Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~305


__ADS_3

"Tuan, kapan anda kembali ke Amerika? beberapa club malam milik anda harus terpaksa di tutup sementara waktu karena seseorang telah sengaja menyusupkan senjata api ilegal." lapor Jack malam itu.


"Itu ulah pengunjung, lalu kenapa club yang harus di tutup ?" Alex nampak geram mendengar informasi dari asistennya itu.


"Karena senjata api itu di temukan di ruangan manager club, tuan." terang Jack lagi.


"Kamu tahu siapa pelakunya ?" tanya Alex seraya mengambil minuman di belakangnya lantas segera menuangkan ke dalam gelas.


Ia penasaran siapa yang berani mencuranginya, karena orang-orangnya tak mungkin melakukan hal itu.


"Kemungkinan orang suruhan tuan Marco, karena dalam waktu dekat beliau juga akan meresmikan beberapa club malam miliknya tapi saya akan menyelidikinya lebih dalam lagi tuan." terang Jack kemudian.


Alex nampak meneguk segelas penuh minimumnya hingga tandas tak bersisa dan itu membuatnya nampak menggelengkan kepalanya sejenak.


Lagi-lagi Marco pelakunya, entah mempunyai masalah apa pria itu dengan keluarga besarnya. Karena tak hanya pernah mengganggu mantan istrinya saja, tapi usahanya juga selalu di kacaukan bahkan usaha milik William sang adik iparnya juga.


"Hubunganku dengan Elsa baru membaik, aku tak mungkin meninggalkannya Jack." ucapnya kemudian, lantas kembali menuang minumannya.


"Saya mengerti tuan, tapi jika bukan anda yang turun tangan pria itu akan semakin mengacau." timpal Jack lagi.


Alex kembali meneguk minumannya lalu pria itu tak lagi menanggapi perkataan asistennya tersebut.


Sementara itu Elsa yang baru selesai membersihkan dirinya nampak mengecek putranya yang nampak tertidur nyenyak padahal hujan di luar sangatlah deras.


"Selamat tidur, sayang. Abaikan suara hujan anggaplah sebuah nyanyian penghantar tidurmu." bisiknya lalu mengecup kening bocah kecil itu.


Setelah itu wanita itu segera keluar lalu menutup pintu kamarnya, saat akan berlalu masuk ke dalam kamarnya sendiri tiba-tiba terdengar suara bel hingga membuatnya mau tak mau melihat siapa yang datang di larut malam seperti ini.


"Tuan Alex ?" gumamnya setelah mengintip di layar cctv.


Kemudian wanita itu segera membuka pintunya. "Tuan Alex apa yang kau...." ucapan Elsa langsung terjeda saat tiba-tiba Alex mendorong tubuhnya masuk ke dalam lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus.


Entah ada apa dengan pria itu tapi semakin lama ciumannya semakin menuntut hingga membuat Elsa tak berdaya untuk menolaknya.


"Tuan Alex, kau sedang mabuk ?" tanya Elsa setelah pria itu melepaskan panggutannya, kentara sekali bau alkohol dari mulut pria itu.


"Hanya sedikit." timpal Alex lalu kembali m3lum4t bibir wanita itu, setelah itu langsung mengangkat tubuhnya dan segera membawanya ke kamarnya.

__ADS_1


Sepertinya Alex enggan memberikan wanita itu waktu lebih lama untuk protes, karena pria itu segera menanggalkan seluruh pakaiannya lalu mengungkung tubuhnya.


Masalah besar yang ia hadapi akhir-akhir ini membuatnya sedikit stres dan membutuhkan pelampiasan agar ia bisa berpikir jernih kembali.


"Ahhh, tuan Alex." Elsa nampak mendesah saat pria itu mulai memanjakan setiap jengkal kulit tubuhnya dengan bibirnya.


Menyesap dan memainkan puncak bongkahan kenyalnya secara bergantian lantas semakin turun ke pusat intinya.


"Kamu sangat basah, sayang." gumam pria itu lantas segera menenggelamkan wajahnya di sana yang membuat Elsa semakin frustasi di buatnya dan setelah itu hanya suara percintaan bercampur hujan yang memenuhi kamar tersebut.


Keesokan harinya....


Pagi itu Elsa nampak mengerjapkan matanya saat sinar matahari mengenai wajahnya dari celah horden yang telah di buka dengan lebar.


"Astaga, aku kesiangan." Elsa segera beranjak dari tidurnya dan saat menyadari dirinya tak berpakaian, wanita itu segera menarik selimut hingga lehernya.


Kemudian ia mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang semalaman membuatnya kelelahan itu.


"Apa dia sudah berangkat ke kantornya ?" gumamnya saat tak melihat kehadiran pria itu di kamarnya, kemudian matanya tak sengaja menatap kertas di atas nakas.


