
"Tuan, anda mau kemana ?" tanya seorang pria saat Alex akan menaiki anak tangga.
"Saya mau melihat sunset dari atas sana." sahut Alex.
"Maaf tuan tapi lantai paling atas sudah di booking oleh seseorang untuk beberapa jam ke depan." terang pria tersebut yang di ketahui sebagai manager di sana.
"Baiklah aku tidak akan kesana, tapi aku hanya ingin melihat-lihat lantai lainnya." sahut Alex.
"Silakan tuan tapi tolong jangan ke lantai atas." manager tersebut memperingatkan kembali.
Alex nampak mengangguk kecil kemudinya ia memilih naik lift untuk menghemat tenaganya mengingat yacth tersebut mempunyai beberapa lantai.
Alex melihat-lihat setiap lantai yang ada di kapal pesiar tersebut dan ia takjub dengan kemewahannya.
Sepertinya pria itu berpikir akan berbulan madu di tempat ini jika telah menikah nantinya.
Namun sayang hingga saat ini pun ia tak mempunyai kekasih karena jujur hatinya sudah terpatri pada adik angkatnya sendiri.
Tetapi mengingat Merry masih di bawah umur membuatnya harus bersabar untuk menunggu, toh sang ayah pun sudah memberikannya restu.
Saat melihat tangga yang menghubungkan ke lantai paling atas tiba-tiba pria itu menjadi penasaran.
Kebetulan tak ada penjagaan di sana hingga membuatnya nekat melangkahkan kakinya menaiki anak tangga tersebut seraya menatap waspada jika ada orang yang melihatnya.
Sesampainya di tangga teratas Alex segera membuka pintunya dan nampak sebuah pemandangan yang menyejukkan mata.
Langit yang kemerahan membuat pemandangan sore itu semakin indah, namun saat kakinya akan melangkah ia melihat seorang pria sedang bergumul dengan seorang wanita di atas sofa yang berada tak jauh darinya.
"Damn." umpatnya saat tak sengaja melihat sepasang kekasih yang sedang memadu asmara dengan posisi membebelakanginya itu hingga membuatnya tak begitu jelas melihat wajah mereka.
Namun pengumulan mereka terlihat sangat panas, apalagi sang wanita terlihat begitu menggairahkan membalas ciuman sang pria.
Kemudian Alex segera berbalik badan lantas bergegas pergi dari sana, sebelum naluri kelelakiannya ikut hanyut dalam tontonan dewasa dan pasti akan membuatnya pusing sendiri nantinya.
"Syukurlah." gumam William kemudian.
Pria itu terlihat lega setelah seseorang yang lancang menorobos masuk telah pergi dari sana.
Sepertinya setelah ini ia harus membuat perhitungan dengan pihak manager karena membiarkan orang lain masuk padahal ia sudah membayar mahal tempat tersebut hanya untuk beberapa jam saja.
"Kenapa ?" Merry terlihat penasaran saat suaminya nampak gelisah.
"Tidak, tadi sepertinya ada yang datang kesini." sahut William yang langsung membuat Merry melotot.
"Kamu tadi bilang tempat ini aman." protes Merry, ia malu jika ciumannya dengan pria itu tadi di lihat oleh orang lain mengingat ia terbawa suasana dan sangat merespon ciuman suaminya itu dengan tak kalah panas.
__ADS_1
"Mungkin hanya pelayan." William meyakinkan meski tadi ia yakin jika itu Alex, mengingat pakaian pria itu yang sempat ia lihat sekilas.
"Ya sudah lepaskan aku sekarang." mohon Merry saat suaminya masih mengungkung tubuhnya, kedua tangannya juga masih pria itu genggam di atas kepalanya.
"Membiarkan mu pergi begitu saja? Itu tidak mungkin honey." William menatap wajah istrinya dengan intens lalu menekan miliknya yang mulai mengeras di paha wanita itu.
Dan tentu saja membuat Merry nampak menelan ludahnya. "Please jangan di sini, bagaimana kalau ada yang datang ?" mohon Merry saat suaminya itu mulai menyingkap gaunnya lalu menyusuri perutnya yang halus.
"Tidak akan ada yang datang honey percayalah." tangan William semakin ke atas hingga kini berada di gundukan kenyal wanita itu.
"Ahhhh, Will." Merry langsung mendesis saat pria itu m3r3m4snya dari balik bra yang ia kenakan.
Kemudian William kembali m3lum4t dan menyesap bibirnya bergantian hingga membuat istrinya itu nampak menggeliat di bawahnya.
Merasakan miliknya yang sudah sangat sesak, William segera melucuti pakaiannya maupun istrinya lalu segera memulai penyatuannya.
Udara dingin serta angin kencang menambah sensasi pengumulan mereka.
Hingga d3s4han panjang dari keduanya menandakan jika mereka telah sampai pada puncaknya.
William nampak mendesis nikmat saat miliknya terasa di urut di dalam milik istrinya itu.
