berita pikirnya. Lagipula meski ia masih bersama Vivian pun ia tak mungkin melakukan hal itu saat hati dan pikirannya masih sepenuhnya menjadi milik istrinya tersebut.
"Tidak, aku tidak pernah melakukan itu dengan Vivian." terang William dengan jujur.
"Tapi jika kau mau melakukannya denganku mungkin aku bisa mempertimbangkannya." sambungnya lagi yang membuat istrinya itu tersentak lalu langsung memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah.
"Jangan katakan itu, bukankah kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi." ucapnya tanpa menatap pria itu.
William yang makin gemas kemudian meraih dagu wanita itu lalu mengarahkan padanya hingga kini mereka saling menatap.
"Jadi kalau kita ada hubungan kamu mau ?" tanyanya kemudian, entah kenapa rasanya senang sekali ia bisa menggoda istrinya itu hingga membuat wanita itu tak bisa menyembunyikan wajah kemerahannya.
Sebenarnya William bisa saja langsung menunjukkan akta pernikahan mereka pada istrinya itu namun ia tak ingin melakukan sesuatu yang membuat wanita itu terkejut dan pada akhirnya tidak akan bisa menerimanya.
William hanya ingin mengetahui jika perasaan wanita itu tidak pernah berubah untuknya, cintanya untuknya tetaplah sebesar dahulu meski kadang bibir wanita itu selalu menyangkalnya.
"Kita sudah tak ada hubungan lagi Wil, hubungan kita sudah berlalu dan kamu tahu itu." terang Merry dengan menatap pria itu sejenak, lalu pandangannya beralih ke bawah karena mau berpaling ke arah lain pria itu masih belum melepaskan cengkeramannya di dagunya.
Tak ada kata yang terucap namun tubuh mereka seakan seperti magnet yang selalu ingin mendekat dan tanpa mereka sadari kini bibir keduanya telah saling menempel.
Dengan mata terpejam mereka nampak saling m3lum4t, saling mencurahkan perasaan yang tak pernah terucap oleh bibir keduanya.
Mereka telah hanyut ke dalam lautan perasaan yang tak mungkin bisa di bendung lagi hingga kini lum4t4n yang tadinya lembut berubah menjadi sedikit kasar dan menuntut.
Namun saat ciuman pria itu turun ke leher wanita itu dan meninggalkan bekas kemerahan di sana, kesadaran Merry langsung kembali lalu mendorong pria itu.
"Tidak, ini sudah melewati batas." ucapnya kemudian, meski jujur sebagian hatinya menolak saat ia menjauhkan dirinya dari mantan suaminya itu.
Ya, nyatanya Merry masih sangat menginginkan pria itu. Seluruh saraf tubuhnya masih mendambakan sentuhan pria itu namun ia harus sadar diri.
Sedangkan William yang benar-benar sudah tak sanggup mengendalikan dirinya langsung berlalu keluar dari dalam mobilnya, selama 4 tahun ini pria itu selalu bisa mengendalikan dirinya namun saat ini ia benar-benar ingin menerkam wanita itu.
"Ayo, turunlah !!" perintahnya kemudian setelah membuka pintu mobil untuk istrinya itu.
__ADS_1
Merry yang nampak ragu enggan untuk turun, hatinya bergejolak antara membiarkan pria itu masuk ke dalam sana atau tidak.
"Jangan selalu berpikir negatif tentangku." ucap William seraya menarik tangan wanita itu dengan lembut lalu membawanya keluar dari dalam mobilnya.
Merry yang masih merasakan gelanyar aneh di dalam tubuhnya akibat ciuman panas mereka tadi hanya bisa mengikuti langkah pria itu.
Saat baru masuk ke dalam klinik kecantikan dan kebugaran itu mereka di suguhi oleh pemandangan yang sangat mewah. Merry yakin tamu yang datang ke sini pasti bukanlah orang sembarangan.
"Selamat siang tuan William." sapa beberapa karyawan saat melihat kedatangan mereka dan itu membuat Merry langsung melirik ke arah William.
"Apa dia sering datang kesini hingga mereka semua mengenalnya ?" gumamnya dengan menyipitkan matanya, hingga tiba-tiba pikiran negatif kembali menguasainya.
"Ini laporan keuangan bulan ini, tuan." seorang resepsionis langsung memberikan sebuah dokumen pada William dan itu membuat Merry nampak terkejut lalu wanita itu mengedarkan pandangannya dan menemukan sebuah papan nama yang sama dengan hotel tempatnya bekerja.
"Ja-jadi tempat ini miliknya." gumamnya tak percaya namun saat melihat mantan suaminya itu sedang melihat laporan keuangan di tangannya dengan serius membuat Merry langsung merutuki dirinya sendiri karena telah berpikir yang tidak-tidak terhadap pria itu.
Setelah memeriksa laporan keuangan tersebut William nampak membubuhkan tanda tangannya lalu kembali menyerahkannya pada karyawannya itu.
"Ayo !!" ucapnya kemudian seraya menggandeng istrinya itu menuju sebuah lift tak jauh dari sana.
Melihat perlakuan bosnya itu pada wanita yang di gandengnya itu membuat beberapa karyawan di sana nampak iri karena saat dengan Vivian pria itu tak pernah menunjukkan kemesraannya.
"Selamat siang tuan William apa ini nyonya yang anda maksud ?" sapa seorang wanita cantik berpakaian dokter saat melihat William datang, di ruangan yang lumayan luas itu juga nampak beberapa terapis ikut menyambut sang bos besarnya itu.
"Ku serahkan dia padamu dan jangan membuatku kecewa." perintah William kemudian.
"Tentu saja tuan." sahut dokter spesialis kulit dan kecantikan itu yang langsung di angguki oleh beberapa karyawannya di sana.
"Mari nyonya ikut kami." ajak dokter tersebut dengan ramah pada Merry.
"Tunggu dulu." Merry yang belum mengerti langsung menarik William untuk menjauh dari mereka.
"Bukankah yang mau pijat kamu, kenapa aku yang di bawa ?" tanyanya dengan lirih agar tak terdengar oleh mereka.
Mendengar itu William sedikit terkekeh. "Persiapkan dirimu dengan baik untuk nanti malam, honey." sahut William lirih lalu segera meninggalkan istrinya itu yang masih terdiam di tempatnya karena tak mengerti dengan perkataannya.
__ADS_1