
"Saya tidak mendengar apapun tuan, saya hanya kebetulan lewat sini untuk menawarkan minuman. Apa tuan mau minuman ini juga ?" Anne langsung melepaskan cekalan tangan Marco lalu ia mengambil segelas minuman untuk pria itu.
Marco menerimanya namun matanya tak sedikit pun berpaling pada pelayan yang mengenakan masker itu.
"Kalau begitu saya permisi dahulu." imbuh Anne lalu segera pergi dari sana.
Marco yang sepertinya tak asing dengan sorot mata wanita itu nampak menatapnya kemana pun dia pergi.
"Tidak mungkin itu wanita yang menabrakku tadi." gumamnya, Marco masih mengingat jelas wajah wanita itu.
Hanya saja kali ini pelayan itu mengenakan masker untuk menutupi wajahnya, tapi suaranya itu benar-benar sama persis.
"Ah, sial."
Marco langsung mengumpat kesal, baru kali ini ia di buat penasaran dengan seorang wanita padahal biasanya setiap wanita akan dengan suka rela melemparkan tubuhnya di atas ranjangnya.
"Syukurlah, aku bisa lepas dari pria berbahaya itu."
Anne nampak lega setelah berhasil menjauh dari Marco, namun nasib sial tak berhenti sampai di sana karena saat ia sedang berjalan menghindari pria itu tiba-tiba ia menabrak seseorang.
"Nona kamu baik-baik saja ?" ucap pria tersebut saat tak sengaja membuat seorang pelayan terjatuh, beruntung wanita itu membawa nampan kosong hingga tak menimbulkan kekacauan di tengah pesta.
Deg!!
Anne langsung melebarkan matanya saat mendengar suara suaminya. "Astaga kenapa aku ceroboh sekali, bisa-bisanya menabraknya." gumamnya yang belum berniat bangun dari lantai.
"Nona bangunlah, kau baik-baik saja ?" kali ini suara seorang wanita mendekatinya.
"Nyonya, ayo ikut aku sebelum tuan James menyadari keberadaan anda." bisik wanita itu yang tak lain adalah Rose, lalu wanita itu segera membantu Anne bangun dan bergegas membawanya pergi dari sana.
"Lewat sini nyonya, aku sudah menghubungi taksi online untukmu." ucap Rose setelah berhasil membawa Anne keluar dari acara pesta tersebut.
Anne nampak lega kemudian ia segera membuka maskernya. "Kau tetap saja mengenaliku, tapi ngomong-ngomong terima kasih banyak sudah membantuku." ucapnya kemudian.
"Sudah menjadi tugasku melindungimu, nyonya." sahut Rose.
"Oh ya aku ingin mengatakan sesuatu, di dalam ada pria jahat yang ingin mencelakai suamiku Rose tolong peringatkan suamiku. Nama pria itu tuan...." Anne belum menyelesaikan perkataannya tapi Rose sudah menyelanya.
__ADS_1
"Nona, sudah tak banyak waktu lagi tolong segera pergi dari sini sebelum tuan James melihat anda." sela Rose seraya membuka pintu sebuah taksi.
"Tapi Rose, ini penting." ucap Anne tapi sekretaris suaminya itu langsung memaksanya untuk segera masuk dan bergegas memerintahkan sopir taksi untuk segera pergi.
"Syukurlah."
Rose nampak lega setelah nyonyanya itu pergi dari sana, lalu wanita itu segera mencari tempat persembunyian saat mendengar beberapa orang datang mendekat ke arahnya.
"Kau sudah menemukan wanita yang menyamar menjadi pelayan tadi ?" tanya Marco pada beberapa anak buahnya.
"Sepertinya telah pergi, tuan." sahut salah satu dari mereka.
"Ah, sial." umpat Marco dengan kesal, lalu kembali masuk ke dalam.
Sementara Rose yang masih bersembunyi di balik pilar nampak menghela napas panjangnya.
"Anda sedang dalam masalah besar nyonya." gumamnya, sejak ia datang Rose memang diam-diam mengawasi keberadaan nyonyanya itu dan ia tak menyangka seorang Marco nampak tertarik dengan wanita itu dan itu yang membuatnya sangat khawatir saat ini.
Sementara itu James yang hendak bersiap untuk meninggalkan pesta tersebut tak sengaja bertemu dengan Marco, pandangan mereka nampak saling bertemu dan terkunci beberapa saat.