Pria itu terus menghentakkan tubuhnya sampai cairan pelepasannya habis tak bersisa.
Biasanya ia merasa bangga setiap kali memenuhi rahim istrinya itu dengan benihnya, tapi sejak ia mengetahui wanita itu meminum obat pencegah kehamilan membuatnya tak lagi bahagia.
William bukan tidak ingin berjuang, tapi ia pernah memperjuangkan gadis itu beberapa bulan sebelum pembantaian itu terjadi namun Martin dengan tegas menolaknya dan sampai mati pun pria itu takkan pernah merestuinya.
Jujur William merasa lega saat Martin menghilang dan tak ada kabar setelah pembantaian itu terjadi, ia pikir pria itu telah tiada dan ia bisa leluasa memiliki putrinya meski dengan cara memaksa sekalipun.
William terlalu lama memendam rasa cintanya, obsesinya untuk memiliki gadis itu begitu menggebu dan tidak bisa ia bendung lagi tak peduli saat itu Merry tak menyukainya bahkan mengenalinya sekali pun.
"Will, aku sangat lelah." Merry menatap suaminya yang masih membiarkan miliknya bersarang di dalam pusat gairahnya.
Bukannya menjawab William justru mulai menggerakkan tubuhnya kembali.
Merry lupa jika suaminya itu tak pernah puas hanya bermain sekali.
Beberapa hari kemudian....
"Merr !!"
Merry yang berjalan beriringan dengan Sarah meninggalkan kelasnya nampak menoleh saat seseorang memanggilnya.
"Pak Artha." Merry maupun Sarah langsung tersenyum saat melihat kedatangan Artha, padahal pria itu sebelumnya meminta izin untuk tidak mengajar hari ini.
__ADS_1
"Mau ku traktir makan siang ?" tawar Artha seraya menatap dua gadis cantik di hadapannya itu bergantian.
"Sayang sekali hari ini aku sudah ada janji." sahut Sarah dengan wajah sedihnya.
"Kamu mer ?" tanya Artha sembari menatap ke arah Merry.
"Saya bisa pak, kebetulan ada materi yang mau saya tanyakan." timpal Merry mengingat ia sedikit kurang mengerti dengan beberapa tugasnya.
"Ya sudah kalau begitu aku duluan ya." Sarah segera pamit pergi karena sore ini gadis itu ada janji dengan sang ibu untuk menemaninya berbelanja.
"Baiklah bagaimana kalau ke kelas dulu, aku akan membantumu membuat tugas." ajak Artha kemudian yang langsung di angguki oleh Merry.
"Pak, kenapa di tutup pintunya ?" tanya Merry saat baru masuk kelasnya dan Artha tiba-tiba menutup pintu kelasnya tersebut.
"Biar tidak ada yang mengganggu kamu belajar." sahut Artha beralasan seraya berjalan mendekati bangku Merry.
Merry nampak mengangguk kecil, selama ini Artha sangat baik jadi tidak mungkin pria itu macam-macam padanya.
"Jadi mana yang membuatmu kesulitan ?" tanya Artha seraya duduk di hadapan Merry.
"I-ini pak." Merry langsung menunjukkan bukunya, namun bukannya fokus mendengar pertanyaan Merry pria itu justru menatap gadis itu dengan intens.
Bibir merah alami yang di miliki oleh Merry begitu menggoda di mata Artha.
Seandainya punya kesempatan pria itu ingin mencicipinya.
"Pak...." ucapan Merry tertahan saat tiba-tiba Artha memegang tangannya.
"Ba-bapak mau ngapain ?" Merry nampak tersentak lantas ia menarik tangannya namun Artha semakin mengeratkan genggamannya.
"Apa aku tak boleh menyentuhmu ?" Artha berucap dengan wajah datarnya.
"Tolong lepaskan, pak. Tak biasanya anda seperti ini." mohon Merry dengan menarik tangannya namun sepertinya Artha tak berniat melepaskannya.
Merry merasa pria itu tiba-tiba berubah menakutkan saat ini.
"Sudah lama aku sangat menyukaimu, Mer. Maukah kamu menjadi kekasihku ?" terang Artha yang langsung membuat Merry menelan ludahnya.
"Ta-tapi saya...." ucapan Merry tertahan karena Artha sudah menyelanya.
"Sudah menikah dengan William ?" sela Artha yang tentu saja membuat Merry nampak melotot.
Darimana pria itu tahu padahal ia hanya menceritakan kehidupan pribadinya pada Sarah seorang.
"Jangan terkejut seperti itu karena aku bahkan lebih banyak tahu daripada yang kau kira." terang Artha lalu melepaskan genggamannya di tangan gadis itu.
__ADS_1
Merry nampak lega kemudian gadis itu segera beranjak dari duduknya dan bergegas pergi dari sana.
"Apa kau juga tidak ingin mengetahui apa hubungan William dan ayahmu ?" ucap Artha yang langsung membuat Merry menghentikan langkahnya.