"Axel berangkat sekolah bersamaku, setelah itu aku langsung terbang ke Amerika selama beberapa hari karena ada pekerjaan penting."


Hatinya tiba-tiba hampa mendengar negara itu, banyak sekali kenangannya di sana dan juga kenangan pria itu bersama mantan istrinya tentunya.


Elsa nampak menghela napasnya sejenak, sedikit pun ia tak berniat untuk kembali kesana. Ia sudah mengubur semua masa lalunya dan kembali memulai hidup barunya di sini.


"Aku akan menunggumu." ucapnya lantas segera beranjak bangun.


Menanggalkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya hingga kini nampak hasil kreasi pria itu di badannya.


Setiap inci kulitnya nampak kemerahan bekas tanda kepemilikan yang di tinggalkan oleh pria itu dan itu membuat Elsa nampak mengulas senyumnya.


Sementara itu Alex yang baru mendarat di negaranya langsung datang ke kantor Marco.


"Bajingan, apa masalahmu sebenarnya denganku ?" ucapnya seraya menarik kerah kemeja pria itu.


Beberapa security yang hendak melerai langsung Marco usir dengan menggunakan kibasan tangannya.

__ADS_1


"Sabar bung, kita bisa bicarakan ini baik-baik." ucapnya menanggapi seraya menjauhkan tangan Alex.


"Katakan !!" Alex nampak tak sabar menghadapi pria itu.


"Aku hanya memanfaatkan keadaan untuk keberlangsungan bisnisku apa itu salah ?" sahut Marco seraya merapikan kerah kemejanya kembali.


"Dengan berbuat curang ?" cibir Alex dengan wajah mengejek.


"Bukankah sudah ku bilang aku hanya memanfaatkan keadaan di mana seseorang kembali menjadi bodoh karena jatuh cinta." timpal Marco dengan nada sindiran.


"Jaga bicaramu tuan Marco, aku sangat prihatin karena orang sepertimu tak pernah merasakan bagaimana di cintai oleh seseorang. Benar-benar sangat miris." hardik Alex dengan tersenyum sinis.


"Dan aku takkan tinggal diam atas apa yang kau lakukan, camkan itu." imbuhnya dengan nada ancaman lantas segera meninggalkan ruangan pria itu.


"Tunggu dulu, apa kau yakin hanya kau pria satu-satunya yang pernah tidur dengan nona Elsa Muller? ku harap kau tak menjadi bodoh karena itu." balas Marco yang langsung membuat Alex menghentikan langkahnya, lalu mengepalkan tangannya.


Namun menanggapi pria gila itu takkan pernah menyelesaikan masalah dan pria itu segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"Sial !!" Marco langsung menggebrak mejanya setelah kepergian pria itu.


Bagaimana mungkin rencana yang sudah ia susun dengan sedemikian rapi masih bisa di endus oleh pria itu.


Kemudian pria itu nampak menatap sebuah bingkai di mana seorang wanita sedang menggendong bayi mungilnya.


"Aku memang tidak pernah di cintai tapi aku pernah mencintai seseorang begitu dalam hingga membuatku hampir gila." gumamnya seraya menatap potret Anne yang nampak tersenyum lebar menghadap kamera, cintanya yang bertepuk sebelah tangan membuat sakit hatinya membekas hingga sekarang.


Lalu pandangannya beralih ke arah bayi mungil yang terlihat menggemaskan itu. "Sofia, putri kecilku." gumamnya dengan senyuman menyeringai, entah apa yang pria itu pikirkan saat melihat potret putri kecil dari pasangan Anne dan James tersebut.


Sementara Alex yang baru keluar dari kantor Marco langsung mengumpat kesal. "Tuan, anda baik-baik saja ?" Jack nampak khawatir melihat tuannya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


"Selidiki semua pria yang pernah dekat dengan Elsa, Jack. Aku tidak ingin mereka kembali dan mengacaukan semuanya !!" perintahnya kemudian lantas segera masuk ke dalam mobilnya.


"Saya rasa nyonya Elsa tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun tuan, kecuali tuan Max dan tuan Marco sebelumnya." timpal Jack yang kini telah duduk di balik kemudinya.


"Menurutmu apa mereka pernah tidur bersama? maksudku apa Marco dan Elsa pernah tidur bersama ?" tanya Alex kemudian, mengingat waktu itu mereka pernah berciuman sebelum pada akhirnya wanita itu meninggalkannya ke Jerman.


"Saya akan menyelidikinya, tuan." sahut Jack.

__ADS_1


Sementara Alex nampak menghempaskan punggungnya di sandaran kursi belakangnya, helaan napas panjangnya menandakan jika pria itu sedang kalut saat ini.


__ADS_2