"Senang melihatmu lagi anak pungut." cibir Marco saat melewati James dan menghentikan langkahnya tepat di sisi pria itu.
"Ck, lama tak bertemu kau masih tetap menjadi pecundang seperti dulu." balas James dengan tersenyum mengejek hingga membuat Marco nampak murka, tapi pria itu cukup tahu diri untuk tidak membuat keributan di tempat umum yang pasti akan membuat nama baiknya rusak di mata para koleganya.
"Tunggu saja, kehancuranmu sudah di depan mata." lirih Marco namun terdengar jelas di telinga James, kemudian pria itu segera menjauh dari sana.
"Ck, bedebah." ucap James seraya melangkahkan kakinya meninggalkan pesta tersebut.
"James, aku ikut mobilmu lagi ya." mohon Jennifer saat mereka sudah berada di lobby hotel.
"Ikutlah bersama Rose, pengawalku akan mengantarmu !!" perintah James yang mau tak mau membuat Jennifer patuh meski dengan bibir mengerucut.
"Silakan, nona." Rose langsung membukakan pintu untuk Jennifer.
"Kamu duduk di depan saja, aku tidak suka duduk bersama orang asing." ucap Jennifer saat Rose hendak masuk juga.
"Baik, nona." Rose langsung pindah ke kursi depan, setelah itu mobil yang di kendarai oleh pengawal James itu berlalu dari sana.
__ADS_1
Sementara James dan Mark segera masuk ke dalam mobil mereka. "Silakan tuan !!" ucap Mark saat membuka pintu untuk atasannya itu.
"Terima kasih, Mark." sahut James kemudian.
Setelah mobil mereka melaju, Mark nampak mengawasi jalanan belakangnya. Sepertinya pria itu takut jika Marco dan anak buahnya akan mengikuti mereka.
"Jangan mencari yang tidak ada Mark." ucap James saat menyadari kaki tangannya itu nampak gelisah.
"Saya hanya berjaga-jaga, tuan." sahut Mark.
"Dia tidak akan mengikuti kita kali ini, Mark." tegas James yang langsung membuat Mark menatap pria itu dari spion depannya.
"Apa anda yakin, tuan ?"
"Hm, karena dia telah memiliki target lain." sahut James seraya mengepalkan tangannya.
Dan benar saja Marco yang biasanya selalu terobsesi untuk melenyapkan James kini justru sedang berada di sebuah bar dengan beberapa botol minuman di hadapannya.
"Tuan, apa mau saya temani ?" ucap seorang wanita seksi yang sedang menghampiri mejanya.
Marco hanya mengangkat tangan pertanda ia sedang tidak minat untuk bersenang-senang malam ini.
"Ah sial dia seperti iblis wanita yang hanya datang untuk menggodaku lalu pergi begitu saja sebelum aku berhasil mendapatkannya." umpatnya lalu segera kembali meneguk minumannya.
"Maafkan kami tuan, kami benar-benar kehilangan jejak wanita itu." ucap asisten Marco dengan wajah bersalahnya.
"Aku tidak mau tahu cari dia sampai dapat? wanita itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya karena berani-beraninya mengusik pikiranku." geram Marco yang sepertinya mulai di kuasai oleh alkohol.
Sementara itu Anne yang terjebak macet akhirnya sampai di rumah juga, harusnya ia sudah sampai 30 menit yang lalu tapi karena tiba-tiba ada pohon tumbang yang menghalangi jalannya membuatnya harus menunggu beberapa petugas membereskannya.
"Syukurlah tuan James belum datang." gumamnya seraya berjalan mengendap-endap melewati pintu samping rumahnya yang tak terlihat oleh pengawalnya yang sedang berjaga-jaga di depan rumahnya.
Sebuah pintu rahasia yang ia temukan beberapa lalu yang tertutup oleh semak belukar hingga tak ada yang menyadarinya jika ia akan kabur lewat sana.
"Masuk rumah sendiri tapi seperti maling." gerutu Anne seraya membuka pintu dapurnya lalu menyalakan lampu dan matanya langsung terbelalak saat melihat suaminya sedang duduk di sofa, menatapnya datar dengan kedua tangan bersendekap di dada.
"Tu-tuan James ?" Anne langsung berkeringat dingin seketika.
__ADS_1